Terjebak dalam Mimpi

Ada seorang teman di masa lalu saya. Sebenarnya tidak begitu pas bila saya sebut teman. Saya dulu pernah tinggal di asrama milik pemerintah daerah waktu kuliah. Setahun saya tingal di situ. Salah satu penghuni asrama itulah yang hendak saya ceritakan. Ia bermimpi ingin pergi ke Jepang.

Keinginan dia untuk pergi ke Jepang itu terlihat sangat jelas. Ia belajar bahasa Jepang dari sebuah kursus. Kegiatannya itu sempat menginspirasi beberapa anak lain untuk ikut kursus pula. Di kamarnya ada peta, yang mencakup wilayah Indonesia sampai Jepang. Ia menancapkan pin pada kedua peta tersebut. Satu di Jakarta, satu lagi di Tokyo. Kedua pin itu ia hubungkan dengan seutas benang. Peta itu menyimbolkan keinginan dia untuk pergi ke Jepang tadi.

Berhasilkah ia pergi? Tidak. Apa masalahnya? Detilnya saya tak tahu, karena saya tidak berteman akrab dengan dia. Tapi kesalahan mendasar dia menurut saya adalah hidup tanpa perencanaan. Saat saya masuk asrama dia sudah tergolong mahasiswa senior, artinya paling tua. Ketika orang-orang yang lebih muda dari dia bersusulan lulus, ia tak kunjung lulus. Bahkan ketika 6 tahun kemudian saya lulus, ia belum kunjung lulus juga. Kabar terakhir saya dengar ia meninggal, kurang lebih 2 tahun setelah saya lulus.

Banyak orang bermimpi, tapi tidak pernah bangun untuk mewujudkan mimpi itu. Ia hanya berangan-angan, dan terus begitu. Tidak sedikit pula berharap berbagai kebetulan akan mengantarkannya pada mimpinya. Padahal menggapai mimpi tak cukup hanya dengan itu.

Mimpi hanyalah permulaan. Mimpi memberi orang suatu tujuan. Dengan tujuan itu seharusnya orang membuat rencana. Kemudian menjalankan rencana itu, melakukan berbagai penyesuaian bila ada perubahan situasi di sekitar rencananya. Kemudian memastikan setiap langkah dalam rencana itu dijalankan, dan berhasil mendekatkan ia pada tujuan. Dalam bahasa manajemen, ia harus melakukan PDCA cycle (Plan, Do, Check, Adjust) secara berkala, kalau perlu secara harian.

Kita perlu membuat peta menuju mimpi yang hendak kita tuju. Kita perlu mengenali peta itu pada setiap langkah yang akan kita tempuh. Pada setiap langkah pada peta itu, kita mesti tahu apa yang kita butuhkan untuk setiap langkah kita selanjutnya. Maka lengkapi diri kita dengan segala sesuatu yang diperlukan tersebut. Dengan mekanisme PDCA tadi kita lakukan evaluasi di mana posisi kita saat ini, dan sudah berapa dekat kita dengan mimpi yang hendak kita tuju.

Tidak sedikit orang yang menganggap mimpi akan terwujud oleh faktor keberuntungan. Keberuntungan ia anggap sebagai berbagai kebetulan yang secara ajaib membuat seseorang mencapai apa yang ia inginkan. Ia pun hanya melihat orang-orang yang berhasil mencapai mimpinya dengan cara itu. Bahwa orang-orang itu berhasil karena berbagai kebetulan ajaib tadi.

Dalam hidup kita mungkin sering melihat seseorang yang diterpa begitu banyak kejaiban yang mengantarkannya ke jenjang sukses. Bila keajaiban itu tidak datang pada kita, maka kita akan meratap, bahwa Tuhan tidak memberi kesempatan sebagus yang diterima oleh orang-orang sukses itu. Ini adalah cara pandang orang-orang yang terjebak dalam mimpinya, tanpa pernah terbangun untuk mewujudkannya.

Benarkah begtu? Benarkah orang sukses itu mendapat kesempatan lebih banyak dari orang lain? Benarkah orang-orang yang gagal itu karena ia tidak mendapat cukup kesempatan?

Tidak. Kesempatan sesungguhnya datang menerpa kita bak air menerpa tubuh kita, saat kita berjalan menembus hujan. Bila kita berjalan beriring dengan orang lain dalam hujan, kita mendapat kesempatan yang sama untuk diterpa air hujan. Seperti itulah kesempatan untuk sukses datang kepada kita.

Yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah persiapan. Orang sukses sudah siap dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk maju selangkah lagi dalam road map menuju mimpinya. Ketika kesempatan datang, ia langsung menangkap, kemudian mengolahnya, membuat kesempatan itu menjadi suatu langkah, atau sebuah lompatan besar. Bahkan, ia tak hanya menunggu. Ia mencari kesempatan. Lebih hebat lagi, ia menciptakan kesempatan itu.

Kesempatan yang datang melewati seorang pemenang meninggalkan jejak berupa langkah maju menuju mimpinya. Setiap kesempatan meninggalkan jejak, sehingga kita melihat begitu banyak jejak. Kita mengira ia mendapat lebih banyak kesempatan. Padahal tidak. Yang kita lihat sebenarnya adalah, pemenang berhasil mengabadikan kesempatan yang ia terima menjadi jejak sukses yang lebih banyak.

Adapun para pecundang, ia tak siap ketika kesempatan datang. Sering kali ia bahkan tak sadar saatt kesempatan melewatinya. Maka ia seperti tak pernah mendapat kesempatan, karena kesempatan yang melewatinya tidak diubah menjadi sesuatu yang meninggalkan jejak.

Jadi, bagaimana caranya keluar dari mimpi, bangun untuk mewujudkannya? Buatlah rencana. Gambarkan peta jalan menuju ke mimpi kita. Deteksi semua kebutuhan pada setiap langkah yang akan kita tempuh, dan persiapkan diri kita dengan kebutuhan itu. Ukurlah kemajuan kita setiap saat. Lakukan langkah-langkah perbaikan bila kita jauh di belakang target pada peta yang sudah kita buat.

Mengambil Risiko atau Nekat?

“Bisnis itu cukup dengan modal nekat,” begitu kata para motivator bisnis. “Saya dulu nekat saja, dan berhasil.” Sayangnya, tidak sedikit yang ikut nekat, tapi kemudian gagal. Karena itu, kita mesti hati-hati dalam memakai istilah.

