Monthly Archives: May 2016

Sihir

magic-trick
Saya penggemar cerita Harry Potter. Semua seri buku tersebut saya baca, dan saya ingat cerita di setiap seri. Semua filmnya saya tonton. Tentu saja saya menganggapnya sebagai cerita fiksi belaka.
 
Sihir itu tidak nyata, dan tidak pernah nyata. Saya yakin akan banyak orang yang membantah pernyataan ini. Mereka terbiasa mendengar cerita-cerita yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Ya, hanya mendengar, mempercayai, dan meneruskannya. Sebagian sangat besar dari cerita-cerita ajaib yang pernah kita dengar, kita dapatkan bukan dari orang yang menyaksikannya langsung. Itulah salah satu sebab kenapa hoax bisa begitu cepat menyebar di internet. Karena orang-orang sudah terbiasa meneruskan cerita yang tidak masuk akal.
 
Bagaimana dengan orang-orang yang sudah menyaksikannya secara langsung? Apakah kita tidak bisa mempercayai mereka? Sebenarnya kita semua pernah menyaksikan sihir, secara langsung. Kita menyaksikannya di panggung sulap. Hanya saja sejak awal kita tahu bahnya yang kita saksikan itu tidak nyata. Adapun yang mengaku pernah menyaksikan sihir, ia sebenarnya korban sebuah trik sulap belaka. Sulap, magic, atau sihir, adalah realitas palsu yang dihadirkan dengan memanipulasi audiens.
 
Sihir atau magic sudah hadir sejak zaman dulu. Lebih tepatnya, sihir adalah bagian dari masa lalu ketika sangat banyak fenomena yang dilihat manusia tidak bisa ia jelaskan. Orang melihat pelangi, kemudian mengarang cerita bahwa itu adalah tangga bidadari yang sedang turun ke bumi. Ada jutaan cerita semacam itu.
 
Manusia berhadapan dengan alam yang maha besar. Mereka percaya bahwa ada sosok maha besar, maha berkuasa, serba maha, yang menciptakan dan mengatur alam ini. Sosok itu juga mengatur bagaimana manusia harus berperilaku. Bila aturannya dituruti, maka ia akan senang. Kalau tidak, ia akan murka. Ia bisa menciptakan kejadian-kejadian luar biasa untuk memberkati manusia yang ia kehendaki, atau untuk menyiksa manusia yang tidak ia sukai. Itulah Tuhan.
 
Karena terbiasa percaya penjelasan-penjelasan supranatural itu, orang mudah percaya kepada sihir.
 
Ketika sains berkembang, secara perlahan sihir menyingkir dari kehidupan manusia. Yang tersisa hanyalah sihir di panggung hiburan. Zaman dulu orang berobat ke dukun, diobati dengan cara-cara sihir. Kini kita umumnya berobat ke dokter, diobati dengan metode ilmiah yang telah diuji sebelumnya.
 
Tentu saja masih ada orang yang percaya dengan sihir. Malah masih banyak. Sebanyak orang yang masih percaya pada dukun, atau sering kali disebut pengobatan alternatif. Sepertinya tidak mungkin kepercayaan kepada sihir itu dibuang sama sekali, selama orang masih beriman kepada kitab suci. Kitab-kitab suci agama memuat cerita-cerita tentang sihir. Tidak mempercayai sihir sama artinya tidak mempercayai sebagian isi kitab suci. Itu bisa berarti tidak beriman kepada kitab suci itu secara keseluruhan.
 
Jadi, apa boleh buat. Selama Anda beriman kepada kitab suci, Anda memang harus percaya kepada cerita-cerita magis, seperti awan yang digiring malaikat, atau setan yang dilempar dengan komet. Pada saat yang sama Anda mungkit bisa percaya bahwa sekolah Hoghwart itu nyata.
 
sumber foto: ktwop dot com

Puasa Kita Sia-sia

kiblatnet

 

 

 

 

 

 

 

 

Hal pertama yang diajarkan puasa adalah tepat waktu. Subuh-subuh kita bangun, untuk sahur. Kita makan. Begitu tiba waktu azan subuh, kita berhenti makan. Tidak ada dari kita yang masih asyik makan saat azan subuh sudah berkumandang, dengan alasan,”Santai aja, kan belum 5 menit.” Bahkan, kita sudah antisipasi agar tidak kebablasan. Sepuluh menit sebelumnya kita sudah berhenti makan, saat imsak.
 
