Monthly Archives: November 2015

Anak Juara (2)

Pada prinsipnya anak juara adalah anak yang mampu belajar. Ia menikmati kegiatan belajar, kemudian bisa memanfaatkan setiap kesempatan sebagai tempat untuk belajar. Kelak ia akan menjadi pembelajar mandiri, sanggup menyerap setiap informasi, dan mengolahnya menjadi pengetahuan. Tidak cuma itu, ia juga sanggup mempelajari sesuatu dengan cepat (quick learner).

Apa yang harus dipelajari? Semua hal. Hal-hal yang sifatnya pengetahuan, tata krama, juga yang sifatnya keterampilan. Termasuk di dalamnya keterampilan mengendalikan diri, atau menerima kekalahan.

Belajar sering kali menjadi sesuatu yang menyiksa bagi anak-anak. Karena itu anak perlu dibiasakan belajar dengan cara yang menarik. Harapan kita, kelak dia akan bisa membangun metode belajar yang tepat, mudah, dan menarik, bagi dirinya sendiri.

Bagaimana cara belajar yang mudah? Kita semua tahu bahwa ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Maka, mari kitabawa anak-anak belajar melalui pengalaman.

Pertama, mari kita bawa pelajaran ke ruang pengalaman, dengan melakukan berbagai pengamatan di alam, juga melakukan eksperimen. Jenis-jenis akar pohon, misalnya, akan sulit dipahami dan diingat anak kalau kita hanya memperkenalkan mereka dengan nama-nama jenis akar. Ajak mereka mencabut pohon/rumput, perlihatkan akarnya. Mereka akan lebih mudah paham dan ingat. Ajak mereka mengukur suhu air yang kita masak, maka mereka akan lebih mudah ingat proses air mendidih, serta suhunya.

Saya mengajarkan prinsip aliras listrik dengan mengajak anak-anak saya merangkai kabel, memasang steker, stop kontak, dan saklar. Dengan cara itu mereka paham soal aliran listrik, sekaligus terampil membuat jaringannya.

Kedua, beri learning point pada hal-hal yang mereka alami. Misalnya saat berenang kita bisa menjelaskan hukum Archimedes. Saat melihat laut atau danau di pagi hari, dengan air yang menguap di permukaan, kita bisa jelaskan soal siklus air.

Saat masak di dapur saya biasa menjelaskan berbagai fenomena. Mengapa kerupuk menjadi melar dan garing setelah digoreng? Itu satu contoh soal yang bisa kita jelaskan. Kerupuk kering yang belum digoreng mengandung  air di dalamnya. Minyak goreng dipanaskan pada suhu yang lebih tinggi daripada air. Saat kita menggoreng, suhu minyak mencapai 150 derajat. Makakan yang mengandung air seperti kerupuk, ketika dimasukkan ke minyak panas akan menimbulkan gejala seperti mendidih. Yang mendidih itu adalah kandungan air tadi, yang langsung menguap. Tempat yang tadinya dihuni air membesar karena air memuai dari keadaan cair menjadi uap. Kemudian ia keluar meninggalkan ruang kopong. Inilah yang menyebabkan kerupuk melar dan garing.

Tapi, bagaimana menjelaskan itu semua kalau kita sendiri tidak tahu? Ya, kita harus tahu. Kalau tidak tahu bagaimana? Belajar! Menjadi orang tua adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Termasuk di dalamnya belajar hal-hal yang dibutuhkan anak-anak.

 

 

 

 

 

Anak Juara

Suatu hari beberapa tahun yang lalu, Sarah bertanya. “Ayah, aku kok nggak pernah juara?”

“Juara apa?”

“Juara apa saja. Teman-temanku punya banyak piala di rumahnya. Juara lomba mewarnai, juara matematika, juara nyanyi………”

“Oh, iya, kamu belum pernah. Bukan nggak pernah. Belum. Suatu saat nanti kamu akan jadi juara.”

“Tapi juara apa? Aku nggak merasa punya bakat apapun. Menggambar tidak bagus, nyanyi juga tidak. Nilai matematika pas-pasan.”

