Monthly Archives: April 2016

Miskin Pikiran

beggar

 

 

 

 

 

 

 

“Miskin harta itu gampang sembuhnya, cukup dengan bekerja. Tapi kebanyakan orang miskin itu bukan miskin harta, mereka miskin pikiran.”

Emak selalu mengomelkan hal itu kepada kami sejak kami masih kecil. Ada banyak orang miskin di kampung kami ketika itu. Rumahnya reot, nyaris tumbang. Atap bocor di sana sini. Demikian pula dinding rumahnya, bolong di berbagai tempat. Rumah juga tanpa perabot. Untuk tidur mereka pakai tikar pandan yang sudah robek. Sekedar piring makan saja mereka pakai piring seng yang sudah berkarat.

Ibakah Anda melihat mereka? Mungkin. Tapi Emak lebih sering jengkel ketimbang iba. Kenapa? Di kampung kami dulu orang nyaris tak memerlukan uang. Hampir semua barang untuk hidup disediakan oleh alam. Untuk membuat atau membetulkan rumah, orang cukup pergi ke hutan, menebang berbagai jenis kayu untuk tiang, dan lantai, serta mengumpulkan daun-daun nipah untuk daun dan dinding. Demikian pula, daun pandan tersedia lebih dari cukup untuk membuat tikar. Jadi kalau orang kampung tinggal di gubuk reot seperti saya lukiskan tadi, mereka hanya pemalas saja.

Setiap musim peceklik menjelang musim panen padi, banyak orang datang ke kebun kami mengambil singkong untuk makan. Persedian padi mereka sudah habis. Waktu panen padi mereka dijual sebagian. Pokoknya dijual saja, tanpa menghitung kebutuhan selama setahun sampai panen tahun depan. Untuk menyambung hidup mereka makan singkong.

Tapi kenapa meminta di kebun kami? Karena mereka tidak menanam. Kenapa tidak menanam? Pemalas. Padahal kami hanya menanam singkong sekali saja, waktu membuka lahan kebun dulu. Setelah itu batang singkong yang kami buang saat panen singkong, tumbuh lagi, berumbi lagi. Kemudian tanaman singkong itu tumbuh liar di kebun kelapa kami. Artinya tidak perlu kerja berat benar untuk menghasilkan singkong itu.

Itulah yang disebut Emak miskin pikiran. Tidak ada dalam pikiran orang-orang itu untuk keluar dari kemiskinan. Padahal hanya diperlukan langkah kecil saja untuk itu.

Orang-orang miskin pikiran inilah yang banyak menjadi gelandangan di kota-kota. Mereka adalah orang-orang yang menikmati kemiskinan, bahkan mengeksploitasi kemiskinan mereka. Mereka mengemis di tengah lalu lalangnya orang-orang yang bekerja. Mereka mengemis di tengah pasar, di depan orang-orang yang bekerja. Para pekerja di pasar itu tidak semuanya orang bermodal. Banyak yang hanya bermodal tenaga kasar saja. Tapi apa yang membedakan pekerja kasar itu dengan pengemis? Pikiran. Mereka memilih untuk bekerja.

Jadi kalau kita berikan uang receh kita kepada para pengemis itu, kita sedang mengawetkan mereka di tempat itu. Mereka menikmati posisi sebagai orang miskin, sementara kita juga menikmati posisi kita sebagai pemberi. Ada rasa puas dan bahagia di benak kita saat memberi. Ada harapan mendapat ganjaran pahala yang akan menyelamatkan kita dari siksa neraka. Selesai. Kita dan orang-orang miskin bekerja sama melestarikan kemiskinan.

Bila kita memang ingin membebaskan mereka dari kemiskinan, mulailah mengajari mereka untuk berhenti bermental miskin. Hidup harus bekerja. Kalau tidak mau bekerja, lebih baik jangan hidup. Makin banyak kerja, makin banyak penghasilan. Ingin punya penghasilan lebih, bekerjalah lebih banyak lagi.

