Monthly Archives: February 2016

Sonkeigo

image

 

 

 

 

 

 

Yao sensei wa tadaima irassyaimasen.“

Kalimat itu sangat sering diucapkan oleh mahasiwa Jepang saat menerima telepon di kantor grup riset kami saat saya belajar di Jepang dulu. Penelepon minta bicara dengan Sensei (profesor) bernama Yao, yang kebetulan sedang tidak ada di tempat. Mahasiswa tadi menjelaskan situasi itu dengan kalimat di atas.

Saya sering tersenyum kecil mendengar kalimat seperti itu, karena saya tahu kalimat itu salah. Lho? Orang Jepang salah dalam berhasa Jepang?

Mahasiswa tadi berbicara dengan bahasa halus, untuk penghormatan, yang disebut sonkeigo. Tidak ada yang salah dalam tata bahasa yang dia gunakan. Struktur kalimatnya benar. Hanya saja dia salah dalam penerapannya.

Sonkeigo memang rumit. Ini adalah salah satu bagian yang paling memusingkan bagi saya saat mempelajari bahasa Jepang, di samping-tentu saja- saat menghafal huruf-huruf kanji. Bagi orang Jepang sekalipun, sonkeigo ini rumit.

Bahasa Jepang memiliki tiga tingkatan. Ada bahasa untuk penghormatan (sonkeigo), bahasa standar (futsugo), dan ada bahasa untuk merendah (kenjogo). Kosa kata yang digunaka membedakan tingkatan itu. Misalnya, untuk kata ada/hadir digunakan irassyaru (sonkei), iru (futsu), dan oru (kenjo).

Selain soal kosa kata, ada hal yang lebih penting dalam sonkeigo, yaitu soal pengenaan. Sonkeigo dipakai untuk orang yang lebih tinggi (me ue) dari penutur. Misalnya orang yang lebih tua, atau lebih tinggi jabatannya. Tapi ada lagi aturan lain. Saat mendeskripsikan atau menerangkan seseorang dalam kelompok/keluarga kita (anggota uchi gawa) kepada orang luar, kita tidak boleh menggunakan kosa kata sonkeigo.

Guru bahasa Jepang saya memberi deskripsi yang sederhana untuk aturan di atas. „Seluruh anggota uchi diperlakukan sama di hadapan orang luar. Bapak sama dengan kucing.“ Kita, misalnya, tidak akan mengatakan: „Kucing saya wafat“. Wafat adalah bentuk kata halus/penghormatan yang tidak cocok digunakan untuk kucing.

Kesalahan itulah yang dilakukan oleh mahasiswa tadi. Dia sedang menjelaskan situasi tentang profesor di grupnya kepada orang luar. Tapi dia menggunakan dua kata penghormatan yang tidak pada tempatnya, yaitu sensei dan irassyaimasen. Seharusnya dia mengatakan: „Yao wa tadaima orimasen.“. Perhatikan bahwa dalam kalimat tersebut nama orang (Yao) sama sekali tidak diberi embel-embel penghormatan, san atau sensei.

Sebagai orang Indonesia kita bisa „memahami“ kesalahan mahasiswa Jepang tadi. Tentu tak elok bagi kita untuk menyebut nama saja kepada bapak/guru/atasan kita. Demikian pula, kita tak akan nyaman menggunakan kata-kata kasar untuk mendeskripsikan dirinya.

Tapi logika bahasa Jepang ternyata tidak demikian. Meninggikan orang serumah adalah hal yang tabu. Sama seperti tak wajarnya saat kita berkata „Kucing saya wafat.“

Sonkeigo dipertahankan dalam percakapan bisnis. Ini adalah bagian penting dari tata krama bisnis Jepang. Karenanya anak-anak muda yang baru lulus kuliah, dalam masa training di perusahaan, biasanya diberi pelajaran mengenai sonkeigo.

Saya merasakan adanya kemiripan pola pikir antara orang Jepang dengan orang Jawa. Dalam bahasa Jawa kita juga mengenal tingkatan bahasa, yaitu ngoko, kromo madyo, dan kromo inggil. Ngoko adalah bahasa kasar, madyo adalah bahasa menengah, dan kromo inggil adalah bahasa halus. Sebagai orang non-Jawa saya dulu mengira kalau memakai bahasa halus artinya sopan. Maka saya mengucapkan,”Kulo dereng dahar.” Kontan hal itu menjadi bahan tertawaan. Kenapa? Memakai bahasa halus untuk diri sendiri sama saja dengan meninggikan diri sendiri, dan yang terjadi malah sebaliknya, yaitu tidak sopan.

