Monthly Archives: March 2016

Mengancam Cina

Sudah ada 3 tokoh penting mengeluarkan pendapat senada. Pertama, Jaya Suprana. Dalam sebuah tulisan ia menyatakan bahwa kalau Ahok terus bersikap arogan, maka itu bisa berakibat buruk, berupa kebencian pada etnis keturunan Cina, yang puncaknya adalah kerusuhan anti-Cina. Kerusuhan itu memang terjadi berkali-kali dalam sejarah kita.

Belakangan ini Suryo Prabowo, seorang pensiunan jenderal, mengeluarkan pernyataan serupa. Ia bahkan menambah horor pernyataannya itu dengan memuat gambar-gambar kerusuhan yang mengerikan. Kemudian Duta Besar Indonesia untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra mendukung pernyataan Suryo itu.

Pertanyaannya, benarkah masyarakat membenci Ahok? Masyarakat mana? Berapa jumlahnya? Tidak ada data memadai soal itu. Tentu ada bagian dari masyarakat yang tidak suka pada Ahok. Alasan yang muncul di permukaan adalah, Ahok itu bermulut kotor. Dalam hal ini alasan ini bisa dibenarkan. Ahok sendiri mengakui bahwa ia sering bicara keras dan vulgar, dan ia berjanji untuk mengubah sikapnya.

Hal lain yang sering dituding sebagai sikap arogan Ahok adalah soal sikapnya yang tanpa kompromi. Dalam penggusuran Kampung Pulo, ada begitu banyak cercaan kepadanya. Ia dituduh arogan karena terus menjalankan program itu meski dikritik. Dalam bahasa kepemimpinan sikap Ahok itu lebih tepat disebut tegas. Tegas itu artinya melaksanakan apa yang memang harus dilaksanakan. Kritik pasti ada. Tapi kritik tidak perlu membuat seorang pemimpin berhenti melakukan hal-hal yang harus dilakukan.

Sekarang coba perhatikan apa akibat penggusuran tersebut. Apakah warga Kampung Pulo yang digusur itu kini lebih menderita? Yang sudah pasti, mereka tidak lagi terendam banjir tahun ini, karena kini mereka menempati bangunan apartemen, puluhan meter di atas permukaan tanah. Tidak cuma itu, Jakarta tahun ini sangat jauh lebih baik dari tahun lalu. Tidak ada banjir besar melanda. Jakarta menjadi kontras dengan tempat-tempat sekitar seperti Pamulang (Banten), Cikarang dan Dayeuh Kolot (Jawa Barat) yang menderita banjir parah.

Apakah masyarakat memandang Ahok sebagai representasi Cina? Sekali lagi, mungkin ada sebagian. Tidak ada data yang pasti soal berapa banyak yang menganggap begitu. Tapi secara kasat mata bisa kita rasakan bahwa sebagian besar masyarakat menganggap Ahok sebagai seorang warga negara yang diberi tugas sebagai kepala daerah. Sama seperti Risma, Ridwan Kamil, dan lain-lain.

Apakah masyarakat kita membenci orang keturunan Cina? Sekali lagi jawabannya sama, yaitu ada sebagian. Cuma kita tidak tahu berapa banyak. Tapi dalam keseharian yang kita segera bisa kita temukan adalah kenyataan bahwa hubungan antara pribumi dan Cina itu sebenarnya biasa saja. Sama halnya dengan hubungan antarsuku yang lain.

Apakah Anda percaya bahwa kerusuhan antaretnis atau antaragama yang terjadi selama ini murni karena kebencian masyarakat? Saya tidak. Berbagai kerusuhan selalu terkait dengan provokasi oleh sekelompok orang yang diuntungkan oleh kerusuhan itu. Peristiwa Malari misalnya, sebenarnya adalah pertarungan perebutan pengaruh di antara jenderal-jenderal di bawah Soeharto. Kerusuhan Mei 1998 juga soal kekisruhan untuk berebut pengaruh saat Soeharto sedang oleng.

Apakah Anda percaya bahwa orang-orang penting seperti Suryo Prabowo itu anti-Cina? Saya tidak. Saya cukup sering melihat pola-pola bisnis di negeri ini. Polanya “Ali-Baba”. Ali adalah kelompok-kelompok elit pribumi yang punya akses kepada pembagian sumber daya alam, seperti HPH, hak penguasaan lahan tanah untuk bangunan, atau lahan tambang. Mereka punya akses karena status mereka, misalnya sebagai perwira militer atau polisi. Atau kekuasaan politik.

