Monthly Archives: November 2015

Putramu bukanlah Putramu

gibran

Di kuliah uumum saya di Mataram saya menerima keluhan dari mahasiswa. “Saya itu nggak minat kuliah, Pak. Saya tadinya mau berbisnis. Saya sudah kumpulkan modal, siap mulai. Tapi orang tua saya memaksa saya kuliah. Saya bingung mau kuliah apa, karena saya nggak minat. Akhirnya saya masuk ke sini, prodi pendidikan fisika. Walau saya nggak tahu apa itu fisika.”

Saya beri dia nasihat kecil. “Kamu bisa tetap melaksanakan keduanya. Kuliah jalan, tapi jalankan juga bisnismu.”

Usaha orang tua untuk mengarahkan (memaksa) anak-anaknya untuk jadi ini dan itu suatu saat mungkin akan gagal. Karena, seperti kata Gibran, putramu bukanlah putramu. Mereka adalah putra putri kehidupan yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka akan jadi anak panah yang lepas dari busur. Begitu kau lepaskan, kau tak lagi bisa mengendalikannya.

Di zaman ini seorang dokter bisa jadi artis atau pedagang. Ahli nuklir bisa jadi pengamat media sosial. Hidup penuh tikungan tak terduga, kata seorang teman. Saya yang berniat jadi guru, “terpaksa” jadi GM. Life is never flat.

Apakah kita masih berpikir untuk menentukan hidup anak kita, misalnya, dengan memaksa mereka kuliah mengambil jurusan sesuai selera kita? Menurut saya itu perbuatan sia-sia. Kita tidak hanya menyiksa anak, tapi juga menipu diri. Kita tidak pernah tahu akan jadi apa anak kita kelak. Karena ada suatu saat di mana kita tak bisa lagi mengontrol mereka, dan mereka akan jadi apa saja.

Maka saya lebih suka mendorong anak-anak saya untuk belajar, memperkenalkan mereka dengan berbagai pengetahuan, serta berbagai profesi. Saya hanya berharap mereka berminat pada sesuatu, lalu menekuninya. Tekun, itulah kuncinya. Anak hanya perlu semangat untuk menekuni sesuatu. Apa yang dia pilih untuk ditekuni, tidak jadi soal. Bisa jadi pula ia akan berganti minat kelak. Tak masalah. Karena orang tekun akan sukses di mana saja.

Bahkan kalau anak saya memilih untuk tidak kuliah demi menekuni sesuatu, saya akan dukung. Tidak semua orang perlu jadi sarjana!

 

Guru untuk Anak, Guru untuk Bangsa

Tadi malam saya sebenarnya sedang sangat lelah. Sejak Senin saya ada tugas di Tangerang, sampai besok. Hari Senin jalan macet luar biasa. Walhasil, 4 jam perjalanan baru tiba di rumah. Tadi malam sedikit baik, kurang lebih 3 jam sudah bisa tiba di rumah. Seperti biasa, tiba di rumah saya disambut oleh jeritan girang Kenji, dilanjutkan pelukan hangat.

Usai makan malam, kami berkumpul di ruang duduk. TV saya matikan. Ghifari minta dibimbing menyiapkan pidato untuk acara di kelasnya. Ia diminta memberi ceramah tentang pentingnya menuntut ilmu. Saya tuntun dia untuk menghafal hadist tentang menuntut ilmu. Kemudian saya bimbing dia menuliskan naskah pidatonya di komputer.

Sementara itu Sarah juga tidak sabar. Ia memandangi tabel periodik elemen dengan penuh minat. Banyak pertanyaan yang ia ajukan selama saya membimbing Ghifari. Tapi saya tak bisa meladeninya, karena harus fokus dulu ke Ghifari. Sarah jadi sedikit ngambek.

Lalu Kenji pun tak mau kalah. Ia duduk di pangkuanku. “Ayah, aku mau latihan nulis,” katanya. Apa boleh buat. Kusuruh Kenju mengambil kursi dan buku tulis, lalu kudiktekan kalimat-kalimat yang harus ia tulis. Sambil mendiktekan kalimat-kalimat untuk Ghifari, aku juga harus melakukan hal yang sama untuk Kenji. Selepas itu Kenji juga menuntut untuk mengetik tulisannya ke komputer. Bah, komputer tak cukup, karena laptop yang satu lagi dipakai Sarah untuk browsing mencari informasi soal tabel periodik. Akhirnya Kenji mau mengalah, menuliskan kalimat-kalimatnya di tablet saja.

