Monthly Archives: February 2016

Kehebatan Akal

Ketika saya menganjurkan untuk menjadikan sains sebagai salah satu pedoman hidup, saya mendapat nasihat untuk tidak mendewakan akal. “Akal manusia itu sangat terbatas. Sebatas otak saja. Otak itu kalau tidak dialiri oksigen tidak akan sanggup bekerja. Makanya, gunakan ilmu Tuhan yang maha luas. Mengaculah pada kitab suci. Jadikan kitab suci sebagai petunjuk.”

Sebentar. Basis kritik di atas adalah pengetahuan hasil pengolahan akal, bukan petunjuk kitab suci. Kitab suci tidak pernah membahas fungsi otak sebagai organ untuk berpikir. Bahkan sejauh yang saya ketahui, tidak membahas eksistensi otak sama sekali. Kitab suci mengatakan bahwa akal manusia dikelola dengan jantung (dalam bahasa Indonesia disebut hati), yang tempatnya ada di dalam dada. demikian pula soal fungsi oksigen pada otak. Kitab suci tidak mengenal oksigen, dan tentu saja tidak membahas fungsinya pada otak.  Jadi pernyataan di atas paradoks dengan maksud pengucapnya untuk mengacu pada kitab suci. Terlebih, pernyataan itu diungkapkan melalui media internet, sebuah produk yang dibangun manusia dengan akal, bukan dengan merujuk pada kitab suci.

Benarkah otak dan akal manusia itu terbatas? Kalau kita melihat struktur tubuh manusia, tentu kita harus mengakui bahwa otak manusia itu ada batasnya. Demikian pula halnya dengan akal, produk yang dihasilkan otak. Persoalannya, di mana batas tersebut?

Kapasitas (storage capacity) otak manusia diperkirakan antara 10-100 terabyte. Tapi ada pendapat yang mengatakan bahwa kapasitas memori otak manusia mencapai 2,5 petabyte. Kapasitas itu setara dengan 3 juta jam siaran TV. Maksudnya, kalau seluruh data video dan audio siaran TV itu disimpan selama 3 juta jam, data itu masih sanggup ditampung oleh otak. 3 juta jam itu setara dengan 300 tahun. Jadi, kapasitas otak manusia itu setara dengan data siaran TV selama 300 tahun. Itukah yang disebut terbatas?

Tapi persoalannya bukan sekedar kapasitas fisik belaka. Data yang tersimpan di otak kita tidak semuanya berasal dari proses belajar kita sendiri. Sebagian besar pengetahuan kognitif kita sebenarnya adalah akumulasi dari pengetahuan seluruh manusia selama ribuan tahun. Kita mendapat transfer ilmu pengetahuan dari manusia sebelum kita. Ketika manusia belajar sesuatu, ia tidak perlu lagi mengulang pencarian yang sudah selesai dilakukan oleh orang pada masa sebelumnya.

Di zaman modern ini kita tidak lagi mereka-reka bentuk atom. Model atom yang dulu dikembangkan Dalton, Rutherford, dan Bohr, sudah berkembang jauh. Manusia kini berpikir tentang sub-partikel, dan dunia yang lebih kecil dari itu. Di masa depan orang akan berpikir tentang atom mulai dari titik terdepan yang dihasilkan oleh sains. Nah, kita bisa bayangkan bahwa batas kemampuan berpikir manusia itu sendiri dinamis, bukan statis. Ibarat kita sedang berlayar di laut, kita melihat garis cakrawala, dan (dulu) orang mengira, itulah batas tepi laut. Tapi ketika kita berlayar lebih jauh lagi, batas itu ikut maju. Apa yang dulu tidak diketahu manusia, kini diketahui. Yang dulu mustahil diselesaikan, kini berhasil. Yang kini belum kita ketahui, akan kita ketahui di masa depan.

Jadi, terbataskah otak dan akal kita? Iya, terbatas. Tapi kita tidak tahu batasnya. Jadi, pernyataan soal batas akal manusia itu adalah pernyataan kelemahan dari orang-orang yang memang tidak mau menggunakan akalnya.

Bagaimana dengan kitab suci? Kitab suci ya begitu itu. Ia tidak berubah, karena tidak boleh dan tidak mungkin diubah. Ia masih memuat pernyataan-pernyataan yang dianut manusia belasan abad yang lalu. Eh, tentu saja saya mafhum bahwa ada banyak manusia yang percaya bahwa apapun yang dikatakan sains, semua sudah tercantum dalam kitab suci. Cuma sayangnya, mereka baru sadar kandungan itu setelah ilmuwan merumuskannya. Tanpa sadar orang-orang ini bahkan menggunakan sains sebagai panduan untuk memahami isi kitab suci.

