Defensif

Waktu lebaran saya post sebuah foto tentang suasana saat mudik. Di tempat-tempat di mana terjadi kemacetan parah di sekitar Brebes, terdapat tumpukan sampah. Luar biasa joroknya. Dari sudut pandang ajaran Islam yang saya pahami, perilaku jorok, membuang sampah sembarangan itu melanggar prinsip Islam. Para pemudik itu, yang telah berpuasa hampir sebulan, masih gagal mengendalikan hawa nafsunya. Mereka gagal mengendalikan tangan dan perilaku, sehingga masih secara otomatis membuang sampah sembarangan. Maka, bagi saya, mereka gagal dalam berpuasa.
 
Kok sejauh itu? Ya, memang sejauh itu. Puasa itu bukan sekedar menahan lapar dan minum. Hakikatnya adalah mengendalikan diri dan perilaku. Tidak cuma makan minum, perkataan dan perbuatan dijaga. Maka bagi saya, kalau setelah puasa orang masih tidak tertib, jorok, tidak jujur, dan korup, maka mereka adalah orang yang gagal berpuasa.
 
Bagaimana respon orang-orang? Ada banyak orang yang marah. Ada yang bilang, kenapa hanya umat Islam saja yang dituding. Umat lain juga masih jorok, sama perilakunya dengan umat Islam. Jadi kalau menuding perilaku jorok itu seolah mengabaikan perilaku jorok umat lain. Itu sama saja dengan memojokkan dan menghina Islam.
 
Tidak tanggung-tanggung. Ada yang sampai mengunggah foto suasana jorok di Italia, untuk menunjukkan bahwa bahkan di negara non muslim yang sudah maju pun perilaku jorok masih sulit ditinggalkan.
 
Apa yang dilakukan orang-orang ini? Defensif. Untuk apa? Mempertahankan diri. Dari apa? Dari perubahan. Sudah pernah saya tulis bahwa perubahan itu menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan kepanikan. Kebiasaan buang sampah sembarangan itu sudah tertanam demikian dalam, sulit untuk mengubahnya. Ia bahkan sudah membangun mekanisme pertahanan diri terhadap perubahan. Mekanisme inilah yang mengeluarkan sikap defensif tadi.
 
Coba kita pikir dengan nalar. Menjaga kebersihan itu adalah perilaku menjalankan ajaran Islam. Perlukah itu tergantung pada perilaku umat lain? Tidak! Apakah kewajiban menjaga kebersihan itu menjadi gugur karena umat lain masih jorok juga? Tidak. Sebaliknya, umat Islam seharusnya jadi contoh dan pioneer, bukan? Kok malah menunggu umat lain?
 
Kita tahu bahwa argumen soal umat lain itu tidak ada isinya. Itu cuma cara untuk defensif, mengelak dari perubahan. Mengelak dari kebaikan. Ketahuilah bahwa sikap-sikap defensif inilah yang membuat banyak orang gagal berubah menjadi insan yang lebih baik lagi. Sikap defensif itu ibarat selimut hangat yang membuat kita tetap bermalas-malasan, enggan bangkit melakukan sesuatu yang lebih baik. Karena itu, ayat yang turun pada masa-masa awal dakwah nabi dulu berbunyi,”Ya ayyuhal mudatsir, qum fa anzir….” Hai orang yang berselimut, bangkitlah, dan berilah peringatan.
 
Perintah Quran, berhentilah bersikap defensif!

Islam Proaktif

proactive

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Ada seseorang yang berkomentar di tulisan saya. Ia membantah tulisan saya yang mengatakan bahwa ada ajaran Islam yang reaktif. Islam adalah ajaran cinta damai, rahmatan lil alamin, bla bla bla. Tapi sejurus kemudian ia menulis beberapa komentar lagi soal kitab orang Kristen yang sudah tidak asli dan banyak diselewengkan isinya.
 
Saya tidak tahu apakah orang ini cacat nalar bawaan lahir, atau ia menjadi cacat nalar karena ajaran agamanya. Tapi orang sejenis ini ada banyak di tubuh umat Islam. Yaitu orang yang dengan enteng mencela ajaran agama lain, tapi merasa dirinya cinta damai. Bisakah Anda bayangkan hal itu dilakukan secara terbuka oleh umat lain? Misalnya, kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa Quran itu kitab palsu, atau salah isinya, apa yang akan terjadi pada orang itu?
 
Beragama dengan kesibukan membahas ajaran agama lain itu adalah beragama secara reaktif. Demikian pula halnya beragama dengan pikiran bahwa umat lain sedang memusuhi kita, dan segala macam kekacauan dan ketertinggalan kita disebabkan oleh pihak lain. Ahli pengembangan diri Steven Covey menyebut sikap yang demikian ini adalah sikap reaktif. “Kalau kamu merasa semua masalah yang menyebabkan berbagai kesulitan hidupmu sumbernya ada di luar dirimu, maka kamu adalah manusia yang paling bermasalah,” tulis Covey dalam bukunya “7 Habits of the Highly Effective People”.
 
Covey memperkenalkan konsep proaktif, yaitu konsep yang berfokus ke dalam, kepada diri sendiri, fokus kepada yang dia sebut lingkaran pengaruh. Fokus kepada pihak luar dia sebut fokus kepada lingkaran kepedulian. Orang yang proaktif akan sibuk membenahi diri internalnya ketimbang mengurusi pihak lain. Ia memilih tindakan-tindakan sesuai nilai yang dia anut, berdasarkan kebutuhan, bukan sebagai reaksi terhadap keadaan di sekitar dia.
 
