Monthly Archives: January 2016

Alan Turing, Homoseksualitas, dan Masyarakat

 

Alan Turing adalah profesor matematika di King College, Cambridge. Ia memimpin sebuah tim inteljen Inggris yang berupaya memecahkan sandi-sandi militer Jerman melalui penciptaan sebuah mesin pintar. Ia berhasil! Namun tak serta merta perang berakhir. Turing memilih untuk berhati-hati dalam memakai mesin itu, agar Jerman tak menyadari bahwa sandi mereka telah berhasil dipecahkan. Melalui analisa kalkulus yang rumit, ia menyarankan berbagai pola serangan maupun pertahanan kepada tentara Inggris dan Sekutu, sampai akhirnya Jerman dikalahkan.

Menurut analisa ahli sejarah, berkat kontribusi Turing itu, perang dapat dipercepat 2 tahun. Diperkirakan percepatan itu telah menyelamatkan sekitar 15 juta jiwa.

Tak cuma itu. Turing adalah pioneer dalam ilmu komputer. Ia mendesain Turing machine, yang merupakan basis komputer modern. Artinya, komputer yang kita pakai sekarang, termasuk berbagai gawai dalam genggaman kita.

Untuk mengenang Turing, Macintosh memakai logo berupa sebuah apel yang tidak utuh lagi, sudah tergigit sebagian. Apel ini ditemukan di rumah Turing saat kematiannya. Mungkin itulah gigitan terakhir Turing sebelum ia meninggal. Ia diduga bunuh diri.

Sisi lain soal Turing, ia adalah seorang homoseksual. Di zaman itu homoseksualitas terlarang dalam hukum Inggris. Ia diadili, lalu diberi pilihan: dipenjara atau dikebiri secara kimia. Ia memilih dikebiri, dengan meminum obat terapi hormon untuk menekan hasrat seksualnya. Ia memilih hukuman itu agar bisa tetap melanjutkan pekerjaannya, mendesain komputer yang kini kita nikmati.

Saya teringat pada Alan Turing ketika membaca berita soal larangan masuknya LGBT ke kampus-kampus yang disampaikan Menristek Dikti kemarin. Homoseksualitas adalah cela dan nista, tidak patut berada di kampus.

Saya bayangkan bila ada orang jenius seperti Turing di kampus kita sekarang, sekaligus ia seorang homoseksual seperti Turing pula. Apa yang akan dia hadapi? Mungkin ia akan dibuang dari kampus.

Apa kesalahan atau kejahatan Turing? Ia menggunakan penisnya dengan cara berbeda dari manusia pada umumnya. Ia hidup di tengah masyarakat yang memasukkan penis ke vagina untuk mendapat kenikmatan seksual, sementara ia punya cara lain. Karena cara menikmati seks yang berbeda itu Turing menjadi tidak punya hak untuk hidup bersama kita. Ia boleh hidup hanya dengan meninggalkan cara dia menikmati hubungan seks.

Mengapa? Karena menurut banyak orang, itu cara berhubungan seks yang tak patut. Atau lebih tepat lagi, masyarakat belasan abad yang lalu menetapkan bahwa itu tak patut, kemudian terekam dalam naskah kitab yang disucikan, kemudian diabadikan.

Pada saat yang sama, kitab suci yang terbit belasan abad yang lalu juga menetapkan bahwa orang tidak boleh makan babi, atau minum arak. Apakah pemakan babi dan peminum arak diperlakukan sama seperti perlakuan yang diterima Turing? Tidak. Apakah kalau kebetulan ada peneliti atau dosen yang makan babi atau minum arak, ia akan kena sanksi dari pihak kampus? Apakah Menristek Dikti akan mengecam keras terhadap pemakan babi atau peminum arak? Kemungkinan besar tidak. Lalu, apa yang membuatnya jadi berbeda?