Kelompok “Ali” ini biasanya adalah orang-orang yang tak mau repot mengurusi tetek bengek bisnis yang bikin pusing. Mereka lebih suka terima bersih. Nah, urusan tetek bengek biasanya diserahkan ke “Baba”, orang-orang Cina yang biasanya memang ulet dalam mengelola. Nanti hasil pembagian keuntungan diserahkan ke “Ali”. “Baba” mempekerjakan “Ali kuli” untuk mengurus hal-hal yang lebih tetek bengek lagi.

Bagi saya mustahil bila orang-orang seperti Suryo Prabowo itu membenci Cina, yang selama ini (mungkin) sudah memenuhi pundi-pundinya dengan uang. Sudah sangat lumrah kita lihat bahwa jenderal-jenderal pensiunan biasa “dipasang” di posisi-posisi “Ali” dalam berbagai bisnis. Posisi yang tak perlu bekerja tapi dapat uang, misalnya menjadi komisaris. Kalau ada kebencian, mungkin sebabnya karena tidak dapat atau kurang bagian.

Tapi dalam hal Suryo Prabowo dan Yusron Ihza Mahendra, motifnya bisa kita tebak dengan mudah. Ini urusan persaingan dalam pilkada nanti. Saya berharap mereka tidak benar-benar merealisasikan ancamannya dengan membuat rusuh untuk menghadang Ahok. Itu tidak boleh terjadi. Kita dan mereka berdua tahu betul apa konsekwensi dari hal itu.

Lalu bagaimana kita memahami Jaya Suprana? Saya setuju dengan pendapat Ariel Haryanto soal Jaya. Jaya adalah manusia bentukan Orde Baru, yang terbiasa menyerah di bawah teror zalim, lalu terkurung di dalam tempurung ketakutan yang ia abadikan.

Koesnadi Hardjasoemantri

Suatu pagi di tahun 2007, seorang teman menelepon saya. “Pak Koes meninggal dalam kecelakaan pesawat,” katanya memberi kabar. Tak kuasa saya menahan air mata. Saya menangis tersedu-sedu. Orang yang menjadi mahasiswa pada akhir dekade 80-an hingga 90-an pasti mengenal Koesnadi Hardjasoemantri, yang biasa dipanggil orang Pak Koes. Saya sendiri tak begitu intens bergaul dengan Pak Koes. Tapi rasanya begitu dekat dengan beliau. Kepergian beliau menyisakan sebuah kehampaan yang besar.

Saya mengenal Pak Koes saat baru belajar saja aktivis kampus. Saat jadi mahasiswa tahun ke 2, saya menjadi ketua panitia sebuah seminar. Kebetulan waktu itu kami hendak mengundang Pak Alwi Dahlan sebagai pembicara. Mengetahui beliau adalah sahabat Pak Koes, saya menghubungi Pak Koes yang waktu itu adalah Rektor UGM.

Saya saat itu seorang anak muda yang gampang gugup karena tak percaya diri. Bertemu dengan PD III di fakultas saja saya sudah gugup dan berkeringat dingin. Bagaimana nanti kalau bertemu Pak Koes? Pak Koes waktu itu baru saja menjadi berita besar, saat dia mengantarkan mahasiswa berdemo ke gedung DPRD. Orang besar beliau itu. Dan saya harus menemui orang besar itu. Bagaimana saya tak gugup?

Tapi ternyata menemui Pak Koes bukan perkara sulit. Saya hubungi sekretaris beliau, dan segera kami dua orang wakil panitia dapat jadwal menghadap. Jadwal yang sangat singkat, hanya beberapa menit, di tengah kesibukan Pak Koes. Tapi beberapa menit itu luar biasa penting bagi hidup saya. Pak Koes ternyata begitu sederhana. Jauh dari kesan pejabat tinggi. Bicaranya to the point, tak banyak basa-basi. Dan beliau sungguh bersahabat.

Singkat cerita, Pak Koes mau membantu meneleponkan Pak Alwi Dahlan. “Begitu cara yang benar kalau mau menghubungi orang tua, Dik.” kata Pak Koes menasehati kami. “Kalian ini anak-anak saya, Pak Alwi itu teman saya. Tak sopan kalau kalian langsung menghubungi beliau. Biar saya yang kulonuwun dulu, setelah itu baru kalian yang bicara langsung.”

