Monthly Archives: March 2016

Why Me? Why Not?

PEPENGAlmarhum Pepeng adalah sosok yang inspiratif. Dalam keadaan sakit parah pun, dia masih sanggup menjadi inspirasi. Ketika sakit parah, ia sempat protes pada Tuhan. Why me? Kenapa saya diperlakukan begini? Kenapa saya yang duji dengan ujian ini? Pepeng menemukan jawaban Tuhan. Singkat saja: Why not?

Kalau kita percaya pada Tuhan yang maha kuasa, pertanyaan atau protes kita itu menjadi konyol. Karena Tuhan maha kuasa, jadi, ya suka-suka Dia. Kenapa saya? Kenapa tidak? Kenapa kita merasa harus diistimewakan oleh Tuhan?

Tapi apa sebenarnya ujian yang sering kita ratapi? Hidup itu seperti berjalan menembus hujan. Siapapun yang berjalan menembus hujan, akan diterpa air hujan. Tanpa kecuali. Jadi, tidak ada yang berhak mengeluh ketika terkena air. Kalau tidak mau terkena air, jangan berjalan menempuh hujan. Artinya, jangan hidup, mati saja.

Apakah hujan itu petaka, atau sebenarnya rahmat? Itu hanya soal mind set kita. Hujan itu petaka atau rahmat, itu hanya soal bagaimana cara kita melihatnya. Bagi orang yang menganggap basah itu masalah, maka hujan itu adalah petaka. Orang yang sedang haus, cukup membuka mulutnya, maka ia mendapatkan minuman. Yang menganggap basah itu masalah, bisa memilih untuk memakai payung atau berteduh. Kalaupun akhirnya dia terpaksa basah karena tidak jalan untuk menghindar, apa boleh buat. Toh, basah itu tidak membunuhnya.

Begitulah. Kadang kita lupa, bahwa ujian terbesar dalam hidup itu kematian. Itu satu-satunya ujian yang kita tidak mongkin lolos. Di luar itu, kalau apapun yang kita hadapi itu kita anggap ujian, maka tak ada satu pun ujian yang kita tidak bisa melewatinya.

Sekali lagi, rahmat atau musibah itu semata soal mind set kita saja. Kita sebut rahmat kalau akibat sesaatnya adalah sesuatu yang kita sukai. Sebaliknya, kita anggap itu musibah, karena kita tidak menyukainya.

Andaikan Anda hari ini tiba-tiba mendapat uang 10 milyar rupiah hari ini, Anda tentu menganggapnya rahmat. Tapi sekali lagi, uang itu rahmat atau bukan, tergantung pada cara Anda bersikap. Sama seperti Anda bersikap terhadap curahan air hujan tadi. Dengan uang itu di tangan, Anda mungkin akan lupa daratan. Itu mungkin akan jadi pangkal kehancuran Anda dan keluarga Anda. Who knows? Kelak Anda akan sadari bahwa yang tadinya Anda kira rahmat, ternyata menjadi laknat.

Sebaliknya, kalau Anda hari ini sakit demam berdarah, Anda akan menganggapnya musibah. Lagi-lagi, musibah atau rahmat, itu ada pada pikiran Anda. Kalau Anda besikap positif, Anda berobat, lalu sembuh. Tubuh Anda akan jadi lebih kuat. Anda akan lebih hati-hati menjaga kesehatan. Akhirnya, penyakit tadi menjadi rahmat. Mengeluh, meratap, mungkin akan membuat penyakit makin parah. Tidak hanya fisik yang sakit, jiwa pun menjadi sakit.

Jadi sekali lagi, hidup itu ibarat berjalan menembus hujan. Jangan merasa istimewa kalau Anda basah. Biasa saja. Karena semua orang juga basah. Jangan merasa istimewa ketika sedang menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan, lalu mendongak ke atas dan bertanya, “Why me?” Karena Tuhan akan dengan enteng menjawabnya, “Why not?”

Pertanyaan yang lebih tepat pada saat itu adalah, “Apa yang perlu saya lakukan sekarang?”