Selesai Ghifari menulis naskah, barulah saya punya waktu untuk Sarah. Pertama saya jelaskan sedikit tentang teori atom berdasarkan teori Rutherford. Lalu saya jelaskan komposisi inti atom, yang terdiri dari proton dan netron. Struktur atom yang seperti itu membuat atom memiliki ruji yang berbeda-beda. Lalu saya carikan tabel periodik yang agak lengkap, menunjukkan tidak hanya nomor atom, tapi juga berat, ruji, bilangan ionisasi, dan sebagainya. Saya perkenalkan bahwa tabel periodik itu memuat banyak informasi, tidak sekedar nomor atom seperti yang selama ini dia kenal.

Peliknya, Sarah menjadi semakin tidak sabar. Ia haus informasi.

“Ini apa? Apa maksudnya not observed?”

Ia menunjuk ke atom nomor 117.

“Oh, itu atom yang belum bisa dibuat, tapi sudah bisa diprediksi secara teoretis.”

“Oh, ada atom yang dibuat ya?”

“Iya, itu yang ada gambar orang, itu artinya atomnya buatan manusia.”

Keinginan saya untuk menjelaskan struktur atom dan tabel periodik sementara terputus oleh pertanyaan tentang atom buatan. Saya harus sejenak menjelaskan soal atom-atom buatan manusia, perbedaannya dengan atom natural, radiokatif, dan seterusnya.

Setelah itu barulah saya menjelaskan susunan elektron-elektron dalam atom, yang menjadi dasar penyusunan tabel periodik. Saya jelaskan sedikit tentang mekanisme ikatan antar atom ketika atom-atom itu membentuk senyawa.

Ada banyak lagi hal yang ingin ditanyakan Sarah.

“Sudah malam, sekarang waktunya tidur.”

Ia menurut. Tapi dalam setiap geraknya ia berhenti sejenak, mencoba menawar, bertanya lagi tentang berbagai hal. Dari kamar istri saya keluar, memberi ultimatum untuk segera tidur. Saya ke kamar, menemui Ghifari dan Kenji sedang asyik baca buku. Saya kira tadi mereka sudah tidur. Usai peluk cium barulah lampu kamar anak-anak dimatikan, lalu saya sendiri bersiap untuk tidur.

Badan lelah. Tapi saya harus melayani anak-anak saya. Tak banyak yang bisa saya ajarkan karena keterbatasan waktu. Tapi ada hal penting di situ. Anak-anak menikmati proses belajar. Mereka menemukan jawaban, lalu membuat pertanyaan baru. Rasa ingin tahu yang terpuaskan, membangun rasa ingin tahu yang baru, yang lebih besar. Kadang mereka mencari sendiri jawabannya. Sebagian saya bimbing untuk mereka temukan jawaban.

Proses belajar tidak harus dalam suasana buka buku seperti tadi malam. Kadang sambil berkendara, makan, atau sambil bermain. Selalu ada hal yang bisa diajarkan ke anak-anak.

Saya dibesarkan oleh orang tua yang tak sekolah. Saya kira banyak generasi saya yang demikian. Saya beruntung bisa menikmati pendidikan hingga jenjang doktoral. Maka, anak-anak saya harus menikmati pendidikan yang lebih baik dari saya dulu. Orang tua saya tak bisa mengajarkan banyak hal pada saya. Tapi saya bisa melakukannya. Maka saya lakukan itu, untuk membuat perbedaan.

Kalau kita tak punya teknologi saat ini saya maklum. Karena kita dididik oleh para orang tua yang rendah pendidikannya. Tapi generasi anak-anak kita seharusnya sudah lebih baik. Karena mereka dihasilkan dari generasi terdidik.

Tapi ingat, tak ada makan siang gratis. Tak ada kejayaan tanpa keringat. Untuk Indonesia yang mandiri dan maju, kita harus jadi guru bagi anak-anak kita. Menjadikan mereka lebih kreatif dan inovatif. Masa depan Indonesia 30 tahun ke depan di tentukan oleh hari-hari ini, di rumah-rumah dan sekolah-sekolah kita. Apakah Anda berperan di situ?

Gathukology dan Obsesi Islam Kaffah

gathukAda banyak orang yang terobsesi untuk mencocokkan Quran dengan sains. Klaimnya, banyak fakta sains yang baru diketahui manusia pada abad ke XX ini sudah tertulis di Quran. Sebutlah misalnya soal proses perkembangan embrio, gunung yang berjalan, gunung sebagai pasak bagi bumi, teori big bang, besar kecepatan cahaya, dan sebagainya. Lebih dahsyat lagi, kecocokan Quran dan sains modern itu diklaim telah menyebabkan banyak ilmuwan dan profesor masuk Islam. Uniknya, Keith Moore dan Maurice Bucaille, dua tokoh yang menulis buku tentang kecocokan Quran dan sains, tidak pernah ada konfirmasi tegas soal status keislamannya.

