Monthly Archives: January 2016

Wawancara

Interview between businessmen

Saya cukup sering diwawancara, umumnya untuk pekerjaan, tapi pernah pula untuk beasiswa. Ada pula pengalaman lain, diwawancara sebagai bakal calon anggota legislatif di sebuah partai politik. Dalam setiap wawancara itu sikap saya selalu sama, yaitu menjadi diri sendiri. Saya tunjukkan apa yang saya bisa, apa yang saat ini saya belum bisa tapi mungkin bisa saya kuasai, dan  saya berterus terang soal hal-hal yang memang di luar jangkauan saya untuk menguasainya. Saya tidak mau memoles diri, membangun citra sesuai yang dibutuhkan oleh pewawancara. Saya sadar bahwa kalaupun saya berhasil lolos, saya tidak akan berhasil dalam pekerjaan itu. Karena yang diterima bukan diri saya melainkan saya yang mencoba menjadi orang lain.

Kalau dibandingkan, mungkin lebih banyak jumlah wawancara di mana saya tak lolos ketimbang yang lolos. Sepanjang periode 2011-2013, misalnya, saya ikut wawancara 4 kali, dan baru wawancara yang kelima membuat saya pindah kerja. Tidak selalu pula saya langsung menerima sebuah tawaran meski saya lolos seleksi. Tahun 1999 saat lulus S2 saya ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik, saya ikut tes dan lulus, namun akhirnya tawaran pekerjaan itu saya tolak. Saya memilih untuk melanjutkan sekolah ke S3.

Wawancara yang paling mengesankan adalah wawancara di sebuat perusahaan otomotif (autopart) di tahun 2011. Jabatan yang ditawarkan mentereng: presiden direktur. Perusahaan ini mempuyai karyawan sekitar 500 orang, nilai penjualan 150 milyar setahun. Sebuah perusahaan kelas menengah. Ini adalah perusahaan joint-venture, sahamnya dimiliki oleh grup Malaysia dan Indonesia, dengan komposisi saham 50-50. Menurut head hunter yang mengajukan saya, ada 3 kandidat yang diajukan. Dua di antaranya sekarang bekerja di perusahaan otomotif, hanya saya yang sama sekali tidak berlatar belakang otomotif.

Wawancara pertama dilakukan di sebuah restoran. Saya memesan steak dan sebotol minuman. Kami berbincang sambil makan. “How much you know about lean manufacturing system?’ tanya pewawancara, pemilik perusahaan. Jawaban saya,”I don’t know much. Saya baru bekerja di perusahaan manufaktur selama 4 tahun, dan sebagian tugas saya adalah di bagian administrasi, bukan di lapangan produksi.”

Yang terjadi kemudian adalah, peawancara itu menjelaskan secara ringkas soal yang dia tanyakan tadi, lalu kami berdiskusi. Kami juga berdiskusi soal bisnis manufaktur otomotif di Indonesia. Kemudian wawancara selesai. Saya pamit pulang.

Saya duga saya tak lolos dalam wawancara tadi. Tapi seminggu kemudian saya dipanggil lagi. Menariknya, 2 orang berlatar belakang industri otomotif tadi ternyata malah tak lolos.

Kali ini wawancara dengan pemilik saham dari Indonesia. Berbincang beberapa lama, dia bilang,”Saya paham Anda itu pintar, dan bisa belajar cepat. Tapi terus terang saya tidak yakin. Kalau Anda jadi presdir, itu sebuah pertaruhan besar bagi saya. Tidak hanya soal internal perusahaan, tapi juga soal eksternal. Costumer saya akan mempertanyakan reputasi perusahaan ini karena mengangkat seorang yang tidak berpengalaman menjadi presdir.”

Lalu, apa lagi yang bisa saya katakan? Saya hanya tersenyum. Lalu saya berpamitan pulang.

