Tetap Waras

Tetap waras itu artinya menerima fakta secara apa adanya, tidak peduli fakta itu menguntungkan atau merugikan kita, kita sukai atau tidak.

Fakta sering kali tidak kita sukai. Reaksi alamiah kita adalah mengingkainya. Atau, mencari fakta lain yang lebih cocok dengan preferensi kita, untuk menutupi fakta yang tidak kita sukai tadi.

Saya pernah menulis soal tertinggalnya dunia Islam saat ini dalam bidang sains. Kontribusi ilmuwan dari negara-negara berpenduduk muslim sangat sedikit. Kalaupun ada, kebanyakan dari mereka bekerja di Eropa dan Amerika, wilayah yang bukan negeri muslim. Tiga muslim penerima Hadiah Nobel di bidang sains, semuanya bekerja di luar.

Apa reaksi orang? Mereka mulai mengoceh soal kejayaan sains Islam sekian abad yang lalu. Ya, kita semua tahu itu. Tapi apa hubungannya? Kata mereka, kalau tidak ada kontrbusi dunia Islam dulu, sains modern tidak akan seperti sekarang. Itu ibarat orang diajak gotong royong membesihkan kampung, ia menolak, dengan alasan dulu bapaknya sudah membangun kampung ini.

Kenyataan bahwa dunia Islam sekarang tertinggal dalam sains itu begitu menyakitkan, membuat orang mencari fakta lain, yang meski tidak relevan, akan membuat dia nyaman.

Begitu pula dengan Ahok. Ia Cina, Kristen, dan ia seorang gubernur di ibu kota negara. Ini fakta yang sangat tidak menyenangkan bagi banyak orang Islam. Ditambah lagi, ia membuat banyak gebrakan yang mendapat apresiasi secara luas. Yang lebih penting, ia punya peluang besar untuk terpilih kembali.

Maka orang-orang yang tersakiti oleh fakta itu mulai mencari fakta lain. Ahok itu bermulut kotor, kata mereka. Itu juga fakta. Tapi fakta yang dibesarkan jauh melebihi porsinya. Karena kata-kata kasar Ahok biasanya dalam konteks tertentu. Sama halnya dengan Risma, yang juga kasar dalam bicara. Tapi kenapa kasarnya Risma tidak jadi masalah? Karena fakta lain tentang Risma tidak menyakitkan, sehingga orang tidak perlu mencari fakta lain untuk mengalihkan perhatian.

Fakta soal mulut kotor tadi ternyata tidak cukup untuk menutupi fakta bahwa Ahok itu bekerja keras. Maka orang-orang mencari fakta lain. Bingo! Ada temuan BPK soal indikasi penyelewengan dan pembelian lahan Sumberwaras. Fakta ini langsung disambar. Banyak orang yang sudah mematri kesimpulan di benak mereka bahwa Ahok itu korup. Kesimpulan itu tidak berubah meski KPK menyatakan tidak ada korupsi dalam kasus itu. Saking sulitnya mereka menerima fakta itu, mereka kemudian menciptakan fakta baru, bahwa KPK sudah dibeli.

Soal yang terakhir itu bukan soal baru. Waktu Luthfi Hasan ditangkap KPK, ada begitu banyak orang yang sulit menerima fakta itu. Mereka mengarang cerita konspirasi untuk menyamankan diri. Salah satu ceritanya, KPK itu bagian dari konspirasi untuk menjelekkan Islam.

Yang harus kita lakukan adalah membebaskan diri dari berbagai kerangka yang mengikat kita dalam melihat fakta. Islam pasti baik, orang Islam selalu baik, itu adalah kaca mata yang dipakaikan oleh doktrin yang dicekokkan kepada kita sejak kecil. Dongeng-dongeng indah tentang Islam dan muslim, sering membuat kita gagal melihat fakta dengan jernih. Itu masih ditambah lagi dengan dongeng-dongeng soal keburukan kafir.

Demi kesehatan jiwa, saya memilih untuk melepaskan kerangka itu, membuat diri saya bebas. Saya merdeka dalam berpikir. Itu membuat saya #tetapwaras .

Mengajarkan Kejujuran pada Anak

Judul tulisan ini mengandung kesalahan. Sesungguhnya anak-anak itu jujur. Kita orang dewasalah yang tidak jujur. Ketimbang mengajarkan kejujuran, kita lebih sering mengajarkan sebaliknya kepada anak-anak kita. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memberi pelajaran kepada mereka bahwa mereka harus berbohong atau tidak jujur.
 
