Monthly Archives: May 2016

Penghapusan Perda Miras

miras
Perda miras dihapus. Lalu orang-orang yang merasa memegang kunci surga dan memiliki kapling di dalamnya ribut memaki pemeritahan Jokowi. Jokowi katanya sedang menghancurkan akhlak bangsa dan merusak generasi muda.
 
Saya hanya ingatkan lagi bahwa meski penduduknya 85% beragama Islam, negara ini bukan negara Islam. Miras dijual di negara yang bukan negara Islam, itu wajar saja. Tidak perlu dibuat heboh. Yang perlu dilakukan oleh orang Islam adalah, jangan beli dan jangan minum. Jaga anak dan keluarga Anda agar tidak beli dan tidak minum. Sulit? Tidak. Masak gitu aja sulit.
 
Bagaimana dengan dampak miras? Dampak apa?
 
1. Kecelakaan. Ini memang harus diatur. Yang berkendara tidak boleh minum. Yang minum tidak boleh bekendara. Yang melanggar dikenai sanksi berat.
 
2. Kesehatan. Sama seperti banyak barang konsumsi lain, minuman keras punya resiko bagi kesehatan. Demikian pula rokok. Bahkan nasi padang juga punya resiko bagi kesehatan. Maka setiap orang dituntut untuk bijak dalam mengkonsumsinya. Tidak perlu campur tangan pemerintah untuk mengatur hal-hal ini.
 
Tapi bagaimana dengan yang tewas minum miras oplosan? Miras oplosan itu sudah tidak bisa lagi disebut minuman. Itu racun. Pembuanya mencampurkan metahnol (yang memang beracun), dengan obat nyamuk dan obat luka. Mereka tidak sedang meracik minuman, tapi meracik racun. Racun begini tidak masuk dalam pengaturan soal minuman keras.
 
3. Kejahatan. Adakah hubungan antara alkohol dengan kejahatan? Ini hal yang kontroversial. Ada banyak kejahatan yang dilakukan orang di bawah pengaruh alkohol. Tapi apakah alkohol penyebab terjadinya kejahatan? Fakta lain menunjukkan bahwa tanpa alkohol pun kejahatan terjadi. Apa maknanya? Orang-orang yang melakukan kejahatan memang berniat melakukan kejahatan. Bukan alkohol yang membuat mereka menjadi punya niat. Alkohol hanyalah bumbu kecil bagi tindak kejahatan.
 
Fakta lain juga, negara-negara yang tingkat kejahatannya rendah seperti Singapura dan Jepang tidak melarang alkohol.
 
4. Moral. Masih begitu banyak orang yang mengaitkan alkohon dengan moralitas. Tidak ada kaitan sama sekali. Orang minum alkohol mungkin ada yang bejat. Sama halnya dengan orang yang rajin salat, juga ada yang bejat. Keduanya tidak saling berhubungan.
 
5. Generasi muda. Alkohol adalah barang yang boleh dikonsumsi oleh orang dewasa. Kalau ada anak-anak mengkonsumsi alkohol, kesalahannya bukan pada regulasi mana pun. Itu adalah produk pelanggaran regulasi.
 
Apakah pencabutan Perda ini berarti peredaran alkohon tidak diatur lagi? Itu kesalahan umum yang dikampanyekan kaum penghuni surga. Tidak demikian. Aturan tetap ada. Hanya saja tidak akan ada pelarangan total. Yang ada adalah pembatasan.
 
Apakah ini bermakna legalisasi alkohol? Tidak juga. Sejak dulu alkohon sudah legal kok. Hanya orang-orang itu saja yang membuat citra seolah alkohol itu ilegal.
 
Apa yang terpenting pada keputusan ini? Semua Perda itu dicabut karena menyalahi aturan yang lebih tinggi. Ini adalah pemberontakan terhadap konstitusi secara senyap. Atas nama syariat ada sekelompok orang yang merasa bahwa pengabaian terhadap konstitusi boleh dilakukan. Ini tidak boleh dibiarkan.
 
Masalah terbesar pada sebagian umat Islam adalah komitmen mereka pada NKRI. Tidak sedikit di antara umat Islam yang enggan mematuhi aturan negara, karena menganggapnya bukan aturan dari Allah. Sepertinya itulah yang ada di benak politikus perumus Perda tadi. Langgar saja aturan yang lebih tinggi, abaikan saja konstitusi, karena kita sedang menegakkan perintah Allah.
 
Sikap pemerintah ini adalah penegasan terhadap tegaknya konstitusi NKRI. Jangan boleh ada pihak yang merasa berhak melawan konstitusi, meski secara diam-diam.