Hal terpenting yang membedakan seorang pengusaha dengan karyawan adalah ia memikul risiko. Seorang pengusaha adalah pengambil risiko. Karyawan hanya mengelola risiko itu, tanggung jawab akhir bukan pada dirinya. Kemauan mengambil risiko ini sering dibahasakan dengan kata nekat tadi.

Ada perbedaan mendasar antara nekat dengan mengambil risiko. Nekat cenderung tanpa pengetahuan dan perhitungan. Bayangkan kita berada di tepi sebuah tebing yang terjal. Orang yang nekat akan turun begitu saja, tanpa banyak perhitungan, tanpa pengaman. Sedangkan pengambil risiko akan turun juga setelah ia memantau keadaan tebing, dan menyiapkan alat keselamatan.

Kalau ada yang berkata bahwa berbisnis tidak memerlukan persiapan, yakinlah bahwa ia seorang penyesat. Untuk sekedar tidur rebahan di ranjang saja kita perlu persiapan, apalagi mau berbisnis. Yang lebih tepat untuk dikatakan adalah, jangan sampai banyaknya persiapan yang diperlukan menyurutkan kangkah untuk memulai. Atau, jangan pula berpikir bahwa kita harus menyiapkan segala sesuatu yang menjamin langkah kita 100% aman, baru akan mulai.

Ingatlah penurun tebing tadi. Dengan segala persiapan pengamanan, tetap saja ia berhadapan dengan risiko jatuh. Tapi risiko yang sudah terlihat di depan mata diantisipasi. Di luar itu masih ada banyak risiko, tapi ia tetap turun juga, mengambil risiko. Ia percaya bahwa persoalan yang akan ia hadapi di bawah sana, bisa ia atasi.

Mengambil risiko juga bermakna bahwa kita sadar bahwa ada kemungkinan kita akan gagal. Kita tidak takut gagal, dan kita berniat mencoba lagi kalau kita gagal. Tapi bukan berarti kita sengaja mengambil tindakan yang dari awal kita sudah tahu bahwa kita akan gagal. Yang terakhir itu disebut nekat, bukan mengambil risiko.

Bisnis apapun tetap membutuhkan sebuah rencana. Karena itu kita mengenal istilah business plan. Rencana bisnis meliputi sistem deteksi terhadpa berbagai risiko yang ada, yang bisa mengancam keberhasilan bisnis. Risiko itu diantisipasi. Tapi tetap saja sedetil apapun rencana, tidak bisa menghilangkan ancaman 100%. Karena itu harus ada kesediaan untuk mengambil risiko.

Seperti kita lihat dalam berbagai ilustrasi di atas, mengambil risiko bukanlah nekat. Sama sekali berbeda. Jangan mau ditipu dengan istilah nekat, seolah nekat itu sesuatu yang ajaib, bisa mengantarkan orang kepada sukses dalam berbisnis. Tidak, nekat itu lebih mendekatkan orang kepada kegagalan ketimbang kesuksesan.

Ideologi-Psikologi Konflik Israel-Palestina

 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. QS. al-Baqarah (2) : 120.”

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi dan membunuh mereka sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, kemudian batu dan pohon berkata, ‘Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Orang Yahudi ini di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia!” Kecuali gharqad, karena ia adalah pohon orang Yahudi.”

Dua dalil itu adalah pegangan utama kaum muslim dalam memandang konflik Israel-Palestina. Termasuk muslim Palestina sendiri, utamanya yang berada di Gaza, yang dikuasai Hamas. Israel adalah Yahudi, musuh abadi. Konflik ada di sekitar Baitul Maqdis, yang dalam keterangan lain merupakan ciri konflik akhir zaman.

Intinya, bagi muslim tidak ada perdamaian dengan Yahudi. Lawan terus sampai menang, atau sampai mati. Tidak ada kompromi. Juga tidak perlu pilih-pilih. Militer atau bukan, tetap Yahudi yang layak dibinasakan.

Saya tidak tahu bagaimana ayat-ayat kitab suci Yahudi yang dipakai Israel dalam melihat konflik ini. Tapi mereka paham betul soal ideologi-psikologi tadi. Maka pihak Israel juga tidak memberi ampun. Mereka berhadapan dengan orang-orang yang bertekad membasmi mereka. Apa yang bisa dilakukan selain bertindak tanpa ampun?

Maka kita selalu melihat pertunjukan berulang. Hamas menembakkan roket ke wilayah Israel. Lalu Israel membalas dengan serangan brutal. Rumah-rumah penduduk juga dihajar sampai luluh lantak. Kenapa? Karena roket juga ditembakkan dari pemukiman sipil.

Lalu ada melodrama mengutuk Israel yang katanya keji itu. Keji? Ya, memang keji, karena mereka menyerang secara brutal. Tapi pernahkah kita juga berpikir bahwa yang berniat menghabisi umat lain itu juga sangat keji?

Yang dilakukan Israel memang membuat kita mesti geleng-geleng kepala. Mereka membangun tembok batas, memeriksa setiap orang, menangkap dan memenjarakan orang. Keji. Tapi adakah pilihan lain ketika mereka berhadapan dengan orang-orang yang berniat memusnahkan mereka?

Maka konflik itu tidak akan pernah reda. Perdamaian tidak akan pernah ada. Ironisnya, orang-orang Islam terus meratapi korban-korban muslim yang berguguran. Tapi mereka tak mau menyadari bahwa korban-korban itu gugur akibat cara pandang kaum muslim juga. Itu adalah ongkos yang harus dibayar karena mereka mengimani dalil-dalil di atas.

Makanya saya katakan, saya akan meninggalkan dalil, kalau iman saya terhadap dalil-dalil membuat hidup saya atau hidup orang lain menderita.

 

Galau-galau Cinta

broken

 

 

 

 

 

 

 

Bagi yang tidak merasakan, mungkin galau cinta bisa dianggap sekedar bahan untuk bercanda atau ejek-ejekan. Tapi masalah sepele ini bisa betul-betul merusak. Pendidikan terhadap anak-anak, bimbingan terhadap remaja, harus turut memperhatikan soal ini.
 