Itulah salah satu prinsip Pak Koes. Di saat lain beliau bercerita bahwa ketika beliau mengantarkan mahasiswa bedemo ke DPRD, prinsipnya juga seperti itu. “Saya ingin anak-anak saya dihormati orang. Kalau mereka datang, langsung mengetuk pintu institusi negara, mereka mungkin akan diabaikan. Lalu mereka perlu membuat sesuatu untuk menarik perhatian, yang bisa-bisa itu tindakan anarkis. Kalau saya antar mereka, orang pasti akan membuka pintu sehingga anak-anak saya bisa masuk dengan sopan.”

Setelah pertemuan pertama itu saya beberapa kali bertemu Pak Koes. Di antaranya di rumah dinas beliau di Bulaksumur. Kebanyakan pagi-pagi, usai salat subuh. “Kalau lampu ruang tamu saya sudah menyala di subuh hari, itu artinya saya siap terima tamu. Demikian pula di malam hari.” Begitu kata beliau. Tanpa protokol, kami bisa langsung menemui beliau di rumah.

Setelah beliau tak jadi Rektor saya sempat beberapa kali lagi bertemu. Terutama dengan posisi beliau sebagai ketua panitia pembangunan mesjid kampus UGM. Beberapa pertemuan terjadi di rumah kediaman beliau di Timoho.

Pertemuan pertama saya dengan Pak Koes yang hanya beberapa menit itu luar biasa efeknya. Sejak itu saya jadi percaya diri. Tak pernah lagi saya gugup ketika bertemu dengan orang-orang besar. Tak cuma itu. Banyak pelajaran yang saya ambil dari beliau.

Salah satu nasehat beliau pada kami yang saat itu suka mengritik pemerintah adalah, bicaralah dengan sopan. “Ada perbedaan antara bicara keras dengan bicara kasar.” kata Pak Koes. “Bicara keras itu menyatakan ketimpangan secara apa adanya, tanpa ditutup-tutupi. Tapi tidak perlu menggunakan kata-kata kasar.”

Pak Koes di saat lain juga bercerita bahwa dengan berbagai kesibukan beliau masih mengajar dan  membimbing skripsi mahasiswa S1. Banyak orang, cerita Pak Koes, yang tak mau lagi mengajar/membimbing mahasiswa S1 kalau sudah profesor. Padahal justru profesor diperlukan untuk itu.

Kesederhanaan Pak Koes, sikap bersahabatnya, menurut saya semua bersumber pada satu hal: akal sehat. Bila kita pertimbangkan segala sesuatu dengan akal sehat, tak akan ada kesombongan, tak kan ada jarak antar manusia. Ya, karena kita ini semua hanya manusia.

Terima kasih, Pak Koes.

Adam dan Hawa Berbahasa Apa?

adam


Coba Anda cari jawaban atas pertanyaan itu di Google, apa yang Anda temukan? Kalangan Judeo-Kristian menganggap bahwa bahasa yang dipakai Adam adalah bahasa Ibrani. Alasannya merujuk pada nama-nama yang dipakai saat itu, seperti Hawa, yang merupakan bahasa Ibrani. Berdasarkan alasan itu muncullah anggapan bahwa bahasa Ibrani adalah induk bahasa manusia, sebagaimana Adam adalah induk semua manusia.
 
Bagaimana dengan Islam? Saya belum menemukan bahasan yang memadai dari para ulama tentang hal ini. Tapi tak sulit untuk menduga bahwa umat Islam pun akan berpikir dengan cara yang sama seperti orang-orang Yahudi dan Kristen. Jadi, ada di kalangan umat Islam yang mengklaim bahwa Adam berbahasa Arab, yang diajarkan langsung oleh Allah.
 
Apa kata sains? Sains tidak menganggap manusia berasal dari Adam. Sains tidak menganggap Adam itu wujud sebagai tokoh sejarah, melainkan hanya sebagai legenda tradisional Yahudi. Sains berteori bahwa manusia modern adalah produk evolusi dari berbagai jenis manusia purba yang tersebar di muka bumi. Ada pula yang berpendapat bahwa terjadi migrasi besar-besaran dari Afrika sekitar 50 ribu tahun yang lalu, ke berbagai tempat di bumi. Mereka menggantikan manusia-manusia purba yang telah punah.
 