Pagi harinya kita pergi kerja. Terlambat 5 menit, biasa saja. Lalu kita mengadakan rapat. Terlambat 10 menit pun biasa. Tenggat waktu pekerjaan kita, terlambat 2 hari, kita masih minta tambahan waktu.
 
Kita hanya disiplin soal waktu dalam satu hal: makan.
 
Puasa itu menahan nafsu, bukan? Yang paling utama adalah nafsu makan. Tapi benarkah kita tahan nafsu makan kita? Iya, tapi hanya siang hari. Coba lihat saat berbuka, ada berapa jenis makanan terhidang di meja? Sepertinya semua jenis makanan yang kita impikan selama siang hari, hadir di situ.
 
Coba tanya praktisi perdagangan, apa yang terjadi menjelang bulan puasa? Harga-harga naik. Kenapa? Karena permintaan naik. Lhoooo, bukankah kita seharusnya menahan diri? Kenapa justru permintaan naik?
 
Puasa bagi kita hanyalah rem sementara. Begitu tiba waktu melepas rem, kita injak gas sedalam-dalamnya. Puncaknya nanti saat lebaran. Pengeluaran kita berlipat-lipat dari biasa. Tak jarang kita memaksakan diri untuk membeli, sampai berhutang segala.
 
Saya mendengar cerita dari sales mobil. Permintaan mobil meningkat selama puasa, puncaknya menjelang lebaran. Nanti setelah lebaran akan terjadi tumpukan kredit macet. Mobil-mobil yang dibeli ditarik karena pembelinya tidak mampu membayar angsuran. “We buy things we don’t need, using money we don’t have, to impress people who don’t care.”
 
Puasa itu katanya latihan sabar. Kita sabar menunggu waktu berbuka. Sabar untuk tidak marah, walau sering kebablasan juga. Seharusnya kita juga sabar antri menunggu giliran, bukan? Cobalah lihat jalan raya kita selepas asar hingga menjelang magrib. Orang-orang seperti sedang berlomba pulang ke rumah. Saling salip, saling serobot, dan saling pepet. Lho, sabarnya di mana? Di mulut belaka.
 
Puasa itu seharusnya membuat kita tunduk, merendahkan diri di hadapan Tuhan dan manusia. Puasa itu persembahan untuk Tuhan. Sebenarnya tak ada yang tahu kita puasa atau tidak. Kita bisa saja diam-diam minum seteguk air, tanpa ada orang lain yang tahu, bukan? Jadi puasa itu sebenarnya adalah rahasia kita yang paling pribadi.
 
Tapi apa yang kita lakukan dengan puasa? Kita umumkan. Kita minta agar orang lain menghormati kita. Kita ini sedang melakukan ibadah mulia, maka seluruh kota harus berkhidmat untuk kita. Tutup semua tempat hiburan! Konon itu mengganggu ibadah kita. Tergoda ingin ke sana? Tutup semua kedai makan! Takut kebablasan mampir siang-siang?
 
Puasa akhirnya hanyalah ritual hura-hura yang berulang tiap tahun, tanpa meninggalkan bekas kebaikan di wajah kita.
 
 

photo  by Yogi Ardhi

Pakaian dan Pikiran Seksual

skirt
Hari ini saya melihat dua foto di Facebook. Keduanya tidak saling berhubungan satu sama lain. Tapi dalam pikiran saya kedua foto ini menyampaikan pesan yang sangat kuat soal ketelanjangan dan pelecehan seksual.
 
Foto pertama sebuah meme. Ada gambar cangkul di situ. Kemudian ada pesan tertulis: “Masih mau mengumbar aurat? Masih mau berkhalwat? Ingat, cangkul masih banyak.” Kita yang membacanya langsung bisa menebak kandungan pesan di meme tersebut. Ini terkait dengan kasus perkosaan dan pembunuhan sadis, di mana pelaku menganiaya korbannya dengan cangkul. Pembuat meme hendak menyampaikan pesan bahwa perempuan diperkosa dan dilecehkan karena ia mengumbar aurat, termasuk dalam kasus pembunuhan sadis tadi.
 
Foto kedua adalah foto suasana Bali tahun 1941, di sebuah sekolah. Ada murid-murid perempuan yang memakai kain batik di bagian bawah seperti para perempuan memakai sarung batik saat ini. Bedanya, di bagian atas mereka tidak memakai apapun, alias bertelanjang dada. Foto semacam ini bisa kita temukan di banyak media, menggambarkan bahwa di Bali pada masa itu para wanita memang biasa bertelanjang dada.
 
