Menyusun Rencana Kabur dari Kemiskinan

Bagi saya penyebab utama kemiskinan adalah pola pikir dan kemalasan. Artinya, kalau mau membebaskan diri dari kemiskinan, orang harus mengubah pola pikirnya, dan bekerja keras. Saya dikritik. Kata pengritik, seolah saya hendak mengatakan bahwa orang-orang miskin itu pemalas. Kemiskinan, kata mereka, bukan melulu soal kerja keras atau pemalas, tapi juga terkait dengan kebijakan pemerintah. Mereka menyebutnya kemiskinan struktural. “Kurang keras bagaimana lagi para buruh atau kuli itu bekerja, tetap saja mereka miskin,” kata mereka.

Ketika bicara soal kemiskinan dan orang miskin, saya lebih suka membicarakannya sebagai “kita”, bukan “mereka”. Maka, ketika saya bicara soal kemalasan, itu bukan untuk menuding atau merendahkan, tapi sebagai evaluasi untuk memperbaiki diri. Ini soal mencari apa yang salah, bukan menyalahkan.

Banyak orang bekerja keras, tapi tetap miskin. Apa yang kurang kalau begitu? Saya suka mengandaikan kemiskinan itu seperti gravitasi. Kita dan semua benda bermassa terikat oleh gaya gravitasi bumi. Kalau kita melompat ke atas, kita akan ditarik kembali ke muka bumi. Kalau kita terbang dengan pesawat, kita harus mendarat kembali.

Bisakah kita lepas dari ikatan gaya gravitasi itu? Bisa. Hanya saja, kita memerlukan energi besar. Energi itu setara dengan yang diperlukan untuk melempar benda dengan kecepatan 11,2 km/detik, atau 40.320 km/jam. Kecepatan ini disebut escape velocity atau kecepatan kabur. Seberapa cepat itu? Rekor kecepatan tertinggi sebuah pesawat terbang hingga saat ini adalah 3.530 km per jam, jauh di bawah kecepatan kabur tadi.

Para penjelajah ruang angkasa berhasil membebaskan diri mereka dari ikatan gravitasi bumi. Dengan roket yang membawa bahan bakar sumber energi dalam jumlah besar. Sejumlah energi digunakan dalam suatu rentang waktu yang lama. Artinya, diperlukan energi dalam jumlah besar, juga diperlukan waktu yang lama. Bila tidak cukup, apa boleh buat, kita akan kembali jatuh ke bumi.

Begitu pula dengan kerja untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Kerja keras saja tidak cukup. Kita perlu kerja keras dalam waktu yang lama, dan juga perlu strategi untuk memastikan bahwa kita tidak terjatuh kembali. Saya menyebutnya dengan rencana kabur, atau escape plan.

Berikut beberapa kunci dalam rencana kabur untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Pertama, pastikan kita bekerja dengan penghasilan memadai. Bekerja tanpa penghasilan memadai, seberapa keras pun, seberapa lama pun, tidak akan membebaskan kita dari kemiskinan. Intinya, harus ada sejumlah uang dari penghasilan kita yang kita sisihkan untuk memperbesar tenaga kita dalam rangka membebaskan diri tadi.

Bagaimana kalau yang kita terima saat ini ternyata kurang? Cari pekerjaan lain. Tapi bagaimana bila tidak ada pilihan lain? Ada! Yang mengatakan tidak ada itu adalah orang yang menderita penyakit miskin pikiran. Itu yang membuat dia tidak bisa keluar dari kemiskinan.

Maaf, saya harus mengatakan ini. Saya melihat begitu banyak orang yang melakukan pekerjaan tanpa masa depan. Mereka bekerja hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan kurang. Tapi mereka tidak mau berganti pekerjaan. Kebanyakan berkata, tidak ada pilihan lain. Pilihan ada banyak, dan diambil oleh orang lain. Orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Mau contoh nyata? Pekerjaan sebagai pak ogah, pedagang asongan, dan sejenisnya itu, bukan pekerjaan yang bisa membebaskan diri dari kemiskinan. Kalaupun bisa, diperlukan strategi yang sangat khusus, yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut.

Kedua, lakukan pekerjaan dengan peningkatan penghasilan. Tanpa peningkatan, kita akan terus bekerja dalam waktu yang lama, dan sulit untuk lepas dari kemiskinan. Tapi, bagaimana caranya? Kalau kita pedagang asongan, cobalah untuk menjual lebih banyak dari yang lain, dengan cerdik mencari tempat berjualan, atau barang yang dijual. Tabunglah sejumlah penghasilan untuk dijadikan modal, menambah barang dagangan. Atau, gunakan itu sebagai modal untuk mempekerjakan orang lain.