Saat kita sedang berbincang sesama orang dewasa, tiba-tiba anak kita yang masih kecil datang melapor dengan polos tentang sesuatu. Bagaimana reaksi kita? Kita tertawa. Anak kita merasa heran, apa yang salah pada ucapan saya tadi? Oh, ia akan sadar bahwa ia telah berkata jujur, dan berkata jujur itu akan jadi bahan tertawaan.
 
Di lain waktu anak kita lapor, telah melakukan kesalahan. “Aku memecahkan vas bunga kesayangan Mama.” Lalu, reaksi apa yang mereka terima? Kita marah, lalu menghukum mereka. Bahkan tidak jarang kita sampai memukul mereka. Apa yang dipelajari anak? Berbuat jujur itu mendatangkan akibat yang menyakitkan.
 
Kita melakukan sesuatu yang ingin kita rahasiakan. Anak kita kebetulan mengetahuinya. Lalu kita berkata,”Jangan bilang-bilang sama Mama, ya..” Anak belajar bahwa mereka pun harus berbohong.
 
Kita melanggar peraturan lalu lintas. Polisi menilang kita. Tapi kita enggan datang ke pengadilan. Lalu kita menyerahkan sejumlah uang kepada polisi. Anak kita melihat itu, dan mereka belajar bahwa cara tidak jujur bisa menyelesaikan masalah dengan cepat.
 
Kita tidak mengajari anak-anak soal kejujuran. Setiap hari kita secara verbal menyuruh mereka untuk jujur, tidak boleh bohong. Tapi pesan-pesan non-verbal kita terus-menerus meyakinkan mereka bahwa berbohong itu perlu, bahkan sangat perlu. Setiap anak tumbuh persis seperti kita, menyaksikan berbagai kebohongan, kemudian melakukannya.
 
Jadi, kalau kita mau menanamkan kejujuran pada anak, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menghindarkan reaksi negatif terhadap kejujuran yang dilakukan anak. Baik itu berupa menertawakan, atau memarahi mereka. Bila anak telah melaporkan kesalahan dengan jujur, lebih penting bagi kita untuk memberi penghargaan atas kejujuran itu, ketimbang menghukum kesalahan yang mereka perbuat.
 
Yang tidak kalah penting adalah, menghindarkan anak-anak dari menyaksikan perbuatan-perbuatan tidak jujur yang kita lakukan. Bagaimana caranya? Cara terbaik adalah dengan berhenti berbuat tidak jujur. Atau, setidaknya jangan sampai terlihat oleh anak-anak kita.
 
Bila ada indikasi anak kita melakukan ketidakjujuran atau berkata bohong, sebaiknya kita selidiki dengan tuntas. Harus jelas, dia berkata benar atau bohong. Anak harus terbiasa hidup dalam keyakinan bahwa kebohongan pasti akan terungkap, sehingga mereka tidak lagi akan mencoba melakukannya.
 
Kejujuran antara kita dengan anak hanya bisa kita bangun dalam sebuah hubungan yang akrab dan hangat. Maka, usaha untuk mengajarkan kejujuran tidak bisa dilakukan tanpa membangun hubungan yang akrab dan hangat. Maka sebenarnya pendidikan kejujuran itu hanyalah suatu bagian dari pendidikan terhadap anak. Kita mendidik anak-anak, membangun kedekatan dan keakraban dengan mereka. Mereka merasa aman dan nyaman di dekat kita. Mereka tidak merasa perlu berbohong kepada kita.
 
Mau anak Anda jujur? Hadirlah bersama mereka. Jalinlah hubungan yang akrab dan hangat dengan mereka.

Ahok, Si Tukang Gusur

Kalau ada orang bangun gubuk di lahan kosong di dekat Jembatan Semanggi, apa yang harus dilakukan? Gusur. Tak peduli siapapun gubernurnya, apa pasti akan menggusur. Kenapa? Karena itu bangunan liar, menempati lahan secara ilegal.

Kita melihat, siapapun gubernurnya, semua melakukan penggusuran. Karena di setiap masa selalu ada saja orang yang menempati lahan secara ilegal. Tidak hanya menyerobot lahan, mereka merampas tempat-tempat yang seharusnya menjadi ruang milik publik, seperti trotoir atau bahu jalan. Tak jauh dari rumah mertua saya di kawasan Setiabudi ada sederet bahu jalan yang berubah fungsi jadi tempat bedeng-bedeng yang dipakai orang untuk berjualan atau sekedar hidup di situ.

Jakarta ini dipenuhi oleh manusia-manusia penyerobot ini. Kalau pemda tidak bertindak tegas, seluruh kota ini akan penuh gubuk liar. Maka menggusur itu wajib hukumnya.