Pseudoscience

pseudo

 

 

 

 

 
Pseudoscience adalah seperangkat kepercayaan atau mitos yang dipercayai atau dianggap berbasis pada data atau fakta sains, tapi sebenarnya bukan. Para penyebar cerita pseudoscience biasanya menggunakan jargon-jargon sains, tapi secara salah.
 
Pernah lihat gambar organ dalam manusia ditumpuk pada gambar telapak kaki di kedai pijat refleksi? Itu salah satu bentuk pseudoscience. Gambar itu memberi kesan seolah titik-titik di telapak kaki itu berhubungan dengan gambar-gambar organ tadi. Padahal tidak. Tidak ada hubungan secara otot atau saraf.
 
Para peramal astrologi juga memakai gambar-gambar rasi bintang. Tapi ramalan mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan planet-planet maupun galaksi. Kemudian ada berbagai cerita spekulatif tentang Segitiga Bermuda, itupun termasuk bagian dari pseudoscience.
 
Tidak jarang para penulis pseudoscience ini mengutip hasil riset dari jurnal untuk membenarkan bualan mereka. Hasil risetnya benar ada, tapi pemaknaannya serampangan. Bahkan ada di antara mereka yang melakukan “riset” sendiri, tapi ngawur.
 
Salah seorang pseudoscientist yang terkenal adalah orang Jepang bernama Masaru Emoto. Ia memiliki gelar doktor, sehingga cukup untuk meyakinkan banyak orang. Padahal gelar doktornya itu sama sekali tidak terkait dengan tema “riset” yang ia promosikan.
 
Emoto menyebarkan informasi soal keajaiban air dari kristal-kristal air yang ia buat dan ia foto. Menurut Emoto, kristal-kristal air akan tumbuh dengan cantik bila dibuat dalam lingkungan tertentu, yaitu bila diperdengarkan doa-doa dan pujian.
 
Sudah banyak kritik atas cara-cara eksperimen Emoto. Yang dia lakukan adalah pencocok-cocokan. Bahkan berupa rekayasa pembodohan.Tapi buku-buku dan seminarnya laris. Ia juga pernah datang ke Indonesia.
 
Termasuk dalam kategori pseudoscience ini adalah pencocokan ayat-ayat suci dengan sains, dalam hal Quran dilakukan oleh Maurice Bucaille. Tidak hanya orang Islam yang suka begini, orang Kristen pun melakukannya. Ada fakta sains yang dipaksakan cocok, atau ayat yang dipelintir maknanya agar cocok dengan sains. Ada pula fakta sains palsu yang diciptakan mengikuti ayat-ayat yang ada. Jumlahnya sangat banyak. Buku-buku pseudoscience jenis ini banyak diterbitkan, dengan penulis dari kelas kaki lima sampai seorang ilmuwan asli.
 
Mengapa orang menyukai pseudoscience? Sains yang sebenarnya sering kali terlalu rumit untuk dipahami. Pseudoscience lebih menggairahkan. Mungkin ini terkait dengan imajinasi mistis masa kecil kita. Kita umumnya dibesarkan dengan kepercayaan-kepercayaan mistis, dan hasilnya membuat kita sulit melepaskan diri darinya. Maka cerita soal mistisnya Segitiga Bermuda sangat mudah kita teria tanpa periksa.
 
Agama berpengaruh mirip dengan mistisme pada kebanyakan orang. Saya menemukan begitu banyak orang mengklaim bahwa ayat-ayat Quran sudah terbukti cocok dengan sains, padahal ia sama sekali tidak paham dengan apa yang ia bicarakan. Ia beriman seperti orang yang percaya pada demit, lelembut, dan sejenisnya.
 
Hal lain, khusus menyangkut tubuh dan kehidupan manusia, termasuk soal kesadaran dan pikiran, memang masih banyak sisi yang menjadi misteri. Walau sebenarnya banyak juga yang sudah berhasil dikuak misterinya. Cuma sekali lagi, the real science is much too complicated. Maka orang lebih suka mencari sesuatu yang mudah, dan membuat mereka nyaman. Kalau “terbukti” kitab suci yang kita imani sesuai sains, tentu membahagiakan, bukan?
 
Nah, bagaimana mendeteksi pseudoscience dalam suatu topik? Ini agak rumit, karena banyak tulisan pseudoscience yang sangat meyakinkan. Ya itu tadi, ditulis oleh ilmuwan beneran. Cara termudahnya adalah dengan mencari sumber informasi dari situs-situs terpercaya seperti majalah sains, website universitas, atau lembaga riset. Atau, untuk deteksi awal, tulis saja kata kunci topik tersebut ditambah kata pseudoscience. Nanti akan keluar artikel-artikel yang sifatnya membongkar pseudoscience itu.
 