Umat Islam, khususnya di Indonesia, masih bergelut dengan berbagai persoalan kebodohan dan keterbelakangan. Masih ada puluhan juta muslim hidup di bawah garis kemiskinan. Masih ada jutaan anak putus sekolah. Sekolah-sekolah yang dimiliki, masih banyak yang mutunya rendah dan dikelola secara asal-asalan.
 
Meski mayoritas, kaum muslim bukanlah penguasa ekonomi. Kenapa bisa begitu? Ini terkait dengan soal di atas, yaitu soal rendahnya pendidikan. Tapi tidak hanya itu. Ini juga terkait dengan rendahnya etos kerja. Orang hidup terbiasa tidak tertib, tidak tepat waktu, tidak jujur, dan sebagainya. Orang terbiasa hidup dengan sikap-sikap yang tidak mendorong ke arah kesuksesan.
 
Saya lebih tertarik untuk membenahi hal-hal ini. Maka saya dalam berbagai kesempatan selalu mengajak umat Islam, khususnya anak-anak muda untuk bergerak maju. Move forward! Ada begitu banyak ajaran Islam yang hebat-hebat dan membuat kita jadi hebat, bila dilaksanakan. Sering saya tulis soal ajaran tepat waktu, yang membuat negara-negara maju bisa punya sistem transportasi handal. Orang-orang Jepang membangun sistem produksi manufaktur berbasis pada prinsip “just in time”.
 
Islam mengajarkan orang untuk tepat waktu. Kalau puasa, kita punya jadwal salat yang detil dalam hitungan menit. Kita semua tertib benar untuk sahur dan berbuka sesuai jadwal itu, tepat sampai ke satuan menit. Kita tidak akan pernah sahur terlambat satu menit, atau buka puasa lebih cepat 1 menit. Tapi apa yang kita lakukan di luar itu? Apakah kita tepat waktu saat masuk kantor? Apakah kita tepat waktu saat hadir di sebuah rapat? Tidak.
 
Demikian pula soal kebersihan. Kita semua hafal dalil soal kebersihan sebagian dari iman. Tapi tangan-tangan kita dengan enteng mengotori tempat-tempat umum.
 
Dengan segala kebodohan dan keterbelakangan itu, kita masih sibuk mengurusi umat lain, merecoki ajaran mereka. Kemudian kita sibuk pula menebar kebencian. Mau apa kita ini hidup?
 
Saya sering dengan keras mengritik perilaku reaktif itu. Bagi sejumlah orang, saya dikenal sering memojokkan Islam, atau memusuhi Islam. Tidak. Yang saya pojokkan adalah perilaku-perilaku bodoh yang mereka kira bagian dari ajaran Islam. Tafsir-tafsir bodoh, praktek-praktek bodoh, itulah yang saya telanjangi. Saya katakan bahwa yang bodoh itu bodoh, yang salah itu salah. Para pelakunya merasa mereka sedang menjalankan ajaran Islam, bahkan mengidentikkan dirinya dengan Islam. Maka kalau mereka dikritik, mereka merasa Islamlah yang sedang dikritik. Bahkan mereka merasa Islam sedang dilecehkan.
 
Ini adalah sikap-sikap yang akan membuat kaum muslim terus terbelakang dan bodoh. Kalau sikap ini tidak diubah, maka tidak akan ada perubahan pada masa depan umat Islam. Karena itu saya tidak pernah bosan mengajak umat Islam, khususnya kaum muda, untuk memperbaiki diri, mengubah sikap. Bergerak maju, memastikan masa depan yang lebih cerah. Dengan ajaran Islam, move forward, be proactive!
 

Meninggalkan Ajaran Reaktif

Ajaran Islam banyak yang bersifat reaktif terhadap dua agama pendahulunya, Yahudi dan Kristen. Quran menuduh penganut kedua agama itu, yang disebut ahli kitab, telah menyelewengkan kitab-kitab terdahulu, khususnya Taurat dan Injil. Quran datang membawa koreksi terhadap ajaran-ajaran itu.

Berbasis pada doktrin itu, orang Islam menuduh bahwa kitab-kitab suci itu telah diubah isinya. Tapi di mana adanya kitab asli yang belum diubah itu? Tidak ada. Umat Islam sendiri tidak memegang kitab suci yang asli. Jadi apa fondasi argumen untuk menyatakan bahwa kedua agama itu menyimpang? Ya isi Quran. Ya ajaran Islam sndiri.

Kamu salah, saya benar. Kenapa salah? Karena saya katakan kamu salah. Menurut saya kamu salah. Karena itu kamu salah. Begitulah retorikanya.

Berbasis pada postulat itu banyak orang Islam yang mencoba membedah kesalahan agama-agama itu, khususnya Kristen. Kajian ini disebut kristologi. Mereka mengkaji ayat-ayat alkitab, menafsirnya dengan pikiran Islam, lalu membandingkannya dengan praktek agama Kristen. Hal-hal yang berbeda antara tafsir mereka terhadap ayat, dengan praktek agama oleh orang Kristen, itulah yang mereka sebut penyimpangan.

Contohnya soal jilbab. Konon ada ayat di alkitab yang menyatakan bahwa perempuan yang berdoa tanpa memakai tutup kepala itu tidak baik. Oleh orang Islam ayat itu dipakai sebagai dalil untuk menyimpulkan bahwa ajaran Kristen juga mewajibkan jilbab bagi perempuan. Padahal nada ayat ini jelas sangat berbeda dengan perintah memakai jilbab dalam Quran. Perintah, itu yang tak tertera dalam alkitab.

Anehnya lagi, ayat yang mereka comot itu berasal dari kitab yang mereka sebut sudah dipalsukan. Bagaimana mungkin kita bisa membangun argumen dari kitab yang kita tuduh telah dipalsukan? Mereka seakan berkata,”Hai orang Kristen, kalian sebenarnya wajib pakai jilbab, karena perintah memakai jilbab tertera dalam kitab yang sudah kalian palsukan ini.” Bagaimana mungkin mengatakan ada perintah asli, dengan dalil dari kitab palsu?