Bila kepercayaan pembuat meme di atas adalah sebuah kebenaran, tentulah di Bali pada masa itu banyak pelecehan seksual, bukan? Bisa kita bayangkan kalau perempuan pakai rok mini saja menyebabkan perkosaan, tentulah perkosaan lebih intens di tempat di mana perempuan bertelanjang dada. Begitukah faktanya? Saya tidak tahu persis bagaimana suasanya sosial di Bali ketika itu. Tapi rasanya mustahil ada masyarakat di mana orang dengan enteng memperkosa begitu saja.
 
Di Papua pun kini masih banyak perempuan yang tidak pakai baju, atau pakai baju seadanya. Kita pun tidak mendengar perempuan sering diperkosa di sana. Di Singapura kita bisa menyaksikan perempuan berpakaian minim di tempat-tempat umum, bahkan sampai larut malam. Angka kejahatan perkosaan rendah di sana. Demikian pula di Jepang.
 
Parahnya, orang-orang seperti pembuat meme ini jarang menyalahkan pelaku. Pemerkosa itu adalah manusia sinting. Ia tidak hidup dengan standar nalar dan tata krama manusia biasa. Ia memperkosa karena menganggap calon korbannya bisa diperkosa. Tidak peduli ia pakai rok mini atau pakai cadar. Bukankah di Jakarta ini pernah ada korban perkosaan yang pakai jilbab? Jadi tidak ada hubungan antara pakaian orang dengan perkosaan atau pelecehan seksual. Sebab utama perkosaan adalah adanya manusa bejat.
 
Nah, dari mana pikiran ini berasal? Salah satu sumbernya menurut dugaan saya adalah situasi Arab di abad ke 7. Saat itu untuk pergi berak saja pun orang harus keluar rumah. Di luar rumah itu padang pasir. Banyak begal berkeliaran di situ. Mereka mengincari budak-budak perempuan, untuk diganggu dan diperkosa. Maka pada waktu itu ada ajaran agar perempuan merdeka memakai kerudung. Kerudung ini memberi tanda bahwa mereka bukan budak, sehingga mereka tidak akan diganggu. Fakta itu kemudian direkam di dalam Quran, menjadi salah satu ayat yang dijadikan sandaran untuk mewajibkan pemakaian jilbab.
 
Pola pikir inilah sepertinya yang dianut pembuat meme tadi. Pola pikir dia adalah pola pikir begal Arab abad VII, yang selalu mengincar perempuan yang membuka auratnya. Boleh jadi ia pun akan bertingkah seperti begal itu bila ada kesempatan.
 
Bagi saya perkosaan bukan karena pakaian perempuan. Perkosaan itu terjadi karena masih ada laki-laki bermental begal. Sayangnya, banyak laki-laki dengan mental seperti ini hidup dalam posisi terhormat, berbungkus aksesori bersimbol agama.
 
Tapi bukankah agama Islam mengajarkan untuk menutup aurat? Ya, tapi agama Islam juga mengajarkan untuk menjaga pandangan. Terlebih, agama Islam sangat ketat memerintahkan untuk menjaga kemaluan! Tidak ada ada dalam ajaran Islam hal yang membenarkan orang untuk melakukan pelecehan seksual hanya karena perempuan yang ia lihat tidak menutup aurat. Sekali lagi, hanya begal yang berperilaku begitu.

Dampingi Anak-anak Kita Belajar

296461_4473784083496_2101638149_n
Sehari kemarin di beranda Facebook saya beredar posting tentang soal ulangan anak SD yang berisi kandungan tidak patut. Orang-orang membagikannya dengan peringatan,”Awasi anak-anak Anda saat belajar.” Maksudnya, materi pelajaran/ulangan tidak selalu sehat dan benar. Karena itu orang tua harus mengawasi.
 
Terus terang saya prihatin. Ada kesan, semoga saya salah, para orang tua hanya menyisihkan waktu untuk berada di dekat anaknya ketika mereka belajar saat ada persoalan seperti ini. Bahkan mungkin hanya pada periode yang sangat singkat saja, ketika isu ini hangat. Diksi yang dipakai sungguh mengerikan,”Awasi anak Anda saat mereka belajar.”
 