 

 

 

Mengapa Pindah Kerja?

pindahIndonesia adalah negara dengan angka pindah kerja sangat tinggi. Survey oleh Tower and Watson tahun 2013 menunjukkan bahwa tingkat voluntary attrition rate (pindah kerja secara sukarela) di Indonesia adalah 20,35%. Bandingkan dengan negara-negara yang sedang berkembang pesat di Asia Pacific yang hanya 12,39%, dan secara global yang hanya 8,24%.

Mengapa orang pindah kerja? Alasan utama biasanya soal gaji dan berbagai tunjangan yang menyertainya. Peluang karir ke posisi yang lebih tinggi juga menjadi pertimbangan. Kemudian kesempatan untuk menambah keahlian, baik melalui pengalaman kerja maupun dari berbagai fasilitas training yang disediakan perusahaan. Lokasi tempat kerja juga sering kali mendorong orang untuk pindah kerja. Yang cukup sering menjadi keluhan adalah soal hubungan kerja dengan atasan atau rekan sejawat.

Para pekerja pemula relatif lebih sering pindah kerja. Banyak dari mereka yang masih mencari-cari format karir yang pas, mencari lingkungan yang enak atau cocok, serta mencari kesempatan mendapat bayaran tinggi. Mereka berada pada posisi tanpa beban. Karir baru mulai, sehingga tidak ada yang dipertaruhkan saat pindah kerja. Mereka juga masih belum dibebani dengan tanggungan keluarga, sehingga relatif ringan dalam perhitungan resiko.

Baikkah pindah kerja itu? Tidak bisa kita katakan baik atau buruk tanpa menjelaskan alasannya. Bagi perusahaan, karyawan pindah kerja bukan hal yang menggembirakan. Ketika Anda melamar kerja, salah satu hal yang dinilai adalah berapa sering Anda pindah kerja. Orang yang terlalu sering pindah kerja biasanya tidak menarik untuk direkrut.

Nah, apa alasan yang sahih untuk pindah kerja? Dalam sebuah kuliah saya pada pembekalan wisuda di UGM ada peserta yang bertanya soal pindah kerja. Bagaimana kalau ternyata pekerjaan saya tidak enak, apakah saya harus pindah? Saya jawab dengan pertanyaan balik, apa yang dimaksud tidak enak? Kalau yang dimaksud enak adalah kerja santai, gaji tinggi, bisa seenaknya, yakinlah bahwa tidak ada pekerjaan seperti ini. Jadi, jangan pindah kerja dengan alasan mencari pekerjaan enak.

Lalu apa? Fokuslah pada pengembangan diri dalam berkarir. Karena itu saya sangat menganjurkan kepada para pekerja, khususnya para pemula untuk membuat skill roadmap. Apa itu? Itu semacam rencana perjalanan karir. Dalam rencana itu Anda susun daftar keahlian yang akan Anda raih sepanjang perjalanan karir. Pertumbuhan keahlian itulah yang akan memastikan Anda akan naik ke jenjang yang lebih tinggi.

Jadikan roadmap tadi sebagai pedoman. Bila Anda berniat pindah kerja, pastikan sebabnya adalah bahwa di tempat Anda sekarang sudah tidak ada lagi hal yang bisa Anda pelajari untuk melengkapi roadmap Anda, dan hanya bisa dipelajari di tempat lain. Jangan pindah saat kesempatan belajar masih menggunung di depan Anda.

Bagaimana bila ada tawaran gaji yang lebih baik? Layak dipertimbangkan. Tapi biasanya selisihnya tidak banyak. Sekedar cukup untuk menambah uang jajan. Perlu diingat, tambahan gaji biasanya juga diikuti dengan tambahan beban kerja. Pertimbangkanlah apakah beban kerja di tempat baru akan memberi ruang bagi Anda untuk belajar, atau waktu Anda hanya akan habis untuk hal-hal rutin.

Tapi kalau atasannya tidak menyenangkan bagaimana? Menghadapi atasan yang sulit adalah sebuah skill yang harus dipelajari. Termasuk di dalamnya adalah skill untuk mengendalikan emosi kita sendiri. Ini adalah latihan mental. Dunia ini penuh dengan orang dengan berjuta karakter. Tidak semua cocok dengan kita. Kita jangan membiasakan diri lari dari hal yang kita tidak suka. Sebaliknya belajarlah untuk menghadapinya, dan mengalahkannya.