Lebih parah lagi, pencocokan ini kemudian diikuti dengan produksi berbagai fakta palsu alias hoax. Misalnya tentang “fakta ilmiah” tentang larangan pemakaian emas. Atau tentang penelitian terhadap sayat lalat, dan sebagainya.

Apa sebenarnya yang mendorong adanya semangat ini? Pertama, ini yang sering dikemukakan, Quran cocok dengan sains adalah bukti bahwa Quran ini kebenaran yang datang langsung dari Allah. Tidak mungkin ini karangan Muhammad. Karena nabi Muhammad tidak mengerti sains, bahkan seorang yang buta huruf. Jadi, ia hanya menyampaikan fakta-fakta saja, yang baru kemudian hari, belasan abad kemudian dipahami orang.

Kadang saya berpikir, sadarkah orang-orang ini bahwa mereka sebenarnya sedang melecehkan Quran dan nabi Muhammad? Coba bayangkan. Nabi Muhammad (dianggap) tidak mengerti sains. Fakta-fakta sains yang dimuat di Quran itu tidak mungkin dipahami manusia abad ke VII, zaman nabi masih hidup. Lalu, apakah itu berarti nabi menyampaikan sesuatu yang tidak ia pahami? Sekedar perekam pesan tanpa paham maknanya?

Quran adalah petunjuk yang nyata. Artinya jelas. Lalu, bagaimana mungkin sebuah petunjuk tidak dipahami orang selama belasan abad bisa disebut petunjuk yang jelas? Apa bukan sebaliknya, ini sebuah petunjuk yang kabur?

Ada pula yang berargumen, kalau fakta-fakta sains itu dimuat dalam bahasa yang tegas dan jelas, dikhawatirkan orang-orang pada masa itu akan menolaknya, karena berbeda dengan kenyataan yang mereka hadapi. Kalau begitu, kenapa orang-orang itu bisa menerima kabar tentang perjalanan Isra’ Mikraj, yang jelas tidak masuk akal pada zaman itu? Argumen ini sekaligus menempatkan Allah seperti tak berkuasa memberi petunjuk kepada manusia, takut manusia tak paham, dan seterusnya.

Ada satu hal lagi yang sebenarnya menjadi pendorong bagi paham ini, yaitu bahwa Quran itu benar dalam setiap ayat dan hurufnya. Benar secara tekstual. Benar seperti apa adanya. Karena ia benar pada setiap ayat dan hurufnya, maka ia harus pula dilaksanakan ayat per ayat, sebagaimana tertulis. Ia boleh dilepaskan dari berbagai konteks yang menjadi latar belakangnya. Ia harus dilaksanakan, sebagaimana orang-orang abad VII menerapkannya, tanpa mempertimbangkan perubahan kondisi dan zaman. Penerapan yang demikian itu disebut dengan Islam kaffah.

Terhadap orang-orang macam ini sering saya sodorkan ayat-ayat yang memuat frase “azwaazukum (atau azwaazuhum) aw maa malakat aimaanukum”. Frase ini menjelaskan bahwa penyaluran kebutuhan seksual dapat dilakukan terhadap istri-istri dan budak-budak yang dimiliki. Frase ini bertebaran di seluruh antero Quran. Silakan laksanakan, biar kaffah. Lalu mereka kehilangan konsistensi, mendadak menjadi liberal, menyatakan bahwa Islam sebenarnya menginginkan penghapusan perbudakan secara bertahap. Padahal tidak ada satupun ayat maupun hadist yang tegas mengharamkan perbudakan, sebagaimana tegasnya pengharaman khamar atau daging babi.

Ziauddin Sardar mengungkapkan fakta menarik, bahwa ada 700 lebih ayat yang menyuruh orang untuk memperhatikan alam. Ilustrasinya disesuaikan dengan pengetahuan manusia pada masa itu. Jumlah ini kontras dengan jumlah ayat-ayat tentang hukum, yang jumlahnya tak lebih dari 300. Lebih menarik lagi, Quran bahkan menantang manusia (sejak zaman itu) untuk mengarungi langit.