Bagaimana caranya? Sedekahlah melalui lembaga-lembaga yang mengorganisasikan dana menjadi kegiatan-kegiatan produktif. Kalau kita memang punya dana lebih, ambillah anak asuh, sekolahkan mereka sampai selesai. Atau, beri modal kepada orang-orang yang mau berusaha. Saya kira hal-hal ini sudah kita ketahui bersama.

sumber foto: express.co.uk

Menjadi Mahasiswa yang Belajar

student

 

 

 

 

 

 

 

 


Banyak orang mengeluh sulit mencari kerja. Khususnya bagi lulusan baru yang tidak punya pengalaman kerja. Tidak sedikit yang melamar ke sana sini tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Namun dari sisi sebaliknya saya merasakan hal yang juga tak enak. Dari sisi pemberi kerja (perusahaan), saya sering merasa kesulitan mendapat tenaga kerja sesuai dengan yang kami butuhkan.

Waktu memimpin sebuah perusahaan manufaktur kecil di Karawang saya punya kebijakan untuk memprioritaskan lulusan baru ketika merekrut karyawan. Pertimbangannya, saya ingin memberi kesempatan seluas-luasnya bagi lulusan baru.  Saya menyediakan diri untuk membimbing dan melatih karyawan, juga memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar secara mandiri.

Apa hal terpenting yang saya perhatikan ketika saya menyeleksi calon karyawan? Kemampuan belajar. Prinsip saya, seorang karyawan yang baik dan bisa diandalkan adalah orang yang mampu belajar dan mau terus belajar. Perusahaan akan maju bila para karyawannya adalah orang yang cerdas, kreatif, dan penuh inisiatif. Tapi bagaimana bisa menilai semua itu dari suatu wawancara yang singkat? Meski tidak 100% akurat, hal itu bisa dilakukan.

Bagi lulusan baru biasanya saya tanya soal apa saja yang dia pelajari waktu kuliah. Tujuan pertanyaan ini tidak untuk menggali kemampuan spesifik yang dibutuhkan pada suatu lowongan pekerjaan. Tujuannya lebih pada menggali informasi tentang kemampuan seseorang untuk belajar. Kemampuan belajar seseorang akan terlihat dari cara dia menjelaskan apa yang dia ketahui. Saya biasanya mulai dari pertanyaan umum tapi mendasar, lalu mengerucut pada hal yang lebih spesifik. Seseorang yang belajar dengan benar pasti mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sayangnya, banyak yang sudah keteteran pada satu dua pertanyaan pertama.

Pada calon karyawan dengan pengalaman kerja ceritanya hampir sama. Biasanya saya akan minta dia menjelaskan seluk beluk pekerjaan dia di tempat ia bekerja. Karyawan yang belajar mampu menjelaskan apa yang dia lakukan secara komprehensif, sedangkan yang tidak hanya bisa menjelaskan sesuatu secara parsial. Ciri penting dari kemampuan belajar adalah kemampuan melihat persoalan yang dihadapi secara utuh.

Mengapa banyak orang yang gagal dalam seleksi kerja? Mengapa banyak orang yang tak kunjung dapat pekerjaan? Banyak yang mengira karena teknik wawancara mereka buruk. Ya, banyak yang mengira teknik wawancara adalah kunci untuk lulus seleksi. Lalu mereka mati-matian belajar dan berlatih wawancara. Hasilnya: mereka jadi badut saat wawancara.

Sebab kegagalan yang utama sangat jelas: karena mereka tidak belajar. Atau, karena mereka belajar dengan cara yang salah. Banyak mahasiswa mengira di bangku kuliah mereka akan belajar tentang hal-hal yang membuat mereka siap bekerja. Yang dibayangkan adalah ketika lulus nanti mereka akan mendapat pekerjaan dengan bekal apa yang sudah mereka pelajari. Pikiran seperti itu hanya cocok untuk peserta kursus menjahit yang ingin mencari kerja sebagai tukang jahit!