Islam Minus Sains

Banyak orang Islam yang begitu mudah percaya pada dongeng-dongeng atau hoax tentang kecocokan Quran dan sains. Juga dengan mudah mereka percaya pada ocehan para penentang evolusi seperti Harun Yahya atau Zakir Naik. Mengapa? Karena mereka ini tidak paham sains. Mereka tidak belajar sains, bahkan tidak membaca buku-buku sains populer. Saya tidak katakan semua, artinya tidak semua umat Islam begitu. Juga tidak semua dari mereka itu tidak paham sains. Pernah pula saya bertemu dengan doktor di bidang biologi yang bahkan menolak mengajar di kuliah biologi karena menolak teori evolusi.

Secara keseluruhan dunia Islam memang sangat tertinggal dalam sains. Negara-negara Arab yang kaya raya itu dulu saya kira berinvestasi dalam hal pendidikan dan sains. Ternyata tidak. Saya terkejut ketika 10 tahun yang lalu tahu kenyataan bahwa sampai tahun 2000 jumlah universitas di Arab Saudi masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Indonesia ternyata jauh lebih baik. Tapi yang jauh lebih baik itupun jauh dari baik. Penerima Hadiah Nobel di bidang sains dari seluruh negara Islam baru ada 3. Israel, satu negara saja, sudah menghasilkan 5 pemenang untuk bidang sains.

Lalu, apa yang dilakukan umat Islam? Mengecam ilmuwan Barat yang menurut mereka tidak beriman, ateis, dan berakhlak buruk. Atau, mencari-cari kecocokan antara isi Quran dengan sains, yang (padahal) menurut mereka diteliti oleh orang-orang tidak beriman tadi. Atau, mencoba membangun apa yang mereka sebut “sains Islam”, sebuah bangunan di atas kertas atau di dunia mimpi.

Apa produk teknologi dari dunia Islam saat ini? Nyaris tidak ada. Bahkan senjata yang dipakai oleh umat Islam untuk saling berbunuhan dengan sesamanya, itu juga bukan buatan mereka. Mereka membelinya dari orang-orang kafir. Jadi, orang-orang kafir mendapat uang dari setiap pembunuhan yang terjadi antara umat Islam.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Pertama, kemiskinan. Kemiskinan membuat pendidikan tidak bisa berkembang dengan baik. Kemiskinan melanda hampir seluruh wajah dunia Islam, kecuali beberapa bagian seperti negara-negara Teluk yang kaya minyak. Negara-negara ini pun sekarang sudah mulai kesulitan secara ekonomi. Tapi seperti yang saya jelaskan tadi, negara-negara kaya pun juga tidak mengembangkan sistem pendidikan yang baik.

Sebab lain, berhentinya tradisi berpikir. Studi-studi Islam sendiri sejauh yang bisa saya amati basisnya adalah menghafal dan merangkum, bukan berpikir. Orang-orang dibekap di bawah dogma, berpikir bisa dianggap menentang Tuhan.

Sebab lain, paranoid terhadap kekafiran. Masih sangat banyak orang Islam yang terdogma untuk menganggap Barat itu musuh. Sains modern adalah produk barat, yang sebagian di antaranya dipercayai sebagai alat untuk merusak dan menghancurkan Islam. Karena itu harus ditolak.

Tentu Anda bingung dengan penjelasan di atas. Kaya, tapi tidak terdidik. Menolak Barat dan sains mereka, tapi memakainya untuk mencari-cari pembenaran terhadap Quran. Menolak orang-orang kafir, tapi memakai produk sains untuk bertahan hidup, atau untuk mengakhiri hidup saudara-saudaranya. Bagaimana bisa? Inilah puncak kebodohan, atau ramuan pungkas dari berbagai bentuk kebodohan, yaitu inkonsistensi. Hanya orang-orang bodoh yang paripurna yang sanggup melakukan kebodohan seperti ini.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Pertama, menyadari bahwa kita memang tertinggal. Kedua, berhentu berimajinasi tentang sains Barat yang sesat. Ketiga, berhenti berpura-pura menolak produk Barat, padahal setiap sudut kehidupan kita ditopang oleh produk Barat. Keempat, berhenti menuduh kafir pada orang-orang yang berpikir. Kelima, belajar dengan benar, sehingga tidak mudah dibodohi dengan sains. Keenam, berhenti mencari kebenaran sains pada Quran. Quran itu bukan kitab sains. Sumber sahih tentang alam adalah alam itu sendiri. Ketujuh, berhenti bersikap ekslusif dengan melupakan gagasan sains Islam. Rumusan sains seperti hukum tentang gravitasi tidak akan berubah bila dirumuskan oleh orang Islam. Kedelapan, mendorong anak-anak kita untuk belajar berpikir dengan benar, serta membimbing mereka. Dan masih banyak lagi sikap-sikap positif terhadap sains yang mesti dikembangkan.