Seorang tukang harus meningkatkan keterampilannya agar upahnya bertambah. Perlahan ia harus meningkatkan posisi dari tukang biasa menjadi kepala tukang, atau mandor. Kelak ia bisa meningkat jadi pemborong kecil-kecilan.

Apakah semua ini nyata? Ya, ini semua nyata. Ada banyak orang yang berhasil dengan cara seperti itu. Sayangnya lebih banyak yang bertahan, terikat erat pada zona nyaman yang sebenarnya sangat tak nyaman, yaitu kemiskinan. Jadi, ini jawaban atas pertanyaan tadi. Kerja keras saja memang tidak cukup untuk bebas dari kemiskinan. Perlu kerja dengan peningkatan.

Itulah yang dulu dilakukan emak saya. Ayah dulu bekerja sebagai buruh tadi. Bagi Emak, itu bukan pekerjaan yang bisa membebaskan dia dari kemiskinan, karena hasilnya sedikit dan tidak ada peningkatan. Emak mengajak Ayah pindah ke kampung baru, membuka lahan, dan membangun kebun. Punya kebun sendiri adalah langkah awal untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Ketiga, prihatin. Artinya, menahan diri dari kemewahan dalam bentuk apapun. Ada banyak orang yang segera ingin menikmati kemewahan saat baru saja mendapat penghasilan lebih baik dari sebelumnya. Sebagian bahkan tidak sadar bahwa tambahan penghasilan itu sementara saja sifatnya. Mereka mengira itu kekal, lalu berfoya-foya. Saat sumbernya hilang, barulah mereka menyesal.

Sepanjang masa sekolah dulu saya nyaris tak punya baju selain seragam sekolah. Emak sengaja mengajari kami untuk menahan diri, meski sebenarnya sudah mampu membelinya. Emak memilih memakai uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna untuk masa depan. Demikian pula, Emak mengajari kami untuk tidak jajan dan makan di luar. Lebih baik masak sendiri kalau ingin makan enak.

Keempat, lakukan apa saja. Apa saja yang bisa menambah penghasilan, menjadikan hidup kita lebih baik. Kalau kita tidak bisa, belajar. Jangan pernah membatasi diri dengan kata tidak bisa. Banyak orang sukses dengan cara ini. Mencoba, belajar, coba lagi, sampai berhasil. Dengan cara yang sama ia terus membesar.

Empat poin di atas mungkin belum cukup untuk membuat kita bebas dari kemiskinan. Tapi empat poin itu fundamental. Tanpa itu, kita tidak akan bisa membebaskan diri.

Dampak Positif Pembangunan Kilang Minyak di Indonesia

Kilang minyak adalah titik yang sangat penting dalam industri perminyakan, juga dalam soal kedaulatan energi nasional. Dalam industri minyak, dengan memiliki kilang artinya kita tidak hanya berhenti pada eksploitasi alam tanpa nilai tambah. Mengolah minyak mentah menjadi BBM beserta berbagai produk lain yang menyertainya bisa menghasilkan nilai tambah yang cukup besar.

Dalam hal kedaulatan energi, adanya kilang minyak di dalam negeri dengan jumlah memadai membuat ketergamtungan kita pada BBM impor bisa diputus. Kita tahu bahwa BBM adalah salah satu pilar penting pada dalam struktur energi nasional. Memastikan pilar penting ini kita kendalikan secara penuh adalah hal yang sangat strategis. Di samping itu, tentu saja, tidak mengimpor BBM berarti menghemat devisa.

Pertamina sebagai BUMN di bidang energi saat ini punya program untuk membangun 6 kilang minyak, yaitu di Balikpapan, Balongan, Cilacap, dan Dumai, melalui pogram RDMP, serta di Bontang dan Tuban melalui program NGRR. Ini sesuai dengan arahan pemerintah melalui Perpres No. 146 tahun 2005 tentang Pengembangan dan Pembangunan Kilang Minyak Dalam Negeri.

Di luar soal strategis yaitu swasembada BBM dan penghematan devisa tadi, pembangunan ini akan menyerap ratusan ribu tenaga kerja selama masa pembangunannya 7 tahun ke depan. Kilang Tuban saja, misalnya, akan meyerap setidaknya 50.000 tenaga kerja. Penyerapan ini diharapkan memberi kontribusi dalam menekan angkaengangguran yang tentu akan berdampak pada ekonomi nasional.