Tapi mereka sudah lama menempati tempat itu. Ya, ibarat penyakit, mereka adalah penyakit maha kronis, karena selama ini mereka lebih sering dibiarkan ketimbang ketimbang ditindak. Ahok membuat perbedaan itu. Ia tak segan menindak, sehingga dalam masa 3 tahun ini ada begitu banyak penggusuran yang ia lakukan, sampai ia dikenal sebagai Tukang Gusur.

Sahkah hak orang yang menguasai tanah itu? Di belakang rumah mertua saya ada lahan yang tadinya hendak dipakai untuk bangunan. Tapi karena krisis moneter tahun 98, perusahaan pemiliknya menghentikan proyek pembangunan. Di lahan itu kemudian muncul bangunan-bangunan liar, rumah penduduk. Sudah belasan tahun mereka tinggal di situ. Mereka mulai merasa bahwa lahan itu hak mereka. Kalau nanti pemilik sahnya hendak memakai lahan itu, mereka akan menuntut berbagai ganti rugi.

Kejadian begini sudah jadi masalah klise di Jakarta. Penyerobotan tanah secara liar tidak terjadi secara acak. Ada preman, bekerja sama dengan aparat korup, yang mengambil untung, mengutip uang sewa dari pengguna, dengan jaminan keamanan semu. Pengguna merasa sudah membayar, mengira ia menempati lahan secara sah.

Masalah lahan ini adalah kombinasi antara kebodohan, kebebalan, premanisme, dan pejabat pemda yang korup. Hanya yang benar-benar bernyali yang berani melawannya. Ahok adalah pejabat yang bernyali itu.

Ahok dituduh orang bengis karena menggusur. Tapi faktanya penggusuran terjadi di Bandung, Tangerang, Depok, dan Surabaya. Hanya Ahok yang dimaki. Kenapa? Ah, panjang penjelasannya kalau soal itu. Tapi intinya, pembangunan Jakarta memang harus menggusur. Membangun itu harus tega. Kalau tidak, Jakarta akan tetap kumuh.

Di dekat kantor saya di Sudirman, di depan Gedung Niaga, ada trotoir dekat zebra cross yang luasnya tak lebih dari 2 meter persegi. Di situ ada penjual ketoprak dan bubur. Bayangkan, ini jalan protokol ibu kota, mau dibuat kumuh oleh pedagang bebal. Mau dibiarkan?

Istilah rakyat kecil sering membuat orang kehilangan akal sehat dalam melihat masalah. Saya tidak. Rakyat kecil harus dibantu. Tapi tidak dengan membiarkan mereka mengotori ibukota. Bantu mereka untuk berdagang dan berusaha di tempat yang benar. Yang tidak punya kemampuan bertahan hidup di Jakarta sebaiknya berhijrah ke tempat lain, misalnya menjadi petani, yang tidak memerlukan banyak modal dan keterampilan. Orang-orang kampung saya di Kubu Raya sana bisa hidup layak dan bahagia dengan jadi petani. Orang-orang seperti ini tidak perlu memaksakan diri hidup di ibukota.

Ahok menggusur, artinya ia membersihkan Jakarta. Lanjutkan Koh Ahok!

Padahal Saya Sudah Antisipasi

Dalam sebuah diskusi di suatu sesi training kami mendiskusikan suatu kasus sederhana. Sekelompok karyawan merencanakan acara kumpul keluarga. Segala sesuatu sudah disiapkan. Tempat tujuan, bis untuk angkutan, makanan untuk bekal, semua sudah dipesan. Suatu pagi mereka berkumpul, siap untuk berangkat. Di akhir cerita, mereka terpaksa harus bubar jalan. Acara dibatalkan.

Apa pasal? Bis yang hendak dipakai tidak datang. Setelah diselidiki, ternyata pihak agen tempat mereka memesan bis ternyata tidak pernah memesan ke perusahaan bis. Mereka menipu.

Dalam situasi itu kita sangat mudah jatuh ke sudut pandang korban. Begitulah para peserta training tadi. “Kami ditipu, artinya kami korban, dong.” Saya jawab,”Kalau masih ngotot merasa diri sebagai korban, saya harus katakan bahwa kalian adalah korban kebodohan kalian sendiri.”

Kami kemudian melakukan diagnosa lebih detil terhadap kasus itu. Dari diagnosa itu ternyata mereka baru sadar bahwa mereka sama sekali tidak paham soal seluk beluk penyewaan bis wisata. Mereka mengira agen adalah pemilik bis. Padahal bukan. Agen itu hanyalah pemasar. Mereka menerima pesanan, dan mereka harus memesan bis kepada perusahaan pemilik bis.

Panitia acara tadi, karena tidak tahu, menggantungkan segala urusan bis kepada agen. Mereka membayar sewa saat memesan, sekedar menerima bukti pembayaran dari agen. Mereka tidak melakukan konfirmasi, dengan meminta bukti pemesanan bis dari agen ke perusahaan pemilik bis.

