Monthly Archives: April 2016

Never Give Up Killing People

MuhammadAlFatihTotalWar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tadi malam anakku Sarah ikut acara “mabid”, menginap di sekolah. Ini acara pembinaan mental bagi para siswa. Pagi-pagi waktu saya jemput saya tanya.
 
“Apa acara tadi malam?”
 
“Tausiyah, salat malam.”
 
“Apa isi tausiyahnya?”
 
“Salah satunya cerita tentang Muhammad Al-Fatih, yang tidak menyerah. Ia berusaha menaklukkan Konstantinopel. Sejak kakeknya belum juga berhasil, tapi ia tidak menyerah. Never give up. Akhirnya ia berhasil.”
 
“So, he was a hero?”
 
“Yes, he was.”
 
“Do you know what he did when he got there?”
 
“No.”
 
“He killed people.”
 
Sarah terdiam.
 
“So he didn’t give up to kill people.”
 
Sarah tampak bingung. Gurunya mengajarkan bahwa Al-Fatih adalah pahlawan. Tapi saya menyebutnya membunuh orang. Maka saya jelaskan.
 
“Ya, dia memang pahlawan. Tapi pahlawan zaman dulu, ketika penaklukan-penaklukan dianggap sebagai kemuliaan. Glory. Untuk menaklukkan pembunuhan dibenarkan. Kini tidak lagi. Kita hidup cukup dengan saling membangun, bukan saling menaklukkan. Karena itu tidak perlu lagi menganggap para pembunuh sebagai pahlawan.”
 
“Tapi bukankah nabi juga berperang?”
 
“Ya, nabi berperang untuk mempertahankan diri. Hanya itu yang dibenarkah Allah. Kalau kemudian ada yang melakukan penaklukan-penaklukan, gagasan itu berasal dari kebutuhan manusia pada waktu itu, untuk menguasai dunia. Sekali lagi, kita tidak memerlukan itu.”
 
Saya lanjutkan. “Coba bayangkan kalau cara itu kita pertahankan. Misalnya kita menyerang Singapura, atau Australia, atas nama dakwah Islam. Demi menyebarkan Islam. Kamu suka kalau kita berperang?”
 
“Nggak.”
 
“Makanya. Kita tidak perlu berperang. Islam bisa didakwahkan dengan menebar kebaikan, bukan kematian.
 
Sarah terdiam lagi.
 
“Ada banyak contoh lain tentang “never give up” yang bisa kamu ingat. Ayah dulu tertahan keinginan Ayah, gagal dalam tes untuk sekolah ke luar negeri. Ayah tidak menyerah. Tujuh tahun kemudian baru berhasil. I did not give up. Cerita-cerita inspiratif orang-orang yang tidak menyerah untuk hidup dan kehidupan lebih penting untuk diingat.”
 

Tuhan Yang Maha Usil

Suatu hari seorang kawan menulis di sebuah mailing list. “Eh benar, lho. Ternyata ceramah Ustaz X itu benar. Sedekah ternyata bisa menghindarkan kita dari bencana,” tulisnya. Apa ceritanya? “Beberapa hari ini saya rutin bersedekah, sambil berdoa agar dijauhkan dari bencana. Nah, kemarin saya tertinggal tas di stasiun. Setelah sadar saya balik lagi. Ternyata tas saya disimpankan oleh petugas keamanan,” ceritanya.

Para anggota mailing list banyak yang berkomentar lucu terhadap tulisan tersebut. Tak ada yang menganggapnya serius. Tapi si penulis tetap pada keyakinannya bahwa ia akan terhindar dari berbagai jenis bahaya dengan memperbanyak sedekah.

Penulis tadi bukan satu-satunya orang yang percaya pada hal tersebut, bahwa sedekah bisa menolak bencana. Tidak sedikit ustaz yang mengajarkan hal ini, beserta dalil-dalil pendukung ajarannya. Tuhan digambarkan seperti sesuatu yang “usil”, yang akan mencelakakan manusia, kecuali bila manusia itu berbuat baik, di antaranya sedekah. Tuhan juga digambarkan akan memberi azab kepada manusia yang enggan menjalankan perintahnya.