 

Mengajarkan Kenikmatan Belajar

Sebagai orang tua saya kadang khawatir soal masa depan anak saya. Akan jadi apa mereka kelak? Orang tua manapun tentu ingin anaknya tumbuh tanpa kekurangan, dan sukses dalam menjalani hidup mereka. Tapi tak jarang kita temui orang tua yang “gagal”. Orang tua sukses menjalani hidup mereka sendiri, tapi gagal mengantarkan anak menjadi orang yang sukses.

Istilah sukses itu sendiri memang punya banyak sisi. Terkadang sulit membuat ukuran-ukuran mengenainya. Kerumitan inilah salah satu pangkal kegagalan orang tua. Mereka mendefinisikan sukses secara sempit, umumnya berpusat pada kesuksesan mereka sendiri. Kemudian memaksakan agar anak-anak mereka mengikuti jalan yang sama. Tak jarang anak yang punya keinginan sendiri ditekan sedemikian rupa. Ada yang “berhasil”, dalam arti mengikuti jejak orang tua, namun mereka sendiri tidak bahagia. Tapi tak sedikit yang akhirnya tidak jadi apa-apa. Tidak jadi seperti orang tua mereka, pun tidak jadi diri mereka sendiri.

Saya (merasa) menyadari hal itu. Saya tidak ingin anak-anak mengikuti jejak saya. Mereka harus tumbuh dan berkembang sesuai minat dan bakat mereka. Posisi saya adalah membantu mereka membangun minat, dan mengembangkan bakat, dan mencari jalan menuju sukses. Jalan itu sendiri harus mereka jalani dengan menikmatinya.

Tapi jujur saja, hal itu sepertinya tak mudah dilakukan. Dunia di luar sana begitu luas, sementara yang sudah pernah kita sentuh masih sangat sempit cakupannya. Bagaimanapun juga ketika anak menapak menuju dunia yang sama sekali tidak kita kenal, kita akan merasa khawatir. Kebanyakan orang tua sepertinya merasa nyaman kalau anak menapaki jalan yang sudah mereka kenal. Sukur-sukur melalui jalan yang sudah pernah mereka lewati sendiri.

Kadang saya khawatir, bagaimana kalau prestasi belajar anak-anak saya pas-pasan? Bagaimana kalau prestasinya tidak menonjol? Lalu tidak dapat tempat di universitas yang bagus. Atau bahkan tidak mau kuliah sama sekali. Bagaimana kalau mereka tidak berminat untuk jadi orang sukses? Bagaimana kalau mereka tidak berminat jadi apa-apa? Saya yakin setiap orang tua, atau kebanyakan orang tua punya kekhawatiran itu.

Lalu bagaimana? Orang tua saya bukanlah orang berpendidikan. Ayah kelas dua Sekolah Rakyat, Emak tak pernah sekolah sama sekali. Mereka juga bukan orang sukses dalam ukuran orang-orang pada umumnya. Mereka “hanya” petani kelapa. Tapi dengan semua “kekurangan” itu mereka sukses mendidik anak-anak. Mereka adalah orang-orang yang menjadi orang tua secara alami. Saya berkeyakinan bahwa saya dengan pendidikan dan pengalaman selama ini, punya modal yang lebih baik. Maka saya yakin seharusnya saya juga bisa lebih baik.

Hal penting yang saya rasakan ketika saya merenungkan kembali jalan yang ditempuh oleh Ayah dan Emak dalam mendidik saya adalah bahwa mereka tidak menetapkan tujuan apapun kepada saya. Tidak ada target, kamu harus jadi ini atau itu. Mereka hanya mengajarkan cara hidup. Bahwa hidup harus diperjuangkan. Hidup harus tahu diri, di posisi mana kita berdiri dan bagaimana kita harus bersikap. Boleh jadi karena mereka memang tidak tahu banyak soal dunia di luar urusan bertani kelapa, sehingga mereka tidak bisa menetapkan target. Tapi apapun alasannya, bagi saya situasi itu adalah berkah. Cara seperti itulah yang sedang dan akan saya terapkan kepada anak-anak saya.