Mengapa Quran mengandung ajaran-ajaran reaktif ini? Islam adalah antitesa dari ajaran politeis Quraisy, yang oleh orang Islam disebut jahiliyah. Tapi bagaimana membangun antitesis itu? Dipakailah sumber yang berbeda, yaitu monoteis semitic, yaitu Yahudi dan Nasrani. Tapi kalau dipakai begitu saja, yang disebarkan tentu jadi ajaran Yahudi dan Nasrani, bukan? Maka dibuatlah beberapa koreksi atau modifikasi atas ajaran itu.

Benarkah Islam mengoreksi ajaran Yahudi dan Nasrani? Menurut saya tidak. Konsep yang dipakai sebenarnya sangat sedikit. Yang banyak dipaka adalah kisah-kisah legendanya saja, yang juga dimodifikasi sesuai kebutuhan format ajaran baru.

Ajaran reaktif ini menjadi fondasi ideologis atas berbagai konflik antar agama, khususnya Islam-Kristen. Harus diakui bahwa secara teologis hubungan antar agama ini sebenarnya tegang. Lalu, bagaimana? Apa yang mesti kita lakukan.

Umat Islam sebenarnya bisa melupakan sisi-sisi reaktif dari ajaran Islam itu. Mereka bisa bertauhid tanpa perlu memikirkan trinitas. Mereka bisa beriman pada Allah yang esa, tanpa memikirkan Allah itu punya anak atau tidak. Karena jelas, sesuatu yang esa otomatis tidak punya anak. Mereka juga bisa beriman pada nabi Isa, tanpa peduli soal gagasan tentang Yesus.

Mereka tetap bisa berjilbab tanpa memikirkan jilbab itu wajib atau tidak bagi umat Kristen. Mereka salat saja, tanpa perlu mengarang cerita bahwa umat Kristen juga disyariatkan untuk salat. Bisa, bukan? Karena memang tak ada manfaatnya berpikir tentang hal-hal itu.

Singkat kata, mereka bisa membangun kebenaran Islam tanpa menyalahkan ajaran agama lain. Ibarat memasang lilin, mereka bisa yakin bahwa lilin mereka terang, tanpa memadamkan lilin-lilin milik orang lain. Mind your own believe. Tidak mudah memang, tapi bisa dilakukan. Diharapkan ini bisa menjauhkan mereka dari potensi konflik.

Menghindari Perubahan

image

Perubahan sering kali membuat orang tidak nyaman. Perubahan berarti keluar dari zona nyaman. Reaksi otomatis orang terhadap “ancaman” perubahan adalah menghindar. Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk menghindar. Di antaranya mengritik, menganalisa, menyangkal, mengganti topik pembicaraan, mengabaikan, dan lain-lain.

Sering kita melihat orang sukses. Kita mulai berpikir bahwa alangkah baiknya kalau kita bisa sukses juga, seperti dia. Tapi kemudian timbul “kesadaran” lain, bahwa untuk sukses itu kita harus kerja keras, disiplin, tertib, terbuka, bersih, jujur, dan lain-lain. Semua itu menuntut kita berubah dari diri kita yang sekarang. Rasa ingin tetap nyaman dalam diri kita kemudian mengeluarkan reaksi otomatis untuk menghindar.

Kita punya dalil “dia sih enak”. Ketika membahas kesuksesan seseorang kita sangat suka mengumpulkan fakta-fakta bahwa dia sukses karena dia punya semua hal yang mendukung kesuksesan dia. Pada saat yang sama kita yakinkan diri kita bahwa kita tidak punya itu semua. Karena itu wajar saja kalau kita tidak seperti dia. Maka kita bilang,”Dia sih enak.”

Kita percaya pada faktor keberuntungan. Ada orang-orang yang beruntung. Sepanjang hidupnya ia selalu dihampiri oleh kesempatan-kesempatan yang baik, keberuntungan, yang membuat ini selalu naik ke posisi yang lebih tinggi. Kita bukan orang yang beruntung, karena kita tidak dihampiri oleh kesempatan-kesempatan baik itu. Dia adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk sukses, dan kita tidak. Ini adalah analisa yang kita lakukan untuk menghindar.

Setiap orang sebenarnya dihampiri oleh banyak kesempatan untuk sukses, sama seperti setiap orang yang berjalan dalam hujan diterpa oleh butir-butir air hujan. Tidak ada orang yang diterpa lebih banyak dari orang lain.

Tapi kenapa ada orang yang sepertinya mendapat kesempatan lebih banyak? Karena ia memanfaatkan kesempatan-kesempatan itu, sehingga setiap kesempatan menimbukkan jejak atau bekas dalam sejarah hidupnya. Orang lain membiarkan kesempatan-kesempatan itu berlalu, sehingga tidak menimbulkan bekas dalam riwayat hidupnya. Ia terlihat seperti tidak pernah mendapat kesempatan, padahal dapat. Bahkan banyak orang yang tidak sadar bahwa sebuah kesempatan emas sedang berlalu di hadapannya.

Adapun orang-orang sukses itu, mereka tak hanya menunggu kesempatan, mereka mencari kesempatan, memburunya. Bahkan mereka menciptakan kesempatan-kesempatan. Itu juga yang membuat mereka terlihat lebih banyak mendapat kesempatan.

Cara lain yang kita pakai untuk menghindar adalah logika “two wrongs make a right”. Kalau kita melakukan kesalahan, kita membuat pembenaran dengan mengatakan bahwa semua orang melakukannya. Atau setidaknya ada orang lain yang melakukannya juga. Karena bukan kita sendiri yang melakukan, maka kesalahan tadi menjadi benar.