Seks adalah bagian yang paling tertutup dalam sejumlah aktivitas hidup kita. Kita makan dan minum masih mungkin dilihat oleh banyak orang. Sedangkan hubungan seks kita sangat kecil kemungkinan untuk dilihat orang. Tapi ironisnya, hubungan seks ini lebih sering diributkan orang ketimbang urusan lain dalam perilaku kita.

Mengapa? Embuh.

I Didn’t Know I Could

Richard Dawkins memulai bukunya God Delusion dengan cerita tentang istrinya. Istrinya waktu kecil sangat tidak menyukai sekolahnya, dan ingin berhenti. Tapi ia tidak kunjung berani menyatakan keinginannya, sampai ia berusia 20 tahun. Ketika ia mengungkapkan, orang tuanya bertanya, kok tidak bilang dari dulu?

“I didn’t know I could.” Saya tidak tahu bahwa saya bisa.

Dawkins yang mempromosikan gagasannya tentang ateisme. Menurut Dawkins, banyak orang yang sudah memiliki keraguan dengan agama. Namun mereka tak kunjung berani memutuskan untuk menjadi ateis. Kenapa? Tidak percaya diri.

Saya tidak sedang menyebarkan ateisme seperti Dawkins. Saya hanya menawarkan pendekatan yang lebih rasional soal agama. Saya sepenuhnya sadar bahwa fondasi yang paling dasar dari agama adalah dogma. Apa boleh buat, saya tidak akan mengusik hal itu. Tapi pada level yang lebih teknis, agama tidak hanya melibatkan dogma, tapi juga mitos-mitos. Pendekatan rasional untuk membuang mitos-mitos yang tidak perlu, bahkan membahayakan dalam beragama.

Salah satu yang sering dipenuhi mitos adalah sejarah. Nabi misalnya, disebutkan hanya menikahi janda-janda tua yang suaminya syahid dalam perang. Padahal tidak begitu. Nabi menikahi bekas istri anak angkatnya, juga istri orang Yahudi yang ditaklukkan di Khaibar. Keduanya cantik. Ia juga punya budak Koptik bernama Maria, juga budak Yahudi bernama Ruhana.

Perang dalam Islam dimitoskan hanya untuk membela diri. Namun faktanya, dalam sejarah, perang oleh kekhalifahan Islam meluaskan kekuasaannya samai ke Persia, Afrika, dan Eropa. Para khalifah, khususnya khulafaur rasyidin, digambarkan bak orang suci yang semata mengabdi untuk Allah. Namun bila kita kaji sejarah dengan jujur, maka akan kita temukan fakta-fakta bahwa mereka pun melakukan berbagai manuver politik sebagaimana para penguasa dalam sejarah peradaban lain.

Mitos-mitos ini tidak hanya sebatas pada aspek sejarah. Pada aspek syariat juga banyak berkembang mitos-mitos.

Saya memilih untuk mengaji Islam dengan membuang mitos-mitos itu. Konsep saya tentang Islam kemudian saya bangun berbasis pada kejujuran saya melihat Islam secara apa adanya.

Salah satu contoh pendekatan yang saya ambil adalah soal hubungan dengan Yahudi dan Nasrani. Quran banyak menyatakan kedekatan dengan kedua umat ini. Namun pada saat yang sama Quran juga banyak mengecam keduanya. Bahkan, Quran melarang untuk melakukan aliansi dengan mereka, dan menganggap mereka sebagai kaum (musuh) yang tidak akan pernah ridha terhadap umat Islam.

