Didik Mereka, Lalu Lepaskan

Mendidik anak itu untuk kita lepaskan. Mirip dengan saat ketika kita mengajari mereka naik sepeda. Kita harus lepaskan. Karena mereka mengayuh sepeda itu, menjalankan sepeda sendiri, adalah esensi naik sepeda. Kita tidak bisa menyebut anak kita bisa naik sepeda, kalau kita terus memegangi sepedanya, bukan?
 
Lagipula, kita tidak akan sanggup untuk terus memegangi sepeda mereka. Kita akan lelah, dan kehabisan tenaga.
 
Anak kita suatu saat akan jadi manusia dewasa. Dia akan punya hidup sendiri. Mereka harus memutuskan setiap langkah yang akan mereka ambil, dan yang paling penting, bertanggung jawab atas keputusan itu. Maka tugas kita adalah memberi mereka bekal, agar mereka mampu membuat keputusan, melaksanakannya, dan bertanggung jawab atas keputusan itu. Termasuk, membuat keputusan lain sebagai konsekuensi keputusan sebelumnya.
 
Tapi banyak dari orang tua yang lupa soal itu. Mereka mendidik anak seperti orang hendak mencetak sesuatu. Bentuk hasil cetakan harus sesuai keinginan mereka. Maka, banyak orang berlomba-lomba menjejalkan ambisi mereka pada anak, sejak dini. Mumpung mereka masih kecil, tidak punya kekuatan untuk menyatakan kehendak. Harapan mereka, para orang tua itu, bentuk yang mereka buat itu tidak akan berubah.
 
Sayangnya, itu tidak selalu terjadi. Ada jutaan cerita di mana kelak orang tua kecewa, saat menemukan anaknya tak sesuai harapan dia. Tak jarang itu berujung pada perpisahan antara orang tua dan anak. Mereka jadi bermusuhan.
 
Ada pula orang tua yang masih ingin mengontrol anaknya saat mereka sudah dewasa. Ke mana mereka harus sekolah, pekerjaan apa yang harus mereka tekuni, sama siapa dia harus kawin, bahkan bagaimana anak-anak mereka (cucu para orang tua ini) harus dididik.
 
Bayangkan dengan cerita naik sepeda tadi. Ini adalah orang tua yang terus memegang sepeda anaknya, saat anaknya sudah naik sepeda berkeliling kompleks perumahan. Kalau kita lihat orang tua seperti itu, kita akan sepakat bahwa dia gila.
 
Sadarkah bahwa kita hidup di zaman yang berbeda dengan anak-anak kita? Masa kecil kita berbeda dengan masa kecil mereka. Masa depan mereka juga berbeda dengan masa ketika kita hidup sebagai orang dewasa.
 
Ketika kita menekan anak kita untuk menempuh hidup sesuai pikiran kita, referensi kita mungkin masa lalu, pada mimpi kita ketika kita masih kecil. Atau, pada masa kini, saat kita menjadi orang tua mereka. Sebaik apapun visi kita tentang masa depan, tidak akan jauh. Kita tidak bisa membayangkan dunia yang akan dijalani anak-anak kita. Khususnya sekarang, ketika perubahan berlangsung sangat cepat.
 
Sadarkah Anda bahwa profesi yang kelak dijalani anak Anda kelak, mungkin bahkan belum ada sekarang. Lalu, profesi-profesi yang Anda lihat sekarang, dua atau tiga tahun lagi akan musnah. Sadarkah bahwa hari ini sejumlah profesi sedang memudar eksistensinya?
 
Bila Anda masih berpatokan pada masa lalu, atau masa kini dalam visi Anda, dan memaksakan itu pada anak Anda, maka sebenarnya Anda sedang mencoba menghadirkan anak Anda dalam sosok fosil di masa depan. Anda sedang menyiapkan anak untuk menjadi manusia salah zaman.
 
Maka, menurut saya, lebih baik kalau siapkan mereka untuk menjadi orang yang tahu bagaimana hidup di zaman mereka. Bagaimana cara hidup di zaman mereka? Biarkan mereka mencari dan memutuskan. Kita hanya perlu membekali mereka dengan kemampuan dasar, yaitu kemampuan belajar, kemandiriaan, ketertiban, dan penghargaan kepada umat manusia.
 