Tuhan Ada Berapa?

godsAda pemandangan menarik pada suatu pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Filipina yang pernah saya tonton. Di babak kedua, Yabes, pemain cadangan yang baru masuk menyerang lewat sayap kanan, menusuk ke jantung pertahanan lawan, kemudian menembak ke arah gawang dari sudut sempit. Gol! Yabes segera menuju ke sudut lapangan. Ajakan rekan satu timnya untuk membuat perayaan dia tampik. Ia segera berlutut, lalu berdoa sejenak, dengan cara Kristen. Di sampingnya, rekan Yabes ikut merayakan gol tadi dengan sujud syukur, cara Islam.

Nalar saya tergelitik melihat pemandangan itu. Ada dua manusia yang berdampingan, memuja Tuhan dengan cara yang berbeda. Ada berapa Tuhan saat itu? Satu? Dua? Kalau satu, kenapa disembah dengan 2 cara? Kalau dua, Tuhan yang mana yang tadi mengizinkan terciptanya gol?

Seorang rekan berkomentar,”Tuhan hanya satu.” Saya mencoba menggali penjelasan logisnya. Tapi pada akhirnya ia hanya menjabarkan konsep imannya sebagai seorang  muslim. Saat saya tanya, kenapa satu Tuhan disembah dengan dua cara, ia mulai berdalil bahwa yang benar adalah cara Islam, karena cara Kristen adalah cara yang sudah direvisi oleh Islam. Saya hanya bisa tersenyum.

Setiap orang yang bertuhan mengklaim seperti itu. Klaimnya adalah Tuhan saya yang paling sahih. Tuhan orang lain itu pasti salah. Atau, cara saya memahami Tuhan adalah yang paling benar. Cara orang lain salah. Kalau kita mau hitung, ada lebih dari 5000 Tuhan yang disembah manusia, dan para penyembah itu masing-masing mengklaim bahwa Tuhannya lah satu-satunya yang benar. Tidakkah para penyembah Tuhan itu sadar bahwa orang lain pun punya klaim yang sama? Tidakkah mereka berpikir bahwa bila Tuhannya adalah satu-satunya yang benar, maka Tuhannya hanya sanggup menunjuki sebagian kecil dari umat manusia, karena di luar sana ada lebih banyak orang yang tidak menyembah Tuhan yang ini? Pilihlah satu Tuhan, maka kau akan menjadi minoritas di tengah para penyembah Tuhan.

Pembicaraan tentang Tuhan memang tak pernah berujung, lalu membuat gerah. Orang-orang pun berdalih,”Akal kita terlalu terbatas untuk bisa membahas Tuhan.” Bukan. Kita tidak sedang membahas Tuhan. Kita sedang membahas apa yang kau pikirkan tentang Tuhan.

“Akal kita terlalu terbatas untuk memahami Tuhan.”

“Kalau begitu, kenapa kau merasa paham tentang Tuhan?”

“Aku tidak memakai akal dalam memahami Tuhan. Aku mengikuti petunjuk dari Tuhan, dari kalamNya.”

“Tidak. Kau sedang mengikuti sesuatu yang kau anggap sebagai kalam Tuhan. Hal itu pun bagian dari pemahamannu tentang Tuhan. Itu adalah bagian dari circular logic mu tentang Tuhan.”

‘Aku beriman kepada Tuhan yang telah memberiku petunjuk melalui firmanNya, yang tertuang dalam kitab suci yang aku imani.’

Para penyembah Tuhan banyak yang tidak menyadari bahwa fondasi paling dasar dari iman mereka sebenarnya bukan pada kepercayaan pada Tuhan, melainkan pada pembawa kabar tentang Tuhan, yang dalam hal agama samawi adalah para nabi. Mereka enggan mengakui bahwa Tuhan sebenarnya hanyalah sesuatu yang mereka anggap Tuhan. Dalam bahasa yang lebih vulgar, orang-orang beriman enggan mengakui bahwa Tuhan adalah sesuatu yang diciptakan oleh pikiran manusia.

Orang-orang beriman dikungkung oleh sekat-sekat tembok iman yang enggan mereka akui keberadaannya, meski tembok-tembok itu hadir begitu nyata di depan mereka. Kalau akibatnya hanya sebatas pada pemujaan seperti yang dilakukan Yabes dan rekan satu timnya seperti saya gambarkan di bagian awal, sungguh tak jadi masalah. Namun kalau sampai menimbulkan perang berkepanjangan seperti Perang Salib, sungguh patut disesalkan.