Saya duga saya akan gugur, lagi-lagi saya dipanggil. Kali ini kembali ke pemegang saham dari Malaysia, dan wawancara dilakukan di pabrik. Saya diajak meninjau pabrik, saya diberitahu masalah-masalah yang harus dihadapi sekarang, dan harapan akan solusinya. “I know you can learn,” katanya meyakinkan saya. Kami kemudian berdiskusi soal teknis seperti soal gaji. Tawarannya cukup menarik, 20-30% lebih tinggi dari gaji saya saat itu.

Beberapa waktu berlalu setelah itu, tak kunjung ada keputusan. Saya tanya ke pihak head hunter, katanya kedua pihak pemilik perusahaan tak kunjung mencapai kesepakatan tentang saya. Akhirnya saya beri tenggat waktu. Waktu masuk awal tahun 2012 saya harus negosiasi soal kenaikan gaji saya di tempat saya bekerja saat itu. “Kalau saya sudah mengajukan usulan kenaikan gaji, dan diterima saya tak bisa lagi pindah, tidak etis. Jadi, putuskan sekarang,” kata saya. Karena didesak seperti itu, saya akhirnya dinyatakan tidak diterima.

Setelah itu ada beberapa wawancara yang tidak menggairahkan. Kalaupun diterima saya sudah putuskan untuk tidak bertanya lagi pada head hunter soal hasil wawancara. Saya ditolak, dugaan saya karena permintaan saya terlalu tinggi.

Setahun kemudian saya diminta wawancara di tempat saya bekerja saat ini. Wawancara yang sangat singkat. Hanya 10 menit saya menceritakan soal siapa saya dan pengalaman saya. Kemudian presiden direktur yang kemudian menjadi bos saya, mengabiskan waktu hampir 1 jam untuk bercerita soal harapan-harapan dia. Di akhir wawancara dia memerintahkan direktur yang ikut mendampingi untuk mengurus penerimaan saya. Gaji yang saya minta, 70% lebih tinggi dari gaji di tempat lama langsung disetujui.

Jadi, bagi saya gagal di sebuah wawancara bukan malapetaka. Saya selalu menerima tawaran wawancara, tapi tidak otomatis saya akan menerima tawaran untuk bergabung. Banyak hal yang saya pertimbangkan untuk memutuskan. Tapi wawancara itu sendiri selalu menarik buat saya. Itu adalah sebuah kesempatan belajar yang jarang saya lewatkan.

 

Nilai Pekerjaan Kita

shokuninSuatu hari di akhir pekan di kota Sendai, Jepang, di tahun 2006, saya pergi ke tukang cukur di dekat apartemen saya untuk memotong rambut. Saat itu saya bekerja sebagai Visiting Associate Professor di Tohoku University. Sambil menikmati layanan pemotongan rambut, saya berbincang dengan tukang cukur.

“Gakusei san desuka.” tanya tukang cukur. (Anda seorang mahasiswa?)

Saya waktu itu memang tinggal di kompleks dormitory milik universitas untuk mahasiswa asing. Sebagian dari apartemen di dormitory itu diperuntukkan bagi peneliti seperti saya.

“Chigaimasu. Watashi wa daigaku no sensei desu.” (Bukan, saya profesor di universitas)

“Erai desune.”

Erai adalah ungkapan pujian atau kekaguman dalam bahasa Jepang. Artinya dekat dengan kata hebat dalam bahasa kita.

“Erai ka douka wakarimasen yo.” jawab saya. (Belum tentu juga hebat atau tidaknya.)

“Eee, datte, daigaku no sensei dakara, erai yo.” (Tapi Anda seorang profesor, Anda pasti hebat.)

“Profesor itu hanya satu jenis pekerjaan. Sama dengan tukang cukur. Punya pekerjaan itu tidak menjamin seseorang itu menjadi hebat. Dia baru hebat kalau dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Semua orang yang melakukan pekerjaan dengan baik itu orang hebat. Tukang cukur yang melakukan pekerjaannya dengan baik adalah orang hebat, yang boleh jadi lebih hebat dari seorang profesor.” jawab saya.

Tukang cukur itu diam sejenak, dia bahkan berhenti mencukur rambut saya sejenak. Lalu berujar, “Anda lebih hebat dari yang saya bayangkan tadi.”