Begitulah. Banyak rencana kita yang gagal karena salah dalam perencanaan. Kita merasa semua sudah direncanakan dengan baik, padahal tidak. Masalah utamanya, kita tidak tahu soal hal yang kita rencanakan. Ini adalah kesalahan paling fundamental dalam perencanaan.

Kesalahan kedua adalah percaya. Ada bagian vital pada rencana kita yang dioperasikan pihak luar, dan kita tidak mengontrolnya. Kita percaya saja bahwa mereka akan melakukan tugasnya dengan baik. Ada begitu banyak kegagalan jenis ini. Pihak luar yang diberi pekerjaan tidak melaksanakan, rencana kita gagal total. Parahnya, kita tidak mengambil pelajaran. Karena menurut kita yang salah adalah pihak luar, bukan kita. Cara kerja seperti ini persis sama dengan Anda memakai rompi bom, dan menyerahkan pemicunya ke tangan orang lain. Dia bisa meledakkan Anda kapan saja.

Ingat, kita adalah yang punya rencana. Kita harus memastikan setiap komponen dalam rencana kita kendalinya ada di tangan kita.

Kesalahan ketiga adalah tiadanya tindakan koreksi atau rencana cadangan. Pada kejadian tadi, panitia bisa saja mencari bis pengganti. Tapi itu tidak dilakukan. Mungkin mereka bahkan tidak tahu bagaimana mencari kendaraan sewa untuk keadaan darurat.

Saya ceritakan pada mereka bahwa saya juga sering mengurus acara seperti ini dulu. Pernah suatu kali, saat dalam perjalanan, bis yang kami tumpangi mogok. Saya kemudian mencegat beberapa angkot yang lewat, kemudian menyewanya untuk membawa kami ke tempat tujuan.

Kesalahan keempat, kesalahan evaluasi. Panitia acara tadi melakukan evaluasi. Kesimpulannya, kita ditipu oleh agen. Tindakan koreksinya, jangan pakai agen itu lagi. Selesai. Padahal, seperti kita bahas di atas, ada begitu banyak kesalahan mereka sendiri yang tidak dimasukkan dalam evaluasi. Artinya, di masa depan besar kemungkinan mereka akan melakukan kesalahan yang sama.

Ada banyak kasus kejadian berulang, padahal sudah dilakukan evaluasi, dan diantisipasi. Kenapa? Karena evaluasi dan koreksinya salah, atau tidak utuh. Yang mampu dilihat dalam evaluasi ternyata hanya akibat, yang dikira sebab. Evaluasi tidak menyentuh akar masalah. Evaluasi yang tidak menyentuh akar masalah adalah evaluasi yang sia-sia.

Ingat, bila Anda gagal merencanakan, maka Anda sedang merencanakan kegagalan.

Kafir: Akidah, Sosial, Politik

Saya sering ditanya soal makna kata kafir. Sebagaimana umumnya sebuah kosa kata, kata ini memang tidak tunggal maknanya. Terlebih, kata ini mengandung makna perkubuan. Ia melibatkan rasa pula, soal baik dan buruk.

Makna dasar kata kafir (kufr) adalah menutup. Kafir artinya menutup diri terhadap sesuatu yang disampaikan. Kalau mengacu pada makna ini kafir itu bisa bermakna sama dengan anti reformasi, setia pada status quo, dan nyaman di comfort zone. Jadi, dalam konteks ini orang-orang yang ingin berada di zona nyaman bisa saja disebut orang kafir.

Dari pengertian dasar itu kita harus mencatat bahwa kafir tidak sekedar soal menutup diri atau menolak, namun ia terkait dengan apa yang ditolak. Kafir dalam pengertian yang umum dipakai adalah menolak kebenaran yang dibawa dari Tuhan.

Hal penting berikutnya adalah, Tuhan yang mana? Tentu saja Tuhan orang yang menunjuk kafir. Saya datang kepada Anda, menyampaikan kebenaran dari Tuhan saya, lalu Anda menolak, maka Anda saya sebut kafir.

Lebih khusus lagi, kafir itu adalah istilah dalam sejarah Islam. Maka secara khusus dapatlah dikatakan bahwa kafir itu adalah orang-orang yang menolak Islam. Dalam pengertian ini setiap non muslim adalah kafir.

Burukkah kafir itu? Tentu saja buruk, bagi yang menunjuk. Kalau saya menunjuk seseorang kafir, tak mungkin saya menganggap dia baik. Karena saya mewakili kebenaran, sedangkan dia menolaknya. Bagaimana mungkin dia baik.