Ada beberapa kejadian fatal yang pernah saya lihat, soal asmara ini. Ada anak yang sangat cerdas dan cemerlang. Ia kuliah di jurusan bergengsi di sebuah perguruan tinggi ternama. Tentu orang tuanya bangga padanya.
 
Tapi pada suatu masa, anak itu jatuh cinta pada salah satu teman kuliahnya. Soal biasa, bukan? Soal biasa pula, cintanya ternyata ditolak. Biasanya ini hanya akan jadi cerita galau singkat, yang kelak jadi bahan olok-olok antar teman.
 
Tapi yang ini tidak biasa. Anak tadi mengalami kejutan mental yang luar biasa. Ia kemudian menjadi kehilangan semua kecemerlangannya. Ia tak lagi kuliah, mengunci diri di kamar. Kemudian mulai bicara sendiri. Saya menyaksikan sendiri keadaannya, setelah ia parah. Bahkan, kabarnya ia pergi dari rumah, tak tahu sekarang berada di mana.
 
Bukan sedikit contoh yang demikian itu. Pernah pula saya menyaksikan seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pemuda, tapi ia bertepuk sebelah tangan. Akhirnya, ia pun menderita sakit jiwa.
 
Kalau pun tidak sampai gila, tidak sedikit remaja yang mengalami perubahan perilaku akibat asmara. Ada yang tadinya pendiam, tiba-tiba menjadi beringas. Ada pula yang sebaliknya, dari anak yang aktif dan ceria, tiba-tiba menjadi pendiam. Tidak sedikit yang merosot prestasi belajarnya gara-gara ini.
 
Apa masalahnya sehingga hal yang seharusnya sepele itu bisa demikian fatal? Bagi saya, mental itu sama dengan fisik. Fisik kita, sekali kena penyakit, akan menderita. Tapi dengan itu ia membangun ketangguhannya sendiri. Karena itu, anak sakit, itu soal biasa saja. Kuatkan tubuhnya, agar dia sembuh. Dia akan jadi lebih kuat.
 
Soal mental juga begitu. Anak-anak harus terbiasa gagal, atau tidak tercapai keinginannya. Ia harus belajar menerima, bahwa tak semua keinginan akan tercapai. Atau, lebih tajam lagi, ada keinginan yang harus diusahakan berulang-ulang, baru bisa tercapai.
 
Bagaimana cara mengajarkan hal itu pada anak? Pertama, jangan biasakan menuruti semua keinginannya. Penuhi permintaan anak berbasis pada kebutuhan. Meski kita bisa, kita mampu, tidak semua keinginan anak harus dituruti. Sering saya bersikap tega pada anak, menolak permintaannya, karena menurut saya tidak perlu dituruti. Dengan begitu anak belajar mengatasi rasa kecewanya.
 
Kedua, hadapkan anak kita pada berbagai kompetisi. Ia pasti akan gagal. Maka pada saat itu kita harus hadir, menguatkan dia. Dengan begitu ia akan belajar membangun kekuatan mental menghadapi kegagalan.
 
Ketiga, komunikasikan dengan baik hal-hal yang menyangkut perasaan asmaranya. Hal ini mungkin akan berat, karena anak remaja biasanya enggan membahas soal ini dengan orang tua. Kenapa? Banyak orang tua yang melarang anaknya pacaran. Padahal hasrat untuk suka pada lawan jenis itu alami. Ia muncul begitu saja. Kalau tidak terjadi komunikasi yang baik, anak akan menyimpan perasaannya sendiri. Ketika ia bermasalah dengan perasaan itu, kita sebagai orang tua sama sekali tidak tahu. Kalau kita tidak tahu, bagaimana kita bisa membantu?
 
Bagaimana membuat anak terbuka soal perasaan asmaranya? Ini bukan sesuatu yang bisa kita dapat dengan instant. Kita harus membangunnya dengan baik, sehingga tersedia ruang kepercayaan yang luas antara kita dengan anak. Anak harus diberi ruang senyaman mungkin, sehingga ia tidak takut, juga tidak malu untuk bercerita.
 
Anak perlu mendapat keyakinan bahwa kita tidak marah dengan perasan dia. Atau, mereka tidak dilecehkan atau diejek dengan perasaan itu. Ini betul-betul wilayah sensitif.
 
Keempat, sediakan pendampingan yang memadai saat anak kita mengalami krisis asmara. Kita harus sanggup mendeteksinya, menggali informasi mengenai keadaanya, tapi harus hati-hati, jangan sampai menciderai ruang pribadinya.
 
Kita bahkan perlu mendeteksi, kapan kita perlu mendapat bantuan atau pendampingan dari psikolog. Nah, soal ini kadang juga jadi hambatan bagi orang tua. Tidak sedikit yang malu konsultasi dengan psikolog, karena kalau konsultasi seakan anaknya sakit mental. Sakit mental dianggap penyakit memalukan. Padahal, tidak semua konsultasi ke psikolog berarti anak kita sakit. Bahkan, kalau pun sakit, sama saja dengan sakit fisik. Sakit bisa disembuhkan, bukan sesuatu yang hina.
 
Rumit? Iya. Tapi sekali lagi, semua itu mudah saja, kalau kita biasa hadir di tengah anak-anak kita.
sumber foto: rawstory

10 Prinsip Taiichi Ohno

 

 

img_1117

 

 

 

 

 

 

Taiichi Ohno adalah penggagas sistem produksi yang kini dikenal sebagai The Toyota Way. Sistem ini terkenal karena sangat efisien. Penerapannya membutuhkan disiplin tinggi.

Ohno lahir di Dalin, Cina, tahun 1912. Ia kuliah di Nagoya, kemudian bergabung dengan perusahaan milik keluarga Toyoda, yang merupakan teman ayahnya. Perusahaan itu membuat mesin pemintal benang.

Ya, bisnis pertama Toyota yang dirintis oleh Sakichi Toyoda adalah bisnis pembuatan mesin pintal dan tenun, bukan otomotif. Toyota baru mulai membuat mobil tahun 1938. Hingga saat ini Toyota masih membuat mesin tenun, dan wujud sebagai pembuat mesin nomor satu di dunia.

Tahun 1948 Ohno pindah ke divisi otomotif. Dia kemudian menghasilkan gagasan tentang lean manufacturing. Konon ceritanya, gagasan itu ia dapat saat melihat supermarket di Amerika. Di supermarket ini disimpan stok dalam jumlah terbatas, sesuai debit penjualan barang. Ohno kemudian memakai prinsip itu untuk jalur produksi di pabriknya. Ia yang memperkenalkan konsep “7 Kemubaziran” atau Nanatsu No Muda.