Hampir setahun setelah itu saya memutuskan untuk mengakhiri karir saya sebagai peneliti, itu artinya saya harus meninggalkan jabatan mentereng saya di universitas. Saya memulai karir di dunia antah berantah yang sama sekali tak saya kenal, yaitu industri manufaktur. Saya tak punya pengalaman apa-apa, pun tak tahu apa-apa. Saya diterima kerja hanya karena saya bisa berbahasa Jepang. Saya menjadi manejer administrasi, mengurus segala macam urusan administrasi perusahaan. Banyak pertanyaan atau komentar atas pekerjaan baru saya.

“Doktor kok jadi manejer administrasi?” Saya jawab dengan senyum atau guyonan.

Ada yang lebih sengak. “Kamu itu sudah capek-capek kuliah ke Jepang, pulang ke Indonesia cuma jadi manejer administrasi. Itu karena kamu tak punya keahlian apapun, dan kamu terpaksa pulang ke Indonesia karena sensei kamu sudah mengusir kamu.” Lagi-lagi saya jawab dengan senyum. Saya tidak peduli. Prinsip saya, saya bekerja untuk mencari nafkah. Bagi saya tidak ada pekerjaan yang remeh. Tanpa pekerjaan administrasi yang saya lakukan perusahaan tidak bisa wujud. Maka pekerjaan saya adalah pekerjaan penting.

Tak hanya teman yang mengenal saya yang meremehkan. Saat saya berurusan dengan suatu kantor pemerintah, seorang pejabat tingkat rendah di situ memanggil saya dengan sebutan “kamu”. Yang berurusan dengan petugas itu kebanyakan memang staf muda dari berbagai perusahaan, yang baru masuk kerja setahun atau dua tahun. Bagi saya panggilan “kamu” itu tidak sopan bukan karena saya merasa bahwa saya orang penting. Saya hanya merasa bahwa saya orang dewasa, tidak pantas rasanya sesama orang dewasa yang bukan teman akrab memanggil lawan bicaranya dengan kata “kamu”. Tapi sudahlah, saya biarkan saja karena saya punya urusan yang lebih penting.

Suatu saat, ketika saya sedang berurusan dengan pejabat tadi, teman sekantor saya orang Jepang menelepon. Setelah pamit untuk menjawab telepon pada pejabat tadi, saya berbicara dengan teman saya dalam bahasa Jepang. Melihat saya fasih berbahasa Jepang, pejabat tadi kaget.

“Lho kamu kok fasih bahasa Jepang gitu?” tanya dia.

Rekannya yang sudah lebih dahulu mengenal saya menjawab, “Pak Hasan itu doktor lulusan Jepang. Dia 10 tahun tinggal di Jepang.” Dia menjelaskan sambil tersenyum penuh makna. Pejabat tadi diam ternganga. Sejak itu dia tak lagi memanggil saya “kamu”.

Setahun mengurusi urusan tetek bengek administrasi, saya diangkat jadi direktur. Saya tak pernah meminta jabatan itu, namun saya juga tak menolaknya. Jenis pekerjaan saya tetap, yaitu administrasi. Tapi ruang lingkupnya meluas seiring berkembangnya perusahaan. Dari pengalaman mengurus tetek bengek administrasi ini suatu saat saya pernah dipinang oleh perusahaan otomotif untuk menjadi Presiden Direktur. Dari beberapa kandidat yang mereka undang saya yang akhirnya bertahan hingga seleksi akhir. Saya sudah bertemu dengan pemilik perusahaan, meninjau pabrik. Meski akhirnya saya tidak jadi Presdir karena ada beberapa ketidak sesuaian antara perusahaan dan saya, tapi saya sudah senang karena dianggap cocok untuk posisi tersebut.