Tapi bukankah ada istilah “Adam dan Hawa genetik” dalam sains? Ya, beberapa peneliti berpendapat bahwa mengatakan bahwa secara genetik seluruh manusia yang ada saat ini bersumber pada satu orang manusia laki-laki dan satu perempuan. Mereka diperkirakan hidup sekitar 135 ribu tahun yang lalu. Nah, bukankah itu sesuai dengan ajaran kitab suci? Banyak kalangan khususnya Kristen yang bergembira dengan hal ini. Tidak perlu heran, baik di Islam maupun Kristen banyak penggemar gathukan.
 
Faktanya, yang disebut Adam dan Hawa genetis itu bukanlah manusia pertama yang hidup di bumi. Keduanya hidup terpisah, tidak kenal satu sama lain. Tentu saja tidak pernah bersenggama sebagai pasangan. Dalam pengertian genetis, keduanya hanyalah satu dari ribuan manusia yang hidup pada zaman itu yang secara genetis tersambung dengan manusia modern.
 
Kembali ke soal bahasa, para ilmuwan membangun teori perkembangan bahasa yang paralel dengan teori evolusi. Bahwa manusia mengembangkan kemampuan bahasanya seiring dengan berkebangnya fisik manusia, termasuk perkembangan otak, sistem saraf, dan organ lain seperti mulut dan tenggorokan. Ada yang menganggap bahasa itu berkembang secara berkesinambungan, ada pula yang menganggapnya terputus. Diperkirakan pada suatu periode terjadi “lompatan” pada perkembangan fisik manusia secara tidak berkesinambungan, di mana kemampuan pada periode berikutnya jauh lebih baik dari periode sebelumnya.
 
Manusia diperkirakan mulai menciptakan bahasa dari ekspresi sederhana yang secara refelek terlontar saat ia merasa kesakitan atau marah. Bunyi-bunyi itu kemudian berkembang menjadi bunyi yang lebih berbentuk, yang kemudian dipakai bersama. Ada pula teori yang mengatakan bahwa bahasa dibentuk dari peniruan terhadap bunyi-bunyi hewan. Selain itu ada pula yang beranggapan bahwa bahasa tercipta dari hubungan antara ibu dan anak.
 
Ada begitu banyak teori perkembangan bahasa. Yang jelas kita ketahui bahasa verbal itu kita pelajari dari interaksi antar manusia. Seseorang yang sejak bayi hidup sendiri tidak akan punya bahasa verbal. Hal itu bisa kita simpulkan dari pertumbuhan kemampuan berbahasa anak-anak kita. Atau, bisa kita lihat bagaimana orang tuna rungu yang tidak punya kemampuan berbahasa verbal.
 
Jadi, Adam dan Hawa berbahasa apa? Jawabannya tergantung pada jenis jawaban apa yang Anda inginkan. Bila basisnya adalah iman, maka mereka berbahasa Ibrani, kalau Anda memilih iman Yahudi atau Kristen. Bagi yang beriman Islam, jawabannya (mungkin) bahasa Arab. Orang Buddha dan Hindu tidak mengenal Adam dan Hawa, jadi jawaban mereka kosong, alias tidak ada. Begitu pula dengan sains.
 
 

Mengapa Aku Belajar Ini?

circle

 

 

 

 

 

 

 

Mengapa Aku Belajar Ini?
 
Itu adalah pertanyaan kita waktu kecil. Sebagian dari pertanyaan itu terjawab seiring bertambahnya pelajaran dan pengalaman kita. Tapi mungkin hingga kini ada banyak bagian pertanyaan itu yang belum terjawab. Pertanyaan itu adalah pertanyaan turun temurun. Anak-anak kita sekarang juga mengajukan pertanyaan yang sama.
 
Sering kita merasa bahwa kita belajar tanpa tujuan. Mengapa aku harus tahu? Apa manfaatnya? Guru-guru biasanya sibuk mengejar target materi yang sudah ditetapkan kurikulum. Ia asyik ngebut. Murid-murid bingung. Tiadanya jawaban akan menurunkan minat anak-anak pada pelajaran, bahkan menurunkan motivasi belajar.
 
Tadi malam Sarah mengajukan pertanyaan itu. Ia sedang belajar hukum-hukum lingkaran. Muncullah pertanyaan itu. Mengapa aku perlu belajar soal lingkaran?
 