Berikut adalah 10 prinsip dalam bekerja yang diajarkan oleh Ohno.

1. Kamu adalah biaya. Dalam konteks perusahaan, setiap orang adalah sumber biaya. Ia digaji, diberi ruang kerja, dan berbagai fasilitas untuk kerja. Itu semua berbiaya. Setiap orang bertanggung jawab atas biaya yang timbul. Logisnya, kita bekerja menghasilkan sesuatu, jauh melebihi dari biaya yang dikeluarkan untuk kita. Bila tidak demikian maka kita adalah beban perusahaan. Hal-hal yang sifatnya beban, harus dibuang.

2. Selalulah katakan,”Saya bisa.” Selalulah mencoba. Tidak ada hal yang kita putuskan tidak bisa, sebelum kita mencobanya. Saya coba, dan saya bisa. Saya coba banyak hal, membuat saya bisa banyak hal. Tidak ada orang yang serba bisa. Kita tidak serba bisa. Tapi kita bisa mencoba, dan menjadi bisa.

3. Tempat kerja adalah guru. Hanya di tempat kerjalah kamu bisa menemukan jawaban. Dalam bahasa Jepang ini disebut genba shugi. Keahlian diperoleh dari lapangan, tempat kita bekerja, bukan melalui sederet buku teori. Juga bukan dari hasil perenungan di balik meja. Arti sebaliknya adalah, belajarlah dari hal-hal yang kamu kerjakan. Bukan sekedar melakukannya dengan pikiran kosong.

4. Lakukan segala sesuatu dengan segera. Memulai sesuatu sekarang adalah satu-satunya cara untuk menang. Jangan biasakan menunda, membuat pekerjaan menumpuk, sehingga kita tak sanggup lagi mengatasinya. Jangan tunggu hingga terdesak baru mengerjakan. Jangan baru memulai saat semangat kita sudah mulai luntur.

5. Sekali mulai, lakukan dengan gigih sampai tujuan tercapai. Tidak ada tujuan yang tidak bisa dicapai. Tak ada mimpi yang bisa diraih. Tak ada jalan buntu. Semua yang kita hadapi hanyalah tembok yang bisa kita panjati, lompati, atau kalau perlu kita hancurkan. Tembok di depan kita hanya akan jadi jalan buntu kalau kita memandangnya sebagai jalan buntu.

6. Jelaskan hal-hak sulit dengan mudah. Puncak pemahaman seseorang adalah saat ia mampu menjelaskan hal sulit dengan cara yang mudah dipahami orang. Berempatilah pada orang yang belum paham. Itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang punya kemauan kuat untuk berbagi.

7. Kemubaziran itu selalu tersembunyi. Jangan sembunyikan. Jadikan ia selalu terlihat, sehingga selalu disadari sebagai masalah. Biasakan untuk berpikir, mencari sumber kemubaziran, dan memunculkannya ke permukaan.

8. Gerakan sia-sia sama halnya dengan memperpendek umur. Hidup ini terbatas waktunya. Hidup kita dinikai dari berapa banyak hal bermanfaat yang kita lakukan selama hidup. Bila banyak ama sia-sia, amal bermanfaat kita hanya sedikit. Mungkin kita akan kalah dari orang yang pendek umur tapi banyaj amal bermanfaat, padahal umur kita lebih panjang dari dia.

9. Perbaiki yang sudah diperbaiki, untuk jadi lebih baik lagi. Tidak ada kesempurnaan dalam hidup. Selalu ada ruang dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas. Tidak boleh ada kata berhenti atau selesai untuk perbaikan.

10. Kebijasanaan ada pada setiap orang. Yang memebdakannya adalah yang mempraktekkannya. Kebijaksanaan bukan bawaan lahor. Ia dihasilkan dari sikap yang terus menerus diasah dalam interksi kita dengan orang lain. Orang bijak tidak hidup di gua, menghasilkan kebijakan dari perenungan. Orang bijak hidup bersama manusia lain, mengasah kebijakannya melalui interaksi.

Pendidikan Socrates-Confusian, dan Pola Komunikasi Kita

Socrates adalah filusuf Yunani yang hidup di pertengahan abad sebelum Masehi. Pada zaman yang hampir sama di Cina hidup filusuf lain, yaitu Kong zhu Chu. Selain hidup pada zaman yang hampir sama, keduanya punya perhatian besar pada masalah pendidikan dan kepemimpinan. Pemikiran dan gaya keduanya mempengaruhi perilaku manusia hingga saat ini.

Kebudayaan dunia saat ini secara garis besar bisa kita bagi dua, yaitu Barat dan Timur. Kebudayaan Barat dibangun dengan pola pikir yang dibentuk oleh model pendidikan Socrates. Adapun dunia Timur dibentuk oleh pendidikan dengan model Confusian.

Pendidikan model Confusian berpusat pada guru. Dalam bahasa Cina guru adalah 老師 atau 先生. Keduanya bermakna orang yang lebih tua. Guru adalah orang yang lebih tua, lebih berpengalaman, lebih berilmu, dan lebih bijak. Guru adalah ilmu itu sendiri. Segala yang dikatakan sang guru adalah sesuatu yang bersumber dari dirinya. Kata itu adalah guru itu sendiri.

Dalam model Socrates peran guru tidak sangat sentral. Ia hanya mengajak orang untuk berpikir dan melakukan eksplorasi. Ia mengajarkan beberapa hal, sebagai pembuka jalan dan penuntun dalam berpikir. Pemikiran dilakukan sendiri oleh para pelajar.

Konsekuensinya, informasi yang dihasilkan, bukan milik sang guru, tidak melekat pada dirinya. Informasi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh pikiran siapa saja.

Dua model itulah yang membedakan sekolah-sekolah kita dengan sekolah-sekolah Barat. Sekolah kita berpusat pada guru sebagai pengajar, murid mendengar, memahami, dan mengingatnya. Secara umum, yang aktif adalah guru, murid cukup pasif saja. Hasil pendidikan diukur dengan seberapa banyak murid dapat menyerap informasi yang sudah disampaikan oleh guru.