 

Pak Martoyo

Pertama kali ikut praktikum Fisika Dasar, di semester pertama kuliah di UGM saya sempat kecewa. Dosen pengajarnya adalah seorang dosen tua. Ketuaan tak bisa disangkal dari wajahnya yang sudah sangat keriput, dan gerakan tubuhnya yang sangat perlahan. Pendidikannya cuma S1. Doktorandus. Padahal bayangan saya, kuliah di UGM itu artinya saya akan dibimbing oleh dosen-dosen bergelar doktor, lulusan luar negeri.

Reaksi awal para mahasiswa terhadap penampilan Pak Martoyo umumnya seragam, senyum-senyum setengah meledek. Penampilannya memang unik, atau aneh. Bajunya terlihat sangat sederhana, bahkan cenderung terlihat lusuh dan butut.

Ketika kami masuk ke kelas, Pak Martoyo sudah berdiri di sana. Sepertinya ia sudah di situ sejak setengah jam sebelumnya. Papan tulis panjang di ruang kelas sudah penuh dengan tulisan materi kuliah. Ketika tiba waktu kuliah, ia mengajar berdasarkan atas materi itu. Kami harus mendengar kuliah sambil mencatat. Rasanya seperti dicurangi oleh Pak Martoyo.

Hal pertama yang diajarkan Pak Martoyo adalah teknik pengukuran. Ia membawa sebuah model jangka sorong yang besar, dan memperkenalkan kepada kami cara menggunakan jangka sorong. Dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa yang medok, ia menjelaskan. Penjelasannya pun terdengar lucu, seperti dialog pada drama ketoprak.

Praktikum Fisika Dasar bernilai dua kredit. Itu artinya selama 6 jam setiap minggu kami harus berada di laboratorium. Mulai dari mendengar penjelasan pembimbing, mempersiapkan alat percobaan, mengambil data, hingga merumuskan analisa. Itu nanti masih harus ditambah lagi dengan tugas menulis laporan. Kegiatan ini menjadi kegiatan yang sangat melelahkan. Paling melelahkan dalam sepekan.

Hal terpenting yang selalu diulang-ulang oleh Pak Martoyo adalah tertib dalam pengukuran. “Kalau Anda salah sudut ketika membaca jangka sorong atau termometer, hasil pengukuran bisa salah.” kata beliau. Beliau juga selalu mengingatkan untuk mengulangi pengukuran beberapa kali, disertai penjelasan tentang teori ralat.

Terus terang, kegiatan praktikum ini jadi momok yang menyebalkan setiap minggu. Pengukuran berulang-ulang, kegiatan yang menyita nyaris sepanjang hari, dan Pak Martoyo yang lama-lama jadi terasa menyebalkan. Tapi ini mata kuliah wajib, dan harus diambil selama dua semester. Jadi, meski tersiksa, tak ada cara untuk menghindarinya.

Ketika kuliah di semester berikutnya ada banyak praktikum. Terasa bahwa di setiap praktikum itu kami mengulang-ulang hal yang kami terima selama praktikum Fisika Dasar. Hanya objek yang diukur saja yang berbeda. Lama-lama jadi terbiasa. Tata cara pengukuran menjadi sesuatu yang melekat pada tubuh. Seperti keterampilan naik sepeda, yang kita tak mungkin bisa lupa.

Saya baru merasa berterima kasih pada Pak Martoyo ketika saya melakukan riset pada studi S2-S2, juga saat saya bekerja sebagai peneliti di Jepang. Kewaspadaan akan adanya ralat atau error dalam pengukuran hadir di dalam diri saya seperti malaikat pengawas. Ia selalu mengingatkan saya pada sumber-sumber error yang mungkin akan terjadi pada setting eksperimen yang saya lakukan. Juga pada langkah pengukuran saya. Sebagai peneliti saya harus mengantisipasinya.

Hal itu adalah sesuatu yang paling mendasar dalam kegiatan riset. Kesahihan data adalah titik yang paling awal. Orang tak bisa bicara tentang analisa apapun bila datanya tak sahih. Ketika mengirim naskah untuk jurnal, penilai biasanya akan mencecar keras bila ia melihat celah tempat munculnya ketidak sahihan data pada metode eksperimen kita. Di situ sekali lagi saya merasa seakan Pak Martoyo hadir di sisi saya. Tak disangka, dari berbagai dosen saya yang bertabur gelar akademik, justru Pak Martoyo yang begitu saya rasakan kehadirannya.