Apa artinya ini? Quran tidak menjabarkan satu per satu fakta tentang alam. Kenapa? Karena tidak perlu! Fakta tentang alam tidak ada yang statis sifatnya, tidak fixed. Sains hanyalah kumpulan pemahaman manusia tentang alam, bukan alam itu sendiri. Karena itu sains selalu berubah. Maka, alih-alih memberi penjelasan tegas soal ini dan itu, Quran lebih banyak menyuruh untuk melakukan pengamatan. Tafakkur, ta’qil, tadabbur. Lihat, pelajari, pikirkan, manfaatkan. Sayangnya pesan ini tidak bisa ditangkap. Orang-orang Islam kebanyakan lebih terobsesi untuk memperlakukan Quran sebagai kitab hukum, untuk membekukan peradaban seperti peradaban manusia abad ke VII.

 

 

 

Awliya

Sudah banyak dibahas sebenarnya, awliya itu jamak dari wali. Apa makna kata ini? Maknanya banyak. Wali yang utama adalah Allah. “Allahu waliyyul laziina aamanu………” “Nahnu awliaakum fil hayatid dunya……….” Ada banyak ayat yang menyebutkan bahwa Allah adalah wali bagi orang-orang yang beriman. Dalam hal ini maknanya adalah pelindung serta pembimbing, juga penolong. Tentu saja makna ini tidak akan kita bahas lebih lanjut, karena yang akan jadi topik pembicaraan adalah wali dan awliya dalam konteks hubungan sesama manusia.

Apa makna kata wali/awliya dalam konteks hubungan sesama manusia? Ayat-ayat yang memuat kata wali/awliya diterjemahkan secara beragam, namun memuat makna yang nyaris sebangun. Ada yang menerjemahkannya sebagai teman, sekutu, juga pemimpin. Mana yang benar? Namanya tafsir, selama tidak melenceng dari kata dasarnya, maknya benar semua. Mana yang paling benar? Wallahu a’lam.

Ayat yang sering menjadi rujukan dalam diskusi soal pemimpin non-muslim, yaitu Al-Maidah 51, terkait dengan kesepakatan yang dibuat oleh Abdullah bin Ubay (tokoh yang sering disebut sebagai orang munafik) dan Ubadah bin Ash-Shamit membuat semacam perjanjian aliansi, isinya untuk saling melindungi dengan suku Yahudi Bani Qaunuqa. Belakangan kelompok ini memerangi nabi. Ubadah mendatangi rasul untuk menyatakan sumpah setia dan berlepas diri dari perjanjian itu. Ayat ini semacam penegasan bahwa perjanjian semacam itu tidak boleh lagi dibuat.

Menarik untuk disimak bahwa kejadian ini hanya melibatkan satu kaum saja, yaitu Yahudi Bani Qaunuqa. Namun peringatan yang diberikan meliputi kaum Yahudi, dan bahkan Nasrani. Padahal kaum Nasrani tidak terlibat dalam kejadian ini. Karena itulah ulama seperti Sayyid Qutb dalam tafsir Fii zilaalil quran menyatakan bahwa ayat ini merupakan pedoman dasar yang berlaku secara umum, tidak terikat pada konteks kejadian asbabun nuzul di atas.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dikisahkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan Abu Musa Al-Asy’ari untuk menyerahkan catatan keuangan. Abu Musa mempersiapkan catatan ini dengan bantuan seorang Nasrani. Ketika mengetahui hal ini Umar berkata,”Segera bawa dia keluar dari sini (Madinah).” Lalu Umar mengutip ayat di atas.

Berdasarkan pandangan-pandangan seperti ini maka banyak orang berpendapat, haram hukumnya bekerja sama, berteman, bersekutu, dan tentu saja mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ingat, bukan sekedar mengangkat sebagai pemimpin, tapi menjadikan mereka pembantu dalam suatu urusan, dan berteman dengan merekapun dilarang.

Tapi ada hal yang juga menarik untuk disimak. Ketika nabi dalam tekanan Quraisy saat baru mulai berdakwah di Mekah, ia memerintahkan beberapa sejumlah orang untuk hijrah ke Habasyah (Etopia) dan meminta perlindungan pada seorang raja di sana. Raja itu kebetulan beragama Nasrani. Ia melindungi para pengungsi itu. Bahkan ketika kaum Quraisy memintanya mengembalikan orang-orang yang meminta perlindungan itu, ia menolak. Artinya ia betul-betul memberikan perlindungan. Kejadian ini kemudian direkam dalam ayat lain di surat yang sama, ayat 82, menyatakan bahwa orang-orang Yahudi itu sangat keras permusuhannya, namun orang-orang Nasrani tidak demikian halnya.

Jadi bila kita bandingkan, ada ayat yang mengatakan bahwa orang Yahudi dan Nasrani itu musuh yang tidak boleh diambil sebagai kawan maupun pemimpin. Tentu saja tidak boleh dimintai perlindungan. Namun fakta sejarah juga bahwa ada kalanya orang Nasrani dimintai perlindungan, dan mereka memberikannya. Bila kita hanya mengacu pada teks saja, tanpa melihat konteks, maka kita akan menemukan ada kontradiksi antar kedua ayat. Padahal dalam doktrin dasar, mustahil Quran itu mengandung pertentangan di dalamnya.