Di luar soal itu, satu hal ingin saya tekankan dalam mendidik anak, yaitu bahwa hidup adalah proses belajar. Hidup adalah belajar, sejak dari dalam ayunan hingga ke liang lahat. Belajar tak mengenal kata tamat atau khatam. Karenanya menjadi penting untuk mencari tahu bagaimana cara menikmati proses belajar itu.

Adalah fakta bahwa belajar sering kali menjadi siksaan bagi anak-anak. Sejak usia dini anak-anak sering dipaksa menelan apa yang tak ingin mereka telan. Berbagai jenis hafalan, mulai dari rumus matematika, struktur, istilah, nama tempat, nama orang, tanggal, dan banyak lagi. Juga kumpulan ayat dan doa. Anak-anak tidak diajarkan untuk tahu dan paham. Mereka dipaksa untuk ingat. Sebuah proses yang dalam pengalaman saya sangat menyiksa.

Saya kira kita semua pernah mengalami bahwa kita akan sangat nyaman belajar sesuatu yang kita suka. Bila kita ingin tahu, lalu kita mencari tahu. Saat kita jadi tahu, sungguh nikmat rasanya. Idealnya begitulah seharusnya jalan yang ditempuk anak-anak kita dalam belajar. Sayangnya tidak selalu demikian kejadiannya. Atau bahkan sangat jarang yang terjadi seperti itu. Kebanyakan adalah seperti yang saya sebut di atas.

Beberapa pelajaran sangat menyiksa bagi anak-anak. Bagi saya dulu IPS, PMP, pelajaran-pelajaran hafalan, sangat menyiksa. Bagi anak yang lain matematika dan IPA sungguh menyiksa. Perhatikanlah bahwa anak-anak kita pun begitu. Lalu bagaimana?

Saya mencoba hadir di sisi anak-anak saya saat mereka kesulitan. Sarah misalnya, sangat kesulitan dalam pelajaran IPS, PKn, dan sejenisnya. Maka saya dampingi dia. Ketika membahas geografi, misalnya, saya ajak dia membuka peta, baik yang ada di buku atlas maupun dari Google. Saya ajak dia berkelana melalui peta dan foto-foto, melihat sendiri tempat-tempat yang diceritakan dalam buku pelajaran. Demikian pula dengan sejarah. Saya kumpulkan bahan-bahan yang kemudian saya ramu, agar sejarah itu bisa dilihat secara lebih utuh, sebagai sebuah cerita. Bukan sekedar kumpulan nama orang, tempat, dan tanggal.

Seluruh pelajaran saya perlakukan seperti itu. Untuk sisi ekonomi misalnya, saya sering ajak anak-anak saya ke pasar, pabrik, dan lain-lain. Saya jadikan pengalaman mereka itu sebagai titik berangkat dalam menjelaskan isi buku pelajaran. Demikian pula dalam pelajaran IPA, saya ajak mereka melakukan berbagai percobaan.

Harapan saya, belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka tidak tumbuh dengan siksaan pelajaran. Dengan demikian mereka akan menikmati prosesnya, dan nantinya mereka akan mencari dan menemukan sendiri jalan yang hendak mereka pelajari. Dugaan saya, anak-anak yang memilih “berhenti”, tidak ingin jadi apa-apa adalah anak-anak yang tidak tahan lagi dengan siksaan keharusan belajar. Jangan sampai anak-anak kita menjadi seperti itu.

Persoalannya, banyak orang tua yang berhenti pada kata,”Saya tidak bisa.” Alasannya, saya tidak menguasai materi pelajaran anak-anak. “Kamu sih enak, kamu doktor, jadi kamu bisa mengajari,” begitu dalih beberapa teman. Ini dalih saja. Saya doktor di bidang sains, tapi tentu saja saya tidak paham semua. Saya tidak paham ilmu ekonomi. Bahkan dalam topik-topik sains pun saya masih harus banyak belajar, karena bidang sains saja sudah sangat luas. Jadi, kita harus belajar. Belajar sampai paham, sampai kita bisa menerangkan kepada anak-anak dengan cara yang mudah mereka pahami.