Terima kasih, Pak.

Sesat

Kita ini sedang menelusuri jalan. Petunjuknya diberikan 14 abad silam. Ada yang tertulis, ada yang tidak. Petunjuk tidak tertulis itu kemudian ditulis, berdasarkan ingatan orang-orang, disampaikan secara lisan. Ada berbagai versi.

Lalu petunjuk-petunjuk itu ditafsir. Ya, harus ditafsir, karena kita tak lagi hidup di tempat dan zaman ketika petunjuk itu ditulis dan diucapkan. Ada petunjuk yang jelas maknanya. Ada yang mesti dicari padanannya di zaman sekarang. Kita lah pencari padanan itu.

Kita berjalan menuju sesuatu. Ada orang lain yang berjalan juga, tapi jalan yang ia tempuh berbeda dengan kita. Tapi kita dan dia merasa sedang menempuh jalan yang benar, menuju tujuan kita. Tapi jalan kita dan dia berbeda. Mana yang benar?

Orang-orang tertentu yakin betul bahwa jalan dia paling benar. Maka jalan orang selain dia pasti salah. Tapi sesungguhnya dengan keterbatasan kita sebagai manusia, kita tak pernah bisa memastikan bahwa jalan kita lah yang benar. Karena sangat mungkin kita salah. Boleh jadi jalan orang itu lah yang benar.

Jadi, kita tidak yakin akan kebenaran jalan yang kita tempuh? Bukan begitu. Kalau tidak yakin tentu kita tak akan menempuhnya, bukan? Yakin. Kita yakin bahwa kita menempuh jalan yang benar. Hanya saja kita perlu sisakan ruang untuk kemungkinan bahwa kita salah. Bila kemudian kita sadar bahwa kita salah, kita akan koreksi. Kalau kita tidak menemukan kesalahan, kita tetap yakin bahwa kita di jalan yang benar, dengan kemungkinan bahwa kita juga bisa salah.

Maka ketika kita berbeda dengan orang lain, boleh jadi kita benar, dan ia salah. Atau sebaliknya, dia benar dan kita salah. Ingat, kita ini pengembara yang sama-sama tak tahu jalan. Jadi menuduh orang lain tersesat karena berbeda dengan kita sama saja dengan menuduh diri kita sesat. Karena ada kemungkinan kita sendiri lah yang sesat.

Atau, ada kemungkinan lain. Bagi Tuhan tak ada yang sesat. BagiNya tak penting ke arah mana kita menuju. Karena semua arah menuju kepadaNya. Ia memberi rahmat kepada orang yang berjalan mendekatiNya. Ke mana arah, tak penting lagi.

Sains sebagai Pedoman Hidup

Life_Expectancy_at_Birth_by_Region_1950-2050

Membaca judul tulisan ini beberapa orang mungkin akan langsung mencibir. Atau, mereka akan memberikan tuduhan “mendewakan akal, mempertuhankan sains”. Itu hal yang biasa. Mereka adalah orang-orang yang biasa hidup dalam dua alam. Alam pikiran dan alam praktek kehidupannya sering kali tidak tersambung, terpisah satu dengan yang lain. Mereka membaca tulisan ini melalui data dalam jaringan komputer, disiarkan melalui satelit, dan sampai kepada mereka melalui komputer atau gawai. Semua itu produk sains belaka, dibuat oleh dengan berpedoman pada sains. Tapi orang-orang itu tetap enggan mengakui bahwa hidup mereka sebenarnya berpedoman pada sains.

Bila kita sakit, kita berobat melalui mekanisme pengobatan moderen. Tentu saja mekanisme ini dikembangkan melalui sains. Kita tidak lagi berpikir bahwa penyakit yang kita derita adalah kutukan Tuhan, lalu berusaha menyembuhkannya melalui ritual-ritual tertentu. Sebagian besar dari kita membuat pilihan seperti itu, meski tentu saja ada sejumlah orang yang masih memilih metode pengobatan abad ke 7, karena dianjurkan oleh nabi.

Ketika melihat terjadinya hujan, kita tahu proses terjadinya. Karena itu sampai ke tingkat tertentu kita bisa meramalkan kapan dan di mana hujan akan turun, berikut berapa kadar curahnya. Demikian pula, kita tahu bahwa petir itu adalah gejala kelistrikan, bukan cambuk malaikat pengatur awan. Beberapa usaha telah dilakukan untuk memanen tenaga listrik dari petir dan berhasil, meski masih memerlukan banyak perbaikan.