Jadi bagaimana penjelasannya? Pendapat-pendapat yang kukuh berpegang pada prinsip bahwa Yahudi dan Nasrani itu tidak boleh dijadikan teman menyakatan bahwa kejadian ini, ayat ini, adalah pengecualian. Nah, kalau sudah muncul istilah pengecualian sebenarnya sudah diakui ada konteks pada suatu ayat. Demikian pula ayat lain, juga terikat konteks. Dalam hal ayat 51 tadi ada yang membatasi makna kata awliya dalam ayat tadi terbatas dalam konteks saat itu, ketika umat Islam dalam keadaan berperang, dan kaum Yahudi tidak berada di pihak mereka.

Kalau ayat Quran saja terlingkupi oleh konteks tertentu, maka sudah tentu tafsir pun memiliki konteksnya pula. Tafsir itu mengandung subjektifitas penafsir. Kapan seseorang hidup, hal-hal apa yang dia saksikan, akan sangat berpengaruh pada tafsir yang ia hasilkan. Para ulama sepakat bahwa orang boleh berbeda dalam penafsiran.

Apakah ada tafsir yang berbeda? Ada. Prinsipnya, kalau mereka (Yahudi maupun Nasrani) tidak secara nyata menunjukkan permusuhan, maka tidak dilarang untuk bekerja sama dengan mereka. Tentu saja definisi “menunjukkan permusuhan” itu sendiri pun bisa sangat multi tafsir. Atas dasar pandangan seperti ini sebagian kalangan NU tidak menganggap haram mengangkat orang dari kalangan non-muslim sebagai pemimpin. Terlebih bila pemimpin yang dimaksud hanya sebatas kepala daerah, yang tidak secara langsung punya jalur komando kepada angkatan bersenjata, dan dikawal dengan berbagai mekanisme pengawasan. Dalam hal yang disebutkan terakhir ini, konteks bahasannya sudah sangat jauh dari situasi yang menjadi latar belakang turunnya ayat 51 di atas.

Saya orang awam. Pembaca tulisan ini kebanyakan juga adalah orang awam. Kita ini tahu agama cuma dari baca-baca sedikit, dan dengar-dengar sedikit. Yang bisa kita lakukan hanyalah ikut pada salah satu pendapat. Sebagi pengikut sebaiknya kita pilih saja pendapat yang kita setujui, dan bersitiqamah dengan pilihan itu. Orang lain punya pilihan lain. Perbedaan pendapat itu ada di wilayah ijtihad. Dalam wilayah ijtihad, tidak boleh satu pendapat menggugurkan pendapat pihak lain.

Maka menurut saya tak patut bila ada orang awam yang kukuh pada pendapat yang ia ikuti, dan menuding atau meragukan iman orang-orang yang berbeda dengan dia. Dia tidak berhak melakukan itu. Jadi, kalau berbeda pendapat, berhentilah mengajukan pertanyaan: Anda muslim?

Ahok Musuh Islam

cholil

Dia memperjuangkan kesejahteraan bagi rakyat yang sebagian besar adalah orang Islam. Itu sebuah penghinaan! Emang dia kira umat Islam butuh diperjuangkan ya? Ahok, gue kasih tahu elu ye. Umat Islam itu kaya raya. Lihat itu Haji Lulung, pemimpin partai Islam. Mobil sport dia punya berape? Die meludah aja jadi duit!

Ahok akan membuat program pemberantasan buta huruf Quran. Ini pelecehan! Mana ada orang kafir yang peduli orang bisa ngaji atau kagak. Urusan beginian sudah lama diberesin oleh dai-dai FPI. Ente kagak tahu ye? Dai-dai FPI itu 24 jam nongkrong di berbagai tempat di pemukiman warga, siap memberikan pelajaran mengaji kepada siapa saja yang membutuhkan. Sayangnya banyak yang nggak mengerti tujuan kehadiran mereka. Bukannya pada ngaji, malah warga mengumpulkan sedekah keamanan.

Ahok menutup diskotik. Ini juga pelecehan! Itu tugas FPI! FPI sudah membasmi tempat-tempat maksiat. Semua sudah disapu bersih oleh FPI. Yang tersisa tinggal tempat hiburan keluarga seperti Alexis itu.

Jadi sangat jelas bahwa Ahok itu musuh Islam yang kerjanya selalu melecehkan umat Islam.