Waktu saya akan mulai pekerjaan di perusahaan ini pemilik perusahaan mengundang saya untuk bertemu. Waktu itu saya masih di Sendai, dan saya datang ke Tokyo untuk menemui dia. “Anda sudah berkarir di dunia riset. Kini hendak masuk ke dunia bisnis. Saya sangat ingin agar pengalaman Anda di dunia riset itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan perusahaan. Saya ingin ada lebih banyak produk, saya ingin pasar yang lebih luas. Kembangkan produk, besarkan perusahaan kita.” Itu tugas yang dibebankan pada saya.

Enam tahun setengah saya bekerja di perusahaan itu. Ketika akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu, belum banyak yang bisa saya lakukan. Tapi setidaknya ada pertumbuhan. Nilai penjualan meningkat hampir 4 kali lipat dari saat pertama berdiri. Demikian pula jumlah karyawan. Pengalaman riset saya pada akhirnya tak banyak berperan dalam pekerjaan di perusahaan tadi. Namun saya ingat betul, tanpa melakukan pekerjaan yang oleh banyak orang dianggap remeh ini perusahaan saya tidak itu akan tumbuh besar.  Menariknya, ada sejumlah karyawan yang masuk, kemudian tumbuh besar di situ. Mereka kini menikmati pekerjaan di situ. Setiap kali saya berkunjung, mereka selalu datang berkumpul untuk sekedar bersalaman dan berbincang ringan dengan saya.

Saya pindah kerja karena perusahaan baru yang saya tuju  menjanjikan wawasan bidang kerja yang lebih luas. Tentu saja dengan gaji yang lebih besar. Saya direkrut oleh perusahaan besar, pada posisi business development. Kalau saya menoleh ke belakang, rasanya tak mungkin saya akan direkrut perusahaan ini kalau saya dulu tak belajar mengerjakan hal yang remeh-remeh dan tetek bengek. Posisi saya sebagai business developer di perusahaan chemical material membutuhkan pengetahuan seputar material science yang saya dapat dari kuliah dan riset di Jepang. Namun pengalaman itu saja tak cukup. Saya juga harus paham soal berbagai aspek bisnisnya seperti sumber daya manusia, daya dukung lingkungan, infrastruktur, regulasi, supply chain, keuangan, dan sebagainya. Hal-hal itu sudah saya dapat di perusahaan tempat saya bekerja dulu.

Tapi sekali lagi, di tempat ini pun saya tetap mengerjakan hal remeh-remeh dan segala jenis tetek bengek. Sering datang tamu dari kantor pusat dan saya mendampingi pelaksanaan tugas di sini, mereka selalu bertanya, apa pekerjaan saya. Pertanyaan itu mungkin muncul karena posisi saya sebagaimana tertulis di kartu nama tidak relevan betul dengan tugas mereka yang saya dampingi. Saya selalu jawab,”Nandemoya.” Nandemoya adalah orang yang mengerjakan apa saja. Dalam istilah pasaran kita, palugada, apa lu mau gua ada.

Sekali lagi, tak penting benar apa jabatan atau jenis pekerjaan kita. Yang penting adalah bahwa kita mengerjakannya dengan baik sehingga pekerjaan itu bermanfaat untuk sesuatu yang lebih besar. Sebaliknya tak jarang jabatan atau pekerjaan sendiri yang kita anggap penting ternyata hanyalah sesuatu yang sebenarnya kecil maknanya.

Sementara pekerjaan saya hingga ini belum penting benar, setidaknya saya bisa berbahagia karena dari pekerjaan ini saya bisa memberi makan anak istri saya.

Krisis, Tekanan, dan Energi Ekternal

oxigen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Ini adalah salah satu poin yang akan saya sampaikan dalam kuliah berjudul “Leadership in Crisis: Captain of a Sinking Ship” di STAN minggu depan.
 
Salah satu elemen penting dalam situasi kritis adalah tekanan. Umumnya tekanan itu merusak dan menghancurkan. Dalam tekanan orang bisa kehilangan energi internalnya, membuat ia kehilangan keterampilan dan kecerdikan yang biasa ia miliki dalam keadaan normal. Ia menjadi pecundang.
 