Anjing Pelacak dan Gerutu Aa Gym

anjing

 

Fanpage Aa Gym menyampaikan keberatan terhadap penggunaan anjing pelacak di bandara, dengan alasan anjing itu bernajis, sehingga akan mengganggu orang yang telah diperiksa. Ia jadi tidak bisa salat karena pakaiannya bernajis. Aa Gym minta agar pihak Angkasa Pura 2 menghormati hak-hak kaum muslim untuk tidak terkena najis.

Lalu sebaiknya bagaimana, wahai Aa Gym?

Mari kita lihat dulu dari sisi fiqh. Para ulama berbeda pendapat soal status najis anjing. Pertama, mazhab Maliki berpendapat anjing adalah suci, termasuk liurnya. Sedangkan mazhab Syafi’i berpendapat bahwa anjing adalah najis termasuk bulunya. Adapun Hanafi berpendapat bulu anjing suci, sedangkan liurnya najis. Yang diklaim Aa Gym soal najis itu sebenarnya masih dalam wilayah khilafiyah. Tidak semua ulama memutlakkan bahwa anjing itu najis semua.

Tapi di luar soal itu, pemakaian anjing pelacak ini tujuannya sangat maslahat sifatnya. Anjing punya penciuman tajam yang bisa melacak banyak bau, seperti narkotika, bom, senjata, serta mengenali bau manusia pelaku kejahatan. Karenanya banyak kepolisian di berbagai negara menggunakan anjing sebagai pembantu kerja polisi. Sejauh ini belum ada hewan lain atau alat yang bisa dipakai untuk menggantikan fungsi anjing pelacak. Karena itu ia dipakai terus.

Nah, tidakkah kaum muslim Indonesia mau sedikit berkorban untuk kemaslahatan bersama ini, alih-alih menggerutu soal hak? Soal terkena najis itu banyak sekali solusinya. Apa salahnya berganti baju, kalau dalam pemeriksaan ia terkena najis? Tapi sejauh yang saya ingat, yang diendus anjing dalam pemeriksaan bandara bukan manusia atau pakaiannya, melainkan koper. Jadi mohon maaf, keluhan Aa Gym ini terkesan mengada-ada.

Lalu, apa sebaiknya yang harus dilakukan oleh pihak bandara? Aa Gym tidak memberi saran. Ia sekedar menggerutu saja. Sayang sekali. Ulama seharusnya seorang pemberi solusi, bukan penggerutu. Cuma satu hal perlu kita garisbawahi. Benarkan isi fanpage itu ditulis sendiri oleh Aa Gym, atau sesuai dengan arahan dia? Jangan-jangan hanya dikelola oleh orang-orang yang tidak punya ilmu. Kalau begitu adanya, lebih patut disesalkan lagi.

 

 

 

Macet Libur Panjang

tol

 

 

 

 

 

 

 

Kejadian berulang setiap libur akhir pekan panjang, jalan macet ke arah luar kota Jakarta. Imbasnya tentu sampai ke dalam kota. Tapi apa sebabnya? Itu masih misteri.
 
Sejak awal pekan saya sudah merencanakan untuk liburan ke Cirebon. Saya sudah antisipasi untuk berangkat lebih cepat, karena kalau petang pasti macet parah. Jam 11.20 lewat saya sudah keluar dari kantor menuju arah Cikarang. Sekitar jam 12 di Bekasi Barat sudah macet, meski tidak parah. Walhasil, jarang dari kantor ke rumah yang dalam kondisi lancar bisa ditempuh 1 jam, molor menjadi 1,5 jam. Saya langsung menjemput anak-anak ke sekolah.
 
Sekitar jam 1 siang dari pantauan Google Map sudah terlihat kemacetan di suatu titik menjelang simpang susun Karawang Timur. Saya buru-buru bersiap, dan jam 3 keluar dari rumah. Begitu masuk tol di simpang susun Cikarang Timur langsung berhadapan dengan kemacetan parah. Jalan merambat, 1 jam berlalu, belum juga tiba di Karawang Barat. Ketika akhirnya lolos dari kemacetan, waktu sudah menunjukkan pukul 5 petang. Jadi jarak tempuh kurang dari 20 km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.
 
Ada apa di titik sumber kemacetan? Tidak ada apa-apa. Di situ hanya ada tempat istirahat kecil yang terlihat padat. Orang parkir sampai luber ke jalan. Tapi apa yang menyebabkan kemacetan? Tidak ada yang khusus.
 