Itu masih ditambah lagi dengan bergulirnya kegiatan ekonomi pendukung selama masa pembangunan di sekitar titik-titik pembagunan. Industri kecil dan menengah akan terlibat dalam kegiatan ekonomi di lokasi pembangunan, seperti penyediaan katering, transportasi, logistik, warung makan, binatu, dan sebagainya. Bagi daerah setempat, kontrobusi ini tidak kecil. Terlebih, plaksanaan pembangunannya cukup lama, yaitu 7 tahun.

 

Stereotyping

Ada teman yang menulis status, isinya kurang lebih begini. “Elu teriak NKRI. Tapi rumah elu pagarin tinggi-tinggi. Tetangga nggak kenal. Ketua RT nggak tahu. Tetangga sakit juga nggak tahu. Kumpul-kumpul nggak pernah ikut. Kerja bakti nggak pernah ikut. Pas giliran ronda, elu upah orang lain untuk menggantikan.”
 
Para pembaca segera bisa menduga, siapa yang sedang dibicarakan, meski tidak disebut secara eksplisit. Ini terkait dengan situasi politik sekarang. Ya, kita buat mudah saja, itu gambaran tentang orang Tionghoa, yang dianut oleh sebagian orang, khususnya pribumi. Sebagian, artinya tak semua. Tapi jumlahnya cukup banyak.
 
Penulis status tadi, saya duga, sedang membangun upaya delegitimasi komitmen sejumlah orang terhadap NKRI, yang sekarang sedang diteriakkan di mana-mana. Kenapa perlu delegitimasi? Karena sekarang sedang musim klaim.
 
Itu disebut stereotype. Stereotype itu adalah anggapan yang tetap tentang sesuatu. Tentu saja ia tak menggambarkan keadaan sebenarnya. Peliknya, orang tak merasa perlu untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya. Bahkan, orang tak peduli ketika berhadapan dengan fakta yang berlawanan dengan kesimpulan yang ia buat. Ia lebih nyaman dengan kesimpulan streotype tadi.
 
Ada memang di wilayah tertentu, orang Tionghoa yang berperilaku seperti itu. Tapi ingat, yang bukan Tionghoa juga banyak yang begitu. Tentu saja ini bukan tipikal orang-orang yang sekarang sedang berdemo meneriakkan komitmen pada NKRI. Tidak ada hubungan sama sekali.
 
Saya sekarang tinggal di perumahan yang hampir separuhnya adalah orang Tionghoa. Rumah-rumah kami tidak berpagar, karena memang tidak boleh dipagari, sesuai aturan estate. Kami saling kenal, saling menyapa kalau bertemu di jalan. Anak-anak kami juga main bersama.
 
Kalau ada acara kumpul-kumpul, kami berkumpul dengan akrab. Teman-teman yang orang Tionghoa malah aktif hadir. Semua orang aktif berpartisipasi.
 
Malah ada yang unik, di cluster tempat saya tinggal sebelumnya. Kalau pas hari raya Idul Adha, teman-teman non muslim, utamanya orang Tionghoa, ikut menyumbangkan hewan kurban untuk disembelih. Usai pemotongan dan pembagian daging, kami berkumpul, pesta dengan masakan daging. Muslim dan non muslim berpesta bersama.
 
Nah, karena itulah mereka menyumbang tadi. Mereka ingin ikut kemeriahan hari raya, tapi tak ingin mengurangi jatah daging kurban yang seharusnya dibagikan kepada fakir miskin.
 
Dulu pernah ketua RT-nya orang Tionghoa. Ketika mau puasa, warga membuat musala darurat untuk tarawih. Pak RT ikut serta, kerja bakti membangun musala.
 
Ada banyak keindahan dalam hubungan antar agama di masyarakat kita. Ada banyak keindahan perilaku antar suku kita. Tapi tidak sedikit orang yang lebih suka mengingat hal-hal yang tak indah. Itu mungkin saja fakta, tapi bukan fakta yang menyeluruh. Berdasarkan ingatan itu, ia membangun sikap dasar, soal bagaimana ia memandang dan bersikap terhadap suatu golongan.
 
Kita bisa duga, bagaimana cara ia memandang. Ia memandang dengan kebencian dan permusuhan. Cara pandang tadi, fondasinya adalah kebencian dan permusuhan.
 