Pekerja lulusan perguruan tinggi tidak diharapkan demikian. Mungkin hanya 10% dari apa yang dipelajari dari kurikulum kuliah yang terpakai di dunia kerja. Dalam banyak kasus malah jauh di bawah angka itu. Kalau begitu, untuk apa kuliah bertahun-tahun, mempelajari ilmu yang kemudian tidak dipakai?

Kuliah, sekali lagi, bukan kursus keterampilan. Tujuan utama kuliah adalah untuk mengasah kemampuan belajar. Materi kuliah pada akhirnya hanyalah sampel yang pada tingkat tertentu bisa diganti-ganti. Lulus kuliah tidak berarti seseorang sudah lengkap ilmunya, dan siap memasuki dunia kerja. Lulus kuliah hanya bermakna bahwa seseorang sudah menjalani proses belajar, dan ia sudah menunjukkan kemampuan belajarnya, dan siap untuk belajar lagi.

Ketika memasuki dunia kerja orang tidak dihadapkan pada persoalan seperti saat menyelesaikan soal ujian di kelas. Ia akan menyelesaikan masalah yang selalu punya banyak dimensi. Dalam setiap masalah ia harus belajar lagi untuk mencari penyelesaiannya. Yang harus dia pelajari tidak terbatas pada bidang yang tadinya ia tekuni, tapi meliputi berbagai bidang. Dan setiap hari, setiap saat ia akan dihadapkan pada situasi itu. Setiap hari dan setiap saat ia harus belajar, lagi dan lagi. Bahkan seorang presiden direktur, seorang pakar sekalipun harus selalu belajar.

Banyak mahasiswa yang belajar demi menghadapi ujian. Lulus ujian adalah tujuan belajar. Bahkan lulus ujian adalah tujuan dari tujuan. Karenanya kita sering menemukan mahasiswa menyontek saat ujian. Pada titik itu ia sudah gagal sebagai mahasiswa, karena ia gagal memahami makna yang paling dasar dari proses belajar. Besar kemungkinan ia hanya akan jadi penenteng ijazah kosong saat lulus nanti.

Banyak pula mahasiswa yang tidak menghayati proses belajar. Ketika praktikum, misalnya, mereka hanya fokus pada materi akademik belaka. Padahal ada banyak sisi non-akademik seperti kerja sama, kepemimpinan, etika, dan lain-lain. Banyak yang menghabiskan waktu dengan menekuni buku teks, menjadi penghafalnya, tapi tidak pernah peduli pada hal lain seperti pergaulan, komunikasi, dan hal-hal lain yang dikenal sebagai soft skill. Hasilnya adalah seseorang yang mahir dalam hal-hal teknis, tapi gagap dalam kerja sama.

Di akhir tulisan singkat ini saya ingin kutipkan penggalan cerita dalam Quran, ketika Allah hendak menciptakan Adam, dan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi. Para malaikat keberatan, lalu Allah menunjukkan alasanNya. Kepada Adam diajarkan nama-nama benda, yang ketika ditanyakan kepada malaikat mereka tak tahu jawabannya. Adam tahu. Mengapa? Karena manusia dibekali kemampuan belajar.

Pesan Allah sangat jelas: hanya yang mampu belajar yang akan jadi khalifah.

 

 

Menjadi Orang Tua itu Belajar

learning

Ketika saya mengatakan bahwa orang tua wajib menjadi guru bagi anak-anaknya, dan saya ceritakan aktivitas saya bersama anak-anak, banyak yang menolak. “Iya, kamu bisa begitu karena mudah buat kamu. Kamu doktor di bidang sains. Lha kami ini apa? Nggak mungkin kami bisa seperti kamu.” kata beberapa orang. Itu cara yang umum untuk menyatakan keengganan. Kau punya sesuatu yang aku tidak punya, karena itu kau bisa dan aku tidak. Sebuah apologi.