Saya pernah bekerja riset di bawah seorang profesor yang tidak menyenangkan. Saat pertama rasanya begitu menyiksa. Tapi lama-lama, terjadi harmonisasi. Kemudian terjadilah hubungan baik, yang masih berlangsung sampai sekarang. Di lain waktu saya mendapat atasan orang yang tidak menyenangkan. Saya bertahan, dan akhirnya dia dipindahkan dari posnya sebelum masa tugasnya berakhir.

Jadi, ada banyak alasan untuk pindah kerja. Tapi sekali lagi, fokuslah pada alasan-alasan yang menyangkut pengembangan diri dan karir Anda. Gunakan skill roadmap Anda sebagai pertimbangan utama dalam memutuskan. Jangan pindah karena alasan-alasan remeh.

Oyabaka, Oyagokoro

oya

Dua istilah ini adalah istilah dalam bahasa Jepang. Oya (親)artinya orang tua (parent). Baka artinya bodoh. (Dalam format makian, kata baka ini kerap di digandeng dengan kata yarou sehingga lengkapnya berbunyi bakayarou artinya kurang lebih “si bodoh”. Dalam pelajaran sejarah kita mengenalnya sebagai kata bagero.) Sedangkan kata gokoro berasal dari kata kokoro” yang sudah mengalami perubahan ucapan. Kokoro artinya hati. Kita mengenal kata ini dari lagu Kokoro no tomo (Tambatan Hati).

Oyabaka dapat kita maknai sebagaimana makna lateralnya, kebodohan orang tua (bapak/ibu). Ini adalah sesuatu yang universal sifatnya. Orang tua pasti mencintai anak-anaknya. Dan cinta itu buta lagi membutakan. Juga bodoh, dan membuat orang bodoh. Artinya, rasa cinta pada anak-anak dapat membuat seseorang jadi bodoh. Wujud kebodohan itu adalah perasaan subjektif orang tua yang membuat anak-anaknya selalu terlihat baik.

Kalau oyabaka ini kita umpamakan seperti penyakit, kita bisa klasifikasikan ke dalam beberapa kelompok. Ada yang masuk kelompok ringan. Ini biasanya dialami oleh orang-orang yang baru punya anak. Sangat alami bahwa dia akan merasa anaknya cantik, ganteng, menggemaskan. Ia akan mengabaikan pendapat-pendapat lain yang berbeda tentang anaknya.

Gejala oyabaka stadium ringan salah satunya adalah gemarnya seseorang mengumpulkan foto-foto anak, dan memajangnya. Di era Facebook ini gejala oyabaka berjejer dengan sindrom narsis si empunya Facebook. Selain memajang foto diri, disertai pajangan foto anak-anak.

Anak-anak selalu manis, selalu menyenangkan. Selalu baik di mata kita. Tapi, itu tadi, mata kita sendiri kadang tertutupi oleh perasaan. Kita kemudian kehilangan objektivitas. Saat anak-anak kita sudah besar, beberapa tingkahnya tak lagi manis. Ada yang menyakitkan, ada yang berbahaya dan harus dihentikan. Tapi lagi-lagi kita tak jarang membohongi diri, bahwa anak kita baik dan manis. “Right or wrong, it’s my kid.” Ini mulai jadi masalah, dan tak jarang jadi masalah gawat.

Secara internal kadang kita mengakui bahwa anak-anak kita itu salah, tidak baik. Tapi sikap yang keluar dari tubuh kita bertolak belakang dengan hal itu. Tanpa sadar kita tidak lagi sedang mencurahkan kasih sayang yang baik bagi anak-anak kita. Tapi kita sebenarnya kita sedang menjerumuskannya ke jurang.

Saya teringat jaman saya masih kecil dulu. Abang saya, guru SMP, bercerita tentang seorang pejabat di daerah. Anaknya bersekolah di tempat abang saya mengajar. Saat kenaikan kelas, anak tersebut tidak naik. Si Bapak, dengan kekuasaannya, meminta guru untuk menaikkan. Guru, tentu sulit melakukan hal ini . Akhirnya diambil “jalan tengah”. Anak tadi dinaikkan kelasnya, tapi dia harus pindah ke sekolah lain.

Oyagokoro adalah hati subjektif orang tua. Inilah (barangkali) sumber penyakit oyabaka tadi. Hati orang tua yang tidak hanya memandang anaknya selalu manis dan baik. Tapi juga selalu berusaha memberikan perlindungan, apapun bentuknya, berapapun biayanya. Hati yang dewasa memberikan perlindungan dalam wujud yang positif. Sebaliknya, hati yang kekanak-kanakan memberikan sesuatu yang diniati untuk melindungi, tapi sebenarnya justru menjerumuskan.