Ada beberapa titik kemacetan sepanjang jalan tol ke arah timur dari Jakarta. Pertama di Bekasi Barat, setelah simpang susun Cikunir. Ada tikungan di situ, mirip dengan tikungan di Halim. Di situ selalu jadi titik pangkal kemacetan yang imbasnya akan sampai ke simpang susun Halim, terus merambat sampai ke Semanggi dan Tomang. Kemacetan di simpang susun Halim akan berimbas juga ke jalan tol dalam kota, hingga ke Kelapa Gading, Priok, Pluit, dan Bandara. Kalau sudah macet di Bekasi Barat, maka seluruh jalan utama Jakarta akan macet parah.
 
Titik kedua adalah gerbang tol Cikarang Utama. Ini kemacetan karena orang harus berhenti sejenak untuk mengambil kartu tol. Mesin pengeluar kartu lambat reaksinya, sehingga jadi biang kemacetan.
 
Titik ketiga, tempat istirahat sebelum Karawang Timur tadi.
 
Kondisi terparah dicapai ketika ekor kemacetan Karawang Timur sampai menyentuh Cikarang Utama, ekor Cikarang Utama menyentuh Bekasi Barat, dan imbas macet Bekasi Barat sampai ke Tomang di satu sisi, Kelapa Gading sampai bandara, di sisi lain.
 
Apa yang dilakukan polisi? Nyaris tidak ada. Biasanya mereka hanya memberi sedikit perhatian di Cikarang Utama. Di titik macet Karawang Timur tak terlihat polisi yang mengatur.
 
Kemacetan berulang ini terjadi karena kondisi jalan, seperti tikungan Bekasi Barat, dan gerbang tol Cikarang Utama. Tapi juga disebabkan oleh perilaku pengemudi. Parkir seenaknya di bahu jalan tol adalah sebab utama kemacetan. Saat macet, 2 jalur jalan dipenuhi truk yang akselerasinya rendah, sehingga memperparah kemacetan. Lalu kebiasan lain, “melihat kiri kanan”. Tanpa sadar orang membuat kemacetan dengan cara ini. Sangat sering terjadi kecelakaan di suatu arah jalan tol juga menyebabkan kemacetan di arah sebaliknya. Kenapa? Karena pengendara di arah sebaliknya meski tidak terhambat cenderung memperlambat kendaraan untuk melihat apa yang terjadi.
 
Periku lain adalah zigzag dan saling serobot. Kemarin selama jarak tempuh Cikarang-Karawang ada beberapa kali mobil bersirine memaksa lewat bahu jalan sebelah kanan, diikuti beberapa mobil yang berlagak seolah bagian dari rombongan.
 
Jadi, kenapa macet parah? Kita yang membuatnya. Perilaku kita dalam mengemudi membuat kita susah sendiri. Ditambah ketidakpedulian aparat. Titik-titik kemacetan seakan tidak pernah dianalisa dan dicarikan solusinya. Kita seperti terbiasa menganggap sesuatu sebagai bencana “langganan” tanpa tahu apa penyebabnya, dan bagaimana menyelesaikannya.
 

Haji Kecil

mimpi

“Kalau kau punya mimpi, Tuhan membuatkan jalan yang menghubungkan engkau dengan mimpimu itu. Kau tak perlu payah-payah membuat jalannya. Kau hanya perlu mencarinya dengan teliti. Boleh jadi ia tersembunyi di balik semak-semak berduri. Kau hanya perlu menyibakkannya. Atau ia berupa jalan mendaki, kau hanya perlu bersabar dalam mendakinya. “

Aku sangat menyukai panggung kecil itu. Jangan bayangkan sebuah pentas. Tak ada apa-apa di situ. Hanya aku. Duduk di tengah kerumunan orang, di sebuah kenduri. Orang-orang memandangku dengan kagum. Karena sebelumnya mereka sudah pernah melihat aku melakukannya. Jadi mereka sudah kagum sebelum aku mulai lagi.

Ku tarik napasku pelan. Tak ada gugup, karena aku sudah terbiasa. Lalu aku mulai. „Allahuma inna nas’aluka salamatan fi din…………..