Saya memang doktor sains, tapi saya bukan manusia serba bisa. Untuk pelajaran sosial saya bukan ahlinya. Saya harus belajar sebelum mendampingi anak-anak saya belajar. Saya harus membaca ulang buku-buku, mengumpulkan bahan dari internet, menyusunnya menjadi bahan pelajaran yang menarik. Semua orang harus belajar lagi agar bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak mereka.

Saya jadi teringat pada kata-kata yang agak pedas dari seroang teman. “Menikah itu bukan sekedar menyatukan asmara antara dua orang. Terlebih, pernikahan itu bukan sekedar sarana untuk mendapatkan hubungan seks yang halal. Menikah itu adalah perjuangan panjang untuk menjadi bapak dan ibu.”

Banyak hal yang harus dipelajari oleh pasangan suami istri. Ketika istri mulai hamil, misalnya, pasangan harus tahu bagaimana perlakuan terhadap kehamilan, resiko apa yang dihadapi pada setiap tahapan, tindakan apa yang harus dilakukan dan dihindari. Ketika bayi sudah lahir, lebih banyak lagi hal yang harus dipelajari. Orang tua harus belajar hal-hal sederhana seperti cara memasang popok dan memandikan bayi. Mereka juga harus belajar tentang seluk beluk kesehatan bayi. Ketika bayi sudah tumbuh beberapa bulan, harus mulai pula belajar tentang gizi dan makanan pendamping ASI.

Pada setiap perkembangan anak, selalu ada hal yang harus dipelajari. Ketika anak sudah mulai bisa bicara, mereka perlu diajari cara berkomunikasi. Fisik mereka perlu dilatih agar kemampuan motorik halus dan kasar tumbuh dengan baik. Ketika anak-anak mulai memasuki usia remaja, komunikasi dengan mereka menjadi soal yang tak mudah. Di saat itupun para orang tua perlu belajar lagi. Pendek kata, belajar adalah hal yang harus terus menerus dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Semakin besar anak semakin kompleks masalah yang dihadapi orang tua. Itu artinya makin banyak hal yang harus mereka pelajari.

Mempelajari materi pelajaran anak adalah hal yang paling mudah dilakukan dibanding dengan hal-hal lain yang saya sebutkan di atas. Kita tinggal membaca ulang buku-buku pelajaran, mengingat ulang, lalu kita susun strategi komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak kita. Tidak ada yang sulit. Yang paling sulit hanyalah membangunkan diri untuk sadar bahwa kita punya kewajiban untuk mengajari anak-anak kita. Orang-orang yang enggan belajar untuk keperluan anak-anaknya sebaiknya memutuskan untuk tidak punya anak saja.

Satu hal lagi, kita selalu melihat contoh yang ada pada diri orang lain, lalu lupa melihat potensi kita. Dalam suatu seminar parenting, seorang peserta bertanya,”Saya ini tuna netra. Bagaimana nanti anak saya melihat saya dengan kekurangan saya ini?” Saya jawab,”Itu bukan kekurangan. Itu adalah kelebihan Anda. Kalau anak Anda merasakan cinta Anda, ia akan lebih bangga kepada Anda dibanding anak-anak lain yang orang tuanya tidak tuna netra.”

Kita tidak perlu menjadi orang lain yang bukan diri kita untuk menjadi orang tua yang baik. Tidak perlu menjadi ahli sains untuk bisa membimbing anak dalam hal sains. Mulailah dari hal yang kita bisa. Kita adalah orang tua yang hebat kalau kita bisa membagikan apapun yang kita miliki untuk dipelajari anak kita. Pada hal yang kita tidak bisa, apa boleh buat, kita boleh minta bantuan orang lain. Ketika anak saya ingin belajar main gitar, saya masukkan dia ke tempat les musik, karena saya tidak bisa main gitar.