Bagi saya, Tionghoa itu manusia, persis seperti orang-orang dari suku apapun. Ada orang Tionghoa yang baik, sangat baik malah. Ada pula yang brengsek. Persis sama seperti orang Jawa, Bali, Padang, Madura, dan sebagainya.
 
Kalau kita bernalar, kesimpulannya pasti seperti itu. Karena itulah yang benar. Streotype tadi bukan kesimpulan yang benar. Itu biasanya kesimpulan yang dibuat berdasar rasa cinta atau benci. Cinta dan benci punya efek sama pada nalar, yaitu mematikannya.

HTI dan PKS Sebenarnya Bermusuhan

Ini cerita lama, tahun 90-an. Artinya, sudah berlalu 25 tahun lebih. Ketika itu saya aktivis Jamaah Shalahuddin UGM. Ketika itu di UGM belum ada mesjid. Kami menyelenggarakan salat jumat di hall gelanggang mahasiswa. Juga salat tarawih selama bulan ramadan. Ketika itu tarawih di gelanggang sangat trendy, karenanya jamaah hadir berjubel, hingga melimpah ke boulevard di depan gelanggang. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) seperti Jamaah Shalahuddin ada hampir di setiap kampus. Untuk berkomunikasi diadakanlah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK).

Tahun 1989 FSLDK tingkat nasional dilaksanakan di IKIP Malang. Waktu itu saya ikut pertama kali. Di forum ini rupanya ada yang namanya Forum Mantan. Isinya adalah mantan aktivis yang sudah tidak lagi jadi pengurus. Semacam KAHMI kalau di HMI. Forum Mantan ini punya peran dan pengaruh lumayan besar ketika itu. Motornya adalah Ismail Yusanto, yang juga mantan aktivis Jamaah Shalahuddin. Ketika itu dia adalah dosen di sebuah universitas swasta di Bogor (kalau ndak salah Universitas Ibnu Khaldun). Waktu itu sebenarnya Ismail sudah jadi kader Hizbut Tahrir (HT). Hanya saja dia tidak terang-terangan mengaku. Pembinanya adalah Abdurrahman Al-Baghdadi. Tokoh lain yang aktif dalam forum mantan itu adalah Gatot, yang kini kita kenal dengan nama Al-Khattath.

Dengan previllege sebagai Mantan, dia berusaha memasukkan ideologi HT. Dia mengusulkan agar LDK se Indonesia punya pegangan dalam menetapkan arah dakwah mereka. Disusunlah apa yang dia sebut Khittah dan Mafahim Dakwah. Kedudukannya di Bogor membuat Ismail juga berperan dalam pembinaan di LDK IPB, yaitu di mesjid Al-Ghifari. Salah satu LDK penyokong kuat konsep yang disodorkan Ismail adalah dari IPB ini. Salah satu tokohnya waktu itu adalah Adian Husaini.

Ndilalahnya, isi kedua dokumen itu mak plek bleg, persis sama dengan doktrin-doktrin HT. Pihak-pihak yang mengerti langsung bereaksi. Di antaranya Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) yang waktu itu dikomandani secara operasional oleh Anwar Haryono. Tokoh lain yang berperan di situ adalah Husein Umar, dan MS Kaban. Mengapa DDII? Saya juga ndak tahu persis kenapa. Tapi saya punya feeling bahwa banyak tokoh yang membina LDK, termasuk Jamaah Shalahuddin menganut ideologi Ikhwanul Muslimin (IM), dan DDII adalah salah satu simpul IM di Indonesia. DDII sepertinya merasa bahwa Ismail adalah binaan mereka, yang kemudian “menyebrang” ke HT. Konon, Ismail dan Adian Husaini sempat disidang oleh orang-orang DDII karena masalah ini.

Ada usaha untuk membendung pengaruh HT ini. Gerakan tarbiyah yang sebenarnya adalah Ikhwanul Muslimin, berkepentingan untuk membendungnya. Di Timur Tengah sana IM memang tidak akur dengan HT. Saya pernah menjadi bagian dari usaha untuk membendung itu.

Sebagai utusan Jamaah Shalahuddin saya ditugasi untuk melawan aktivis HTI dalam perdebatan di FSLDK.  Saya dibekali dengan pengetahuan tentang seluk beluknya, serta dalil-dalil yang bisa dipakai untuk membantah kesahan HT dari sudut pandang Islam. Salah satu yang pernah memberi briefing untuk saya waktu itu adalah Ustaz Yunahar Ilyas.