Memakai perspektif korban adalah sebuah cara untuk menghindar yang sering dipakai. Saya adalah korban situasi dan orang-orang di sekitar saya. Saya ingin berubah tapi tidak bisa, karena ini dan itu. Saya tidak sukses karena saya ini korban.

Begitulah. Ada banyak cara dan mekanisme yang kita pakai untuk menghindar. Celakanya cara dan mekanisme itu sudah mendarah daging dalam diri kita, keluar secara otomatis setiap kali ada tuntutan perubahan.

Bagaimana mengatasinya? Tidak bisa tidak, kita harus mengenali kebiasaan-kebiasan kita sendiri dalam menghindar. Kita harus sadar bahwa kita sedang menghindar, dan berhenti melakukannya. Tidakkah itu sulit? Tidak, selama kita mau jujur dan terbuka, khususnya kepada diri kita sendiri.

 

Perspektif Korban

image

Pernahkah kita mengalami kejadian di mana kita merasa dirugikan oleh orang atau situasi? Sering. Menariknya, kita sering pula menceritakan kejadian itu.

Ini salah satu contoh kejadian yang saya alami. Bulan lalu saya ke Bengkulu. Hari itu hari Senin. Pesawat saya jadwalnya jam 7.30. Maka saya putuskan untuk berangkat jam 4.45 dari rumah. Menurut perhitungan saya bisa tiba di bandara jam 6.45.

Hai itu hari sial saya. Baru beberapa menit jalan di jalan tol, saya sudah bertemu dengan kemacetan. Mobil berjalan merayap. Walhasil, menjelang jam 7.30 saya baru tiba di daerah Puri Kembangan. Saya sudah terlambat, pikir saya. Tapi saya teruskan saja perjalanan ke bandara, apa bokeh buat, saya harus menunggu penerbangan berikutnya.

Tiba di bandara jam 7.45 saya mengadu nasib, datang ke bagian check in, berharap siapa tahu pesawatnya belum berangkat. Ternyata benar, menurut petugas check in, pesawat belum berangkat. Tapi dia tidak bisa memproses check in saya. “Bapak harus ke konter itu,” katanya memberi petunjuk. Saya ikuti. Di konter yang dituju petugas yang saya hubungi seperti tidak serius melihat ke komputernya, kemudian berkata bahwa saya sudah tidak bisa check in lagi.

Mengesalkan, bukan? Saya sudah berangkat subuh, mengantisipasi kemacetan, ternyata akhirnya ketinggalan pesawat. Saya adalah korban kemacetan, juga korban petugas konter yang tidak kooperatif. Cerita ini kita sebut saja cerita korban.

Coba ingat kejadian serupa yang menimpa diri Anda. Anda pasti merasakan kekesalan yang seruoa pula dengan saya. Kita sering mengalami kejadian-kejadian seperti ini. Artinya, kita sering menjadi korban situasi, atau tindakan orang lain. Kita semua punya kisah korban tadi.

Nah, mari kita ulangi cerita tentang kejadian yang sama, tapi dengan sudut pandang yang berbeda. Coba kita gali dari cerita tadi dari hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk mencegah kejadian tidak enak tadi, tapi tidak kita lakukan.

Dalam menceritakan kisah korban, kita biasanya bercerita tidak utuh. Kita memulai cerita dengan mengumpulkan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa kita ini korban. Banyak fakta lain yang kita abaikan.

Dalam kejadian tadi, saya sebenarnya sudah bangun jam 4 pagi. Saya tahu betul bahwa hari Senin adalah hari di mana jalan macet luar biasa. Karena itu saya antisipasi. Jam 4.30 sebenarnya sudah siap. Tapi saya agak sedikit santai, karena biasanya jalan baru macet setelah jam 5. Jadi saya putuskan untuk menunggu sambil melakukan beberapa hal tam penting. Jam 4.45 baru saya berangkat.

Kalau saya berangkat jam 4.30, dengan situasi kemacetan yang sama, saya akan tiba di bandara jam 7.30, dengan adanya delay tadi saya masih akan bisa check in. Bahkan saya bisa tiba lebih awal, karena kemungkinan kemacetan tidak separah kalau saya berangkat jam 4.45.

Perhatikan bahwa pada cerita versi pertama fokus saya pada “mereka” atau pihak lain, dalam hal ini kemacetan dan petugas konter yang tidak kooperatif. Pada cerita versi kedua, saya fokus pada diri saya. Versi ini kita sebut cerita versi bertanggung jawab.

Dua versi cerita di atas menunjukkan bahwa kejadian-kejadian itu sebenarnya tidak punya makna. Kitalah yang memberinya makna. Kita pulalah yang menentukan apa efek suatu kejadian terhadap diri kita.

Coba kita ingat dalam hidup kita, kisah versi mana yang lebih sering kita tuturkan, versi korban atau versi bertanggung jawab? Kita sungguh menyenangi versi korban, dan jarang bercerita dengan versi bertanggung jawab. Kenapa? Karena kita menuai banyak kenikmatan dari cerita versi itu.

Salah satu kenikmatan yang kita dapat dai becerita dengan sudut pandang korban adalah simpati. Orang-orang akan mendengarkan kita, menyatakan simpati. Kita juga mendapat kenikmatan dengan merasa yakin bahwa kita adalah pihak yang benar, dan pihak lain adalah pihak yang salah.

Siapa yang bersimpati pada kita? Siapa yang setuju bahwa kita ada di pihak yang benar? Mereka adalah orang-orang seperti kita juga, yaitu orang-orang yang menyukai sudut pandang korban. Orang yang bersudut pandang bertanggung jawab dalam kasus saya di atas mungkin akan berkomentar,”Makanya berangkatnya lebh pagi aja.” Itu langsung menghancurkan kenikmatan saya mendapat simpati dan pembenaran.