Adapun pada sekolah-sekolah Barat yang memakai model Socrates, guru berfungsi hanya sebagai fasilitator. Informasi digali bersama. Hasil pendidikan tidak hanya diukur dengan berapa banyak informasi yang dserap pelajar, tapi lebih ditekankan pada seberapa aktif dia.

Di Timur orang dilatih untuk mendengar, di Barat orang dilatih untuk bicara. Ini yang membentuk perbedaan cara komunikasi kita. Kita, produk pendidikan Confusian cenderung pasif dalam berkomunikasi. Kita berpendapat bila diberi kesempatan. Jarang terjadi silang argumen yang tajam. Dalam analogi, bisa kita ibaratkan seperti permainan golf. Dalam permainan golf, setiap orang mendapat giliran, dan yang lain menghormati kesempatan itu tanpa mengusiknya.

Model komunikasi Barat dapat kita ibaratkan dengan permainan rugby. Dalam permainan rugby, orang berebut bola. Berbagai cara dilakukan, agar dapat bola. Jadi, dalam berkomunikasi mereka akan berusaha sebanyak mungkin untuk bicara, membuat pendapat mereka didengar.

Ada lagi perbedaan lain. Komunikasi di dunia Barat dilakukan dengan format pesan low context. Makna pesan tetuang secara jelas dalam setiap kata yang dipakai untuk mengirim pesan. Tanggung jawab penyampaian pesan ada pada pengirimnya.

Adapun di dunia Timur, pesan bersifat high context. Kandungan pesan sering kali tidak sekedar berada dalam deretan kata pembawa pesan, tapi sangat tergantung pada konteks saat pesan disampaikan. Tangung jawab pemaknaan pesan ada pada penerima. Ia harus mampu menerjemahkan maksud pengirim pesan, dengan mendengar isi pesan dan sekaligus membaca konteksnya.

Hal lain yang tidak kalah penting, dalam sistem Confusian, informasi bersumber dari guru. Informasi dan guru itu satu kesatuan. Menyanggah atau mempertanyakan informasi sama artinya dengan menyanggah atau mempertanyakan guru.

Sementara itu, dalam sistem Socrates, informasi tidak satu paket dengan guru. Informasi adalah produk di luar sang guru. Menyanggah atau mempertanyakan informasi, adalah sesuatu yang biasa dilakukan, tanpa membuat guru merasa dibantah.

Saya, meskipun dididik dengan gaya Confusian, tumbuh menjadi pelaku komunikasi bergaya Socrates. Bagi saya biasa saja menyampaikan opini dengan blak-blakan dan tajam, serta menyasar tokoh-tokoh besar. Yang dikritik adalah gagasannya. Tapi harap dicatat, bahwa saya hanya membahas gagasan, bukan sosok.

Orang-orang yang menganut gaya Confusian akan gerah dengan gaya itu. Mereka menganggapnya sebagai serangan pribadi kepada sang tokoh, dan bahkan menganggapnya pelecehan.

Orang Kampung Masuk Hotel

img_1075

Ini adalah masa-masa yang sangat menyenangkan buat saya. Bermula dari panggilan telepon dari kantor Japan Indonesia Forum (JIF), pada suatu hari. “Mr. Hasanudin, congratulation, you have passed the selection for Asian Youth Fellowship program.” Artinya, saya lolos seleksi, mendapat beasiswa untuk kuliah ke Jepang.

Hari-hari berikutnya adalah masa persiapan untuk berangkat. Saya akan menjalani pelatihan bahasa Jepang di Kuala Lumpur, sebelum pergi ke Jepang. Masa pelatihannya 1 tahun. Saya berangkat ke Jakarta, mengurus semua dokumen yang diperlukan, lalu pada hari yang ditetapkan, saya pun berangkat.

Ada sedikit uang tabungan yang saya bawa. Dengan uang itu saya membeli baju di Matahari, Senen. Celana warna gelap, kemeja biru, warna kesukaan saya, dan sepasang sepatu warna hitam. Pakaian itu saya kenakan di hari berangkat itu, ditambah dasi pemberian orang sebelum saya berangkat dari Pontianak.

Sekitar pukul 10 pagi pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Sepang, Kuala Lumpur. Dada saya bergemuruh, rasanya cukup kuat untuk mengalahkan gemuruh mesin pesawat yang sedang bergerak menuju tempat parkirnya. Betapa tidak. Saya baru saja mendarat di Kuala Lumpur! Ini adalah kunjungan pertama saya ke luar negeri. Ini adalah langkah pertama terwujudnya mimpi saya. Saya ingin sekolah ke luar negeri, itu mimpi saya dulu. Kini itu bukan mimpi lagi.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi saya menuju ke pintu keluar. Saya sempat agak khawatir, apakah yang menjemput saya benar-benar datang? Ah, tapi itu cuma sebentar. Di pintu keluar segera saya temukan seseorang, saya bisa pastikan ia orang Jepang, membawa papan kecil bertuliskan “Mr. Hasanudin”. Saya segera menghampirinya.

“Hello, I am Hasanudin.”

Dia menyambut saya dengan senyum lebar.

“Welcome to KL. My name is Hamano.”

Dia kemudian mengajak saya keluar bangunan bandara. Tak lama kemudian kami dijemput oleh sebuah mobil, di lobby bangunan. Di dalam mobil sudah ada seorang anak muda Jepang. “This is Mr. Takenaka, he has just arrived from Osaka. He will take care of you and other students during your stay in KL,” kata Mr. Hamano menjelaskan.

Kami tiba di sebuah tempat di pusat kota KL. Belakangan saya tahu namanya kawasan Bukit Bintang. Tempat yang kami tuju adalah sebuah hotel, namanya Federal Hotel. Mr. Hamano melakukan proses check in untuk saya. Ia kemudian menyerahkan sejumlah uang ringgit, uang kedatangan, sambil menjelaskan bahwa uang beasiswa akan diberikan nanti. Ia juga menjelaskan bahwa biaya hotel sudah dibayar. Saya hanya perlu membayar makan untuk keperluan saya. Sebelum meninggalkan saya, dia berpesan,”Don’t make international call from your room, it is expensive. Use public phone.”

Saya kemudian diantar ke kamar oleh petugas hotel. Tiba di kamar saya langsud sujud syukur. Semua ini terasa bagai mimpi. Hotel ini terasa sangat mewah buat saya. Eh, inilah pertama kali saya masuk ke kamar hotel. Semua serba luar biasa.