Tapi ingat, ini soal sudut pandang. Bagi saya, yang saya bawa ini kebaikan. Tapi belum tentu itu kebaikan bagi orang lain. Pihak lain juga berhak melakukan klaim yang sama. Artinya, tunjuk kafir itu bisa berlaku timbal balik. Orang Kristen adalah kafir bagi orang Islam, orang Islam adalah kafir bagi orang Kristen. Adil, kan?

Bahasan kita sejauh ini fokus pada ruang lingkup iman atau akidah. Bagaimana secara sosial? Persoalannya jadi lebih rumit. Ajaran agama itu tidak hanya soal iman, tapi lebih banyak yang terkait dengan amal. Amal ini yang punya wujud nyata dalam tindak tanduk sosial. Dari situlah orang akan menilai soal baik buruk.

Contoh, burukkah orang yang makan babi? Bagi orang Islam babi itu haram. Jadi kalau orang Islam makan babi, maka ia pasti orang yang buruk. Tapi bagaimana dengan non muslim yang makan babi? Banyak orang Islam yang menganggap buruknya makan babi itu tidak terkait iman. Ia buruk mutlak. Maka siapapun yang makan babi pasti buruk. Mereka bahkan membuat-buat penjelasan soal kenapa makan babi itu buruk.

Kita masuk ke soal yang lebih rumit lagi, soal zina. Zina artinya bersenggama di luar ikatan pernikahan. Burukkah berzina itu? Islam melarang orang berzina, jadi tentu saja berzina itu buruk. Yang kafir terhadap ajaran yang melarang zina, melakukan perzinaan, adalah orang buruk. Agama-agama lain juga mengajarkan hal yang sama. Maka hampir semua agama dan adat menganggap zina itu buruk.

Tapi ingat, bagi yang tidak beriman pada Islam, atau agama apapun, atau terikat dengan adat manapun, mereka tidak menganggap zina itu buruk. Tapi bukankah mereka menyimpang dari ajaran agama atau adat yang sudah ada?

Sebenarnya bila kita lihat dalam perspektif sejarah peradaban yang panjang, sejarah kita sebenarnya penuh dengan simpangan. Termasuk agama. Kristen itu simpangan dari Yahudi. Islam adalah simpangan dari Yahudi dan Kristen. Simpangan biasanya hanya terasa di titik simpang, setelah itu yang kita lihat adalah jalan-jalan yang sejajar. Kristen dulu adalah penyimpangan dari Yahudi, tapi kini keduanya hadir besama, co-exist.

Persenggamaan tidak di bawah pernikahan adalah sesuatu yang relatif baru, jadi masih belum jauh dari titik simpang. Tapi perlahan ia juga mulai menjadi jalan sejajar dengan pandangan-pandangan lain.

Jadi, burukkah kafir itu secara sosial? Jawabannya tergantung pada sudut pandang yang kita pakai dalam menilai.

Bahasan terakhir adalah soal politik. Islam diperkenalkan di Mekah. Sebagian kecil orang Mekah menerima, sebagian besar menolak. Muhammad akhirnya terusir dari Mekah bersama pengikutnya. Terjadilah permusuhan antara kedua kelompok. Quran selalu menyebut orang Mekah itu kafir. Sebutan itu tidak hanya karena mereka menolak ajaran Islam, tapi juga karena mereka memusuhi.

Mekah itu kafir. Mekah itu musuh. Lama-lama dua hal yang sebenarnya berbeda itu menjadi identik: kafir itu musuh.

Babak selanjutnya dalam sejarah Islam berisi berbagai konflik. Mula-mula dengan kelompok-kelompok Yahudi di sekitar Madinah. Kemudian dengan berbagai kelompok lain. Bahkan kemudian meluas hingga jauh keluar dari semenanjung Arab. Semangat yang dibawa tetap sama. Kami ini Islam, yang menolak kami adalah kafir. Kami disuruh Allah, maka musuh kami adalah musuh Allah. Kepentingan kami adalah kepentingan Allah.

Agama kini berimpit dengan politik. Kafir adalah siapapun yang menolak berada dalam kekuasaan kami. Kafir adalah siapapun yang ada di luar kelompok kami. Kafir bukan lagi soal memilih mana yang mau diimani, sebagaimana tawaran awal dari Allah: Man yasya’ fal yu’min, wa man lam yasya’ fal yakfur. Tak ada lagi pilihan bebas.

Karena kafir itu buruk, dan musuh!

You are The Captain of Your Life

image

Saya berkeliling menyambangi kampus-kampus, mendatangi mahasiswa, sekedar untuk menyampaikan pesan sederhana ini. You are the captain of your life. Kau adalah kapten dalam kapal kehidupanmu. Kau sedang menjalani hidupmu sendiri. Kau hidup untuk dirimu. Kau bukan anak buah kapal dalam kehidupan orang lain, yang tugasnya hanya membantu di kapal itu. Kau juga bukan penumpang dalam hidup orang lain.