Salah satu hal penting yang harus kita lakukan untuk mengubah hidup adalah mengubah sudut pandang, dari sudut pandang korban ke sudut pandang bertanggung jawab. Fokus kita berubah dari pihak lain ke diri kita. Subjek bahasan kita ubah dari “mereka seharusnya begini dan begitu” menjadi “saya harusnya begini dan begitu”.

Apa perbedaan mendasar pada keduanya? Saya adalah pengendali diri saya. Kalau saya befokus pada diri saya, saya bisa memilih untuk berlakukan ini dan itu, atau bersikap begini dan begitu. Tapi kalau saya berfokus pada pihak luar, saya tidak punya kontrol atas mereka. Saya hanya bisa berharap ini dan itu. Ingat, kita bicara soal perubahan. Untuk memastikan perubahan terjadi, kitalah yang harus bertindak membuat perubahan. Maka sudut pandang bertanggung jawab adalah sudut pandang yang cocok.

 

Mengubah Jalan Hidup

Changing-Paths
 
Kita sering melihat dan membicarakan orang sukses. Tapi pembicaraan berhenti pada fakta bahwa dia sukses, itu saja. Sering kita melihat sukses itu sebagai keberuntungan dia belaka. “Itu hoki dia,” kata kita. Sukses adalah kemurahan Tuhan yang Dia bagikan sesuai kehendakNya. Kalau kita tidak sukses, itu karena kita bukan orang yang dipilih Tuhan untuk sukses.
 
Tidak jarang pula kita membicarakan orang sukses dengan cara yang benar, yaitu kita membahas jalannya. Tapi hanya berhenti sampai pada pembicaraan. “Dia orang yang rajin, giat, punya visi, bla bla bla….” Kita tahu bagaimana dia bisa sukses, kita paham rumusnya. Tapi kita hanya menjadikannya pengetahuan saja, tidak menjadikannya tindakan. Seolah hanya dia yang bisa bertindak begitu, sementara kita mustahil melakukannya.
 
Tidak sedikit orang yang tidak puas dengan hidupnya, ia ingin mengubahnya. Tapi tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Apa yang harus dilakukan?
 
Seseorang bangun pagi, dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia ambil sebutir telur, ia panaskan penggorengan dengan minyak goreng, kemudian ia pecahkan telur tadi, ia masukkan isinya ke penggorengan. Lalu ia taburi garam. Ia akan mendapatkan seporsi telor ceplok.
 
Orang itu bangun pagi pada keesokan harinya. Ia ingin sarapan telur dadar. Ia ambil sebutir telur, ia panaskan penggorengan dengan minyak goreng, kemudian ia pecahkan telur tadi, ia masukkan isinya ke penggorengan. Lalu ia taburi garam. Apakah ia akan mendapatkan telur dadar? Tidak. Ia akan kembali mendapatkan telur ceplok. Kenapa? Karena ia tidak mengubah cara hidupnya. Begitulah. Banyak orang yang ingin mengubah hidupnya, tapi ia tidak pernah mengubah cara hidup. Maka hari-harinya akan berlalu tanpa perubahan. Kata Einstein, insanity is doing the same thing over and over, but expecting different results.
 
Apa yang harus kita ubah untuk mengubah hidup?
 
Pertama, cara pandang. Dunia di sekitar kita, kejadian-kejadian yang kita hadapi sering kali tampak sangat berbeda, bila kita lihat dengan sudut pandang yang berbeda. Misalnya, ada orang yang melihat segala sesuatu dengan sudut pandang reaktif. Ia menempatkan dirinya sebagai “produk” dari berbagai situasi di lingkungannya. Bosnya tidak ramah, bawahannya tidak kompeten, rekan kerja tidak mendukung. Ia tidak sukses karena itu semua. Kata Steven Covey,”Kalau kamu melihat semua masalah sumbernya ada di luar dirimu, maka kamu adalah orang yang paling bermasalah.”
 
Maka hal pertama yang harus kita ubah adalah cara kita melihat sesuatu. Ketimbang menjadi reaktif, menganggap diri kita adalah produk dari berbagai situasi di sekitar kita, Covey menyarankan sikap proaktif. Orang proaktif memilih sikap yang dia ambil sebagai respons terhadap situasi yang dia hadapi, berdasarkan nilai yang dia anut. Ia mengendalikan situasi, bukan dikendalikan situasi.
 
Kedua, mengubah sikap-sikap dasar. Sebenarnya sudah merupakan rumus umum bahwa sukses itu berkaitan erat dengan kerja keras, disiplin, komitmen, kejujuran, respect, dan banyak hal lagi. Mengubah hidup tentu saja otomatis berkait erat dengan mengubah sikap-sikap dasar tadi. Mengubah hidup berarti berubah menjadi orang yang tidak disiplin menjadi disiplin, dari jorok menjadi bersih, dan seterusnya.
 
Masalah bagi banyak orang adalah bahwa berubah itu membuat tidak nyaman. Situasi sekarang ini berlanjut karena orang biasanya menciptakan apa yang disebut dengan zona nyaman. Keluar dari zona nyaman itu tidak enak. Karena itu ketika ada keinginan untuk berubah, keinginan itu dilawan oleh keinginan lain untuk tetap berada di dalam zona nyaman.
 
Perubahan memerlukan kemauan keras untuk keluar dari zona nyaman tadi.
 