Namun sebenarnya dan sebaliknya, tekanan bisa memberi energi yang luar biasa dan tak terduga. Ada contoh menarik dari alam yang bisa kita jadikan pelajaran. Kolega saya Katsuya Shimizu yang kini menjadi profesor di Osaka University pernah melakukan riset tentang konduktivitas listrik pada oksigen di bawah tekanan tinggi. Hasil risetnya dimuat di majalah Nature tahun 1998.
Oksigen, sebagaimana kita ketahui, dalam tekanan atmosfer dan suhu kamar adalah gas. Mengikuti prinsip perubahan fase, oksigen akan menjadi cair bila ditekan pada nilai tekanan tertentu. Oksigen yang ditempatkan dalam tabung bertekanan tinggi biasanya dalam wujud cair. Bila ditekan lebih lanjut ia akan menjadi benda padat, khususnya bila dikombinasikan dengan temperatur rendah.
Dari sisi antaran (konduktivitas) listrik, dalam wujud gas oksigen adalah isolator. Dalam keadaan padat pun ia tetap isolator. Namun pada tekanan 96 GPa, oksigen akan berubah menjadi konduktor. Lebih hebat lagi, pada tekanan 125 GPa, oksigen akan berubah menjadi superkonduktor, dengan suhu kritis pada 4 K. Lalu apa yang terjadi bila tekanan dinaikkan lagi? Ternyata oksigen tidak akan menjadi superkonduktor lagi. Ia akan kembali “sekedar” menjadi metal saja.
Nah, contoh ini memberi kita pelajaran bahwa di satu sisi tekanan bisa menghancurkan kita. Namun dari sisi lain, ia bisa memberi kita energi eksternal yang luar biasa. Orang kepepet sering kali bisa mengatasi masalah secara luar biasa, bahkan tekanan pada saat kepepet (krisis) itu menjadi titik balik bagi perjalanan hidupnya.
Jadi, tekanan pada saat krisis bukanlah bencana. Krisis itu sendiri bukan bencana. Bila kita pandai mengelola, krisis adalah sebuah sumber energi eksternal yang bisa membuat kita bisa membuat sebuah perubahan radikal. Kuncinya terletak pada kemampuan kita mengelola tekanan, dan mengatur tingkat resistensi kita.
Krisis? Siapa takut.

Tuhan tak Mengutus Rasul ke Jepang

circle-152358844211Prinsip dasarnya adalah bahwa Tuhan memberi petunjuk, untuk setiap kaum (kelompok) umat manusia. Karena Tuhan itu maha pemberi petunjuk dan maha adil. Bila ia memberi petunjuk, maka ia memberi petunjuk kepada semua kelompok manusia, tidak hanya satu kelompok saja. Berdasarkan prinsip ini maka tidak salah bila kita simpulkan bahwa Tuhan akan mengutus begitu banyak rasul ke seluruh penjuru dunia.

Prinsip yang lain, Tuhan itu satu. Tuhan yang satu tentu hanya akan mengajarkan satu konsep. Ia akan mengajarkan sosok diriNya, bagaimana cara mendekatiNya, bagaimanya menyembahNya, dan bagaimana hidup menurut aturannya. Artinya, kita seharusnya menemukan ajaran yang seragam, atau setidaknya mirip, pada berbagai agama yang ada di seluruh muka bumi ini.

Lalu bagaimana kenyataannya? Tiga kitab utama agama Samawi, yaitu Taurat, Injil, dan Quran, ternyata hanya berkutat di sebuah lingkaran mungil di peta dunia. Wilayah cakupannya hanya sekitar wilayah Palestina-Israel, dengan luas cakupan mungkin hanya 1-5% dari seluruh wilayah daratan di muka bumi. Di dalam lingkaran mungil itulah seluruh nabi dan rasul “berkumpul”.