Waktu saya hendak pergi berangkat umrah, ustaz juga bercerita tentang hal senada. Katanya, kalau berumrah, banyak hal akan dimudahkan Allah. Ia kemudian bercerita tentang orang-orang yang sukses berbisnis, juga yang naik jabatan karena pergi umrah. Sebaliknya, ada yang dikenai banyak kerugian, sampai anaknya “diambil”, karena tak kunjung ingat kepada Allah.

Sepertinya ini adalah konsekuensi konsep ketuhanan yang memandang bahwa “segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan”. Tuhan digambarkan sebagai zat yang memiliki kekuasaan penuh atas segala sesuatu, bertindak secara mikro. Ia mendengar doa setiap orang, mengabulkan atau menolaknya. Dalam hal mengabulkan, Ia bisa saja “melanggar” hukum-hukum yang biasa dipahami manusia.

Tuhan juga aktif memantau perilaku hambaNya, satu demi satu. Ia memberi imbalan atas kebaikan, atau hukuman atas keburukan.

Hampir semua agama punya konsep ini. Tuhan harus dibuat senang dengan ritual-ritual. Saat terjadi bencana, manusia harus minta ampun atas dosa-dosanya, lalu meminta Tuhan untuk menghentikan bencana itu.

Tuhan menjadi sangat personal dalam segala kemahaan.

Menafsir Hasrat Politik Yusuf Mansur

yusufUmat Islam yang menolak kepemimpinan Ahok sebagai gubernur karena dia non-muslim masih belum kunjung menentukan siapa calon yang akan mereka usung. Yang paling aktif menyodorkan diri adalah Yusril Ihza Mahendra. Tapi seperti bisa dibaca secara kasat mata, belum ada satu pihak pun yang antusian mendukungnya. Khususnya dari kalangan partai Islam. Mengapa? Alasan pertama, Yusril dalam kalkulasi logis bukanlah tokoh yang cukup populer sehingga bisa menyaingi Ahok. Ahok hanya bisa dilawan oleh orang-orang yang setipe dengan dia, yaitu pekerja. Dulu sempat disebut-sebut 2 nama, yaitu Ridwan Kamil dan Risma. Namun sejauh ini keduanya menolak.

Alasan kedua, Yusril dalam rekam jejak politiknya bukanlah seorang perangkul. Sebaliknya, ia cenderung menjadi orang yang suka berkonflik. Jangankan terhadap partai lain, di dalam partainya sendiri pun ia banyak tidak disenangi. Tak heran bila perolehan suara partainya terus merosot hingga tak lagi bisa memenuhi batas minimal untuk duduk di parlemen.

Lantas siapa yang akan diajukan umat Islam? Beberapa hari ini muncul nama Yusuf Mansur ke bursa pencalonan. Ini jelas menegaskan bahwa umat Islam belum yakin dengan satu nama pun. Mereka belum yakin bahwa nama-nama yang ada saat ini akan punya potensi cukup kuat untuk mengalahkan Ahok. Di samping itu berbagai kelompok politik dalam tubuh umat Islam itu belum menemukan sebuah nama yang bisa memuaskan kebutuhan politik mereka, kecuali dalam hal “asal bukan Ahok”.

Lalu, bagaimana tanggapan Yusuf Mansur? Ia tidak memberi jawaban tegas. Tidak tegas menolak, juga tak tegas menerima. Ia berputar-putar pada basa-basi normatif, seperti “kalau diminta saya mau”, “kalau disuruh alim ulama”, juga “maju atau tidak itu kehendak Allah”.

Dari berbagai retorika yang dia sampaikan saya membacanya sebagai sikap “malu-malu tapi mau”. Di satu sisi Yusuf Mansur sadar betul popularitasnya sebagai ustaz, yang bisa jadi modal awal untuk meraup dukungan. Siapa sih yang tidak kenal dia di Jakarta? Tapi Yusuf Mansur sepertinya sadar juga bahwa popularitas itu tidak bermakna banyak dalam konteks pilkada, khususnya ketika harus berhadapan dengan Ahok.  Maka ia sekarang dalam posisi berhitung.