Meski soal di atas termuat secara tegas (qath’i) dalam Quran, saya memilih untuk menganggapnya sebagai mitos saja. Permusuhan dan persekutuan adalah sesuatu yang kontekstual sifatnya. Tidak ada musuh atau sekutu yang abadi. Ayat yang saya sebut di atas berisi sebuah tendensi untuk menjadikan permusuhan itu abadi. Kedua kaum itu dimitoskan sebagai kelompok yang tidak pernah ridha.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa ada kalanya orang-orang Yahudi dan Nasrani memusuhi Islam. Tentu saja tidak bisa disangkal bahwa permusuhan itu dari sisi umat Islam digerakkan oleh ayat tadi. Namun di sisi lain, ada banyak fakta yang menunjukkan bahwa kerja sama antara umat Islam dengan mereka bisa berjalan baik. Salah satu contohnya adalah negara ini. Negara ini dibentuk melalui kesepakatan berbagai elemen bangsa, di antaranya oleh kalangan Islam dan Kristen. Artinya, kita bisa saling ridha dengan kaum Nasrani, bertolak belakang dengan mitos permusuhan abadi yang digambarkan di Quran tadi.

Banyak orang yang sebenarnya tahu dan sadar soal mitos-mitos ini, tapi tidak punya keberanian untuk merumuskannya secara tegas. Kenapa? Karena mereka mengira mereka tidak bisa. I didn’t know I could.

Tradisi pemikiran Islam sekarang ini memang sedang membangun tembok ekslusivisme. Ilmu Islam dibuat tampak rumit, sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya, dan diberi otoritas untuk berpendapat. Orang-orang seperti saya, yang berangkat dari latar belakang sains, otomatis dianggap tidak komperen. Lucunya, yang kompeten seperti Quraish Shihab, Nurcholis Madjid, atau Gus Dur, juga sering diabaikan, karena berpendapat berbeda dengan arus utama.

Lebih konyol lagi, pandangan otoritatif ini runtuh seketika saat ada orang asing (kafir) bersuara tentang Islam atau Quran, yang suaranya menggembirakan. Lihatlah bagaimana umat Islam menyambut gagasan Bucaille dengan gegap gempita, tanpa mempermasalahkan kompetensi Bucaille dalam hal ulumul Quran maupun ulumul hadist.

Tulisan-tulisan saya banyak dikomentari dengan pernyataan bahwa gagasan yang sama pernah dipikirkan oleh banyak pembaca. Namun banyak dari mereka yang tidak bisa merumuskannya dengan baik. Atau, banyak dari mereka yang mengira bahwa gagasan itu tabu untuk dirumuskan.

Saya ingin mengajak kepada orang-orang untuk berpikir. Yes, you can. Anda bisa berpikir, dan bisa terus mengaji, untuk menemukan sendiri jalan Anda dalam berislam. Jangan mau terjebak dalam gagasan yang bertentangan dengan basis pikir Anda sendiri. Saya tak mengajak Anda untuk mengikuti saya. Saya mengajak Anda membangun jalan untuk Anda sendiri.

Tentang Iman dan Cinta

Dalam berbagai diskusi cukup sering orang mencoba menjebak saya dengan pertanyaan,”Bagaimana bila anakmu yang jadi gay? Bagaimana bila anakmu pindah agama?” Ini bukan pertanyaan dalam rangka memahami, melainkan pertanyaan orang frustrasi, ketika tak sanggup lagi berargumen. Ketika saya jawab dengan jujur dan gamblang, mereka tak kunjung paham. Malah makin tambah frustrasi. Lalu mereka mengumpat saya dengan doa,”Semoga anakmu jadi gay. Semoga anakmu murtad.” Mengumpat dengan doa? Ya, begitulah hebatnya orang beriman, mereka bisa menumpahkan umpatan melalui doa.

