Monthly Archives: December 2015

Mimpi tentang Sekolah Vokasi

Mimpi tentang Sekolah Vokasi

Saya pernah punya atasan lulusan sekolah vokasi. Di Jepang namanya kousen, singkatan dari “koutou senmon gakkou”. Kousen ini adalah sekolah vokasi Jepang. Masa pendidikannya 3+2 tahun, sejak seseorang tamat SMP. Artinya seseorang yang masuk sekolah ini bisa menamatkan pendidikan selama 3 tahun (setara SMK), atau menambah lagi 2 tahun, setara D2. Atasan saya ini tamat sekolah setara SMK.

Waktu mengurus izin kedatangan dia ke Indonesia sempat terjadi masalah aplikasi visa. Sebabnya, dia hanya lulusan SMK. Aturan ketenagakerjaan menetapkan tenaga kerja asing hanya boleh bagi yang berijazah perguruan tinggi.

Apakah dia ini orang ecek-ecek? Tidak. Dia adalah pakar plastic molding injection. Di perusahaan induk, sebelum bertugas di Indonesia, dia adalah deputy factory manager. Di Indonesia dia adalah managing director, penanggung jawab operasi perusahaan secara keseluruhan. Saya direktur di bawah dia. Tidak hanya soal teknis dan manajemen produksi yang sanggup dia tangani. Dia juga punya konsep yang baik soal HRD, keuangan, dan lain-lain, yang membuat dia memang layak untuk menjadi pimpinan perusahaan. Tahun lalu dia dipanggil pulang, dan kini menjadi managing director di perusahaan induk di Jepang.

Dalam impian saya, anak-anak sekolah vokasi itu jangan sampai diset atau diarahkan untuk sekedar menjadi pekerja atau buruh saja. Tapi yang utama menjadi seorang pembelajar. Ia sanggup belajar, menekuni hal-hal teknis, meningkatkan kompetensinya secara terus menerus, hingga ia mencukupi dirinya untuk mendapatkan sebuah amanah yang besar. Maka bagi saya, sekolah vokasi selain mengajari anak-anak soal kompetensi teknis, sejatinya juga membangun karakter mereka.

Jadi, karakter apa yang perlu ditumbuhkan di sekolah vokasi?

1) Visi dan mimpi. Anak-anak harus punya mimpi, mimpi yang tinggi, yang sepertinya mustahil untuk dicapai sekalipun. Kemudian mereka mempersiapkan diri untuk mewujudkannya menjadi nyata.

2) Memiliki kecintaan, kebanggan, dan passion pada bidang yang ia tekuni, ia terus menerus menggali dan menambah ilmu dan keterampilan yang ia miliki. Ia juga tidak segan belajar hal-hal lain di luar itu.

3. Peduli dan mementingkan aspek keselamatan kerja.

4. Memiliki etos kerja yang baik: tangguh dan tidak gampang menyerah, tertib, disiplin, dan menghargai orang lain.

5. Kreatif dan mandiri.

Kalau mau ditambahkan, masih banyak lagi hal yang bisa ditambahkan. Tapi poin terpentingnya adalah, saya bermimpi tentang seorang lulusan sekolah vokasi yang punya skill tinggi, dan terus menambahnya, punya etos kerja tinggi, kreatif, mandiri, dan tangguh.

Bagaimana sekolah bisa mempersiapkan itu, di situlah tantangannya. Sekolah tidak boleh hanya sekedar menjadi ruang kelas dan bengkel. Sekolah harus menjadi sebuah padepokan pendidikan, dengan guru-guru berfungsi sebagai resi pendidik. Sikap-sikap di atas tidak dibentuk dengan ceramah-ceramah di ruang kelas, melainkan melalui berbagai kegiatan di lapangan. Mulai dari anak masuk pagar sekolah, hingga keluar lagi saat pulang.

Bagaimana teknisnya? Ini memerlukan diskusi panjang dengan para guru. Tapi sebelum itu, para guru sendiri harus memiliki karakter tersebut. Sanggupkah?

Tepat Waktu

Ketika saya baru mulai bekerja di perusahaan tahun 2007, ada teman bertanya,”Kang, apa nggak stress kerja di perusahaan Jepang?”

“Stress kenapa?”

“Kan orang Jepang itu sangat ketat soal waktu. Terlambat satu dua menit saja jadi masalah.”

Saya tidak menjawabnya secara langsung.

“Anda muslim kan?” saya balik bertanya.

“Iya, dong.”

“Kalau Anda sahur, boleh nggak telat? Misalnya sudah azan subuh, Anda masih terus makan. Cuma lewat 2 menit, boleh nggak?”

“Nggak boleh, dong.”

“Kalau begitu, kenapa telat masuk kantor 1-2 menit Anda anggap boleh?”

Puasa dan salat bagi saya adalah latihan untuk membangun kebiasaan tepat waktu. Sayangnya banyak orang yang tidak menyadarinya. Juga banyak orang yang tidak menyadari pentingnya tepat waktu.

Orang sering mengatakan,”Masyarakat di negara maju itu tepat waktu.” Ini pernyataan yang terbalik. Pernyataan yang benar adalah, “Negara-negara itu maju karena mereka tepat waktu.” Negara-negara maju umumnya menggunakan kereta api atau subway sebagai moda transportasi kota-kota besar. Pada jam sibuk, kereta tiba dan berangkat di suatu stasiun setiap 2-3 menit sekali. Kalau masinis dan pengelola lalu lintas kereta biasa molor 2-3 menit, apa yang terjadi? Tabrakan! Sistem kereta api modern hanya bisa dikelola oleh manusia-manusia yang tepat waktu.

Toyota menerapkan sistem produksi “Just in time”. Komponen setiap produk yang diproduksi, dikirim dari pemasok, tidak masuk ke gudang. Komponen dikirim langsung ke tempat produksi. Tentu saja jumlahnya tidak banyak, hanya cukup untuk keperluan produksi 2-3 jam. Karena itu pemasok mesti melakukan pengiriman sampai 8-10 kali sehari, secara tepat waktu. Tidak boleh lebih cepat dari jadwal, juga tidak boleh terlambat.

Dengan sistem produksi ini Toyota tidak memerlukan gudang. Artinya, tidak perlu menghabiskan uang untuk bangun gudang, menggaji penjaga gudang, membuat sistem pengelolaan gudang, dan tidak perlu ada resiko barang rusak atau hilang di gudang. Ini salah satu keunggulan sistem manajemen Toyota. Sistem ini hanya bisa berjalan kalau pengelolanya tepat waktu.

Orang Islam sudah disediakan Tuhan tool atau perangkat untuk melatih diri agar tepat waktu. Tapi jarang ada yang memakainya. Bahkan jarang ada yang sadar bahwa tepat waktu itu sangat penting. Puasa, kata Rasulullah, sering kali hanya menghasilkan lapar dan dahaga.