Banyak orang lupa bahwa membesarkan anak itu memang harus belajar. Banyak hal yang harus kita pelajarii, seperti bagaimana perkembangan fisik dan psikis mereka, bagaimana berkomunikasi, soal gizi dan kesehatan, dan seterusnya. Kalau orang-orang berpikir mengasuh anak itu sesuatu yang alami dan tidak memerlukan ilmu tertentu, mereka salah besar. Jadi, sebagai orang tua kita harus belajar.

Tapi apakah kita harus menguasai semua? Tidak. Anak-anak saya ikut latihan karate dan renang, belajar ke orang lain. Juga ikut les gitas. Itu wilayah yang saya memang tidak bisa. Poin saya, tidak salah mengirim anak kita les untuk belajar sesuatu. Tapi jangan cuci tangan dari pendidikan anak hanya karena kita sanggup membayar guru les. Formatnya begini,

  1. Pada bidang yang kita kuasai, kitalah guru utama. Misalnya, Anda ahli keuangan, maka jadilah guru utama pada pelajaran-pelajaran terkait. Beri kesempatan anak menyerap sebanyak mungkin ilmu Anda.
  2. Pada bidang di luar keahlian Anda, belajarlah. Kuasailah, sampai Anda mampu menjelaskannya secara sederhana dan menarik bagi anak-anak.
  3. Pada bidang yang Anda sama sekali tidak bisa, mintalah bantuan pada orang lain, misalnya melalui les.

Selamat mencoba.

Ini Negara Sekuler, Bung!

Ketika bicara tentang sesuatu orang sering secara otomatis menjadikan Islam sebagai referensi. Tahun lalu ketika Ahok bicara soal bir, banyak yang mencacinya. Tentu saja tidak sedikit yang mengaitkan dengan agama dan etnis Ahok. “Ahok mencoba melegalkan minuman keras. Sengaja hendak merusak umat Islam dan generasi muda,” begitu tuduhannya, diserta berbagai umpatan. Hello? Minuman keras memang legas di negeri ini. Artinya boleh diproduksi, dijual, dan dikonsumsi, tentu saja dengan sejumlah syarat. Syarat-syarat itu diatur dalam peraturan perundang-udangan. Bagaimana kita bisa mengatakan tidak legal kalau ada aturannya?

Sama halnya dengan isu LGBT. Orang-orang menolak LGBT, ya silakan. Tapi sebenarnya yang ditolak itu apa? Legalitas pernikahan gay? Emang siapa yang mau melegalkan? Tidak ada kegiatan pembahasan UU atau sejenisnya yang bertujuan mengubah peraturan tentang pernikahan, pencatatan sipil, dan sebagainya. Jadi, yang ditentang apa? Soal hubungan seksual sesama jenis, sejauh yang saya tahu tidak ada larangan, selama tidak mencakup soal pelecehan seksual. Tegasnya, selama suka sama suka, silakan.

Tapi bukankah itu semua diharamkan dalam Islam? Iya. Sayangnya atau untungnya, negara ini tidak diatur dengan hukum Islam. Hanya ada sebagian kecil urusan dibolehkan memakai aturan Islam, yaitu urusan yang terkait dengan ranah pribadi umat Islam, seperti pernikahan dan waris. Itupun diterapkan di bawah payung besar hukum nasional. Jadi orang Islam mau mengap-mengap keberatan, tidak ada pengaruhnya.

Begitulah, banyak orang yang seperti hidup dalam mimpi. Mereka bermimpi bahwa ini negara Islam, ditegakkan dengan hukum Islam. Padahal bukan. Dalam hampir setiap kasus mereka berharap pemerintah bertindak dalam kerangka hukum Islam. Kan kalian para pemimpin adalah kaum muslim juga, begitu kira-kira basis tuntutan mereka. Lha, memang mereka muslim, tapi mereka mengemban amanat konstitusi, bukan agama.