“Gini, nak. Bakat itu ada yang dibawa dari lahir. Tidak ngapa-ngapain, langsung hebat. Tapi ada juga yang perlu diasah. Kamu tahu nggak, intan itu tidak bening dan cemerlang ketika baru saja ditambang. Ia baru cemerlang setelah diasah ratusan kali.”

Bulan lalu Sarah menjadi juara 3 sebuah lomba karya tulis. Kemarin dia juara 2 kejuaraan karate Gojukai se Jawa Barat. Janji saya pada Sarah kini terwujud. Tapi bagi saya anak juara itu bukanlah sekedar anak-anak yang mengoleksi piala dan medali. Tanpa piala dan medali pun anak-anak kita tetap juara. Kita harus mengarahkan anak-anak untuk menjadi juara.

Pertandingan atau kompetisi terbesar yang dihadapi anak-anak kita adalah kehidupan itu sendiri. Akan ada begitu banyak pertandingan dan kompetisi di dunia nyata yang akan mereka hadapi. Setiap hari adalah latihan untuk menghadapi kompetisi itu, untuk memenangkannya. Bagaimana kita mempersiapkan mereka?

Saya sendiri tidak pernah menyiapkan anak-anak saya untuk mengejar piala-piala. Saya rajin mengajak anak-anak saya melakukan berbagai kegiatan eksperimen, tidak dalam rangka mengarahkan mereka pada olimpiade sains. Saya hanya ingin mengajak mereka mengeksplorasi, memperkaya pengetahuan. Anak-anak saya ikut latihan karate. Tak terpikir oleh kami bahwa suatu saat mereka akan bertanding. Kami hanya ingin agar mereka bisa bergaul dengan anak-anak tetangga, sambil berolah raga.

Mendidik anak-anak untuk jadi juara artinya menyiapkan anak-anak untuk tangguh menjalani hidup, menuju masa depan mereka. Hal terpenting dalam proses ini adalah belajar. Belajar tentang apa saja. Kita sering kali terlalu fokus pada pelajaran dalam makna akademik. Padahal anak kita memerlukan lebih banyak pelajaran. Terlebih, saat ini kita tidak tahu akan jadi apa anak-anak kita di masa depan. Dunia kini sungguh dinamis. Akan ada puluhan, bahkan mungkin ratusan profesi baru di masa depan, profesi-profesi itu belum ada wujudnya saat ini. Anak-anak kita mungkin akan menenekuni salah satunya. Bagaimana kita mempersiapkan anak-anak untuk menjalani profesi yang saat ini kita belum tahu wujudnya?

Belajar adalah kuncinya. Anak-anak harus kita biasakan belajar. Belajar tentang apa saja. Belajar dengan cara apa saja. Sampai mereka bisa melengkapi diri dengan ilmu dan keterampilan apa saja yang kelak mereka butuhkan. Sampai belajar itu menjadi darah daging, mereka menjadi orang yang belajar dalam setiap desah napas mereka, seumur hidup.

Menjadikan anak-anak kita juara artinya menyiapkan mereka untuk menjadi seorang pembelajar. Tantangannya adalah, bagaimana mengalihkan proses belajar itu dari hal yang menyiksa, menjadi hal yang menyenangkan. Karena itulah saya selalu duduk dan berdiri di dekat anak-anak saya sejak usia mereka dini. Saya carikan berbagai cara agar belajar itu jadi menarik dan menyenangkan. Juga saya ganti definis belajar itu, tak melulu menghadapi buku. Belajar bisa di dapur saat kita masak, di sungai atau gunung saat kami berkemah atau menjelajah, di laut saat kami berenang atau main kayak. Belajar juga bisa dilakukan saat kumpul-kumpul hajatan keluarga. Bahkan saat duka cita ketika ada yang wafat, itu adalah saat di mana anak-anak kita bisa belajar.

Menjadi juara artinya tak menyerah ketika kalah. Anak-anak harus diajarkan untuk terus mencoba, sampai bisa. Terus mencari tahu sampai tahu. Terus mencari sampai ketemu.