Kita beri mereka kemampuan belajar, tanpa perlu menekankan apa yang harus mereka pelajari. Kita beri mereka kemampuan untuk mandiri, kita tidak tentukan apa yang akan mereka tempuh untuk hidup mandiri. Kita ajari mereka untuk tertib, tapi tidak memaksakan nilai yang kita anut sekarang. Karena, bahkan nilai pun berubah menurut zaman. Hanya satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu bahwa manusia harus dihargai sebagai manusia.
 
Mendidik anak kita adalah menghargai mereka sebagai manusia.

TK dan Pelajaran Membaca

Tahun 2007 saya pulang ke Indonesia, setelah 10 tahun tinggal di Jepang. Waktu itu anak saya 2. Anak pertama saya usia 5 tahun, sempat menikmati TK di Jepang. Adiknya baru 2 tahun. Anak pertama saya masukkan ke TK Islam di dekat rumah.

Ada perdebatan kecil dengan pengelola TK saat saya daftarkan anak saya. “Anak Bapak sudah tertinggal jauh dari teman-temannya,” kata guru TK.

“Tertinggal apa?”

“Pelajaran, Pal. Hafalan doa dan surat pendek. Sulit dia mengejar ketertinggalan.”

“Oh, biar saja. Tidak masalah. Anak saya tidak hafal pun tidak masalah.”

“Nanti rapornya jelek, Pak.”

“Tidak apa-apa, Bu. Anak saya tidak diberi rapor juga tidak masalah. Saya tidak butuh rapor. Yang penting dia bisa berteman dan bermain.”

Akhirnya anak saya masuk. Kami tidak pernah meributkan soal hafalan dan rapornya. Selesai TK, dia masuk SD, sekarang sudah kelas 1 SMA.

Anak kedua kami masuk TK umum 3 tahun berikutnya. Kali ini tuntutan guru bukan soal hafalan, tapi soal pelajaran dan PR. “Kemajuan pelajaran anak Bapak lambat,” kata gurunya lapor.

“Pelajaran apa sih? Kam masih TK.”

“Ya, tapi sudah harus mulai belajar, Pak.”

“Tidak perlu. Tidak usah. Biar anak-anak main saja. Saya tidak keberatan kalau rapor anak saya jelek.”

Waktu itu sudah ada orang tua yang memberi anaknya les tambahan, agar anaknya bisa membaca. Gila!

Setiap semester guru anak saya selalu mengulang hal yang sama. Saya tidak pedulikan. Mereka khawatir soal anak saya saat masuk SD. Kenyataannya biasa saja. Dalam waktu singkat dia bisa belajar membaca.

Anak ketiga saya masuk TK yang sama, karena tidak ada lagi pilihan lain. Cerita yang sama berulang. Saya kembali tegaskan, anak saya tidak perlu terlalu serius belajar membaca. Dia tidak bisa juga saya tidak anggap masalah. Dia juga masuk SD. Kebetulan waktu masuk SD juga tidak ada syarat harus bisa membaca.

Bagaimana kalau SD menetapkan syarat itu? Jangan masukkan anak ke sekolah itu. Itu sekolah sesat. Anak Anda akan dididik secara salah di situ. Carlah sekolah lain.

Apakah tidak khawatir anak kita akan tertinggal kalau tidak bisa membaca? Banyak SD yang meski tidak menetapkan syarat bisa membaca untuk masuk, tapi kemudian ngebut dengan materi pelajaran, berbasis asumsi bahwa anak-anak sudah bisa membaca. Jadi, bagaimana?

Tertinggal apa, sih? Anak kita itu baru SD, kelas satu pula. Anak punya tahapan perkembangan yang unik. Ada yang cepat, ada yang lambat. Kenapa ia harus dipaksa mengikuti standar anak lain?