Begitulah. Banyak muslim yang gagap dalam bernegara. Lebih dari separuh pikiran mereka terus membisikkan keyakinan bahwa di negeri ini berlaku hukum Islam, padahal tidak. Ada pula yang mencoba memanipulasi Pancasila dan agama-agama lain. “Kan sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, wajar dong kalau negara ini diatur dengan norma-norma agama.” Lalu mereka mengigau,”Kan semua agama melarang LGBT. Kan semua agama mengharamkan miras.” No, no, no, no. Itu tidak berlaku. Yang berlaku adalah tidak ada regulasi yang melarangnya. Titik.

Di sisi lain, orang-orang ini sering pula melecehkan hukum. Ketika ada sesuatu yang menurut mereka tidak cocok, dengan enteng mereka akan bilang,”Itu kan aturan buatan manusia, boleh dilanggar. Yang penting kita tidak melanggar aturan Allah. Yang buat aturan itu malah sering melanggar aturan Allah, jadi kenapa kita mesti patuh sama aturan mereka?” Maka orang-orang ini bisa dengan enteng melanggar aturan lalu lintas, mengakali pajak, dan seterusnya.

Lucu pula, mereka rajin memperalat aturan kalau menguntungkan. Coba lihat pada urusan pembangunan gereja, atau penyebaran agama, misalnya. Fasih betul mereka merapal pasal-pasal dalam aturan itu. Bahwa untuk bangun rumah ibadah perlu rekomendasi dari penduduk sekitar. Bahwa tidak boleh mengajak orang yang sudah beragama untuk pindah agama. Tapi ya itu, hanya untuk orang lain. Di saat lain mereka bangga dengan pelanggaran hukum yang sama, bila itu menyangkut kepentingan mereka. Mereka mendirikan rumah-rumah ibadah bahkan tanpa izin sama sekali.

Bagi saya ini adalah orang-orang sesat dalam bernegara. Mereka ini bukan komponen penegak negara, melainkan sekedar benalu, parasit dalam negeri ini. Maka kepada mereka ini harus terus menerus kita sampaikan informasi dan argumen, pengingat, bahwa negeri ini adalah negeri sekuler. “Terapi” ini mungkin sedikit menyakitkan buat mereka. Tapi itu perlu, agar mereka sadar.

 

Timur Tengah tanpa Israel

israel

 

 

 

 

 

 

 

Pernah ada gagasan yang sebenarnya sinis, untuk memberi saja orang-orang Israel sebidang wilayah di tengah wilayah Amerika Serikat. Ini memang hanya gagasan imajinantif, atau sebenarnya frustratif. Orang-orang frustrasi melihat betapa Israel begitu kuat, dikelilingi oleh musuh-musuh Arab tidak membuat mereka goyah. Tapi ada baiknya kita membuat simulasi bila gagasan itu benar-benar dilaksanakan, apa yang akan terjadi? Akankah berdiri sebuah negara merdeka bernama Palestina? Akankah Timur Tengah lebih damai?

Mari kita simulasikan soal kemerdekaan Palestina dulu. Apakah bila tidak ada negara Israel di wilayah konflik itu akan berdiri negara Palestina?

Palestina adalah sebuah negeri dengan sejarah yang teramat panjang, khususnya Jerusalem. Sejarah mencatat bahwa peradaban sudah ada di wilayah ini sejak 7000 tahun yang lalu. Sepanjang sejarah itu, wilayah ini selalu menjadi rebutan. Jerusalem sudah pernah dihancurkan sebanyak 2 kali, dikepung 23 kali, ditaklukkan dan dibebaskan sebanyak 44 kali. Karenanya sulit untuk melakukan klaim yang sahih atas siapa sebenarnya pemilik sah wilayah ini.

Sepanjang sejarah itu, pernahkah orang-orang Palestina memerintah di wilayah mereka sendiri? Ini pertanyaan yang sebenarnya agak tidak bermakna. Istilah “Palestina” dalam pengertian bangsa menurut beberapa ahli sejarah justru baru menguat dalam atmosfer perlawanan terhadap Israel, setelah negara Israel berdiri. Sebelum itu istilah ini relatif tidak dikenal.