Antara Damaskus dan Ambon

Kita kini membicarakan Syiria dan ISIS seakan membicarakan orang lain, atau sesuatu yang jauh. Tapi sadarkah kita, betapa dekatnya kita dengan Syiria. Bukan dekat jarak, melainkan dekat situasi. Tentu kita masih ingat, bahwa belum lama berselang negeri kita hancur lebur oleh berbagai konflik agama dan etnis. Ambon dan Poso luluh lantak oleh konflik antara Islam dan Kristen. Sambas dan Sampit banjir darah oleh konflik etnis antara Dayak dan Madura.

Penting bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri, di manakah kita berdiri di hadapan konflik-konflik itu?

Saya dulu pembenci Kristen. Pernah suatu hari saya dan beberapa kawan mendatangi Rektor UGM. Kami mendengar bahwa di kampus UGM waktu itu akan didirikan gereja, seiring dengan adanya rencana mendirikan mesjid kampus. Kami mendatangi Rektor, meminta agar dia mencegah berdirinya gereja di kampus. Bagi saya dulu gereja adalah pusat kristenisasi. Jadi berdirinya gereja harus dilawan.

Saya dulu percaya bahwa pemerintah Orde Baru adalah pemerintah yang dikendalikan oleh orang-orang Kristen. Misi mereka adalah menjadikan Indonesia ini makin Kristen, dan kurang Islami. Karena itu Kristen adalah musuh politik dan musuh sosial bagi saya.

Dulu, dalam setiap konflik yang terkait dengan umat Islam, posisi saya tegas: saya pembela Islam. Saya percaya, setiap konflik bermula dari upaya musuh-musuh Islam untuk merusak Islam.

Lalu saya berangkat sekolah ke Jepang. Tak lama setelah itu meletuslah kerusuhan Ambon. Suatu hari sebuah email masuk ke komputer saya. Isinya foto-foto mengerikan, korban kerusuhan Ambon. Berita di foto mengabarkan, inilah korban-korban pembunuhan biadab oleh orang-orang Kristen. Saya sangat marah ketika itu. Esoknya foto-foto yang sama saya terima, tapi dengan berita yang berbeda. Isinya: inilah korban kebiadaban orang-orang Islam.

Lalu saya terduduk lemas. Saya coba mencari faktanya, mana yang benar. Tak saya temukan. Karena mayat-mayat itu tak lagi bisa bercerita tentang siapa mereka. Ketika sudah mati, tak penting lagi mereka itu Islam atau Kristen. Fakta yang penting di situ adalah: Mereka Mati!

Saya mensyukuri, punya kesempatan melihat Indonesia dari jauh. Punya kesempatan untuk melihat dengan sudut pandang berbeda. Akhirnya saya sampai pada kesadaran bahwa semua itu sia-sia. Permusuhan-permusuhan itu. Kita bahkan tak saling mengenal, tapi begitu tajam permusuhan di hati kita.

From a distance you look like my friend,
even though we are at war.
From a distance I just cannot comprehend
what all this fighting is for.

Saya memilih untuk membuang rasa bermusuhan itu. Saya memilih damai. Jangan sampai ada lagi orang-orang mati dalam permusuhan sementara mereka tak tahu apa yang mereka permusuhkan.

Di mana kita berdiri pada setiap konflik? Bila kita berada di satu pihak, maka kita adalah bagian dari konflik. Kita punya potensi untuk menjadi bagian yang lebih nyata dari konflik itu: ikut mengalirkan darah, melakukan pembunuhan. Karena semua bermula dari satu hal: kebencian.

Kini saya memilih berdiri di pihak manusia. Pada setiap konflik, wujudnya selalu rumit. Siapakah yang salah di Syiria? ISIS? Assad? Syiah? Sunni? Amerika? Irak? Saudi? Semua serba centang perenang, rumit. Yang tidak rumit adalah jawaban atas pertanyaan, siapa yang dikorbankan? Manusia! Tak peduli apa agamanya, apa mazhabnya, apa bangsanya, yang jadi korban semuanya manusia. Maka saya memilih untuk berpihak pada manusia.