Apa yang dihitung Yusuf Mansur? Soal untung rugi maju ke pilkada. Pertama, ia sudah mapan sebagai ustaz. Apapun yang akan ia lakukan tidak boleh merusak kemapanan itu. Maju ke dunia politik, kemudian kalah, sedikit banyak akan menggetarkan kemapanan itu. Kedua, seperti diungkap di atas, soal keseriusan dukungan. Siapa sebenarnya yang serius mendukung Yusuf Mansur? Tidak jelas. Kalaupun ada yang mendukung itu hanya kelompok-kelompok yang bukan partai politik. Jadi, Yusuf Mansur mau saja maju, tapi siapa yang mau mencalonkan dia? Itu masalahnya.

Yusuf Mansur sadar sepertinya menyadari bahwa dalam konteks pilkada elektabilitasnya bahkan masih di bawah Yusril. Maka ia menyampaikan ungkapan,”Jangan mendewakan elektabilitas.” Pernyataan itu bisa dibaca secara terang sebagai “sadar diri” atau “kecewa” karena ia belum punya elektabilitas memadai. Dalam konteks politik real tidak mungkin orang bisa mengabaikan elektabilitas. Jadi itu jelas pernyataan absurd yang hanya bisa dimaknai sebagai kekecewaan tadi. Terlebih kemudian pernyataan itu diikuti dengan pernyataan “jalur sajadah”, tidak memakai jalur partai maupun independen. Pernyataan itu bermakna, di kedua jalur itu Yusuf Mansur belum memiliki modal politik yang memadai.

Pernyataan maupun gerakan politik yang dibuat Yusuf Mansur seperti bertemu Yusril adalah penguatan tanda bahwa umat Islam masih bingung soal siapa yang akan diajukan untuk melawan Ahok. Pada akhirnya pilkada DKI nantinya hanya akan berhenti pada persoalan “yang penting bukan Ahok”. Para penantang Ahok akan kehabisan energi untuk membangun dukungan serta kepercayaan diri. Mereka tidak akan punya waktu dan tenaga memadai untuk menyodorkan program.

Miskin Pikiran dalam Bentuk Lain

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Miskin Pikiran dalam Bentuk Lain
 
Saat berbincang dengan kawan di Kediri malam ini saya terkenang pada kampung halaman. Kampung saya, Teluk Nibung, bertetangga dengan Batu Ampar. Orang yang hidup di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak dan sekitarnya di tahun 70-80 pasti tahu Batu Ampar. Tempat ini laksana surga, atau setidaknya mesin uang.
 
Masa itu adalah puncak pembalakan hutan di sana. Hutan dibabat habis-habisan, dijual ke luar negeri dalam bentuk kayu gelondong, atau dalam bentuk olahan sederhana, berupa papan atau kayu persegi. Terjadi eksploitasi besar-besaran. Tentu saja ada kegiatan ekonomi besar di situ. Orang-orang kampung yang tadinya hanya bekerja sebagai petani dan nelayan, banyak yang beralih jadi buruh industri kayu. Banyak juga yang berbisnis, menopang bisnis kayu yang besar itu. Taraf hidup mendadak meningkat.
 
Keluarga kami turut menikmati cipratan rezeki instan itu.Emak waktu itu berdagang kain dan baju serta berbagai pernak-pernik lain. Omset dagangannya meningkat drastis. Orang-orang kampung kami meningkat daya belinya. Di samping itu Emak juga meluaskan jangkauan dagangnya sampai ke Batu Ampar, walau tidak terlalu banyak.
 
Tidak hanya pekerja yang kaya. Orang-orang pemerintah semua kaya. Polisi, bea cukai, syahbandar, kehutanan, semua kaya. Setiap orang berlomba untuk mendapat penugasan di sana. Mereka membawa pulang uang dalam koper-koper besar. Uang didapat dari berbagai jenis suap yang menyertai bisnis besar itu.
 
Tapi eksploitasi alam selalu punya ekses. Waktu itu masih terlalu mewah untuk bicara soal kerusakan lingkungan alam. Tidak ada yang peduli. Yang tampak di depan mata adalah kerusakan sosial.
 