Secara ringkas bisa kita catat bahwa wilayah ini tadinya dikuasai oleh Kekaisaran Turki Usmani, sebelum direbut oleh Inggris pada Perang Dunia I. Di bawah kekuasaan Turki tentu tidak ada negara Palestina. Adalah Inggris yang menguasai wilayah ini dalam sistem administrasi Mandat Palestina, yang punya gagasan untuk memberikan wilayah itu menjadi 2 negara. Satu untuk orang-orang Arab yang diberi identitas baru, yaitu Palestina, dan satu lagi untuk orang-orang Yahudi, sebuah negara Israel. Wilayah utama yang hendak diberikan kepada Palestina adalah Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Acre. Gagasan ini didukung oleh PBB. Sayangnya gagasan ini ditolak oleh pihak Arab. Sebagai respon, orang-orang zionis Yahudi memproklamirkan negara Israel, kemudian diperangi oleh Mesir, Syiria, dan Yordania.

Melalui perang di tahun 1948, Mesir menguasai Jalur Gaza,Yordania menguasai Tepi Barat, dan wilayah Acre dikuasai Israel. Mesir pernah secara formal mencanangkan pemberian otoritas kepada Palestina di wilayah Gaza setelah merebut wilayah itu. Namun hal itu hanya sebatas formalitas saja. Faktanya, Mesir terus mengontrol wilayah itu sampai direbut Israel pada perang tahun 1967. Demikian pula, Yordania juga terus mengontrol wilayah Tepi Barat sampai tahun 1967. Tidak pernah kedua negara itu memberi wewenang kepada orang-orang Palestina untuk memerintah di wilayah mereka sendiri.

Wilayah untuk Israel pernah dipertimbangkan untuk disediakan di wilayah Amerika Selatan. Seandainya wilayah Israel tersebut tidak diberikan di Timur Tengah, melainkan di Amerika Selatan, atau di suatu tempat di Amerika Serikat, akankah berdiri sebuah negara Palestina medeka? Menurut saya tidak. Tanpa Israel negara-negara Arab mungkin tidak akan pernah punya gagasan untuk mendirikan negara Palestina. Wilayah yang kini diperjuangkan sebagai wilayah Palestina akan menjadi wilayah negara-negara lain di wilayah itu, yaitu Mesir, Yordania, dan Syiria. Tidak ada Palestina.

Lalu, apakah Timur Tengah akan damai? Itupun tidak. Ketiga negara di atas mungkin akan sibuk berperang berebut wilayah. Atau, perang saudara akan pecah di dalam wilayah itu. Kita tahu bahwa antara orang-orang Arab itu tidak saling bersahabat satu sama lain. Sama-sama hendak memperjuangkan Palestina, dengan musuh bersama bernama Israel saja pun mereka saling berbunuhan. Tanpa Israel, mereka akan makin garang dalam hal saling berbunuhan.

Timur Tengah adalah wilayah yang minim demokrasi dan kebebasan. Negeri-negeri di wilayah ini dikendalikan oleh pemerintah monarki absolut, atau pemerintah tiran. Situasi ini menyimpan bara perlawanan untuk kebebasan. Ada pula masalah antara agama, Kristen dan Islam. Lalu ada persoalan etnis seperti masalah Kurdi, juga ditambah masalah mazhab seperti Syiah-Sunni. Kemudian ada pula persoalan perebutan pengaruh antara Barat dan Timur. Irak dan Syiria (dulu) lebih dekat ke Rusia, Saudi, Mesir, Yordania, lebih dekat ke Amerika. Tanpa Israel, wilayah ini tetap rawan konflik.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa kisruh di Timur Tengah tidak melulu soal Israel. Perang Iran-Irak adalah soal Sunni-Syiah dan persaingan Saddam vs Khomeini. Pemberontakan suku Kurdi adalah soal nasionalisme etnis berhadapan dengan penguasa Tiran. Assad sudah menjadi tiran sejak abad lalu dan masih tiran hingga di zaman anaknya kini. Ia membunuhi sejumlah aktivis Ikhwanul Muslimin. Mesir juga tidak pernah berhenti dari rundungan konflik internal.

Singkat kata, tidak akan banyak berubah di Timur Tengah bila Israel tak ada. Tidak akan ada negara Palestina, dan tidak akan ada perdamaian.