Saya merasa seperti Kevin, anak kecil yang terpisah dari keluarganya saat pergi liburan dalam film Home Alone 2. Saya cobai semua barang yang ada di kamar hotel. Saya telepon resepsionis, sekedar untuk tanya arah kiblat, padahal saya sudah melihat tandanya. Sekedar untuk mencoba teleponnya. Kemudian saya isi bath tab dengan air panas sampai penuh, lalu saya berendam di situ. Kemudian saya pakai hair dryer untuk mengeringkan rambut. Lalu saya rebahan, menikmati kasur hotel yang empuk.

Puas mencobai semua peralatan di kamar, saya keluar hotel, berbekal sejumlah uang yang saya terima tadi. Di sebelah hotel ternyata ada mal. Saya masuk ke situ untuk makan siang. Saya pergi ke gerai McDonald. Ya, saya ingin mencobanya di sini. Di Indonesia baru sekali saya makan di McDonald. Saya agak kecewa ternyata McDonald di KL tidak menyediakan hidangan nasi. Tapi tak apa, hidangan hamburger yang saya makan lezat belaka.

Selesai makan saya beli kartu telepon. Saya telepon Teh, kakak saya. Ingin rasanya menelepon Emak, tapi tak ada telepon di rumah tempat Emak tinggal.

“Aku dah sampai ni, di Kuala Lumpur.”

“Alhamdulillah, selamat ya.”

“Iya, aku diinapkan hotel. Baguuuus benar hotelnya.”

“Bertuahnya kau, Dik. Banyak-banyak bersyukur ya.”

“Iya. Sampaikan salam untuk Emak, ya. Bilang, aku dah sampai.”

Singkat saja pembicaraan telepon kami, karena ongkosnya mahal. Saya kembali ke hotel, menikmati kamarnya lagi. Kali ini saya temukan pesawat telepon di kamar mandi. Saya telepon lagi resepsionis, sekedar untuk mencoba pesawat telepon itu. Kemudian saya menyalakan TV, menonton sambol tiduran di kasur empuk. Kadang saya pindah ke sofa, juga untuk menikmati keempukannya.

Dua malam saya menginap di situ, kemudian saya dipindahkan ke asrama yang telah disiapkan. Belakangan baru saya tahu bahwa saya dan beberapa pelajar yang ikut program ini terpaksa diinapkan di hotel karena kamar asrama yang disediakan untuk kami belum siap.

Tahun 2002 ketika saya lulus doktor, saya sempatkan untuk mampir ke KL, memberi kuliah ke sekolah tempat saya belajar bahasa Jepang, kepada para peserta program yang sama. Waktu itu saya sudah bertiga, bersama istri dan Sarah yang baru berumur 7 bulan. Sengaja saya menginap kembali di hotel yang sama.

Kali ini saya tentu tidak lagi riang gembira melihat kamar hotel. Kini saya bergembira karena saya sudah lulus kuliah. Perjalanan panjang yang berat, berakhir sudah.

Dunia Islam Memerlukan Paradigma Baru

Pada masa awal sejarahnya Islam ditekan. Di Mekah ditolak, sampai harus pindah ke Madinah. Di Madinah, kekuatan baru disusun. Perlahan membesar, sampai mampu melawan balik. Perlahan kekuatan ini membesar, sehingga mampu melumpuhkan kekuatan-kekuatan di sekitar Madinah, yang tadinya melawan, baik dalam koalisi dengan Mekah, mapun yang melawan secara mandiri. Pada akhirnya Mekah pun bisa ditaklukkan.
 
Pada masa berikutnya perang masih berlanjut. Kini perang sifatnya ofensif, untuk menaklukkan wilayah lain, atau pre-emptive, mengantisipasi kekuatan musuh sebelum mereka menyerang. Situasi ini berlanjut hingga Nabi Muhammad wafat. Wilayah kekuasaan Islam meluas hingga ke Syam, Palestina, Persia, dan Mesir.
 
Usai masa kekuasaan khulafaur rasyidin, dunia Islam memasuki fase kerajaan/imperium. Kekuasan semakin meluas, yang diraih dengan berbagai ekspedisi bersenjata, menaklukkan wilayah-wilayah, hingga ke Eropa. Kemudian penguasa imperium silih berganti, demikian pula pusat kekuasaannya. Ada beberapa periode di mana imperium Islam hadir dalam wujud kembar. Imperium terakhir yang wujud adalah kekhalifahan Turki Usmani. Di luar imperium itu tumbuh kerajaan-kerajaan kecil yang relatif independen, seperti kerajaan-kerajaan Islam Nusantara.
 
Pada masa berikutnya, dunia Islam memasuki fase penjajahan kolonial. Hampir semua wilayah di dunia Islam dikuasai oleh kolonial Eropa. Tadinya Turki menjadi bagian dari kolonial itu. Tapi pasca Perang Dunia I Turki melemah hingga praktis seluruh wilayah dunia Islam di bawah kekuasaan kolonial, yang nota bene bukan Islam.
 
Pasca Perang Dunia II, perjuangan kemerdekaan menguat. Muncullah negara-negara baru dalam format negara bangsa. Sebagian masih menjadikan Islam sebagai dasar negara, sebagian lagi merupakan negara sekuler. Ini berlangsung hingga sekarang.
 
Separo dari sejarah Islam di masa kenabian adalah masa di mana umat Islam berada di bawah tekanan, tanpa kemampuan untuk melawan. Ajaran dalam periode ini (makiyah) fokus pada pembangunan fondasi iman (akidah). Pada periode berikutnya (madaniyah), mulai dibangun fondasi syariat (hukum), menopang suatu sistem komunitas yang sudah mengarah pada bentuk negara.
 
Ada satu aspek penting dalam ajaran pada periode madaniyah ini yang hingga saat ini memberi warna pada sejarah Islam, yaitu ajaran untuk melawan, dan berjuang secara fisik. Ajaran ini disebut jihad.
 
Usai kepemimpinan Nabi Muhammad, ajaran ini terus bersifat implementatif. Inilah yang menjadi sumber energi yang menggerakkan berbagai penaklukan. Ada kalanya juga ajaran ini dipakai dalam berperang dengan sesama Islam sendiri. Pada kasus itu, pihak lawan dianggap sebagai kafir yang layak diperangi.
 