Saya memilih untuk tidak menyimpan kebencian, atas dasar apapun. Khususnya atas dasar agama. Pesan-pesan bernada benci dalam kitab suci kita adalah sejarah saja. Itu rekaman kejadian di masa lalu. Kita tidak perlu mewarisinya, juga tak perlu mengawetkannya. Kita sedang membuat sejarah kita sendiri. Kita yang berhak menentukannya, bukan orang-orang yang hidup belasan abad yang lalu.

Bila kita gagal berpihak pada manusia, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Damaskus dan Ambon sangatlah dekat.

 

ISIS, Terorisme, dan Islam

isisMungkinkah kita mengatakan bahwa Islam tidak terkait sama sekali dengan terorisme? Huruf I pada singkatan ISIS itu kepanjangannya adalah Islam. Pelaku teror anggota ISIS itu secara formal beragama Islam. Dalam aksinya mereka memakai term-term Islam seperti jihad. Mereka juga mengutip ayat-ayat Quran sebagai dasar pembenar tindakan mereka. Lebih penting lagi, sebagian umat Islam mendukung mereka beserta tindakan mereka, secara nyata atau diam-diam.

Saya harus mengakui bahwa ISIS dan berbagai teror yang mereka lakukan, juga berbagai organisasi teroris berikut berbagai aksi teror mereka, adalah bagian dari Islam. Namun harus kita beri catatan, bahwa mereka bukan bagian terbaik, juga bukan bagian yang baik dari Islam. Mereka adalah bagian yang buruk dari Islam. Dapatlah kita katakan bahwa mereka adalah produk gagal dari Islam, produk afkir.

Ada banyak ayat Quran maupun hadist, yang bila diterapkan begitu saja sebagaimana tertulis, akan memicu orang untuk melakukan tindakan keji. Karenanya, ayat-ayat Quran itu harus dibaca dengan pemahaman atas konteksnya, dan diterapkan berbasis pada arus utama ajaran Islam, yaitu kebaikan dan perdamaian.

Sayangnya, ada begitu banyak orang Islam yang begitu terobsesi untuk menjalankan Quran dan hadist secara apa adanya, sesuai yang tertulis. Tak heran, yang mendukung ISIS baik secara terang-terangan maupun diam-diam, adalah orang-orang yang punya obsesi itu.

Quran maupun hadist bertebaran dengan perintah-perintah membunuh dan permusuhan, khususnya kepada Yahudi dan Nasrani. Perintah-perintah itu hidup dalam sanubari umat Islam. Ada yang secara aktif, seperti pada anggota ISIS itu. Ada pula yang pasif, hidup sebagai ajaran yang diimpikan, tapi tidak bisa diterapkan secara aktif, baik karena tidak berani, atau karena tidak memungkinkan untuk dipraktekkan.

Bagi saya, tidak semua ayat Quran itu bisa diterapkan untuk masa kini. Ada banyak yang harus ditinggalkan, karena situasi kita sekarang tidak sama lagi dengan situasi ketika ayat itu diturunkan. Selama seluruh kaum muslimin tidak tegas mengatakan hal ini, maka kita akan selalu menyaksikan berbagai kekejian berlabel Islam. Maka saya memilih untuk mengatakannya dengan tegas, dan terus menerus mengkampanyekannya.

Tentu saya juga tidak serta merta mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya faktor penyebab terorisme. Ada begitu banyak kerumitan, sehingga dalam satu sisi kita bisa mengatakan bahwa Islam maupun kaum muslim adalah korban dari berbagai konspirasi berbasis ketamakan terhadap hegemoni. Tapi sekali lagi, kita juga tidak bisa mengatakan bahwa Islam sama sekali terlepas dari semua itu.