Bapak-bapak, Ibu-ibu, saat anak-anak kita belajar tugas kita bukan mengawasi, tapi mendampingi. Ada atau tidaknya masalah mengerikan seperti di atas, tugas itu tidak boleh kita lalaikan. Ada begitu banyak alasan kenapa itu harus dilakukan. Alasan paling utama adalah karena tugas mendidik anak adalah tugas kita, bukan tugas guru. Tugas itu tidak serta merta selesai atau tunai karena kita sudah menyekolahkan anak. Sekolah dan guru-guru hanya membantu kita dalam pendidikan. Kita bagian utamanya.
 
Anak-anak, khususnya usia dini, ketika belajar mereka tidak sekedar membangun pengetahuan, tapi membangun konsep tentang segala sesuatu. Konsep adalah sesuatu yang lebih besar dari pengetahuan. Konsep menyangkut pengetahuan, dan bagaimana seseorang bersikap terhadap hal itu. Misalnya, kita tahu bahwa Indonesia ini beragam dalam hal suku dan agama. Itu pengetahuan. Bagaimana kita bersikap terhadap keragaman, itu adalah sebuah konsep.
 
Nah, siapa yang kita harapkan berada di samping anak-anak kita, mengarahkan mereka saat mereka membangun konsep itu? Guru di sekolah? Atau guru les yang kita bayar? Sayang sekali kalau itu bukan kita.
 
Di sekolah guru-guru harus berhadapan dengan 30-40 murid sekaligus saat dia mengajar. Maka pendekatannya adalah massal. Guru tidak akan mengajar dengan mengenali audiensnya satu per satu. Ia tidak akan memberi sentuhan personal. Padahal anak-anak memerlukan itu untuk memahami sesuatu. Lebih mudah bagi anak-anak memahami sesuatu bila penjelasan dimulai dari hal yang sudah dia ketahui atau alami. Kita sebagai orang tua bisa melakukan itu.
 
Anak-anak sering terbentur pada diksi saat belajar. Soal ini tak banyak diperhatikan oleh guru-guru, karena pendekatannya yang bersifat massal tadi. Tadi malam Kenji anak saya menemukan kata yang tidak ia pahami tertulis di buku teks, yaitu kata melanda. Kata itu mungkin sudah berulang-ulang dikatakan gurunya tanpa ia pahami. Ayah, apa arti melanda? Di situlah kita perlu hadir mendampingi untuk menjelaskan.
 
Ada kalanya guru menjelaskan dengan cara yang salah, maka kita harus koreksi. Ada pula saatnya guru memberi soal yang salah, dan membingungkan. Padahal bagi anak, guru tidak mungkin salah. Kalau tidak diluruskan, kebingungan itu akan menjadi siksaan. Tadi malam Kenji mengerjakan tugas, ada sebuah bacaan singkat di situ. “Fitri tidak sengaja menumpahkan minuman di baju Anisa. Ia minta maaf.” Di bagian soal ada pertanyaan, “Mengapa Fitri minta maaf pada Aisyah?” Saat menemukan kesalahan seperti ini biasanya saya tuliskan catatan kecil di kertas PR anak saya, mengingatkan guru untuk lebih teliti.
 
Di luar masalah itu, mendampingi anak-anak kita belajar adalah cara untuk berkomunikasi dengan mereka. Di situ kita bisa menyelami pertumbuhan pengetahuan, wawasan, kesadaran, dan cara berpikir mereka. Kita juga bisa mengarahkan perkembangan hal-hal itu. Ada banyak orang tua yang tiba-tiba kaget oleh perkembangan anaknya. Tiba-tiba ia temukan anaknya pada keadaan berpikir atau berperilaku jauh dari sangkaannya selama ini. Kenapa? Karena tidak pernah berkomunikasi.
 
Ada lebih banyak lagi alasan kenapa mendampingi anak kita belajar sangat penting. Karena alasan-alasan itulah maka saya berkomitmen untuk sudah tiba di rumah paling lambat jam 7 malam, meski jarak antara kantor dan rumah tidak dekat. Setiap malam setidaknya 2 jam saya dampingi anak-anak saya belajar. Demikian pula selama akhir pekan saya dedikasikan waktu saya secara penuh untuk bersama mereka. Karena itulah saya jarang berkumpul dengan teman-teman usai jam kerja, atau di akhir pekan.
 
Ingat, anak-anak kita hanya tumbuh sekali. Hanya sekaranglah kesempatan kita untuk mendampingi mereka.
 

Ketika Patah Semangat

hopelessness-woman-130910

Dalam sebuah training seorang karyawan muda bertanya pada saya,”Saya sadar betul bahwa saya harus bekerja dan belajar giat untuk masa depan saya. Tapi sulit sekali menjaga semangat untuk konsisten berusaha. Bagaimana caranya menaikkan semangat saat semangat kita turun atau kurang?”