Ya aku mulai membaca doa. Itulah pertunjukanku di panggung kecil itu. Mungkin kau akan heran, apa pula istimewanya orang membaca doa sampai perlu dikagumi. Nah, itulah kau. Kau tak tahu siapa aku. Aku anak berusia empat tahun. Sudah pandai baca doa. Di kampungku, orang tua pun tak banyak yang pandai baca doa.

Aku sebenarnya tak pernah belajar baca doa. Emak lah yang sebenarnya sedang belajar, baca doa selamat. Ia belajar dari sebuah buku berhuruf Arab-Melayu, dibimbing oleh Ayah. Nah, Ayahku imam mesjid. Dia banyak hafal doa-doa. Doa selamat, doa arwah, bahkan doa yang panjang macam doa rasul pun dia hafal.

Emak belajar, mebaca doa itu keras-keras. Tiap lepas magrib dia membaca doa itu, mencoba menghafalnya. Ayah duduk di samping, membetulkan bacaan Emak kalau dia keliru. Tapi tak selalu begitu. Kadang Ayah mengajar Emak sambil berbaring di tempat tidur, melepas lelah. Ayah sering begitu. Kalau mengajari kami mengaji dia juga tak selalu duduk di samping kami. Dari atas tempat tidur dia mendengar, lalu membetulkan kalau bacaan kami keliru. Sepertinya Ayah hafal apa yang kami baca.

Begitulah, hari-hari aku mendengar Emak belajar membaca doa. Tanpa aku sadari aku yang lebih dahulu hafal. Emak terkesima.

Kalau ada kenduri aku selalu ikut Ayah. Ayah selalu diundang, karena dia imam mesjid. Tak ada dia mungkin tak ada kenduri. Karena dia lah yang membaca doa. Ada orang lain, satu dua orang yang juga bisa. Tapi orang kampung biasanya lebih suka meminta Ayah membaca doa.

Di suatu kenduri, Emak juga ikut. Ayah duduk di ruang depan, bersama banyak hadirin yang laki-laki. Para perempuan biasanya duduk di ruang dalam. Kadang sambil membantu menyiapkan hidangan yang hendak dikirim ke ruang depan. Aku duduk di dekat Emak. Tak kuduga akan Emak minta sesuatu padaku.

“Bacalah doa.” pintanya.

Terkejut aku. “Apa? Doa apa?”

„Doa. Doa selamat yang sudah kau hafal itu.“

Aku pikir Emak memintaku menggantikan Ayah. Dan itu tak patut. Tak patut anak kecil membaca doa. Tapi Emak menatap mataku, dan berkata sekali lagi, “Bacalah doa tu.”

Aku patuh. Lalu aku baca doa selamat itu.

“Allahumma nas’aluka salamatan fi diin……….”

Aku baca dengan mantap. Emak tersenyum. Aku suka melihat senyum itu. Aku lanjutkan bacaan dengan suara lebih keras. Orang-orang di sekitarku mulai sadar bahwa aku sedang membaca doa. Mereka yang tadinya larut dalam berbagai perbincangan, sontak diam, mendengarkan bacaanku. Aku makin semangat. Aku baca doa yang panjang itu sampai selesai.

„Aduh pintarnya……..“ seorang ibu di dekatku memuji.

„Iya, pintar benar. Awak yang tua ini pun tak pandai berdoa.”

“Betul. Kalah kita oleh budak kecil ni.”

Sekarang aku tahu mengapa Emak menyuruhku baca doa.

Begitulah berulang-ulang. Di setiap kenduri, Emak menyuruhku baca doa. Dan orang-orang memuji. Tak hanya memuji. Orang-orang memberiku uang. Sepuluh dua puluh rupiah. Bahkan ada yang memberi seratus. Senang betul aku. Selanjutnya Emak tak perlu lagi menyuruhku. Orang-orang biasanya langsung memintaku. Aku turuti permintaan mereka. Aku suka duduk di tengah panggung itu, dengan orang-orang duduk di sekeliling, mendengar aku membaca doa.

Ayah dan Emak senang betul kalau aku diminta membaca doa. Dan Emak tahu, di kenduri orang akan mencari aku. Meminta aku duduk di tengah-tengah, lalu aku membaca doa. Emak tak mau anaknya tampak lusuh. Dia belikan aku baju bagus. Juga peci bagus. Lengkaplah aku, duduk di panggung dengan peci yang bagus.