Trapped in a Frame

trappedSaya pernah mengalami hal ini, dan saya yakin banyak orang mengalaminya. Saya sedang berada di dalam mobil di tempat parkir. Tiba-tiba saya merasakan mobil saya maju, bergerak perlahan ke depan. Sejenak saya panik. Bagaimana mungkin mobil saya bisa maju, padahal saya sedang menginjak rem. Refleks rem saya injak lebih keras. Tapi mobil tetap bergerak maju. Apakah saya salah injak pedal?

Oh, ternyata tidak. Saya tidak salah injak. Mobil saya pun tidak maju. Yang terjadi adalah mobil di sebelah saya sedang bergerak mundur perlahan. Dalam pandangan sesaat saya mobil sayalah yang sedang bergerak. Ya, pandangan sesaat, mungkin kurang dari sedetik. Setelah itu saya sadar akan kejadian sebenarnya.

Yang saya alami di mobil itu bukanlah fantasi. Itu bukan khayalan. Itu realitas. Dalam kerangka relativitas Newton, saya boleh mengklaim bahwa saya lah yang sedang bergerak maju, sedangkan mobil di sebelah saya diam. Bahkan ketika saya libatkan pohon di depan mobil saya, serta objek lain di sekitar saya, klaim saya bahwa mobil di sebelah saya sedang diam tetap sah. Mobil saya, pohon di depan mobil saya, objek lain di sekitar saya bergerak maju, sedangkan mobil di sebelah saya diam. Namun deskripsi tentang gerakan mobil saya benda-benda di sekitar saya menjadi rumit. Jauh lebih sederhana bila gerak benda-benda dirumuskan dalam kerangka mobil saya dan benda-benda di sekitar saya diam, dan mobil di sebelah saya bergerak.

Dua kerangka berfikir (framework) mobil saya diam dan mobil saya bergerak maju sekali lagi adalah kerangka yang benar. Hanya saja akan timbul kerumitan bila kita hanya mampu melihat sistem dari satu kerangka saja. Inilah yang disebut dengan terjebak dalam kerangka tunggal (trapped in a frame). Kita hanya tahu satu sudut pandang, tidak mau tahu dengan sudut pandang lain yang sebenarnya juga wujud.

Banyak masalah sosial yang timbul akibat cara berfikir yang terjebak oleh sudut pandang tunggal ini. Orang-orang Islam, misalnya, suka meributkan aktivitas yang mereka sebut “kristenisasi” atau pemurtadan. Dalam kerangka berfikir mereka orang-orang Kristen melakukan proses pemurtadan terhadap sejumlah umat Islam. Tapi di satu sisi umat Islam sendiri juga aktif berdakwah, menghasilkan para mualaf, termasuk di antaranya dari kalangan Kristen. Dalam kerangka berfikir tunggal tadi, yang dilakukan oleh umat Islam adalah berdakwah yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap muslim. Sedangkan yang dilakukan orang Kristen itu adalah pemurtadan. Padahal dari sudut pandang yang lebih luas, dakwah Islam maupun kegiatan misi Kristen itu substansinya sama.

Contoh lain, saya pernah dimaki-maki orang ketika saya mengatakan bahwa Indonesia dulu menjajah Timor Timur. Yang memaki saya, meski seorang dosen yang harusnya terdidik, adalah seseorang yang kebetulan bapaknya berperang di Timor Timur. Dalam pandangan dia, yang dilakukan Indonesia di sana adalah membebaskan Timor Timur dari penjajahan Portugal dan kekejaman Fretilin. Tapi dari sudut pandang lain, khususnya oleh sebagian orang Timor Timur, Indonesia adalah kekuatan asing yang menguasai bangsa mereka, dan itu adalah penjajahan.

Ada banyak contoh tentang pandangan-pandangan dari sudut sempit atau kerangka acuan tunggal. Bila kita terus memelihara cara pandang seperti itu, maka kita akan terlihat seperti orang gila yang mengira dirinya adalah pusat alam semesta. Saya bersyukur, belajar fisika membuat saya sadar bahwa dunia ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang yang jumlahnya tak berhingga. Melihat dari berbagai sudut pandang itu jauh lebih indah dari pada melihat dari sudut pandang tunggal.