Bagi saya ada 2 hal yang tidak bisa dipaksakan, yaitu iman dan cinta. Kita bisa memaksa orang melakukan ritual-ritual, atau melarang mereka melakukan ritual, masuk ke suatu agama, atau keluar dari suatu agama, tapi kita tak akan pernah bisa memaksa orang untuk beriman atau tidak beriman. Masih ingat dengan aliran-aliran yang dituduh sesat seperti Islam Jamaah atau Darul Arqam? Banyak upaya untuk meluruskan mereka, tapi apa hasilnya? Mereka hanya berubah dalam bentuk kasat mata, tapi tak berubah dalam keyakinan. Mereka hanya mencoba menghindar dari tekanan sosial. Sebaliknya para penekan sebenarnya tak pernah benar-benar peduli pada iman orang-orang itu. Mereka sebenarnya hanya tak mau ego mereka terusik menyaksikan orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Cinta mirip dengan iman. Kau bisa memaksa orang untuk menikah atau tidak menikah, bersenggama atau tidak senggama, tapi kau tak akan pernah bisa memaksa atau melarang orang untuk mencintai. Nasihat-nasihat atau tekanan hanya akan membuat orang mengubah perilaku yang tampak, tapi tidak mengubah cintanya. Makanya banyak kasus gay menikah, punya anak, tapi dia tetap gay.

Anda masih sulit untuk menerima prinsip ini? Tidak percaya? Coba tanya diri Anda sendiri, maukah atau bisakah Anda mengubah iman Anda? Tidak. Kalau Anda tidak mau, mengapa Anda berharap orang lain akan mau mengubah imannya oleh ajakan atau tekanan Anda? Maukah Anda mengubah cinta Anda? Tidak.

Anda merasa sedang mempertahankan kebenaran? Ya, begitu pula orang lain. Masalahnya adalah, Anda menganggap kebenaran itu wujud secara independen. Padahal bukan. Kebenaran itu didefinisikan. Agama adalah kumpulan definisi tentang kebenaran.

Maka kepada anak-anak, dalam hal agama dan cinta, saya tidak akan memaksakan sebuah arahan. Yang saya lakukan adalah memberi mereka ruang untuk tahu dan berpikir. Pilihan ada sepenuhnya pada pikiran mereka masing-masing.

Tadi malam, misalnya, anak saya bertanya tentang mukjizat nabi membelah bulan. Apakah ini nyata?

“Menurutmu mungkin nggak itu terjadi.”

“Nggak mungkin.”

Itu jawaban rasional. Kemudian menyusul jawaban iman.

“Tapi kalau Allah berkehendak, mungkin saja.”

Saya hanya meluruskan,”Bahkan kehendak Allah pun punya konsekwensi. Kalau Allah mengizinkan bulan terbelah, maka Ia juga harus mengizinkan berbagai konsekwensi yang menyertainya, seperti “tumpahnya” magma bulan, atau berubahnya keseimbangan relasi gravitasi bulan-bumi.”

Anak saya masih mencoba mempertahankan argumennya. “Tapi kan ada bekasnya di permukaan bulan.”

“Bukan, nak. Itu adalah Rima Ariadaeus, fenomena di permukaan bulan, bukan bekas terbelahnya bulan.”

Saya hanya hadirkan fakta-fakta kepadanya, lalu saya berikan dia ruang bebas untuk mendefinisikan kebenarannya sendiri.

Dalam usia saya yang hampir setengah abad ini, saya banyak melihat pergulatan iman orang-orang. Pernah saya mengenal seorang gadis muda di tahun 90-an. Ia memakai jilbab, di saat jilbab masih asing. Peliknya lagi, ia sekolah di sekolah Katholik. Ia dilarang pakai jilbab di sekolah, tapi mencoba ngotot. Orang tua dan guru-guru mencoba melunakkan, tapi gagal. Akhirnya dicapai jalan tengah, ia hanya boleh berjilbab di luar sekolah, sampai menjelang masuk ke halaman sekolah. Belasan tahun kemudian saya temukan anak ini tidak lagi berjilbab.

Saya sendiri mengalami pergulatan itu. Orang tua saya penganut Islam tradisionalis seperti NU. Abang saya aktivis Muhammadiyah. Saya? Saya penganut aliran bukan-bukan. Saya tidak mengimani Quran sebagai kitab yang benar dalam setiap detilnya. Saya juga tidak menjadikan Quran sebagai pedoman yang harus dilaksanakan pada setiap ayatnya. Instead, saya memandang Quran sebagai inspirasi dan panduan moral. Fokus saya adalah menegakkan pesan besar dari Quran, yaitu menyelamatkan manusia dari kerusakan (fasad) dan kebinasaan.