Kau adalah kapten kapalmu. Kau yang menetapkan tujuan, lalu kau pula yang mengemudikannya menuju kepada tujuan itu. Kalau kau sampai, kaulah yang menikmatinya. Kalau kau tenggelam, matilah kau.

Kau harus menetapkan tujuan, lalu membawa kapalmu menujunya. Sayang sekali, ada begitu banyak anak muda yang tidak punya tujuan. Ia adalah kapten kapal hanyut, hanya terombang ambing di tengah laut. Ke mana pun haluan kapalnya menghadap, itu ditentukan oleh ombak dan angin, bukan oleh kapten. Kalaupun ia sampai ke suatu tempat, ia tidak sampai ke tujuan, melainkan terdampar saja. Mungkin tempat itu bagus, mungkin pula buruk. Ia menerima saja, tak memilih.

Ada yang menetapkan tujuan, tapi tak menyiapkan bekal untuk berlayar. Ia bahkan tak membekali dirinya dengan peta, sehingga akhirnya sama saja dengan orang yang berlayar tanpa tujuan. Ada pula yang tak terampil mengendalikan kapal. Ia pun gagal mencapai tujuan.

Tak sedikit yang mengeluh karena terpaan ombak, padahal ombaknya kecil saja. Inilah laut kehidupan, memanglah ia berombak. Tak patut seorang kapten mengeluh, meski diterpa badai sekalipun. Kau tak mungkin menuntut badai yang menghalangimu mencapai tujuan.

Banyak pula yang menyerah, memilih untuk terdampar di mana saja. Kemudian diam di situ, atau berlayar lagi, tanpa tujuan. Tidak sedikit yang mati tenggelam, sia-sia.

Kau adalah kapten dalam kapal kehidupanmu. Tetapkan tujuanmu. Pelajari peta jalan menujunya. Cari tahu bekal apa yang diperlukan untuk mencapainya. Tempuhlah jalan itu. Kendalikan hidupmu agar tetap di jalan itu. Hadapi semua rintangan yang menghalang. Yakinlah, semua akan bisa kau lewati.

Tetapkanlah tujuanmu. Jangan biarkan orang lain menetapkan tujuan. Jangan biarkan orang lain memerintahmu dalam kapalmu sendiri. Karena engkau adalah kapten dalam kapal kehidupanmu sendiri.

Proses dan Hasil, dalam Dua Sudut Pandang

image

Kita sering mndengar nasihat atau ungkapan,”Lihatlah prosesnya, jangan cuma lihat hasilnya.” Itu nasihat yang sering kita dengar. Nasihat atau ungkapan pada umumnya kontekstual. Jadi, nasihat di atas harus kita pahami konteksnya.

Nasihat di atas berlaku dalam 2 konteks. Pertama, ketika kita melihat keberhasilan seseorang. Kita harus sadar bahwa keberhasilan dia tidak instant. Ada proses panjang yang sudah dia lewati. Karena itulah kita harus melihat prosesnya, agar kita belajar. Jangan sampai kita hanya melihat hasil akhir, lalu kita bertindak dengan harapan bisa sukses secara instant.

Konteks kedua adalah dalam hal mendidik dan mengajari, baik mendidik anak maupun mendidik bawahan. Orang Jepang bilang, “ookii me de miru”, lihat dengan mata yang besar. Artinya, lihatlah dengan lapang dada. Jangan hanya lihat di dua titik, dia berhasil atau tidak. Lihatlah kemajuan yang dia buat dalam setiap proses. Hargai setiap kemajuan itu untuk memberi dia semangat.

Banyak orang salah memakai nasihat ini. Ia menyodorkan proses ketika ia dituntut menyerahkan hasil. Saya saat ini sedang supervisi kepada 2 orang manager di anak perusahaan kami. Mereka sedang mengurus sesuatu yang mendesak, sudah lewat dari jadwal tapi belum ada hasil. Dalam diskusi mereka berusaha meyakinkan saya bahwa mereka sudah melakukan banyak hal (proses), tapi belum berhasil. Mereka berharap saya maklum.

Saya tegaskan kepada mereka bahwa perusahaan membutuhkan hasil. Get it done! Orang bisa berdalil tentang proses panjang yang mereka lalui, tapi kalau tidak ada hasil, tidak ada artinya. Ibarat orang sedang kelaparan, memanjat pohon untuk memetik buah, tapi tidak berhasil. Proses yang dia lakukan tidak mengobati laparnya.