Banyak orang tua yang gila rapor. Anak-anak diukur dengan angka-angka di atas kertas tes dan rapor. Orang tua stress kalau nilai anaknya rendah. Lalu anak ditekan dengan berbagai jenis pelajaran dan les, sampai mereka stress juga.

Pak, Bu, itu anakmu baru kelas 1 SD. Bukan besok dia mau cari kerja. Ada banyak kasus, anak yang lambat saat kelas 1-3, kelak melejit. Sebaliknya ada yang bagus kelas-kelas awal, tapi saat besar melempem.

Jangan panik dan kalap dengan nilai rapor. Kenali anak Anda, kenali potensinya. Kita harus jadi yang paling tahu, di bagian mana anak kita belum bisa, dan kita harus temukan cara untuk membuat dia bisa. Ingat, kita penanggung jawab pendidikan dia.

Anak saya nomor 3 termasuk lambat dalam belajar. Sekarang dia sudah kelas 4. Khususnya di pelajaran matematika, dia lambat. Diajari sekarang bisa, nanti malam dia sudah lupa lagi. Tapi saya tidak khawatir. Saya terus ajari. Panduannya, dia bisa menangkap hal lain. Dia bisa berkomunikasi dengan benar. Dia tumbuh normal. Saya yakin, perlahan dia akan menguasai materi. Saya harus sabar, dan terus mendampingi dia.

Kenapa mesti gusar dengan hasil belajar anak yang masih kelas 1? Di fase itu yang penting bukan berapa nilai dia. Yang penting, dia menikmati proses belajar. Dia tidak merasakan belajar sebagai siksaan yang harus dia hindari. Dia harus menemukan cara dia memahami sesuatu. Kita berada di dekat dia untuk membimbing dia menemukan jalan itu.

Sangat disayangkan bila ada orang tua yang justru tidak terlibat dalam proses itu, tapi hanya melihat angka-angka di atas kertas ulangan dan rapor anaknya.

Muslim Pasti Masuk Surga

Kita sering mendengar doktrin ini, bahwa muslim pasti masuk surga. Menerima Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai Rasul, memastikan Anda akan masuk surga, kelak diakhirat. Hanya saja jalannya bermacam-macam. Ada yang langsung masuk. Ada pula yang harus menjalani hukuman siksa neraka dulu, sampai semua dosanya terbayar, baru boleh masuk surga. Lama hukuman tergantung pada banyaknya dosa.

Adapun orang kafir, yaitu yang tidak bersyahadat, tidak akan masuk surga. Sebanyak apapun amal baik mereka, tidak akan dihitung. Mereka akan langsung masuk neraka. Lalu kekal di dalamnya.

Aneh? Tidak. Lumrah saja kalau ajaran agama mana pun membuat klaim begitu. Bayangkan kalau Tuhan suatu agama mengajarkan,”Hai manusia, sembahlah Aku. Tapi kalau kamu mau menyembah yang lain juga boleh, kok.” Konyol juga kalau ajaran suatu agama mengatakan bahwa yang menjalankan ajaran agama tersebut dan yang menolaknya, semua akan mendapat imbalan surga.

Pada dasarnya semua agama punya klaim yang sama tentang kebenaran. Agama kami adalah agama yang paling benar. Sejauh yang saya tahu, tidak ada agama yang menyatakan bahwa agama lain juga benar, Tuhan lain juga boleh disembah.

Jadi, bagi umat Islam, jangan merasa pongah dengan klaim itu. Biasa saja. Kalau Anda memandang umat lain seperti itu, jangan merasa hebat. Kalau Anda merasa bahwa Anda akan masuk surga, umat lain juga merasa begitu. Kalau Anda menganggap umat lain akan masuk neraka, maka sadarilah bahwa mereka juga menganggap Anda masuk neraka.

Sama halnya, kalau Anda menganggap kitab suci agama lain salah, sadarilah bahwa mereka juga menganggap kitab suci Anda salah. Cobalah baca kitab suci agama lain. Anda akan temukan kesalahan, kejanggalan, bahkan kekonyolan. Begitulah pula perasaan umat lain ketika mereka membaca kitab suci Anda.