Ketiga, mengambil resiko. Zona nyaman adalah dunia yang sudah sangat kita kenal, karena kita yang membangunnya. Ibarat kamar pribadi kita, di situ kita tahu di mana letak sakelar lampu, remote control AC, posisi kulkas, atau kamar kecil. Sementara itu, di luar sana, dunia yang serba tidak kita kenal. Kita bayangkan diri kita akan terbentur tembok, terperosok lubang, atau tertusuk duri. Tidak ada jaminan bahwa kita akan berhasil.
 
Berubah artinya mengambil resiko, menghadapi semua kemungkinan itu. Kemungkinannya ada 2, berhasil atau gagal. Tapi sebenarnya peluang untuk berhasil lebih besar. Kenapa? Karena kita memilihnya. Tidak ada orang yang memilih untuk gagal. Artinya, setiap tindakan yang kita ambil adalah tindakan yang menggiring kita untuk berhasil. Kalau di suatu titik kita salah bertindak sehingga menyebabkan kita mengarah pada kegagalan, kita bisa selalu mengoreksinya. Jadi, sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan.
 
Keempat, bertindaklah sekarang. Bukan nanti. Bukan besok. Bukan sebentar lagi. Menunda adalah sebuah cara untuk menghindar, untuk tetap bertahan di zona nyaman. Sebentar lagi, satu jam lagi, sehari lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi. Menunda sering menghasilkan penundaan berikutnya. Itulah salah satu sebab kenapa banyak orang tidak pernah berubah.
 
Mau berubah? Berubahlah sekarang!
 
sumber gambar: tinybuddha dot com

Fakta dan Opini

Saya terbiasa membedakan antara fakta dan bukan fakta. Yang bukan fakta di antaranya adalah opini, analisa, isu, persepsi, prasangka, dan fitnah. Saya pernah bekerja sebagai ilmuwan. Hal paling penting dari kerja ilmuwan adalah memilah antara fakta dan bukan fakta. Bekerja 12 tahun sebagai peneliti fisika membuat saya terlatih.

Selain itu selama 20 tahun terakhir saya bekerja dalam lingkungan Jepang. Salah satu keunikan budaya Jepang adalah mereka memisahkan dengan tegas antara fakta dan bukan fakta. Misalnya kita hendak mengungkapkan “jam ini mahal”, dalam bahas Jepang kalimatnya menjadi “Kono tokei wa takai.” Kalimat itu hanya diucapkan bila seseorang memang benar-benar tahu harga jam itu, dan secara objektif harga itu memang mahal. Bila ia hanya menduga, ia akan mengatakan “Kono tokei wa takai to omou.” Saya pikir jam ini mahal.

Kalau dia mengira (dari tampilan jam), ia akan bilang, “Kono tokei wa takasou.” Kalau ia mendengar dari orang lain bahwa jam itu mahal, ia akan bilang,”Kono tokei wa takai souda.” Masih ada beberapa jenis ungkapan lain, memastikan terpisahnya fakta dan bukan fakta. Saya terbiasa dengan logika itu.

Dalam keseharian kita terbiasa dengan informasi yang tidak dipilah antara fakta dan bukan fakta. “Fulan Marah,” begitu judul berita. Apakah Fulan Marah itu fakta? Marah itu adalah suatu keadaan emosi yang sebenarnya sangat rumit untuk didefinisikan. Ada orang yang bicara sambil gebrak-gebrak meja, tapi dia tidak sedang marah. Orang yang belum mengenal dia akan mengira dia sedang marah. Maka dalam hal ini, kalau yang terlihat adalah gebrak meja, maka faktanya adalah gebrak meja. Marah bukan fakta, tapi persepsi.

Banyak hal yang sifatnya relatif bila diungkap tanpa ukuran. Mahal, murah, cepat, lambat, semua itu hal yang relatif, sesuai persepsi. Ukuran menjelaskan faktanya. Daging sapi mahal. Itu persepsi. Harga daging sapi Rp 130 ribu per kilo, itu fakta. Fakta tidak berubah, siapapun melihatnya. Mahal atau murah, tergantung siapa yang menilai. Hujan lebat, itu soal persepsi. Berapa milimeter, itu faktanya.

Persepsi bisa dianggap fakta atau mendekati fakta bila ia dianut oleh sangat banyak orang. Harga daging sapi mahal bisa menjadi fakta bila harganya adalah Rp 150 ribu per kilo. Bagi umumnya rakyat Indonesia harga itu mahal. Maka tak salah bila dalam hal ini diberitakan bahwa harga daging mahal.

Bagaimana memilah fakta dan bukan fakta saat kita menyampaikan informasi? Pertama, sertakan fakta. Misalnya tadi, ketika kita bilang mahal, sertakan berapa harganya. Dengan begitu orang bisa memilih untuk setuju atau tidak dengan persepsi kita soal mahal atau tidak.

Kedua, tegaskan derajat informasi yang kita sampaikan. “Informasi yang saya terima dari….” Kita membuka peluang adanya informasi lain. Cara lain,”Saya dengar……” Dugaan kita bukanlah fakta, maka kita katakan,”Menurut dugaan saya…” Atau,”Kesimpulan saya…”

Bagaimana membedah fakta atau bukan? Dengan memperkaya diri dengan informasi dan berpikir dengan benar. Kemarin setelah Arcandra dipecat ada kabar bahwa ia dipecat karena ada yang terancam. Ia katanya sudah komunikasi dengan KPK, berkas informasinya sudah lengkap, untuk membongkar kasus di zaman Sudirman Said. Dengan dipecatnya Arcandra, kasusnya tidak akan diproses.

Kita yang paham tentu tahu bahwa kerja KPK tidak tergantung kerja sama menteri. Dalam banyak kasus justru menterilah yang dicokok KPK. Kalau Acandra punya data, kasus akan jalan sekalipun ia bukan menteri lagi.