Hingga ke masa perjuangan kemerdekaan, ajaran ini masih terus relevan. Semangat jihad dipakai dalam memperjuangkan kemerdekaan.
 
Bagaimana dengan masa setelah itu? Kini kekuasaan negara tidak lagi berdasarkan agama. Dua negara bisa berdiri, keduanya negara Islam. Keduanya bisa beradu dalam konflik kepentingan. Atau, negara tak lagi homogen berupa negara Islam. Saat ada konflik kepentingan, yang beradu bukan lagi Islam lawan non-Islam, melainkan bangsa lawan bangsa.
 
Bagaimana posisi ajaran jihad dalam dunia baru ini? Jihad fondasinya adalah Islam vs non Islam. Mukmin vs kafir. Tapi kini, siapa kafir itu? Indonesia, misalnya, bukan lagi negara Islam. Ini negara di mana Islam dan non-Islam berbaur di bawah satu payung negara. Masih relevankah jihad?
 
Secara faktual kita tidak lagi berada dalam ruang yang sama seperti di masa abad ke VII. Tidak ada lagi garis batas antara Islam dan non-Islam. Akibatnya, batas itu kita buat sendiri. Misalnya, Islam vs non-Islam dalam internal negara Indonesia. Itu garis batas yang dipaksakan ada, karena seharusnya kita tidak berkonflik dalam ruang ini. Atau, kita memberi label pada kekuatan lain, seperti Barat, sebagai kekuatan non Islam. Label ini rancu, karena Barat sendiri tidak melabeli diri mereka dengan label agama. Terlebih, di setiap negara yang dilabeli non muslim itu juga terdapat komponen muslim, meski porsinya masih minoritas.
 
Menurut saya dunia Islam perlu membangun sebuah paradigma berpikir baru. Kita tidak lagi dalam suasana penaklukan bersenjata atau kolonial. Kita juga diharapkan untuk membangun, ketimbang menaklukkan. Bagi saya fokus jihad kita tidak lagi mengarah pada kafir, tapi pada ketertinggalan dalam berbagai bidang: pendidikan, ekonomi, dan teknologi.
 
Energi kita tak perlu lagi kita arahkan untuk melawan pihak luar, tapi untuk melawan diri kita sendiri. Jihad melawan diri sendiri. Dalam hal ini non muslim bukan lagi musuh, tapi bisa kita gandeng sebagai mitra. Bahkan mereka bisa menjadi guru kita.
 
Untuk bisa melakukan itu, kita harus berhenti memandang mereka sebagai musuh. Ayat-ayat yang mengajarkan permusuhan kepada mereka harus kita lihat sebagai bagian dari sejarah masa lalu, bukan perintah untuk kita laksanakan sekarang.

Pasar Dalil

Saya melihat kitab suci itu seperti pasar. Ia menyediakan semua. Di pasar tersedia bahan dan bumbu untuk membuat berbagai jenis masakan. Anda mau soto, gulai, gado-gado, rawon, sate, ketoprak, bubur. Apa saja. Anda bisa dapatkan bahannya di pasar. Demikian pula halnya dengan kitab suci. Anda mau praktek agama yang damai, welas asih, tidak reaktif, Anda bisa mencari dalil-dalilnya. Anda mau keras, galak, tidak kompromi, Anda bisa temukan dalil-dalilnya.

Di Quran ada ayat-ayat yang menyuruh untuk menekan orang-orang non muslim (kafir), bersikap keras pada mereka, bahkan membunuh mereka. Tapi ada juga ayat-ayat yang memerintahkan untuk bergaul dengan mereka secara ma’ruf, dan berlaku adil.

Apakah dengan begitu berarti ayat-ayat itu saling bertentangan? Itu tergantung cara kita melihatnya. Pada dasarnya semua ayat maupun hadist memiliki konteks. Tapi terdapat perbedaan pandangan soal konteks ini. Ada yang berpendapat bahwa makna ayat terikat sangat erat pada konteksnya. Kalau konteknya sudah berubah, maka ayat tersebut tidak lagi bisa dimaknai sesuai bunyinya. Namun sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa konteks tidak membatasi makna. Ayat harus dimaknai sebagaimana makna bunyinya saja.

Tapi, bukankah ayat-ayat itu memang seharusnya dipakai sesuai konteks situasi yang dihadapi? Misalnya, kalau pihak kafir menzalimi, kita harus keras, sebaliknya, kalau mereka baik, kita juga harus baik. Teorinya begitu. Masalahnya, definisi zalimdan tidak zalim itu relatif. Demikian pula kafir tidak kafir. Ia bahkan lebih banyak ditentukan oleh asumsi dan persepsi.

Contohnya, soal bagaimana seorang muslim harus bersikap terhadap Amerika. Ada yang menganggap Amerika itu biang kafir, dan juga zalim. Amerika selalu mengganggu negara-negara Islam, membuat kacau di berbagai tempat. Kenapa? Karena Amerika itu Kristen dan Yahudi. Maka Amerika itu musuh Islam.

Tapi di sisi lain ada yang melihat Amerika itu sebuah negara, tidak terkait dengan agama Kristen dan Yahudi. Negara itu bertindak atas dasar kepentingan nasional mereka, juga tanpa meihat agama orang-orang di negara yang menjadi lawan mereka dalam berurusan.

Amerika mengobarkan perang di Afganistan, tapi pada saat yang sama bersekutu dengan Arab Saudi. Keduanya negeri muslim. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Amerika itu musuh Islam? Pada saat yang sama Amerika punya hubungan yang tegang terhadap Venezuela dan Kuba, yang mayoritas penduduknya adalah Kristen. Bagaimana kita bisa melabeli Amerika sebagai kafir Kristen?

Pada akhirnya, tidak ada orang yang beragama secara komprehensif. Sikap beragama tidak ditentukan oleh pemahaman komprehensif terhadap dalil-dalil. Faktanya, sangat sedikit dari umat Islam yang paham soal dalil. Kebanyakan hanya membaca Quran sekedar bunyinya saja, tanpa memahami isinya.

Orang beragama dengan sebuah kesimpulan d muka. Islam itu agama yang damai. Maka orang akan mencari dalil-dalil damai, dan menjadikannya pedoman. Bahkan, banyak yang tidak tersentuh dalil. Mereka cukup berpegang pada prinsip damai tadi, dan hidup sesuai prinsip itu.