Orang-orang kaya mendadak, berubah pula perilakunya secara mendadak. Mereka berfoya-foya. Seorang juragan kecil di kampung saya segera membangun rumah mewah, lengkap dengan generator listrik untuk menerangi rumah. Rumah dilengkapi dengan TV, kulkas, radio kaset dengan pengeras suara besar. Itu belum seberapa. Salah seorang kerabat jauh Ayah membangun rumah yang sangat besar di kampung, dengan puluhan kamar.
 
Batu Ampar menjadi pelabuhan alam terbesar, berskala internasional. Kapal-kapal berbendera asing berlabuh di sana. Awak kapal mencari hiburan. Menjamurlah kedai-kedai minum lengkap dengan wanita penghibur. Pelacuran menjadi hal yang niscaya.
 
Kemakmuran instan itu berumur tak lebih dari 10 tahun. Kayu habis, sawmill tempat penggergajian kayu tutup. Puncaknya adalah kebakaran besar di kawasan pasar, pusat bisnis Batu Ampar. Sejak itu banyak orang yang pingsan, jatuh miskin.
 
Kami sekeluarga waktu itu baik-baik saja. Berkah ekonomi instan itu membuat Emak bisa membangun rumah kecil di Pontianak, tempat kami tinggal selama sekolah. Uang hasil dagang ketika itu membantu menyelesaikan sekolah abang-abang saya. Banyak pula orang kampung yang mengikuti jejak kami, menyekolahkan anak-anaknya ke kota. Mereka tamat, kemudian bekerja sebagai guru, pedagang, dan lain-lain.
 
Tahun lalu saya rutin berkunjung ke Kalimantan Selatan untuk urusan batu bara. Saya menyaksikan hal yang sama, dengan skala yang lebih mencengangkan. Ada begitu banyak orang kaya di sana, menghamburkan uang dengan cara-cara yang mencengangkan. Tapi ketika bisnis batu bara merosot, bagaimana mereka nantinya? Bukan tidak mungkin akan banyak yang pingsan. Ya, sebenarnya sudah banyak yang pingsan.
 
Ini juga soal pola pikir. Banyak orang kaya, tapi miskin pikiran. Mereka mendapat uang dengan mudah, tapi tak tahu bagaimana harus berbuat dengan uang itu. Ini tak hanya dialami oleh masyarakat awam, tapi juga pemimpin daerah. Mereka membelanjakan uang untuk foya-foya. Sedikit saja yang berinvestasi secara waras untuk kemajuan daerah secara jangka panjang.
 
Sementara itu kerusakan sosial begitu nyata. Belum lagi kerusakan lingkungan alam. Anak-anak muda, khususnya perempuan, terjebak dalam kecanduan narkoba dan pelacuran. Suatu malam saya diajak ke diskotik, saya saksikan ratusan gadis belia menjajakan diri dalam keadaan teler.
 
Eksploitasi alam menghasilkan orang-orang kaya dalam skala mencengangkan. Tapi semua itu tidak gratis. Ekses lingkungan dan sosialnya tidak pernah benar-benar dihitung, dan sebagian besar dibebankan kepada rakyat kecil. Persoalannya bermuara pada miskin pikiran. Rakyat kecil miskin pikiran. Pemimpin juga miskin pikiran.
 
Maka sekali lagi, pembangunan ekonomi hanya akan bermanfaat secara sahih bila kita semua berhasil membebaskan diri dari miskin pikiran. Emak saya buta huruf. Tapi dia tidak buta pikiran dan mata hati. Dia memilih investasi yang sangat hebat: Pendidikan!
 

sumber foto: wikipedia

 

 

Untuk Apa Kita Sedekah?

beggar

 

 

 

 

 

 

 

Pertama karena dorongan manusiawi. Secara naluriah kita akan tergerak untuk membantu ketika melihat orang lain kesusahan. Orang yang berlalu begitu saja melihat orang lain kesusahan adalah orang-orang yang sudah tergerus rasa kemanusiaannya. Maka setiap agama mengajarkan untuk memberi, membantu orang lain. Agama sebenarnya sedang mengajari kita untuk terus menerus merawat kemanusiaan kita.