Sejak FSLDK di Malang, isi FSLDK selanjutnya adalah soal Khittah dan Mafahim ini. Peran Mantan makin lama makin kuat. Akhirnya naskah Khittah dan Mafahim itu gol juga untuk disosialisasikan. Saya waktu itu capek dengan perdebatan yang sebetulnya juga bukan kapasitas saya untuk mengikutinya. Salah satu perdebatan saya yang agak keras terjadi dalam asrama mahasiswa IKOPIN Jatinangor, waktu acara FSLDK diadakan di situ. Lawan debat saya adalah Ismail Yusanto.

Akhirnya saya putuskan untuk menarik diri. Pada FSLDK di Makassar tahun 1991 Jamaah Shalahuddin mengundurkan diri dari posisi Koordinator Forum untuk wilayah Jateng, DIY, dan Kalimantan (Wilayah Tengah). HT semakin kuat bercokol dalam FSLDK ini. Selanjutnya saya tidak lagi berinteraksi dengan forum ini. Kenapa? Saya lihat ini adalah pertarungan antara dua kelompok politik, yang saya tidak ingin berada di dalamnya. Saya juga tidak ingin Jamaah Shalahuddin dibawa-bawa ke dalam pertarungan ini. Kami hanya ingin melayani umat yang hendak beribadah di kampus. Titik.

Meski HTI memenangkan pertarungan formal, IM tidak tinggal diam. Mereka mengirimkan utusan dari UI untuk menunggangi pelaksanaan forum ini tahun 1998 “ditunggangi”.  UI itu selama saya ikut FSLDK tidak pernah ikut serta. Tiba-tiba di tahun itu mereka hadir, dan kemudian membajak para peserta, diajak ke tempat lain, untuk mendeklarasikan berdirinya KAMMI. Ketuanya Fachri Hamzah itu. IM kemudian mendirikan Partai Keadilan, yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). KAMMI menjadi underbouwnya.

Sekarang Ismail Yusanto terang-terangan jadi Juru Bicara HTI. MS Kaban pernah jadi menteri. Lebih sering tampil sebagai aktivis politik ketimbang aktivis dakwah. Diduga terlibat dalam beberapa kasus korupsi termasuk aliran dana BI. Adian Husaini malah merapat ke DDII. Kalau nggak salah sempat jadi pengurus.

Aku? Nobody.

Parenting Out of the Box

Banyak orang terjebak dalam sekat-sekat virtual dalam hidup. Termasuk dalam pengasuhan anak. Kita semua pernah jadi anak, jadi remaja. Tapi kita begitu takut saat anak-anak kita tumbuh menjadi remaja. Kenapa? Karena kita sudah lupa bagaimana rasanya jadi remaja. Kita sudah bertransformasi jadi orang tua, dengan karakter yang ada pada orang tua kita dulu. Boleh jadi sosok dengan karakter itu dulu kita benci. Kini kita menjadikan diri kita sosok yang dulu kita benci.

Saya ditanya, bagaimana kita membendung pengaruh negatif gawai (gadget) terhadap anak-anak kita. Saya tanya balik, secara out of the box, mengapa yang terpikir olehmu adalah pengaruh negatif gawai? Kenapa tidak kau perkaya dirimu dengan manfaat gadget, dan dorong anak seluas-luasnya untuk memanfaatkannya?

Saya mengajari anak-anak saya gawai untuk mencari informasi, dengan Google, Youtube, Google Earth, dan banyak lagi aplikasi lain. Saya banyak menjelaskan pelajaran sekolah dengan bantuan aplikasi tersebut. Tentu saja kami juga bersenang-senang dengan gawai, dengar musik, main game, dan nonton film.

Kenapa banyak orang tua yang khawatir soal pengaruh buruk gawai terhadap anak? Karena mereka adalah korban pengaruh buruk itu. Mereka orang-orang yang terbelenggu oleh gawai, tak mampu mengendalikan diri. Mereka para orang tua yang curang. Biarlah aku jadi korban, yang penting anakku jangan.

Ini adalah orang tua yang sama curangnya dengan yang menjawab “tidak tahu” ketika anaknya bertanya soal pelajaran. Anak-anak diwajibkan tahu, sementara orang tuanya tetap nyaman menjadi orang yang tidak tahu.

Bagaimana mencegah agar anak-anak tidak jadi korban gadget? Berhentilah bertingkah sebagai korban gawai. Perbanyaklah waktu untuk beraktivitas bersama anak-anak.