Jadi jangan merasa pongah dengan kebenaran agama Anda.

Nah, bagian terskit dari agama adalah yakin dengan kebenaran ajaran agama kita, tapi legawa terhadap ajaran agama lain. Dalam bahasa Islam, lakum diinukum waliyadiin. Bagi kamu agamamu, bagiku agamaku. Mari jalani sendiri-sendiri.

Lebih sulit lagi, bergaullah dengan mereka, orang yang berbeda agama dengan kita, secara makruf, secara baik. Banyak orang menganggap hina orang yang berbeda agama dengan dirinya. Mereka ahli neraka, maka mereka itu hina. Bahkan, ada yang menganggap orang yang beda agama itu musuh. Ini yang berbahaya.

Air Hasil Daur Ulang, Pandangan Teknologi vs Islam

Sebagai orang yang terlibat dalam bisnis air, saya agak ketar-ketir soal pandangan ulama Indonesia terhadap air hasil daur ulang. Beberapa pandangan mereka, misalnya dalam soal penggunaan katalis yang molekulnya disintesa dari babi, misalnya, bagi saya agak tidak sesuai dengan semangat teknologi modern.
 
Teknologi pengolahan air sekarang bisa membersihkan air dari berbagai jenis kotoran. Kita tinggal memilih, sebersih apa produk air yang kita inginkan. Air yang sangat kotor, bisa diubah menjadi air yang sangat bersih dan murni, ultra-purified water.
 
Ukuran lubang (pore size) pada RO membrane adalah 0,001 mikron, cukup kecil untuk memisahkan ion-ion garam yang terkandung dalam air laut, sehingga bisa dipakai untuk desalinasi, yaitu membuat air tawar dari air asin. Tentu saja dengan membrane ini kotoran yang lebih besar ukurannya seperti protein, lemak, dan sebagainya, bisa dipisahkan.
 
Secara teknologi, kualitas air dilihat dalam konteks kandungan pada air tersebut. Ada berbagai parameternya, seperti BOD, COD, TSS, dan sebagainya. Pada level yang lebih teliti, kandungan setiap jenis ion juga diukur. Dari ukuran itu kualitas air ditentukan. Air yang bersih tentu saja dengan BOD, COD, TSS, dan kandungan ion-ion yang sangat rendah, mendekati nol.
 
Air dengan kualitas itu tentu saja dianggap bersih oleh dunia teknologi modern. Dalam industri farmasi dan medical treatment, air sejenis ini dipakai. Reaksi kimia tertentu juga memerlukannya. Pada riset DNA yang pernah saya lakukan di Jepang juga saya memakai air ultra-pure ini.
 
Pandangan teknologi modern hanya pakai patokan itu. Yaitu, air bersih dinilai dengan parameter-parameter tadi. Dari mana asal air, tidak jadi masalah. Karena di level molekul bisa ditunjukkan bahwa air itu sudah murni. Tanpa kandungan zat lain, maka air sudah disebut murni atau bersih.
 
Dalam konteks ajaran Islam, ceritanya bisa sangat berbeda. Kalau kita punya segelas air murni, tapi kalau itu adalah hasil ekstrak dari daging babi, tetap akan dianggap najis. Atau, kalau air dari septic tank diolah sampai bersih, akan dianggap sebagai air najis juga.
 
Kok begitu? Karena standar “bersih” dan “suci” menurut Islam memang berbeda dari standar modern. Standar Islam fokus pada hal-hal yang bisa dideteksi dengan panca indera. Lalu, juga tidak tersedia kaidah yang detil soal bagaimana air dibersihkan. Fokusnya hanya pada klasifikasi air, yaitu air suci dan tidak suci. Selama saya belajar fiqh seingat saya tidak ada pelajaran tentang membersihkan air.
 
Nah, soal ini menjadi masalah ketika kita hendak melakukan daur ulang air mesjid. Bolehkah air bekas wudhu didaur ulang, lalu dipakai lagi untuk wudhu? Diskusi saya dengan beberapa orang menunjukkan bahwa para ulama banyak yang belum bisa menerima air daur ulang itu dipakai untuk wudhu lagi.
 