Oyagokoro, hati subjektif orang tua, kadang lambat menyadari bahwa anak-anak tidak lagi kanak-kanak. Di mata orang tua, anak-anak selalu kecil, dan layak diperlakukan sebagai anak-anak. Uniknya, hampir semua bahasa, termasuk bahasa Jepang, tidak membedakan kosa kata “anak” untuk pengertian “muda usia” dengan “keturunan”. Anak, dalam hati subjektif orang tua, selalu anak yang muda usia, tak peduli keduanya (orang tua dan anak) sudah sama-sama berada di usia manula.

Dulu, ketika saya kuliah di Jepang, saya sering dimarahi oleh Sensei saya. Khususnya saat-saat awal saya berada dalam bimbingan dia. Beberapa kejadian memang karena saya berbuat salah. Beberapa kejadian lain karena mis-komunikasi. Tapi ada beberapa kasus yang menurut saya sudah berlebihan. Ketika menyadari dia berlebihan, Sensei pernah meminta maaf dan menjelaskan. “Ini masalah saya, masalah oyagokoro. Saya kebetulan punya anak yang seumur dengan kamu. Jadi, tak jarang saya melihat kamu itu sebagai anak-anak,” katanya.

 

sumber foto: rakuten

Kisah Hikmah Minus Nalar

Kisah Hikmah Minus Nalar
 
Alkisah, ada orang alim, namanya Barshiha. Ia selalu tekun beribadah, sehingga malaikat kagum padanya. Tapi Allah berkata lain. TakdirNya menentukan ia akan mati dalam keadaan kafir. Sebabnya karena khamar.
 
Nah, rupanya ada iblis yang mencuri dengar cerita itu. Ia kemudian pergi menemui Bashira, menyamar sebagai orang alim pula. Ia tinggal di rumah Bashira dan beribadah dengan sangat khusu’, sampai ia mampu mengalahkan kehebatan Bashira dalam beribadah. Ia bisa beribadah tanpa makan, minum, dan tidur. Akhirnya timbul rasa penasaran pada Bashira.
 
“Bagaimana caranya hingga engkau bisa beribadah seperti itu?”
 
“Aku dulu pernah berbuat dosa. Kalau aku mengingat dosaku, ibadahku akan lebih khusyu’ sampai aku tak memerlukan makan, minum, dan tidur.”
 
“Jadi untuk bisa seperti itu aku harus bagaimana?”
 
“Kamu harus berbuat dosa dulu.”
 
Bashira ditawari untuk membunuh, berzina, atau minum khamar. Bashira memilih untuk minum khamar, yang dosanya dia anggap paling ringan. Ia pergi membeli khamar, kemudian meminumnya. Dalam sekejap ia mabuk, kemudian memperkosa perempuan penjual khamar. Takut perbuatannya diadukan, ia akhirnya membunuh perempuan itu.
 
Iblis kemudian mengadukan perbuatan Bashira kepada polisi. Ia ditangkap dan dihukum mati. Pada saat akan dihukum mati iblis menawarkan keselamatan, asalh Bashira mau berikrar kafir. Bashira menurut, ia berikrar kafir. Tapi iblis menipunya. Ia tidak diselamatkan, dan dibiarkan mati dalam keadaan kafir.
 
Pernah dengar cerita ini? Konon cerita ini termuat dalam kitab Durratun Nashinin. Cerita-cerita semacam ini kerap diceritakan oleh para ustaz. Inti pesannya: Khamar adalah induk segala kejahatan. Minum khamar bisa membuat orang melakukan berbagai kejahatan lain. Sounds familiar?
 
Cerita ini sama sekali tidak bersumber pada riwayat sahih. Ini bukan kisah nyata, melainkan hanya rekaan belaka. Herannya, orang bisa membuat rekaan cerita yang melibatkan Allah. Tapi cerita ini dipercaya banyak orang, menjadi salah satu referensi soal pandangan soal khamar. Membaca ini membuat orang percaya bahwa begitulah cara kerja khamar.
 
Cerita seperti ini sejak awal didesain untuk mematikan nalar. Pokoknya percaya, dan dengan kepercayaan itulah orang-orang memandang dunia. Cerita ini menjadi semacam rujukan iman. Artinya, iman yang dikembangkan memang iman yang betul-betul akan mematikan nalar.Sedihnya, cerita-cerita sejenis ini cukup banyak beredar dalam berbagai kajian Islam.
Mungkin memang penting untuk mematikan nalar manusia, agar mereka tunduk dan patuh. Entahlah.