Begitulah. Banyak orang memproduksi sampah yang dianggap sebagai fakta. Mereka jadi seleb media sosial. Beberapa di antaranya dijerat dengan tuduhan kriminal. Saran saya, jangan terpesona pada tokoh, termasuk pada saya. Tetap waras mengurai fakta dan bukan fakta.

Sindroma Habibie

habibie

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sindroma Habibie
 
Habibie yang hebat. Ia menjadi vice president sebuah perusahaan aeronotika di Jerman. Ia punya banyak paten di bidang industri pesawat. Dia jenius. Lalu Soeharto mengajaknya pulang. Ia membangun industri pesawat Nurtanio, kemudian menjadi IPTN. Tidak cuma itu. Ia kemudian menjadi Menristek. Cukup? Tidak. Ia mendirikan industri kapal, menjadi presdirnya. Ia juga menjadi kepala otorita Batam. Masih ada lagi sejumlah jabatan yang diserahkan kepada Habibie seorang.
 
Mungkinkah seorang manusia bekerja dalam setumpuk beban jabatan seperti itu? Mustahil. Tapi ini Habibie, bukan manusia biasa. Ia adalah manusia super. Maka semua jadi mungkin, karena ini Habibie. Ia juga boleh melakukan apa saja, atas nama kepentingan bangsa. Misalnya memakai dana reboisasi untuk membuat pesawat. Tidak relevan, bukan? Tapi itu tak penting, karena ini Habibie.
 
Akhir ceritanya kita semua juga tahu. IPTN yang sekarang bernama PTDI tentu tak moncer lagi ketika diharuskan hidup sebagaimana sebuah perusahaan. PT PAL juga demikian. Batam, kini tak lebih dari sekedar penyangga kebutuhan industri Singapura.
 
Bangsa ini menderita sindroma Habibie. Orang-orang merindukan sosok super, yang prestasinya diakui di luar negeri. Ya, karena sudah sukses di luar negeri, tentulah ia orang hebat, bukan? Berbeda dengan orang-orang yang selama ini hanya berkiprah di dalam negeri. Mereka-yang di dalam negeri itu- tak hebat, pemalas, bahkan korup. Begitulah. Memuja orang yang sukses di luar negeri itu tidak jarang dilakukan dengan merendahkan orang-orang yang juga sudah bersimbah peluh membangun negara di dalam negeri.
 
Maka kalau ada orang seperti Habibie semua yang dia butuhkan harus disediakan. Semua yang dia mau harus dipenuhi. Prosedur yang ada harus dilanggar, bila menghalagi kemauan orang seperti Habibie. Yang tidak mendukung dia adalah pengkhianat bangsa.
 
Ada pula orang tertentu yang berlagak seolah dia Habibie. Berkarir setahun dua di luar negeri, pulang berlagak macam dewa. Sediakan segala sesuatu buat saya, karena saya ini hebat.
 
Kapan lagi ada orang hebat mau pulang untuk membangun negeri? Kenapa dihalangi? Yang menghalangi tentulah orang-orang dengki yang tak ingin negeri ini maju. Bahkan mereka itu pengkhianat, mafia, pencuri, dan koruptor.
 
Berbagai keributan dalam tubuh bangsa ini belakangan ini adalah karena soal ini. Kita jadi gelap mata, seolah negeri ini, selama 71 tahun merdeka, terlantar tidak diurus sama sekali. Lalu tiba-tiba ada dewa yang mau pulang kampung membereskan, dan tentu saja kita percaya bahwa semua akan beres di tangan dia. Kita percaya bahwa dia tidak punya kepentingan apapun untuk diri dia pribadi.
 
Bagi saya Habibie hanyalah manusia. Dia benar, dan dia juga salah. Apalagi kalau cuma orang yang merasa seperti Habibie. Dia sangat pantas ditempatkan di depan ujian, untuk memeriksa dia benar atau salah.

 

 

 

 

 

 

 

Doa

Siang ini, setelah hampir 2 jam bicara di training dengan tema bagaimana mengubah hidup, saat sesi tanya jawab salah seorang peserta bertanya,”Kok Bapak tidak menyebutkan faktor doa sama sekali?”
 
Di sebuah training manajemen ini bisa dianggap sebuah pertanyaan gubrak. Tapi saya harus jawab dengan tepat. Kalau saya salah jawab, bisa-bisa materi training 2 jam tadi runtuh oleh 1 hal, iman kepada takdir. Bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Tuhan. Selesai.
 
Maka saya jawab.
 
“Coba sebutkan satu keinginan Anda. Sederhana saja, jangan yang rumit-rumit.”
 
“Saya ingin secangkir kopi.”
 
“Bagus. Sekarang berdoalah. Minta secangkir kopi sama Tuhan.”
 
Dia hendak membantah saya. Tapi saya teruskan. “Mau jawaban nggak atas pertanyaan tadi?”
 
“Mau.”
 
“Kalau gitu, lakukan apa yang saya minta.”
 
Dia berdoa. “Ya Tuhan, berilah aku secangkir kopi.”
 
“Dapat nggak kopinya?”
 
“Nggak dong.”
 
“Bagus. Bagaimana caranya agar dapat secangkir kopi? Anda ke belakang situ, di situ ada dispenser air panas, ada kopi sachet, ada cangkir. Anda ke sana, pergi buat kopi. Anda dapat secangkir kopi, bukan?”
 
“Iya.”
 
“Nah, kalau Anda ke belakang situ untuk buat kopi, perlukah Anda berdoa dulu untuk mendapat kopi?”
 
“Tidak.”
 
“OK, kita lanjutkan. Anda berdoa, minta naik gaji. Di awal tahun, ternyata gaji Anda naik. Apakah itu berarti doa Anda terkabul?”
 
“Iya.”
 
“Yakin, pasti Anda naik gaji karena Tuhan mengabulkan doa Anda?”
 