Banyak orang menyodorkan proses ketika diminta hasil. Ia punya seribu penjelasan tentang kenapa ia belum berhasil. Ia begitu meyakinkan memberikan analisa soal kenapa dia belum berhasil. Padahal yang dibutuhkan adalah analisa bagaimana cara dia agar berhasil, berikut eksekusinya, bersama hasilnya.

Yang demikian itu disebut excuse, atau dalih. Dalam hidup kita punya begitu banyak dalih. Sampai ada ungkapan,”Losers make excuses, winners make progress.”

Salah satu hal penting dalam mengubah hidup kita adalah memandang hubungan proses-hasil dengan tepat. Kita menjalani proses. Ada saatnya di mana kita harus menghargai proses yang kita lalui. Tapi kita harus sadar bahwa proses saja pada akhirnya memang tidak ada maknanya. Kita dituntut mengeluarkan hasil. Maka saat kita belum mendapat hasil, berhentilah berdalih, karena memang tidak ada manfaatnya. Optimalkan energi kita untuk berpikir dan bertindak lebih kreatif. Kita belum berhasil semata karena itu, bukan karena hal-hal yang kita ungkap saat kita berdalih. Satu hal lagi, kita belum berhasil karena masih menyediakan ruang harapan agar dimaklumi dengan dalih kita.

Mahasiswa, Bagaimana Mengatur Waktu?

image

 

 

 

 

 

 

 

Dalam setiap kuliah saya kepada mahasiswa dengan tema mempersiapkan diri memasuki dunia kerja selalu muncul 2 petanyaan yang sebenarnya substansinya sama. Bagaimana cara mengatur waktu dengan disiplin? Bagaimana menghindari pengaruh lingkungan yang membuat kita tidak disiplin mengelola waktu?

Coba perhatikan kehidupan mahasiswa. Untuk apa waktu mereka paling banyak dihabiskan? Mahasiswa yang mengambil 20 SKS mata kuliah masih mempunyai sekitar 20 jam waktu tersisa, bila asumsinya waktu efektif adalah 40 jam seminggu. Dengan asumsi itu artinya pagi sebelum jam 8 dan sore hingga malam di atas jam 5 tidak dihitung sebagai waktu efektif. Juga akhir pekan, belum ditambahkan.

Katakanlah waktu efektifnya adalah 40 jam seminggu seperti orang bekerja. Lalu bagaimana sisa waktu 20 jam lagi dihabiskan? Mahasiswa pembaca tulisan ini bisa menghitung ulang. Dugaan saya sebagian besar waktu itu habis dipakai untuk nongkrong, ngobrol, chatting, atau main game. Sangat sedikit mahasiswa yang mengisi waktu di sela kuliahnya dengan membaca, berdiskusi, berlatih bahasa Inggris, atau menulis.

Ketika saya ingatkan tentang rentang skill yang mereka butuhkan untuk memasuki dunia kerja, termasuk di dalamnya kemampuan bahasa Inggris, hampir semua mahasiswa terpana. Bahkan mahasiswa yang sudah kuliah separo jalan di semester 6 atau 7 masih belum yakin soal skill yang sudah mereka miliki. Bahasa Inggris mereka masih tergagap-gagap. Kemudian mereka panik. Selama ini aku ngapain aja? Lalu mereka sadar betapa banyak waktu telah terbuang. Aku selama ini sudah menyia-nyiakan waktu. Tapi bagaimana cara agar bisa mengatur waktu dengan disiplin?

Dalam usaha memikirkan pengaturan waktu dengan disiplin itu mereka sadar bahwa pengaruh teman membuat mereka sulit disiplin. Ajakan untuk nongkrong dan ngobrol begitu sulit dihindari. Bagaimana menghindarinya?

Bagaimana solusinya? Saya selalu bilang, punyalah mimpi. Punyalah tujuan. Ini sebenarnya pesan utama pada setiap kuliah saya. Tetapkan tujuan, mau jadi apa, mau kerja apa setelah lulus kelak. Ingatkan diri sendiri bahwa kuliah harus diakhiri, dan setelah itu kita harus bekerja.

Setelah menetapkan tujuan, susunlah rencana terjangka untuk mencapainya. Itu dimulai dengan mengumpulkan informasi soal skill yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Misalnya seorang mahasiswa yang ingin menjadi instrument engineer harus tahu skill dan kualifikasi apa saja yang diperlukan seorang instrument engineer. Demikian pula bagi yang ingin menjadi diplomat, wartwan, atau pengusaha. Lalu susunlah rencana untuk mengumpulkan skill itu dalam format rencana tahunan, per semester, bulanan, mingguan, dan harian. Kemudian lakukan mekanisme PDCA, plan-do-check-action terhadap rencana itu.