Selain itu agama mengajarkan sedekah atau memberi orang lain sebagai pelajaran bagi kita untuk tidak terikat pada harta. Kita diajarkan untuk tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Ada banyak hal lain yang perlu kita kejar selama hidup, salah satunya adalah kemanusiaan tadi. Jadi memberi itu ibarat memutus tali-tali harta yang membelenggu kita dari kemanusiaan kita.

Apakah Tuhan akan memberi imbalan di akhirat kelak atas sedekah kita? Ada banyak janji pahala dan imbalan surga untuk orang yang bersedekah. Sama halnya, ada berbagai janji imbalan pahala pula untuk amal-amal lain. Tapi pernahkah Anda perhatikan bahwa kita tidak pernah diberi tahu, berapa jumlah pahala minimal yang akan membuat kita masuk surga? Ya, kita tidak tahu sedekah berapa yang akan membuat kita masuk surga. Kita juga tidak tahu berapa banyak amal yang akan membuat kita masuk surga.

Bagi saya pahala itu adalah simbol saja. Tuhan menyuruh kita menjadi manusia, meningkatkan harkat kemanusiaan kita setinggi-tingginya. Caranya melalui berbagai amal. Ibadah ritual, sedekah, berperilaku baik, menjaga kebersihan, membawa manfaat bagi sesama manusia. Semua itu sama, amal-amal baik belaka. Kita sebenarnya diperintahkan menjadi manusia yang baik secara komprehensif. Jadi, bagi saya muskil rasanya bila kita mencoba berhitung di hadapan Tuhan tentang sudah berapa banyak pahala yang kita kumpulkan. Padahal kita bisa mengukur tingkat kemanusiaan kita dari berbagai interaksi kita dengan sesama manusia.

Apakah sedekah akan menghindarkan kita dari bencana? Ada orang yang percaya hal itu. Tuhan akan murka dan memberi kita bencana bila kita tidak sedekah. Iman seperti ini terdengar sungguh primitif. Sama dengan iman orang zaman purba yang mempercayai bahwa Tuhan akan mendatangkan bencana kalau kita tidak memberi sesajen.

Saya tidak percaya pada Tuhan pemberi bencana. Bencana atau bukan, itu persoalan pola pikir kita saja. Anda sakit, apakah itu bencana? Bukan. Itu hanya peringatan bagi kita untuk menjaga kesehatan. Rasa sakit itu adalah alarm alami untuk menghidarkan kita dari bahaya. Kalau kulit kita tersengat sesuatu, misalnya api rokok, kita akan refleks menhindar atau menjauh. Bisakah kita bayangkan kalau kita tidak merasakan sakit? Tahu-tahu tubuh kita habis terbakar, tanpa kita berusaha menghindar. Jadi, sakit itu sebenarnya alarm yang disediakan Tuhan untuk menyelamatkan kita, bukan bencana akibat murka Tuhan.

Apakah Tuhan memberi imbalan berupa materi yang lebih banyak lagi kalau kita bersedekah? Kalau ada orang yang bersedekah dengan dorongan ini, bagi saya ia adalah orang yang gagal dalam bersedekah. Seperti saya tulis di awal tulisan ini, sedekah itu untuk meninggikan kemanusiaan kita dengan membebaskan diri kita dari belenggu materi. Kalau kita bersedekah dengan harapan akan mendapatkan lebih banyak lagi, kita sebenarnya sedang mengikatkan diri kita lebih kuat kepada harta. Tuhan dalam hal ini menjadi sekedar tujuan antara.  Tujuan akhir kita adalah harta, yang kita harapkan akan Dia berikan.

Tapi bukankah ada banyak dalil yang mengatakan demikian? Silakan kumpulkan dalil sebanyak-banyaknya untuk membuat dirimu yakin. Tapi apapun dalilmu, tidak akan menutup fakta bahwa engkau hanya menginginkan harta. Dalil hanyalah dalihmu untuk membenarkan nafsumu, bukan? Yang sudah pasti, manusia tidak disuruh Tuhan untuk hidup mengumpulkan harta. Tuhan menunjukkan dengan tegas bahwa harta akan ditinggalkan ketika manusia mati.

sumber foto: express.co.uk