Singkat kata, sangat banyak perkara dalam hidup kita yang diselesaikan oleh sains. Suka atau tidak, sadar atau tidak, kita sebenarnya hidup mengikuti sains. Yang sadar menjadikannya pedoman. Yang tidak sadar dipaksa hidup mengikuti ketentuan sains, tapi enggan mengakuinya. Hanya itu saja bedanya.

Ada masih sangat banyak hal yang belum diketahui. Tapi ketimbang mengingat-ingat itu, menurut saya lebih baik mengingat sudah berapa banyak yang diketahui umat manusia, dan berapa besar manfaatnya. Tingkat harapan hidup rata-rata penduduk dunia di tahun 50-an adalah sekitar 47 tahun. Kini angkanya meningkat menjadi hampir 70 tahun. Artinya umur rata-rata penduduk bumi meningkat 20 tahun lebih selama setengah abad ini. Hal itu terjadi karena kemajuan teknologi penunjang hidup, khususnya teknologi medis. Dari data ini bisa kita lihat bahwa sains bahkan berpengaruh pada hal yang paling fundamental, yaitu soal hidup dan mati, yang biasanya dianggap sebagai hak absolut Tuhan.

Kita yang paham sains tidak akan pernah menjadikan sains sebagai Tuhan. Kita tidak memposisikan sains sudah mengetahui segalanya. Justru sebaliknya, kita tahu di bagian mana kita tidak tahu. Kesadaran itu memberi kita 2 jenis panduan. Pertama, memandu kita untuk menuju ke arah mana penyelidikan harus kita kembangkan. Kedua, memberi kita panduan untuk bersikap terhadap hal yang belum kita kuasai.

Contohnya, soal gempa. Kita tahu bagaimana proses terjadinya gempa. Tapi kita tidak tahu bagaimana cara mencegahnya. Maka yang kita lakukan bukan berdoa agar gempa tidak terjadi, tapi mempersiapkan diri untuk menghadapi gempa. Hal menarik soal gempa, atau gejala alam lain, adalah bahwa ia pada dasarnya tidak disebut bencana hingga ia punya dampak yang merugikan manusia. Gempa dengan skala berapapun bukan bencana kalau tidak menimbulkan kerusakan yang merugikan manusia. Maka, yang kita lakukan adalah proses pencegahan timbulnya kerugian akibat suatu gejala alam, yang kita sebut mitigasi. Mitigasi ini pun dilakukan dengan berpedoman pada sains.

Apakah sains bertentangan dengan agama? Jawabannya: ya dan tidak. Tergantung bagaimana kita mendefinisikan agama, atau cara kita memperlakukan agama. Ada orang yang mengira agama mengajari mereka segala hal. Isi kitab suci pasti benar secara mutlak. Orang-orang ini biasanya cenderung menolak kebenaran sains. Ada orang yang masih menolak kenyataan bahwa bumi itu bulat, dan siang dan malam itu terjadi karena rotasi bumi. Mereka menolak karena kitab suci, atau tafsir mereka atas kitab suci mengatakan sebaliknya. Dalam konteks ini kita bisa melihat agama bertentangan dengan sains. Tapi seperti saya tulis di atas, orang-orang ini kalau bepergian tetap menggunakan pesawat, memakai alat komunikasi, yang semuanya dikembangkan berbasis pada pengetahuan bahwa bumi itu bulat dan berotasi.

Di sisi lain kita bisa berpandangan bahwa agama atau kitab suci memang tidak memberikan panduan teknis soal alam. Pengetahuan itu tidak diberikan Tuhan dalam bentuk kitab suci, tapi harus kita pelajari sendiri dari alam. Kalau ada satu dua cerita tentang alam di kitab suci, itu hanya panduan awal saja, dan boleh jadi hanya cocok untuk manusia yang hidup belasan abad yang lalu. Kalau tidak lagi cocok dengan sains modern, kita tidak perlu berakrobat untuk mencari pembenarannya. Kalau yang tertulis di kitab suci sudah tidak lagi cocok, maka kita bisa meninggalkannya. Karena tujuan kitab suci memang bukan untuk mengajarkan sains

Saya berada di kelompok kedua. Saya menjadikan sains sebagai salah satu pedoman hidup, menjadikannya dasar untuk bersikap. Kita tidak perlu takut untuk menegaskan bahwa sains adalah pemandu hidup kita. Kita juga tidak perlu mendua, menolak sains sebagai pedoman, tapi tubuh kita sebenarnya hidup dikendalikan oleh alat-alat berbasis sains.