Untungnya ada solusi. Air itu boleh dipakai dengan dicampur dengan air lain yang bukan daur ulang, dengan perbandingan tertentu.
 
Sebenarnya dari kaca mata teknologi, ini agak lucu. Air yang kita pakai setiap hari itu adalah air yang sudah jutaan tahun berada di bumi. Ia berputar dalam siklus air. Air hujan, turun ke bumi, diserap di tanah, lalu mengalir menjadi sungai. Air tanah, sungai, danau, dan laut, dibersihkan, dipakai untuk mandi dan minum.
 
Air yang sudah dipakai, sebagain dibersihkan, lalu dialirkan kembali ke sungai. Ada pula yang langsung menguap menjai awan, kemudian turun lagi sebagai air hujan.
 
Ringkasnya, air yang Anda minum itu dulu mungkin pernah diminum oleh babi, atau anjing, pernah pula masuk ke perut orang kafir dan keluar sebagai air kencingnya. Segala kemungkinan soal asal air itu ada.
 
Karena itu menyelidiki asal air dalam konteks kebersihannya sebenarnya sesuatu yang sia-sia. Yang lebih penting adalah memperhatikan kandungannya. Tapi begitulah. Agama memang tidak otomatis paralel dengan sains dan teknologi.

Didatangi Missionaris Saksi Yehovah

Suatu hari pintu apartemen saya diketuk orang. Saya intip, pengetuknya orang Jepang, 2 orang perempuan. Siapa ya? Yang datang bukan orang yang saya kenal.

Saya bukakan pintu.

“Konnichiwa.”

“Konnichiwa.”

“Boleh kami ganggu sebentar? Kami mau membagikan beberapa informasi,” katanya ramah.

Saya persilakan mereka masuk. Istri saya menghidangkan teh setelah mereka duduk. Lalu mereka menyodorkan selembar pamflet berbahasa Inggris.

“Apa ini?” tanya saya.

“Kami dari Saksi Jehovah,” katanya memperkenalkan diri.

Saya pernah membaca sedikit tentang sekte ini. Boleh dibilang ini adalah suatu aliran Kristen, karena sumber ajarannya adalah ajaran Yesus. Tapi agak keliru juga kalau disebut Kristen, karena mereka menolak konsep Trinitas. Menurut mereka, Yesus itu bukan Tuhan, melainkan makhluk yang diciptakan langsung oleh Tuhan melalui firman-Nya.

Saya ladeni mereka berbincang, dengan menjelaskan bahwa saya muslim. Dalam konsep iman Islam, Yesus juga tidak dianggap Tuhan, melainkan seorang nabi.

Saya ajak mereka bertukar cerita tentang iman, tapi sepertinya mereka tak begitu menguasai. Mereka hanya berminat mengajak saya datang ke pertemuan rutin yang mereka selenggarakan. Saya jawab dengan basa-basi Jepang, bahwa mungkin suatu saat saya akan datang. “Itsuka ikimasu,” kata saya.

Minggu berikutnya mereka datang lagi. Saya terima mereka masuk, tapi obrolan menjadi sangat membosankan. Saya tidak ingin meladeni mereka lagi. Minggu berikutnya mereka datang, tidak saya bukakan pintu.

Itu adalah contoh tentang umat yang sedang bedakwah. Macam-macam metodenya. Itu adalah sifat alami sebuah ajaran yang diyakini orang. Mereka ingin menyebarkannya, mengajak orang lain menganut ajaran yang sama. Orang-orang Islam juga melakukannya.

Yang penting dalam berdakwah adalah, sampaikan dengan sopan. Jaga tata krama. Karena berdakwah itu menyampaikan yang baik. Kebaikan tidak mungkin disebar dengan cara yang buruk.

Yang menerima ajakan, abaikan saja kalau tidak memerlukannya. Tolak dengan halus, selama mereka tidak mengganggu. Saya tolak mereka secara baik-baik. Saya tidak tersinggung dengan dakwah mereka. Juga tidak saya anggap mereka hendak memurtadkan saya.