Kepada karyawan baru tadi saya tanya, berapa gajimu sekarang? Blak-blakan saja, tidak jauh dari gaji UMK. Beda tipis. Berapa kenaikan berkala yang bisa kamu harapkan setiap tahun? Tidak banyak. Padahal tuntutan kebutuhan hidup meningkat terus setiap tahun. Di masa depan kamu harus menikah. Untuk itu kamu perlu biaya, baik untuk pernikahannya maupun untuk hidup setelah itu. Tanggungan kamu bertambah. Belum lagi kalau nanti punya anak. Sekali lagi, tanpa kamu menaikkan gaya hidup pun tuntutan kebutuhan akan selalu naik. Jadi ingatlah bahwa bekerja keras adalah satu-satunya pilihan. Kita tidak punya pilihan lain.

Hidup itu seperti mendaki tanjakan. Kita tidak suka dengan tanjakan itu, karena mendakinya melelahkan. Tapi kalau kita berdiri saja di tanjakan itu pun, kita juga lelah. Jadi tidak ada pilihan lain kecuali mendaki, dan mendaki dengan giat, hingga kita bisa mencapai suatu titik di mana kita bisa beritirahat. Kalau kita sudah di puncak, kita bisa beristirahat dengan lebih tenang.

Jadi bagaimana cara menaikkan semangat? Dengan menatap ke puncak. Dengan mengingat-ingat bahwa di depan sana ada tujuan, bila kita sampai di sana maka segala ketidaknyamanan sekarang akan berakhir.

Apa yang mematahkan semangat kita? Kenikmatan sesaat atau kenikmatan instan. Santai bermalas-malasan, atau kumpul-kumpul tanpa tujuan adalah kenikmatan yang menggoda, sedangkan kerja keras adalah siksaan. Tapi sebenarnya santai terus menerus juga bukan sesuatu yang nikmat. Pada dasarnya manusia akan bosan bila ia melakukan hal yang sama terus menerus. Maka yang perlu dilakukan adalah membuat selingan.

Lakukan hal-hal yang kita sukai, tapi batasi diri. Beri jatah bagi diri kita, berapa lama kita boleh melakukan hal itu. Segera hentikan, lalu kembali pada kewajiban kita. Selesaikan kewajiban kita, kemudian nikmati kembali hak kita untuk santai. Yakinlah bahwa santai setelah kita menyelesaikan kewajiban jauh lebih nikmat daripada santai terus menerus, atau santai sambil khawatir soal kewajiban kita yang masih terbengkalai. Jadi kuncinya terletak pada ketegasan kita pada diri sendiri untuk tidak berlarut-larut dalam kenikmatan instan yang membuat lalai.

Menciptakan selingan penting untuk menjaga energi kita. Saat kita sedang jenuh, cobalah berhenti sejenak untuk bersantai. Atau, kerjakan hal lain yang juga merupakan tugas kita, tapi berbeda dengan yang saat ini membuat kita jenuh. Dengan begitu kita bisa sedikit lepas dari beban, tapi tetap tidak meninggalkan tugas atau kewajiban. Cara lain, carilah bagian yang mudah pada pekerjaan itu untuk kita kerjakan pada saat-saat jenuh.

Cara lain untuk mempertahankan semangat adalah dengan membuat tahapan-tahanpan pekerjaan. Bila tercapai satu tahap, kita merasakan bahwa pekerjaan kita mengalami kemajuan. Kemajuan kecil sekalipun akan kita nikmati sebagai sukses kecil yang membahagiakan. Kebahagiaan kecil akan memberi tambahan energi untuk menjalani proses selanjutnya.

Jadi sekali lagi, hidup tidak punya pilihan. Kita harus terus mendaki. Kalau tidak kita akan tertinggal, atau terperosok ke jurang. Buatlah setiap langkah pendakian itu nikmat, dengan menikmati apa yang ada di sepanjang jalan. Ingatlah selalu kenikmatan yang akan kita raih bila kita tiba di puncak. Sesekali beritirahatlah. Buatlah tahapan-tahapan di tengah jalan, di mana kita bisa beritirahat sejenak sambil melihat jalan yang kita lalui tadi. Nikmati kesadaran bahwa kita sudah mendaki sekian jauh, dan kita masih akan punya banyak tenaga untuk tiba di puncak.

sumber gambar: quotesgram