Kita tak menemukan rasul di Cina, yang datang diutus Tuhan untuk memperkenalkan Tuhan yang satu. Di Cina berkembang ajaran berbasis pada pemikiran Khong Hu Cu. Sedangkan di India berkembang ajaran Budha. Di tengah “kesesatan” kaum Hindu di Nepal dan India yang menyembah berbagai jenis berhala, Tuhan tidak mengirim rasul untuk memberi petunjuk. Yang datang untuk memberi “petunjuk” adalah Sidharta Gautama. Ia tidak mengajarkan kewujudan Tuhan sama sekali, bahkan kemudian tak jarang dianggap sebagai Tuhan. Di Jepang manusia tetap menganut dinamisme dan animisme, kemudian ajaran Budha masuk.

Di berbagai belahan dunia lain, sentuhan utusan Tuhan tidak hadir. Orang-orang Afrika, Papua, Maya, Aztec, dan banyak lagi suku bangsa dunia, tetap tak mengenal Tuhan sebagaimana yang dikenal dalam lingkarang mungil tadi. Mengapa?

Ada yang berdalih, bahwa Tuhan sebenarnya mengirim utusan, hanya saja tak semua tercatat dalam sejarah, dan tidak semua diceritakan dalam kitab suci. Dalih ini mirip dengan orang menunjukkan selembar kertas putih, dan mengklaim bahwa di atas kertas itu ada gambar kambing sedang makan rumput. Tapi kenapa kertas putih itu hanya kosong saja? Karena rumputnya sudah habis dimakan kambing, dan kambingnya sudah pergi. Budha yang hidup beberapa abad sebelum Masehi saja bisa ada catatannya, kenapa yang lain tidak?

Begitulah. Tuhan begitu banyak mengirim utusan ke wilayah mungil tadi. Baru berlalu sejenak, Dia kirim lagi. Bahkan pada suatu masa Ia kirim beberapa utusan sekaligus. Ada pula orang yang ia jadikan utusan secara turun temurun. Dari bapak ke anak, lalu ke cucu dan cicit. Tapi sekali lagi, hanya di wilayah mungil itu, tidak di wilayah lain. Mengapa?

Jawaban sederhananya adalah, konsep nabi atau utusan, itu memang konsep orang di wilayah itu. Sebenarnya, orang-orang yang dianggap nabi itu adalah pemikir, pemimpin, guru, filusuf, atau raja di tempat itu. Karena berbagai keistimewaannya, orang tak lagi menganggap ia manusia biasa. Ia dianggap sebagai orang yang punya hubungan khusus dengan Tuhan. Dalam makna ini Sidharta Gautama atau Kong Hu Cu itu sebenarnya sama saja dengan Musa, Ibrahim, atau Sulaiman. Hanya saja kosa kata nabi atau rasul memang tidak dikenal di wilayah selain wilayah mungil tadi.

Lalu kenapa ajaran Budha dan Kong Hu Cu berbeda dengan ajaran agama-agama Samawi? Bah, bukankah ajaran agama Yahudi, Kristen, dan Islam itu juga berbeda-beda? Agama-agama itu hanya memiliki persamaa-persamaan, namun mustahil untuk disebut sama. Yang ada hanyalah usaha atau klaim untuk menyamakannya. Tidak hanya berbeda, ketiga agama itu bahkan saling bermusuhan. Bukankah konflik yang melibatkan agama di muka bumi sekarang sebagian besar terkait dengan 3 agama itu?

 

 

Memikirkan Azab

Ini cerita berulang. Ada suatu kaum yang ingkar pada Tuhan. Tuhan mengirimkan utusan pada mereka, untuk meluruskan. Sebagian menerima, sebagian lagi menolak. Lalu Tuhan menurunkan azab kepada mereka, sehingga mereka binasa. Selesai? Tidak. Ada lagi kaum yang lain, yang ingkar juga. Di akhir cerita kaum ini diazab juga. Lalu ada kaum yang lain lagi. Begitu seterusnya.

Dari kisah berulang itu di benak saya timbul pertanyaan. Kenapa Tuhan perlu mengulang-ulang hal yang sama? Tidakkah terlihat bahwa Tuhan gagal memberi pelajaran kepada manusia, karena masih selalu saja ada manusia yang ingkar dan mereka harus diazab lagi? Tidakkah Tuhan yang maha kuasa punya cara yang lebih efektif yang bisa memastikan bahwa keingkaran manusia tidak akan terulang lagi?