“Kamu pernah perhatikan speedometer mobil?” tanya saya.
 
“Iya.”
 
“Apa yang kamu lihat di situ?”
 
“Jarum penunjuk kecepatan mobil, sama kecepatan mesin.”
 
“Ada lagi. Jarak yang sudah ditempuh mobil.”
 
“Oh, iya, angka-angka itu ya.”
 
“Nah, bagaimana mengukur kecepatan mobil?”
 
Sarah bingung. “Kan jarak dibagi waktu. Jadi kita ukur jarak yang ditempuh, dan waktu tempuhnya.”
 
“Tapi bagaimana caranya mengukur jarak?”
 
“Pakai meteran.”
 
“Emang kamu turun dari mobil dan mengukur jarak tempuh? Nggak, kan? Kita bicara tentang speedometer. Ingat.”
 
Sarah tidak bisa menjawab.
 
“Apa bentuk ban mobil?”
 
“Lingkaran.”
 
“Kalau keliling sebuah ban adalah 0,75 meter, sekali putaran ban, berapa jarak yang ditempuhnya?”
 
“0,75 meter.”
 
“OK, kalau 2 kali berapa? Kalau 10 kali berapa?”
 
“Oh, jadi jarak yang ditempuh adalah keliling ban mobil dikali berapa banyak putarannya?”
 
“Ya. Dan tidak cuma itu. Di mobil juga diukur berapa putaran per menit. Maka pada speedometer yang mengukur kecepatan mesin ada skala rpm. Tahu singkatannya? Itu singkatan dari rotation per menit. Itu menyatakan berapa banyak sesuatu berputar dalam satu menit. Jadi itu sudah merupakan ukuran kecepatan. Dengan mengetahui keliling ban kita bisa dapat data jarak tempuh sekaligus kecepatan.”
 
Sarah paham.
 
“Nah, dalam ilmu teknik ada begitu banyak benda berputar, yang semua dasar perhitungannya adalah hukum-hukum lingkaran. Belum lagi berbagai bangun ruang atau bidang datar, yang biasa dipakai dalam desain bangunan, perhitungan volume, dan sebagainya.”
 
Sarah sepertinya sudah lebih paham. Kini ia tahu untuk apa dia belajar hukum lingkaran. Kini ia tahu bahwa ia sedang belajar seuatu yang bermanfaat.

Agama di Media Sosial

Pernah saya berdiskusi dengan seorang ustaz di rumah saya. Saya sampaikan hal-hal yang menjadi pertanyaan saya tentang Islam. Setelah itu kami salat berjamaah, dan saya persilakan dia untuk menjadi imam. Usai salat dia bercerita. “Waktu diskusi tadi sebenarnya saya sedang berusaha keras menahan emosi. Hampir saja Pak Hasan saya terjang dan saya pukuli, kalau saya tidak berpikir panjang,” katanya.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

“Apa yang Bapak pertanyakan, apa yang Bapak kritikkan itu adalah hal-hal yang selama ini saya baca di internet. Setiap kali saya baca, saya sangat marah, rasanya ingin saya tinju monitor komputer saya. Nah, kini hal-hal yang saya baca itu saya dengar langsung dari orangnya sendiri, hadir di depan muka saya,” jelasnya. Saya memang menanyakan, tepatnya mempertanyakan banyak hal dalam Islam secara kritis. Untungnya di akhir diskusi dia akhirnya paham bahwa saya tidak sedang menghina Islam, melainkan sedang berusaha memahami. Di akhir cerita, dia menyarankan saya untuk berdiskusi dengan ulama lain, yang dia anggap lebih mumpuni. “Doktor harus dihadapkan dengan doktor,” kata dia. Saya datangi ulama yang dia sarankan, tapi diskusi tidak berkembang baik. Ulama itu menjawab singkat,”Saya tidak pernah berpikir tentang hal itu.” Selesai.

Internet membuat dunia menjadi seakan  tanpa batas. Media sosial membongkar batas-batas yang selama ini masih tersisa di dunia internet, menjadi benar-benar tanpa batas. Kita yang biasanya bergaul dengan orang dari kalangan yang sangat terbatas, kini dicampurkan dalam suatu bak besar bernama media sosial. Topik-topik sensitif yang biasanya enggan kita bahas di ruang nyata, menjadi hal yang tak lagi tabu dibahas di ruang maya. Interaksi yang memuat kejutan seperti yang terjadi antara saya dengan ustaz tadi, berlangsung hampir setiap menit di ruang maya.