Ah, aku harus ceritakan ini. Emakku seorang pedagang. Ia berdagang baju, kain sarung, batik. Juga obat, bedak. Macam-macam lah. Semua yang tak dijual di toko Cina di kampung kami dijual Emak. Hampir tiap bulan Emak pergi ke kota untuk membeli barang dagangan. Lalu menjualnya di kampung.

Maka tak sulit bagi Emak untuk membelikan baju untukku. Teluk belanga kecil, warna putih. Juga kain sarung berukuran kecil. Lengkap dengan peci kecil. Hampir tak ada anak di kampung yang punya itu. Mereka semua memakai sarung orang dewasa, yang tentu saja terlalu besar untuk mereka. Hanya aku yang pakai sarung kecil, yang pas benar untukku.

Kelak Emak menambah sesuatu yang membuatku makin senang. Peci haji. Peci putih, yang biasanya hanya dipakai oleh pak haji. Ayah, meskipun imam mesjid tak memakai peci itu, karena belum haji. Tapi aku memakainya. Alangkah senangnya.

Sejak itu orang tak lagi memanggil namaku saat meminta aku membaca doa. Pak Haji Kecil, itulah panggilanku.

“Pak Haji Kecil, mari duduk di sini, baca doa untuk kami.”

“Pintar betul budak, ni”

“Tak usah heranlah. Ayahnya pintar.”

“Kelak kalau besar mesti dia juga akan pergi sekolah ke kota, macam abang-abangnya.“

Itulah omongan orang di sekitarku yang sering aku dengar, usai aku membaca doa. Abangku memang sekolah di kota. Tak banyak orang kampung kami yang sekolah, apalagi sampai ke kota. Umumnya anak kampung kami hanya sekolah sampai kelas dua atau tiga. Sesudah itu dia sudah cukup umur untuk diajak bekerja di ladang atau kebun kelapa. Jadi tak perlu sekolah. Hanya sedikit yang mau sekolah sampai tamat kelas enam. Dan hampir tak ada yang menyambung ke SMP. Karena kalau menyambung harus ke kecamatan atau ke kota.

Aku tahu kalau kelak aku tamat SD aku akan menyambung ke kota. Emak sudah berjanji pada kami anak-anaknya. Semua akan menyambung. “Biar nanti kalian bisa jadi pegawai.” begitu kata Emak.

Aku suka benar membayangkan kalau kelak aku sekolah ke kota. Sesekali aku pernah ikut Emak ke kota. Aku suka sekali. Banyak mobil, becak, honda. Semua itu tak ada di kampung kami. Karena itu tak banyak anak kampung yang pernah melihatnya. Aku pernah melihatnya berkali-kali. Jadi aku sering bercerita kepada anak-anak kampung tentang ini.

Tapi aku ingin melihat lebih. Di kampong kami ada beberapa orang haji. Kalau hendak pergi haji mereka mengundang kenduri. Tentu, aku Pak Haji Kecil juga hadir, dan membaca doa. Kelak kalau mereka pulang dari haji, mereka juga mengadakan kenduri lagi. Di situ nanti banyak cerita tentang perjalanan haji. Yang aku dengar, orang perlu ke kota untuk pergi haji. Dari situ terus naik kapal terbang ke Jakarta. Lalu ke Mekah. Di Mekah inilah haji dilaksanakan.

„Mak, aku ingin ke Mekah.“ kataku suatu hari pada Emak.

„Bagus lah tu. Kelak Haji Kecil ini pasti jadi haji besar.”

“Bukan cuma naik haji, Mak.”

“Dah tu, nak apa?”

“Aku nak sekolah, Mak. Lepas SD di sini, nanti ke kota. Lepas tu ke Jakarta. Lalu nyambung sekolah ke Mekah.“

Emak tersenyum senang.

„Tentu-tentu. Anak Emak yang pintar mesti sekolah tinggi.”

Sejak itu, usai membaca doa, aku selalu menceritakan rencana itu kepada semua pendengarku. Aku akan sekolah tinggi, sampai ke Mekah!

Akhirnya aku tak sekolah ke Jakarta, tapi ke Yogya. Tak ke Mekah, tapi ke Jepang. Ke mana pun juga, aku telah mencapai mimpi kecilku dulu. Mimpi yang tercapai, rasanya sangat indah.

sumber foto : pintrest dot com