Intinya adalah, apakah kita mau menjadi guru bagi anak kita, atau kita lebih suka menyerahkan urusan membimbing mereka kepada orang lain. Masalahnya, seperti pada banyak kasus lain, tidak bisa atau tidak mau.

 

Saya tidak Punya Waktu

busy

Saya pernah bekerja dengan jadwal yang santai. Kantor saya dekat dengan rumah, dan jalan antara rumah dengan kantor pun tidak macet. Sementara itu beban kerja di kantor relatif tidak menyita waktu. Walhasil, saya punya banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak, mengajak mereka bermain, mendampingi mereka belajar, mengajari mereka banyak hal. Situasi ini memang kemewahan yang luar biasa.

Kemudian saya pindah kerja ke Jakarta. Semua orang tahu bahwa kemacetan adalah masalah besar di Jakarta. Saya sempat khawatir bahwa interaksi saya dengan anak-anak akan berkurang jauh. Sebelum mulai bekerja saya bertanya ke beberapa teman soal jam berapa mereka berangkat dan pulang. Banyak yang mengatakan harus berangkat pukul 5 pagi dan baru tiba kembali di rumah pukul 9 malam. Kapan ada waktu untuk anak-anak, pikir saya khawatir.

Ketika saya mulai menjalani pekerjaan baru, keadaan ternyata tak seburuk yang saya bayangkan. Saya memang harus berangkat pukul 5 pagi untuk menghindari kemacetan. Bagian ini tidak terlalu masalah, karena anak-anak saya pun harus berangkat ke sekolah jam 6. Pagi hari selama ini memang bukan waktu utama interaksi kami. Lalu bagaimana dengan malam hari? Setelah saya jalani, saya bisa mengatur untuk tib di rumah sekitar jam 7 malam. Jadi ada waktu 2-3 jam sehari untuk bersama anak-anak. Sedikit berkurang dibanding dengan waktu sebelum saya pindah kerja, tapi waktu yang pendek itu menjadi sangat berharga.

Saya mengatur untuk tiba di rumah secepat mungkin, itulah kuncinya. Ada teman yang baru meninggalkan kantor pukul 9 malam. Alasannya, enggan melewati kemacetan. Ia tiba di rumah saat anak-anak sudah tidur. Padahal rumahnya di dalam kota Jakarta, seharusnya ia bisa tiba di rumah lebih awal dari saya. Beda dia dengan saya adalah, dia tidak mengatur untuk tiba lebih awal.

Ada orang-orang yang tak punya hal sebaik saya. Berangkat jam 5 pagi pulang jam 9 malam adalah sesuatu yang tak bisa mereka ubah. Tapi mereka tentu punya waktu kosong di akhir pekan yang bisa dikhususkan untuk bersama anak-anak. Persoalannya sekali lagi adalah, apakah mereka memilih untuk bersama anak-anak atau tidak. Banyak orang yang memilih untuk mengisi akhir pekan dengan aktivitas hobi, berkumpul bersama teman, atau asyik sendiri, entah dengan kegiatan apa. Saya memilih hobi yang aktivitasnya bisa saya lakukan bersama anak-anak. Kalau saya memasak, anak-anak saya ajak. Kalau saya pergi memotret mereka juga ikut. Ketika saya ingin mencoba olah raga layar/selancar angina, mereka juga akan saya ajak.

Bahkan bagi orang-orang yang bekerja jauh dari rumah, hanya bisa pulang sesekali, ada banyak cara bisa ditempuh untuk bisa beriteraksi dengan anak-anak, membantu mereka belajar. Peralatan komunikasi yang berlimpah pada jaman kita saat ini nyaris memberi kitasegala kemungkinan.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang luar biasa sibuk sehingga sama sekali tidak mungkin menyisihkan waktu untuk anak-anak? Maka mereka perlu bertanya, untuk apa mereka punya anak. Bahkan perlu bertanya, untuk apa mereka hidup.