Keluarga saya kaget dan keberatan. Abang saya, manusia yang paling saya hormati di muka bumi ini saat ini, berulang kali menelepon saya, mencoba meluruskan saya. Beberapa kali saya ladeni. Lalu saya katakan,”Capek ngomong panjang lebar begini. Kalau ada waktu cobalah kita berdialog kalau De kebetulan ada acara di Jakarta.”

Lalu terjadilah dialog itu. Saya bentangkan Quran di depan abang saya, lalu saya sampaikan pikiran saya. Saya minta dia membantahnya. Dia tidak bisa membantah. Tentu saja dia juga tidak setuju. Saya tidak berharap dia setuju. Saya hanya ingin dia paham, bahwa adiknya sedang membangun jalannya sendiri, bukan sedang tersesat.

Masih penasaran dia mencoba menembak saya. “Kau itu minim ilmu. Kau cuma doktor di bidang sains, bukan bidang agama. Imumu tak lengkap.”

“Ya, memang tak lengkap. Tapi siapa manusia yang lengkap ilmunya? Quraish Shihab? Hamka? Ibnu Katsir? Suyuthi? Quran dan ketuhanan itu begitu luas cakupannya, sehingga tak ada seorang pun yang lengkap ilmunya. Orang-orang yang saya sebut tadi boleh saja luas ilmunya dalam hal bahasa Arab, ulumul Quran dan hadist. Tapi kalau soal ilmu alam yang juga banyak dibahas di Quran, maaf saja, ilmu saya lebih banyak dari mereka.”

Abang saya terdiam. Lalu dia berkata,”Baiklah. Silakan tempuh jalan kamu. Aku hanya bisa berdoa untuk kamu.”

Maka, kepada yang bertanya, izinkan saya membalik pertanyaan itu kepada Anda. Kalau anak Anda gay, apa yang akan Anda lakukan? Kalau anak Anda murtad, apa yang akan Anda lakukan? Mencoba mengubah mereka? Boleh jadi mereka hanya akan mengerjakan ritual-ritual. Mereka hanya mengubah cara senggama. Tapi Anda tak akan pernah bisa mengubah iman atau cinta mereka.

Tidak sedikit pula orang yang menuduh saya mencari popularitas belaka. Orang yang tidak biasa berpikir memang akan sulit memahami makna atau kenikmatan dari kemerdekaan berpikir itu. Ketahuilah bahwa saya belum pernah mendapat nikmat apapun dari pikiran saya yang sekarang, selain jempol-jempo di Facebook. Sebaliknya, saya pernah mendapat cukup banyak uang dari mendakwahkan Islam “konvensional”. Saya dulu sering diundang memberi khutbah dan pengajian, dan mendapat imbalan uang.

Kalau saya mau, saya bisa lebih populer dengan mendakwahkan Quran yang cocok dengan sains, seperti yang dilakukan seorang teman saya. Saya bisa mendapat lebih banyak uang dengan menyampaikan hal-hal populer yang disukai banyak orang.

Tapi tidak. Saya memilih untuk jadi orang merdeka atas pikiran saya sendiri.

Syiria, ISIS, dan Malhamah Kubra

Apa pandangan umat Islam Indonesia tentang ISIS? Dugaan saya banyak orang yang tidak setuju dengannya. Bukan hanya tidak setuju, tapi juga ngeri. Namun tidak sedikit yang mendukung, baik secara terang-terangan maupun tersamar. Pemimpin FPI Rizieq jelas dan terang menyatakan mendukung ISIS. Anis Matta waktu menjabat sebagai Presiden PKS menyatakan bahwa ketakutan terhadap ISIS adalah berlebihan. Ia secara tersamar mendukung gagasan mempersatukan Irak dan Syiria di bawah satu pemerintahan.