Yang terjadi di dunia maya adalah manusia-manusia yang nyaris tanpa profil, saling berinteraksi. Manusia-manusia yang tak saling kenal satu sama lain, berbicara tanpa batas. Lebih pelik lagi, jalur komunikasi yang dipakai adalah bahasa tulis, yang sering kali gagal menyampaikan maksud secara utuh. Maka media sosial adalah dunia yang sangat rawan konflik.

Tidak hanya itu. Dunia sosial juga menghilangkan strata sosial dan segmen usia. Seorang cendekia dengan posisi terhormat di dunia nyata, bisa berinteraksi dengan anak SMP, atau buruh kasar di proyek konstruksi. Kiyai besar dengan ilmu mendalam, bisa berinteraksi dengan anak kemarin sore yang baru belajar agama lewat majelis halaqah. Perbedaan status sosial, level pengetahuan, dan sebagainya juga bisa menimbulkan konflik.

Pernah saya ungkapkan suatu fakta sejarah tentang rumah tangga nabi, yaitu konflik antara nabi dengan istri-istri beliau terkait kehadiran Maria Qibtiyah. Fakta itu sebenarnya tertulis di kitab-kitab tafsir, sesuatu yang biasa didiskusikan. Masalahnya, sangat banyak orang yang berislam tanpa belajar. Mereka hanya mendengar secuil doktrin, dan mempercayainya tanpa periksa. Kontan mereka marah dengan fakta yang saya ungkap tadi, dan menuduh saya memfitnah dan menghina nabi.

Semua itu menjadi tambah panas bisa bercampur dengan kepentingan politik. Politik kita masih sebatas politik emosi. Laksana penonton bola, publik kita melihat politik dengan bingkai nalar “yang penting pihak saya menang”,  bukan atas kepentingan-kepentingan yang lebih mendasar seperti terpenuhinya hak-hak dia sebagai warga negara. Akibatnya, semangat untuk menang lebih mendominasi pola komunikasi.

Ketika pikiran kita sudah dipenuhi oleh keberpihakan berbasis emosi, maka tidak ada lagi objektivitas. Tadi saya membaca posting orang yang memuat kritik saya terhadap Aa Gym, soal anjing pelacak di bandara. Ia menuduh saya bersikap kurang ajar. Kata-kata saya dia anggap kurang ajar. Tapi persis di bawah posting itu, ia memuat posting yang memaki-maki Ahok. Padahal kritik saya terhadap Aa Gym hanya berupa sindiran satire, tanpa makian.  Bahkan, menurut teman saya yang berteman dengan dia, orang ini sebenarnya biasa memaki orang lain.

Apakah saya selalu objektif? Saya tidak berani mengklaim begitu. Yang bisa saya klaim adalah saya berusaha untuk selalu objektif. Obejektivitas, sayangnya, sering ditetapkan secara subjektif. Itulah peliknya.

Jadi bagaimana? Saya menetapkan platform dalam bermedia sosial, agar tidak larut dalam konflik, meski konflik sering kali memang tidak bisa dihindari. Pertama, saya menjunjung tinggi kemerdekaan berpikir dan berekspresi. Dalam hal ini saya bahkan terpaksa berbenturan dengan admin Facebook sendiri, apa boleh buat. Kedua, saya bermedia dengan basis pengetahuan dan fakta. Sering saya merevisi atau menghapus sebuah posting yang kemudian saya sadari tidak kuat basis faktanya. Ketiga, saya tidak berminat mengubah pandangan orang-orang yang memang sudah diametral pertentangannya dengan saya. Yang bisa saya lakukan hanya membuka dialog untuk saling memahami. Bila pun itu tidak tercapai, minimal saya memberi kepercayaan diri kepada orang-orang yang sepaham dengan saya. Banyak orang yang punya pendirian tertentu tapi tidak tahu cara mempertahankan pendiriannya itu dengan argumen yang akurat. Saya menyediakan itu bagi mereka.

Facebook bagi saya hanyalah media untuk bertaaruf dengan jujur. Inilah saya. Sosok saya, atau apa yang saya pikirkan tidak selalu menyenangkan bagi orang lain. Dalam dunia nyata pun sebenarnya demikian. Hanya saja, saya tidak berinteraksi di dunia nyata sebanyak interaksi saya di dunia maya.