“Nggak juga.”
 
“Tepat sekali. Kita tidak pernah tahu doa kita terkabul atau tidak. Kita hanya membuat kesimpulan sepihak, bahwa Tuhan mengabulkan doa kita. Bagaimana sebenarnya? Bisa saja Tuhan punya maksud lain dengan menaikkan gajimu. Bisa saja Dia naikkan oleh sebab yang lain, bukan karena doamu. Iya kan?”
 
“Iya.”
 
“Artinya apa? Artinya, doa kita tidak mengubah apa-apa. Kalau pun ada sesuatu berubah sesuai harapan kita, kita tidak bisa memastikan bahwa itu terjadi karena doa kita.”
 
“Jadi, untuk apa berdoa?”
 
“Doa itu bukan remote control untuk menggerakkan Tuhan. Doa itu bukan untuk mengubah kehendak Tuhan. Doa itu adalah pernyataan bahwa diri kita ini lemah, dan karenanya sering salah. Doa itu pernyataan bahwa kita ini terbatas. Karena itu kita tidak bisa memastikan satu usaha kita akan membuat kita mencapai tujuan. Karena itu bila kita gagal, itu artinya kita perlu mencoba lagi. Gagal itu biasa, karena kita memang terbatas dan lemah. Tapi cara atau jalan yang bisa kita ambil untuk mencapai tujuan tidak terbatas. Kita hanya perlu mencobanya lagi dan lagi dan lagi. Sampai kita menemukan jalan yang tepat. Jadi doa itu untuk diri kita sendiri, untuk menguatkan kita. Untuk meyakinkan kita bahwa kita bisa. Kita hanya perlu melakukan saja. Kalau gagal, cari jalan yang lain.”

Kebebasan dalam Islam

Saya suka mengutip ayat laa ikraaha fi diin. Tidak ada paksaan dalam agama. Maksudnya agama Islam. Atau ayat lain, man yasya’ fal yu’min, waman lam yasya’ fal yakfuru. Siapa yang ingin, berimanlah, dan yang tidak ingin, kafirlah. Bagi saya Islam itu membebaskan. Orang mau beriman, boleh. Tidak juga boleh.
 
Iman itu seharusnya demikian. Tidak mungkin iman dipaksakan. Iman itu substansinya ada di pikiran setiap orang. Seseorang boleh saja mengerjakan ritual-ritual sebagaimana umumnya orang beriman. Tapi kita tidak pernah tahu ia benar beriman atau tidak. Kalau kita ingin memaksa, yang bisa kita paksakan hanyalah gerakan-gerakan fisik saja. Batin yang merupakan substansi iman tidak mungkin bisa kita paksakan.
 
Fondasi ibadah adalah ikhlas. Artinya, seseorang beribadah hanya karena Allah. Bukan karena ingin dinilai baik oleh orang lain. Juga bukan karena paksaan dari orang lain. Ibadah karena sebab-sebab selain Allah adalah ibadah yang ditolak. Pelakunya masuk dalam golongan musyrik.
 
Atas dasar itu saya menyatakan bahwa Islam itu membebaskan.
 
Kalau urusan beriman atau tidak adalah sesuatu yang sifatnya bebas, tentu saja urusan di bawah itu pun bebas saja sifatnya. Orang mau salat atau tidak, itu bagian dari kebebasan dia. Puasa atau tidak, itupun bebas saja buat dia. Puasa diwajibkan atas orang-orang yang beriman. Yang tidak beriman, tentu tak wajib puasa, bukan?
 
Tapi banyak orang Islam yang keberatan dengan pendapat itu. Katanya tidak demikian. Kebebasan itu hanya ada untuk orang di luar Islam. Kalau sudah masuk Islam, orang tidak lagi bebas. Jadi, kalau orang tidak salat atau puasa, bolehlah ia dipaksa untuk melakukannya. Bahkan kalau perlu, diperangi. Orang-orang lalu memberikan contoh sejarah, di mana Abu Bakar memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat.
 
Memaksa itu kata orang-orang adalah bagian dari amar makruf nahi munkar. Bahkan ada yang berpendapat bahwa itu harus dilakukan. Mula-mula orang memang akan merasa terpaksa. Tapi lama-lama dia akan terbiasa. Kalau sudah terbiasa, akan tumbuh kesadaran. Nanti dia akan ikhlas.
 
Itu hanya satu jalur, sebenarnya. Karena ada juga orang yang dipaksa semakin jadi antipati dan memberontak.
 
Lepas dari soal efektif atau tidaknya pemaksaan, banyak orang berpendapat bahwa Islam membolehkan untuk memaksa kepada orang Islam lainnya. Itulah yang disebut organized religion. Dalam organized religion, hubungan seseorang dengan Tuhan tidak lagi sebuah hubungan pribadi, tapi sebuah hubungan kolektif. Hubungan itu diatur oleh seperangkat aturan yang pelaksanaannya diawasi oleh manusia lain.
 
Peliknya, hampir semua muslim saat ini sebenarnya tidak pernah masuk Islam secara sukarela. Mereka sudah Islam sejak lahir. Agama dipilihkan oleh orang tua mereka. Sekali mereka menjadi muslim, nyaris tidak ada jalan untuk keluar. Berbagai sanksi sosial akan menjeratnya bila ia meninggalkan Islam. Bahkan ancaman dibunuh pun ada.
 
Jadi, adakah kebebasan dalam Islam? Tidak. Adakah makna bagi ayat-ayat yang saya kutip di atas dalam kenyataan sekarang? Tidak. Maka kebebasan yang dijamin oleh ayat-ayat itu tinggal jadi kebebasan semu.
 
Waktu saya katakan ini dalam sebuah diskusi, saya dituduh menghina ayat Allah.