Bagaimana dengan berbagai kekejian ISIS? Saya sempat agak shock ketika membaca laman FB seorang teman saya, yang terdidik, ternyata ia membenarkan secara tersamar ketika ISIS membakar pilot militer Yordania. Wow!

Ada apa sebenarnya? Mengapa ada umat Islam yang mendukung ISIS? Jawabannya terletak pada kata kunci “malhamah kubra”. Apa itu? Ada beberapa hadist yang meramalkan suasana akhir zaman. Akan muncul kebangkitan kekuatan baru Islam, khilafah islamiyah, melalui sebuah perang dahsyat di negeri Syam (Syiria). Contoh beberapa hadist itu antara lain adalah:

“Pusat kepemimpinan kaum Muslimin pada hari peperangan yang paling besar adalah di sebuah negeri yang bernama Ghuthah, yang mana di negeri itu terdapat sebuah kota yang bernama Damsyik (Damaskus). Ia merupakan tempat tinggal yang terbaik bagi kaum Muslimin pada waktu itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

“Akan keluar dari sulbi ini (Ali bin Abi Thalib ra) seorang pemuda yang akan memenuhkan dunia ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini yang demikian itu, hendaklah kamu turut menyertai Pemuda dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang Panji-panji Al-Mahdi.” (At-Tabrani)

Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk.”(Ibnu Majah).

Ring a bell? Banyak orang menganggap ISIS adalah kebangkitan yang dimaksud, dan Abdurahman Al-Baghdadi adalah keturunan Bani Tamim (keturunan Ali) yang diramalkan nabi dalam hadist-hadist di atas. Benarkah? Lha, embuh.

Ramalan selalu menghasilkan orang-orang yang mencoba memenuhi ramalan itu. Dulu ada ramalan bahwa presiden-presiden Indonesia akan terdiri dari orang-orang yang namanya membentuk kata no-to-no-go-ro. No-Soekarno, to-Soeharto. Waktu itu sempat dikira presiden berikutnya adalah Try Soetrisno, tapi meleset menjadi tidak karuan. Tapi tetap saja ada yang masih percaya, yaitu Kivlan Zen. Ia rela mengganti namanya menjadi Wiyogo. Menurut dia, Habibie-Gus Dur-Mega itu anomali saja. Alur sejarah kembali pada jalurnya dengan Yudhoyono menjadi presiden. Maka yang berikutnya adalah giliran orang bernama dengan akhiran go, maka ia mengganti namanya menjadi Wiyogo.

Dalam hal Al-Baghdadi, bisa jadi ia adalah orang yang meyakini dirinya adalah perwujudan ramalan nabi tadi. Atau, ia adalah seorang oportunis yang menunggangi dalil-dalil itu untuk kepentingan pribadinya. Lebih buruk lagi, bisa jadi pula ia hanyalah boneka dari kekuatan lain yang memainkan dalil-dalil itu untuk suatu skenario.

Yang jelas dalil-dalil itu dipercaya, dan berhasil membuat orang-orang mendukung ISIS.

Khilafah dan Terorisme Transnasional

Para penebar teror di dekade 2000an kebanyakan adalah alumni perang Afganistan di era perang dingin. Kini, kekuatan mereka ditambah lagi dengan para alumni perang Suriah. Kelompok mereka mungkin berbeda-beda, termasuk di dalamnya sisa-sisa anggota kelompok Azhari dan Nurdin M. Top. Juga masih ada anggota kelompok lain, termasuk yang terhubung dengan kelompok Filipina dan Thailand.

Daerah operasi mereka tidak terbatas di Indonesia, bahkan tidak terbatas di Asia Tenggara. Azhari dan Nurdin adalah warga Malaysia yang beroperasi di Indonesia. Ada banyak warga Indonesia yang beroperasi di Malaysia, Singapura, atau Thailand. Tentu saja tidak bisa kita lupakan, ada lebih dari 300 WNI tercatat sebagai anggota ISIS di Suriah.