Sebaliknya, ada orang-orang yang memilih untuk memandang Islam sebagai agama yang keras terhadap kafir. Maka mereka hidup dengan bersandar pada dalil-dalil keras, atau bahkan hidup tanpa perlu lagi menelisik dalil-dalil.

Bahkan sama-sama merujuk pada suatu ayat, hasil akhirnya bisa berbeda. Persis seperti orang memasak. Sama-sama pakai daging ayam, hasilnya bisa berupa soto atau gulai.

Jadi, semua kembali kepada Anda. Pasar tidak menentukan, apakah Anda mau masak soto atau rawon. Andalah yang menentukan. Andalah yang meramu bahan dan bumbunya. Andalah yang memilih untuk damai atau keras. Anda boleh saja mengklaim bahwa Anda komprehensif. Kenyataannya tidak.

Mahasiswa Abadi

Istilah ini populer pada tahun 70-90. Tapi saat ini pun sebenarnya fenomena ini masih ada. Mahasiswa abadi adalah mahasiswa yang masa kuliahnya lama. Tidak hanya lama, pada suatu titik, tidak jelas kapan mahasiswa itu akan lulus. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tidak lulus kuliah.

Gejala ini marak di tahun 80-an, sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan drop out (DO). Pada 2 tahun pertama dilakukan evaluasi dengan ambang batas yang telah ditetapkan. Bila ambang batas itu tidak dilampaui, maka mahasiswa itu akan kena DO. Kebijakan ini tidak berjalan dengan efektif. Banyak kampus yang tidak tega menerapkannya dengan ketat.

Kini masa kuliah diperpendek jadi 4 tahun. Mahasiswa didorong untuk lulus cepat. Gejala mahasiswa abadi sudah turun drastis. Tapi bukan berarti sudah musnah sama sekali.

Ada banyak jenis mahasiswa abadi. Ada yang pada awalnya lancar, setiap mata kuliah dia lulus dengan nilai baik, tapi mentok pada saat harus menulis skripsi. Skripsi tidak kunjung jadi, selama bertahun-tahun. Ada pula yang sejak awal terseok-seok, dan terus begitu sepanjang kuliah. Ada juga yang tidak kuliah, sibuk dengan hal-hal lain di luar itu. Mereka sibuk menjadi aktivis, atau sibuk berbisnis.

Mahasiswa abadi tipe pertama adalah mahasiswa yang gagal membangun kemampuan belajar. Ia tidak bertransformasi menjadi orang yang mampu belajar mandiri. Orang-orang ini belajar dengan tipe anak-anak, tidak masuk ke cara belajar orang dewasa (adult learning). Ia hanya sanggup belajar dengan cara menghafal, pada hal-hal yang disodorkan padanya. Ia tidak sanggup mencari sendiri bahan pelajaran, meramunya menjadi pengetahuan baru, yang bisa ia pakai untuk menyelesaikan masalah.

Mahasiswa yang terseok-seok sejak awal adalah mahasiswa yang boleh jadi memang tidak layak kuliah. Kemampuan intelektualnya tidak memadai. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk kuliah, mengikut arus. Atau, dipaksa oleh orang tua untuk kuliah. Mereka kuliah tanpa kemampuan, tanpa tujuan, dan tanpa semangat.

Adapun yang sibuk dengan aktivitas lain di luar kuliah, mereka adalah orang-orang yang kehilangan tujuan. Mereka tidak lagi tahu apa tujuan mereka kuliah. Sebagian sekedar mencari pelarian, karena nilai mereka yang buruk.

Yang sibuk dengan bisnis, ada yang benar-benar sibuk berbisnis, dan bisnisnya bagus. Orang-orang seperti ini memang sebenarnya tidak perlu lagi meneruskan kuliah. Mereka sudah punya segala sesuatu yang dibutuhkan. Tapi tidak sedikit pula yang sebenarnya hanya pura-pura berbisnis. Mereka sebenarnya sedang melarikan diri dari kuliah.

Lalu, ada satu lagi jenis mahasiswa abadi, yang wujudnya agak samar. Mereka cukup lancar kuliah, bisa lulus, tapi tidak sampai punya kemampuan memadai untuk masuk ke dunia kerja. Mereka tidak punya cukup skill. Mereka tidak laku di dunia kerja. Lalu, apa yang mereka lakukan? Kuliah lagi, ambil S2. Mereka mengira ijazah S2 akan menyelamatkan mereka kelak.

Secara keseluruhan, mahasiswa abadi adalah orang-orang yang hidup tanpa manajemen diri. Mereka tidak merumuskan tujuan hidup dengan jelas, tidak punya visi soal masa depan diri sendiri, tidak membuat rencana untuk menjalani hidup, dan tidak hidup menjalani suatu rencana. Hidup mengalir dalam wujud kebetulan-kebetulan. Kalau kebetulannya baik, dapatlah mereka sesuatu. Kalau buruk, terpuruklah mereka.

Tidak sedikit mahasiwa yang belum paham, apa itu kuliah. Mereka berfantasi, menganggap kuliah itu adalah kotak hitam ajaib, siapa saja yang masuk lalu keluar dari situ akan jadi orang sukses. Mereka tidak sadar bahwa kuliah itu adalah seperangkat proses kerja keras, dengan membawa sebuah visi.

Ada banyak mahasiswa yang bermimpi, tapi tidak mengenali jalan menuju mimpinya. Atau, mereka tidak pernah menerjemahkan mimpi itu menjadi rencana-rencana untuk dijalani. Mereka tidur abadi, terbuai mimpi, dalam keadaan jasad mereka hidup melakukan berbagai kegiatan.

Apa yang mesti dilakukan? Bangun, tatap masa depan. Tentukan visi, mau jadi apa saya. Berdasarkan visi itu, susun rencana. Kuliah apa yang akan diambil, kegiatan apa yang akan dilakukan, skill apa yang akan dibangun. Tetapkan jangka waktu pencapaian. Eksekusi, jalankan rencana itu. Evaluasi pencapaiannya secara periodik. Bila ada yang belum sesuai target, lakukan tindakan koreksi. Inilah yang disebut mekanisme plan-do-check-action (PDCA).