Ketika azab diturunkan, Tuhan tak pilih-pilih. Yang ingkar dan yang patuh kena semua. Bahkan anak-anak yang tak berdosa pun kena. Tuhan, tidakkah Kau punya cara yang lebih efektif dan selektif dalam menghukum hambaMu? Bukankah seharusnya yang ingkar saja yang kau azab.

Orang-orang yang diazab itu binasa. Mati. Selesai. Tapi nanti dulu. Bukankah semua umat manusia yang hidup di muka bumi ini pada akhirnya memang akan mati? Jadi apa maknanya mereka yang ingkar dibinasakan? Tanpa diazab pun toh mereka pasti mati, bukan? Apa bedanya dengan yang tidak diazab?

Lalu, kalau kita perhatikan, azab sering kali terlihat “salah sasaran”. Aceh kena tsunami. Kata sebagian orang ini azab Allah. Tapi kenapa Aceh yang Serambi Mekah? Kenapa bukan Bali yang masyarakatnya adalah penyembah berhala? Kenapa bukan Jakarta yang lebih banyak maksiatnya?

Bila kita tarik lagi ke belakang, masalahnya akan sama. Tuhan menciptakan malaikat dan iblis. Lalu Ia menciptakan manusia. Malaikat dan iblis disuruh sujud kepada manusia. Iblis menolak, lalu Tuhan murka dan mengutuknya. Mengapa iblis disuruh sujud? Untuk mengujinya. Tapi mengapa Tuhan yang maha tahu perlu menguji? Menguji itu adalah cara untuk mengetahui yang tidak diketahui. Tuhan tidak perlu menguji, karena Ia maha tahu.

Lalu iblis meminta hak untuk menggoda manusia, untuk menyesatkan mereka. Tuhan memberi hak itu. Manusia yang berhasil digoda iblis, akan mendapat azab. Tapi kenapa? Kenapa tidak dibiarkan saja manusia hidup menyembah Tuhan tanpa perlu digoda? Atau lebih sederhana, kenapa tidak diciptakan saja para hamba penyembah Tuhan yang patuh?

Lalu orang akan berkata, itulah rahasia Tuhan. Akal manusia yang terbatas tidak akan pernah bisa memahaminya. Bukan. Big no! Sangat jelas bahwa tidak ada hal rumit yang tak bisa dijangkau akal dalam hal ini. Tidak rumit sama sekali. Masalahnya sederhana, yaitu kesemrawutan wacana. Wacananya sejak awal memang parsial, yang kemudian terlihat kacau bila dilihat secara komprehensif. Tapi lebih dari itu. Wacananya memang tidak dibuat untuk manusia yang berada di ruang nalar. Wacananya dirancang dalam setting di mana nalar diistirahatkan, dogma menjadi dominan.

Cerita tentang azab adalah bagian dari kitab suci yang bagi saya mustahil wujud di ruang nyata. Saya menganggapnya hanya mitos yang dipakai untuk mengajarkan nilai-nilai, untuk menggiring orang agar patuh pada suatu tatanan. Cara ini berhasil pada masyarakat ribuan tahun yang lalu. Tapi sungguh menyedihkan bila cerita-cerita ini masih dianggap sebagai kejadian nyata oleh masyarakat ribuan tahun kemudian, ketika sebab-sebab gempa, banjir, atau topan sudah diketahui.

Masyarakat kini tak perlu lagi mempercayai mitos-mitos azab. Kita hanya perlu mempromosikan kebaikan karena kebaikan itu baik. Bukan karena kita takut pada azab Tuhan. Ketiadaan azab Tuhan tidak perlu membuat kita menjadi tidak baik. Kita juga tidak perlu takut untuk memperbaiki definisi-definisi kebaikan, sesuai kebutuhan zaman ini. Tidak perlu mempertahankan definisi kebaikan yang dibuat untuk masyarakat ribuan tahun yang lalu, bila kita rasa definisi itu sudah tidak patut lagi.