Ringkas kata, para teroris ini sudah membentuk jaringan yang bersifat transnasional. Anggotanya datang dari berbagai negara, dan daerah operasi mereka melampaui batas-batas negara formal.

Apa yang menyatukan mereka? Islam, tentu saja. Tapi gagasan tentang persatuan Islam biasanya bersifat damai, tidak bersenjata. Dalam hal mereka ini ada yang lebih spesifik, yaitu gagasan khilafah atau daulah Islamiyah. Gagasan ini menginginkan umat dan negeri-negeri Islam bersatu di bawah satu pemerintahan. Dalam perjuangannya mereka mengagendakan pula perlawanan bersenjata.

Di Indonesia, yang paling sering meneriakkan gagasan khilafah adalah Hizbut Tahrir (HT). Namun HT tidak tercatat pernah melakukan kekerasan. Organisasi lain yang sebenarnya lebih luas jaringan maupun varian perjuangannya adalah Ikhwanul Muslimin (IM).

Ikhwanul Muslimin didirikan di Mesir tahun 1928, dipimpin oleh Hasan Al-Bana. Selain Hasan Al-Bana, ada pula pemikir IM yang lain yang juga dikenal, yaitu Sayyid Qutb. Buku-buku mereka tersebar luas di Indonesia pada dekade 80-90, menjadi inspirasi dalam perlawanan terhadap rezim Orde Baru.

Organisasi ini lahir dalam suasana perjuangan kemerdekaan Mesir dari penjajah Inggris. Organisasi ini juga terlibat dalam perang melawan Israel di Palestina. Ia hadir hampir di semua wilayah Arab hingga kini, menjadi bagian dari perlawanan terhadap pemerintah yang sah. Banyak kekuatan politik yang dibentuk atau berafiliasi dengan organisasi ini, di antaranya Partai Keadilan dan Pembangunan (Turki), Partai Front Keadilan dan Pembangunan (Aljazair), dan Partai Keadilan Sejahtera (Indonesia).

Gerakan IM bervariasi bentuknya. Di Palestina mereka muncul dalam wujud Hamas yang melakukan perjuangan bersenjata. Di Afganistan saat perjuangan melawan Uni Sovyet, IM termasuk penggalang kekuatan utama. Di Indonesia, PKS nyaris tidak pernah terdengar meneriakkan gagasan khilafah, namun dalam halaqah-halaqahnya gagasan ini menjadi pusat kajian.

Lalu, apakah teroris yang sekarang beroperasi di Indonesia adalah kader-kader IM atau HT? Agak sulit mengatakan begitu. Pergulatan dunia jihad dan terorisme menjadi lebih kompleks di lapangan. Ada begitu banyak gerakan lain seperti Jamaah Islamiyah, Al-Qaeda, dan sebagainya. Organisasi-organisasi ini berhubungan dalam pola yang beragam pula. Ada yang bersekutu, tapi tak sedikit yang bermusuhan.

Namun seperti yang saya ungkap di muka, mereka terhubung oleh satu hal, yaitu gagasan khilafah. Cita-cita itu sama pada tingkat gagasan. Dalam pelaksanaannya di lapangan, mereka berbeda-beda.

Sebagai ilustrasi, bisa saja seorang anak muda Indonesia mengenal gagasan khilafah pertama kali dari halaqah IM atau HT, kemudian mendapat penajaman dari kelompok lain yang lebih keras. Ia kemudian mendapat saluran untuk berjihad ke Afganistan, atau Suriah. Di sana mungkin ia pindah afiliasi ke kelompok lain, kemudian mendapat tugas untuk menebar teror di Indonesia atau negara lain.

Bagi saya, sedikit banyak, delusi tentang Islam yang hebat di bawah sistem khilafah, yang jomplang dengan kenyataan bahwa dunia kini berada di bawah sistem kapitalis-Kristen di bawah pimpinan Amerika, adalah bibit utama untuk membuat bahan bakar, untuk mendidik orang menjadi teroris.