 

 

 

Negai Goto vs Doryoku

image

Negai goto (bahasa Jepang) adalah keinginan yang terucap (walau sekedar dalam hati). Doa adalah salah satu bentuk negai goto. Dalam bahasa Inggris disebut wish. Orang Jepang punya banyak cara untuk menyampaikan negai goto. Ada yang berdoa di kuil, atau menuliskannya di secarik kertas, dan meninggalkannya di sana. Orang Barat mengucapkan keinginannya pada bintang jatuh. Orang-orang berdoa di gereja atau mesjid. Semua berharap agar keinginan mereka tercapai.

Tadi saya pagi iseng menonton serial animasi “Sazae san” di Youtube. Serial ini adalah acara TV Jepang yang paling saya sukai. Waktu masih tinggal di Jepang, hampir setiap akhir pekan saya menontonnya. Jadwal siarannya adalah jam 6.30 Minggu sore. Saya suka karena bagi saya serial ini menjelaskan banyak hal soal budaya Jepang secara menarik.

Di episode yang saya tonton tadi pagi, ada fragmen yang menarik. Keluarga Isono, tokoh utama dalam cerita, sedang pergi wisata ke pantai. Dalam perbincangan ada cerita tentang mutiara berwarna emas (kin iro shinju).

“Kin iro shinju wo mitsukeruto negai goto wa kanaundayo,” kata Katsuo, tokoh anak laki-laki dalam keluarga Isono. (Kalau menemukan mutiara emas, keinginan kita akan terkabul, lho.)

Tapi ayahnya lalu mengingatkan.

“Negai goto wa jibun no chikara de jitsugen surundayo.” Keinginan/harapan itu harus diwujudkan dengan kekuatan kita sendiri.

Negai goto adalah ekspresi paling dasar pada manusia. Manusia dengan kesadaran akan semua keterbatasan yang ada pada dirinya. Maka ia mencari sesuatu yang maha tak terbatas. Wujudnya bisa bermacam-macam. Dari berbagai hal seperti benda-benda, gunung, bintang, dan matahari. Atau melalui hal-hal yang lebih abstrak: Tuhan.

Tapi sering manusia itu terjebak pada kekuatan luar yang ia percayai, sampai ia lupa pada kekuatan yang ia punyai di dalam dirinya. Tuhan ada di luar sana. Tapi Dia sebenarnya telah menempatkan kekuatan yang dahsyat dalam diri manusia. Masalahnya, manusia sering kali tidak tahu cara mengeluarkannya.

Ada teman bercerita bahwa ia pernah mengangkat satu drum minyak, sendiri. Itu terjadi saat terjadi kecelakaan, ia panik dan harus memindahkan drum itu agar tidak meledak. Refleks ia angkat drum itu, dan ia pindahkan. Itu kekuatan internal yang ia keluarkan, saya yakin kekuatan itu selama ini ada di dalam dirinya.

Otak manusia konon punya kemampuan untuk menyerap puluhan bahasa. Maka kita biasa menemukan orang yang menguasai 7-8 bahasa. Itu sebenarnya tak istimewa, karena baru sedikit dari kapasitas otak yang digunakan untuk mencapainya. Nah, kebanyakan dari kita hanya mampu menguasai satu bahasa. Kita menyerah ketika belajar satu bahasa kedua.

Kita sering terlalu asyik berdoa. Maaf kalau saya sampai pakai istilah ini. Orang lebih asyik mencari keajaiban-keajaiban di luar sana, memohon keajaiban-keajaiban dari Tuhan, padahal Tuhan sudah menciptakan dirinya ajaib. Yes, we are the miracle! Kita adalah keajaiban itu. Hanya saja kita jarang bisa menyadarinya. We have the miraculous power!

Saya bukan hendak mengatakan bahwa kita tidak perlu berdoa. Hanya saya ingin katakan, jangan lalai dengan doa kita. Macam mana bisa lalai? Macam orang yang tiap hari baca Fatiha, “ihdina shiratal mustaqim”, tunjuki kami jalan yang lurus, tapi ia jarang mengkaji isi kandungan Quran, sehingga tak pernah benar-benar paham apa isi petunjuk Tuhan. Ia pun tak menggunakan akalnya untuk mencari petunjuk.

Yang harus dilakukan manusia adalah doryoku, usaha, ikhtiar. Ikhtiar adalah usaha untuk mengeluarkan mukjizat Tuhan yang ada dalam diri kita, menjadikannya kenyataan.