Mengajarkan Kenikmatan Belajar

main

Sebagai orang tua saya kadang khawatir soal masa depan anak saya. Akan jadi apa mereka kelak? Orang tua manapun tentu ingin anaknya tumbuh tanpa kekurangan, dan sukses dalam menjalani hidup mereka. Tapi tak jarang kita temui orang tua yang “gagal”. Orang tua sukses menjalani hidup mereka sendiri, tapi gagal mengantarkan anak menjadi orang yang sukses.

Istilah sukses itu sendiri memang punya banyak sisi. Terkadang sulit membuat ukuran-ukuran mengenainya. Kerumitan inilah salah satu pangkal kegagalan orang tua. Mereka mendefinisikan sukses secara sempit, umumnya berpusat pada kesuksesan mereka sendiri. Kemudian memaksakan agar anak-anak mereka mengikuti jalan yang sama. Tak jarang anak yang punya keinginan sendiri ditekan sedemikian rupa. Ada yang “berhasil”, dalam arti mengikuti jejak orang tua, namun mereka sendiri tidak bahagia. Tapi tak sedikit yang akhirnya tidak jadi apa-apa. Tidak jadi seperti orang tua mereka, pun tidak jadi diri mereka sendiri.

Saya (merasa) menyadari hal itu. Saya tidak ingin anak-anak mengikuti jejak saya. Mereka harus tumbuh dan berkembang sesuai minat dan bakat mereka. Posisi saya adalah membantu mereka membangun minat, dan mengembangkan bakat, dan mencari jalan menuju sukses. Jalan itu sendiri harus mereka jalani dengan menikmatinya.

Tapi jujur saja, hal itu sepertinya tak mudah dilakukan. Dunia di luar sana begitu luas, sementara yang sudah pernah kita sentuh masih sangat sempit cakupannya. Bagaimanapun juga ketika anak menapak menuju dunia yang sama sekali tidak kita kenal, kita akan merasa khawatir. Kebanyakan orang tua sepertinya merasa nyaman kalau anak menapaki jalan yang sudah mereka kenal. Sukur-sukur melalui jalan yang sudah pernah mereka lewati sendiri.

Kadang saya khawatir, bagaimana kalau prestasi belajar anak-anak saya pas-pasan? Bagaimana kalau prestasinya tidak menonjol? Lalu tidak dapat tempat di universitas yang bagus. Atau bahkan tidak mau kuliah sama sekali. Bagaimana kalau mereka tidak berminat untuk jadi orang sukses? Bagaimana kalau mereka tidak berminat jadi apa-apa? Saya yakin setiap orang tua, atau kebanyakan orang tua punya kekhawatiran itu.

Lalu bagaimana? Orang tua saya bukanlah orang berpendidikan. Ayah kelas dua Sekolah Rakyat, Emak tak pernah sekolah sama sekali. Mereka juga bukan orang sukses dalam ukuran orang-orang pada umumnya. Mereka “hanya” petani kelapa. Tapi dengan semua “kekurangan” itu mereka sukses mendidik anak-anak. Mereka adalah orang-orang yang menjadi orang tua secara alami. Saya berkeyakinan bahwa saya dengan pendidikan dan pengalaman selama ini, punya modal yang lebih baik. Maka saya yakin seharusnya saya juga bisa lebih baik.

Hal penting yang saya rasakan ketika saya merenungkan kembali jalan yang ditempuh oleh Ayah dan Emak dalam mendidik saya adalah bahwa mereka tidak menetapkan tujuan apapun kepada saya. Tidak ada target, kamu harus jadi ini atau itu. Mereka hanya mengajarkan cara hidup. Bahwa hidup harus diperjuangkan. Hidup harus tahu diri, di posisi mana kita berdiri dan bagaimana kita harus bersikap. Boleh jadi karena mereka memang tidak tahu banyak soal dunia di luar urusan bertani kelapa, sehingga mereka tidak bisa menetapkan target. Tapi apapun alasannya, bagi saya situasi itu adalah berkah. Cara seperti itulah yang sedang dan akan saya terapkan kepada anak-anak saya.