Kalau semua itu Anda lakukan, akankah anak-anak Anda kena pengaruh negatif dari gawai? Kalau gawai dipegang untuk cari informasi, belajar, membaca, apa yang perlu kita khawatirkan?

Gawai ini hanya suatu produk teknologi. Sebelum ini kita sudah banyak mengalami perpindahan dari satu produk teknologi ke produuk yang lain. Dari radio ke TV. Dari sepeda ke sepeda motor. Ada kalanya perpindahan itu menjadi masalah, ada kalanya tidak. Ia jadi masalah ketika kita tidak tahu cara menggunakannya dengan bijak.

Semua produk teknologi itu datang dengan tata cara penggunaan. Masalahnya, kita sering mengimpor produknya saja, minus tata cara atau etiket penggunaaannya. Contohnya, kita beli sepeda motor, tapi tidak peduli soal tata krama saat memakainya. Anak-anak kita juga kita paparkan kepada sepeda motor tanpa kita ajarkan etiketnya. Hasilnya, mereka sudah naik motor sebelum cukup umur, memakainya untuk kebut-kebutan. Lalu kita pusing menaggung akibatnya.

Jadi, bagi saya gawai itu tidak istimewa. Ia sama saja dengan produk teknologi yang lain. Kuncinya, patuhi tata cara pemakaiannya.

Kenapa anak sibuk dengan gawai hingga kecanduan? Karena orang tuanya begitu. Mengapa anak-anak bermegah-megahan dengan gawai? Karena orang tuanya begitu. Salah satu kebodohan orang tua adalah, mereka memberi anaknya gawai sebelum cukup umur, kemudian mereka khawatir akan efek negatifnya. Sadarkah mereka bahwa yang harus dikhawatirkan efek negatifnya bukan gawai, tapi justru diri mereka sendiri? Ya, orang tua itu bisa memberi efek yang sangat negatif terhadap anaknya.

Bagaimana dengan media sosial? Itu juga sama. Kenapa banyak orang tua yang sudah membuatkan akun medisa sosial untuk anaknya, sebelum mereka cukup umur? Mengapa orang tua takut soal efek negatif media sosial, sementara mereka sendiri sibuk menyebar hoax?

Berpikir out of the box dalam hal ini adalah dengan menyadari bahwa efek negatif yang paling besar potensi buruknya terhadap anak adalah diri kita sendiri. Jangan sibuk dengan efek negatif di seberang lautan, sebelum tuntas membuat daftar efek negatif yang bisa kita hasilkan.

Berapa jam sebaiknya anak main gadget? Itu sama dengan pertanyaan, berapa jam sebaiknya anak baca buku? Kalau anak boleh baca buku 2-3 jam sehari, kenapa takut kalau mereka pakai gadget selama itu? Sama saja bukan, kalau dia memakai gadget untuk membaca? Kalau ia memakainya untuk hal yang sia-sia, itu sama saja perlakuannya dengan saat ia melakukan hal sia-sia dengan (atau tanpa) perangkat lain. Makan, tidur, dan sebagainya juga harus dibatasi. Jadi jangan anggap pembatasan gawai itu penting. Ada yang lebih penting dari soal berapa lama, yaitu untuk apa ia dipakai.

Bagaimana dengan muatan pronografi? Anak saya seharusnya tidak heran lagi dengan gambar orang telanjang. Kami punya buku atlas anatomi. Di situ dia bisa melihat semua organ dengan detil. Saya sudah biasa jelaskan soal apa itu senggama, dengan gambar ilustrasi.

Bagaimana kalau suatu hari saya temukan dia mengakses muatan pornografi? Akan saya ajak dia melihatnya bersama. “Nak, ini payudara perempuan. Dalam bahasa informal boasa disebut tetek. Kadang disebut susu. Organ ini fungsi utamanya untuk menyediakan gizi bagi bayi, termasuk kamu waktu kecil dulu. Tapi ia juga adalah bagian tubuh perempuan yang harus dihormati.”

Kalau ia menonton video porno, akan saya jelaskan bahwa inilah persenggamaan. Dengan cara ini manusia mendapat kenikmatan. Tapi ini juga punya konsekuensi, yaitu kehamilan. Maka ada tanggung jawab di situ. Ada pula risiko penyebaran penyakit. Karena itu, senggama diatur dengan seperangkat aturan.

Begitu cara saya. Out of the box, bukan?