Di luar soal itu, satu hal ingin saya tekankan dalam mendidik anak, yaitu bahwa hidup adalah proses belajar. Hidup adalah belajar, sejak dari dalam ayunan hingga ke liang lahat. Belajar tak mengenal kata tamat atau khatam. Karenanya menjadi penting untuk mencari tahu bagaimana cara menikmati proses belajar itu.

Adalah fakta bahwa belajar sering kali menjadi siksaan bagi anak-anak. Sejak usia dini anak-anak sering dipaksa menelan apa yang tak ingin mereka telan. Berbagai jenis hafalan, mulai dari rumus matematika, struktur, istilah, nama tempat, nama orang, tanggal, dan banyak lagi. Juga kumpulan ayat dan doa. Anak-anak tidak diajarkan untuk tahu dan paham. Mereka dipaksa untuk ingat. Sebuah proses yang dalam pengalaman saya sangat menyiksa.

Saya kira kita semua pernah mengalami bahwa kita akan sangat nyaman belajar sesuatu yang kita suka. Bila kita ingin tahu, lalu kita mencari tahu. Saat kita jadi tahu, sungguh nikmat rasanya. Idealnya begitulah seharusnya jalan yang ditempuk anak-anak kita dalam belajar. Sayangnya tidak selalu demikian kejadiannya. Atau bahkan sangat jarang yang terjadi seperti itu. Kebanyakan adalah seperti yang saya sebut di atas.

Beberapa pelajaran sangat menyiksa bagi anak-anak. Bagi saya dulu IPS, PMP, pelajaran-pelajaran hafalan, sangat menyiksa. Bagi anak yang lain matematika dan IPA sungguh menyiksa. Perhatikanlah bahwa anak-anak kita pun begitu. Lalu bagaimana?

Saya mencoba hadir di sisi anak-anak saya saat mereka kesulitan. Sarah misalnya, sangat kesulitan dalam pelajaran IPS, PKn, dan sejenisnya. Maka saya dampingi dia. Ketika membahas geografi, misalnya, saya ajak dia membuka peta, baik yang ada di buku atlas maupun dari Google. Saya ajak dia berkelana melalui peta dan foto-foto, melihat sendiri tempat-tempat yang diceritakan dalam buku pelajaran. Demikian pula dengan sejarah. Saya kumpulkan bahan-bahan yang kemudian saya ramu, agar sejarah itu bisa dilihat secara lebih utuh, sebagai sebuah cerita. Bukan sekedar kumpulan nama orang, tempat, dan tanggal.

Seluruh pelajaran saya perlakukan seperti itu. Untuk sisi ekonomi misalnya, saya sering ajak anak-anak saya ke pasar, pabrik, dan lain-lain. Saya jadikan pengalaman mereka itu sebagai titik berangkat dalam menjelaskan isi buku pelajaran. Demikian pula dalam pelajaran IPA, saya ajak mereka melakukan berbagai percobaan.

Harapan saya, belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka tidak tumbuh dengan siksaan pelajaran. Dengan demikian mereka akan menikmati prosesnya, dan nantinya mereka akan mencari dan menemukan sendiri jalan yang hendak mereka pelajari. Dugaan saya, anak-anak yang memilih “berhenti”, tidak ingin jadi apa-apa adalah anak-anak yang tidak tahan lagi dengan siksaan keharusan belajar. Jangan sampai anak-anak kita menjadi seperti itu.

Mari kita ajari mereka menikmati proses belajar. Karena hal itu harus mereka tempuh selama seumur hidup.