Mahasiswa banyak menyia-nyiakan waktu karena memang tidak pernah merencanakan untuk mengisi waktunya. Agenda mereka selain kuliah selalu kosong. Maka mereka selalu menganggap waktu di luar kuliah adalah waktu bebas. Makanya mereka melewatkannya dengan santai.

Seseorang dengan tujuan dan rencana punya agenda untuk dilakukan hari ini, besok, minggu depan, dan seterusnya. Di pagi hari ia akan menyusun agenda soal apa saja yang ahrus dikakukan hari ini. Ada target yang harus dicapai. Setelah kuliah jam 9 saya harus melakukan ini, sampai jam 12. Kemudian ada kuliah sampai jam 3, setelah itu saya akan melakukan itu. Orang dengan rencana seperti ini akan fokus mengerjakan hal-hal yang sudah ia rencanakan, dan tidak akan menyia-nyiakan waktunya.

Tapi bagaimana menghindari godaan dari teman-teman? Kalau tidak bergabung nanti dianggap tidak solider dan bisa dikucilkan. Perhatikan bahwa hampir setiap mahasiswa mengeluh seperti itu. Saya tidak disiplin karena pengaruh teman. Kalau semua mahasiswa yang tidak disiplin mengaku akibat pengaruh teman, lantas siapa sebenarnya yang mempengaruhi?

Sebenarnya mereka itu adalah kumpulan orang-orang yang tidak disiplin dan saling mempengaruhi. Tapi mereka selalu merasa diri mereka terpengaruh oleh orang lain. Inilah yang disebut dengan perpektif korban.

Maka tinggalkanlah perspektif korban itu dengan bersikap proaktif, tumbuhjan perspektif bertanggung jawab. Tanggung jawab itu dalam bahasa Inggris adalah responsibility. Response-ability. Artinya seseorang yang bertanggung jawab adalah orang yang bisa memilih respons dia terhadap suatu keadaan di depannya. Seorang mahasiswa yang bertanggung jawab selalu bisa memilih, mengikuti ajakan nongkrong dari teman, atau menjalankan rencana yang sudah dia susun untuk hari ini.

Orang dengan perspektif korban selalu menganggap dirinya dalam posisi tidak punya pilihan. Padahal ia punya pilihan. Hanya saja, ia tidak menyukai resiko-resiko atas pilihan tersebut. Ya, setiap pilihan punya resiko. Memilih untuk tidak nongkrong bisa jadi akan dikucilkan, atau setidaknya terlewatkan dari obrolan seru. Itu sebuah resiko yang sangat tidak disukai anak muda. Padahal, memilih untuk nongkrong juga punya resiko, yaitu tidak tercapainya target membangun skill tadi. Yang ini sebenarnya resiko yang jauh lebih besar, karena menyangkut masa depan.

Maka saya selalu anjurkan untuk berhenti bersikap dengan perspektif korban. Jadilah orang yang bertanggung jawab, yang membebaskan diri mengatur respons yang akan dipilih dengan kesadaran atas resiko yang diambil pada setiap pilihan. Be the captain of your own life.

Jadi, bagaimana caranya agar bisa mengatur waktu dengan disiplin?
1. Tetapkan tujuan, sederhananya mau kerja apa setelah lulus nanti.
2. Susun rencana untuk mengumpulkan skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan tadi. Buat rencananya sampai detil dengan target di setiap jangka waktu.
3. Jalankan rencana itu, lakukan evaluasi pencapaian target setiap selang waktu tertentu. Lakukan tindakan koreksi bila target tidak tercapai. Langkah-langkah inilah yang disebut PDCA tadi.
4. Kembangkan sikap proaktif dan bertanggung jawab. Aku bebas memilih setiap tindakan, dan aku siap menghadapi resikonya. Aku adalah kapten dalam kapal kehidupanku!

Selamat mencoba.

sumber foto: journal me.

Wawancara Kerja

Wawancara kerja adalah momok bagi banyak orang. Apalagi bagi yang baru lulus, belum punya pengalaman kerja. Mereka bahkan belum punya pengalaman menghadiri wawancara. Perlukan melakukan latihan dan persiapan khusus?

Jawabannya bisa tidak, bisa ya.

Hal terpenting dalam wawancara adalah menjadi diri sendiri. Pihak pemberi kerja ingin merekrut sosok yang nyata, bukan seorang aktor yang sedang memerankan sosok orang lain. Kalau Anda memerankan sosok orang lain dalam wawancara, kalaupun Anda lulus, maka yang lulus itu adalah sosok yang Anda perankan, bukan diri Anda. Artinya, selanjutnya Anda harus memerankan sosok itu selamanya. Besar kemungkinan Anda akan gagal. Kalaupun Anda sanggup, itu akan sangat menyiksa.

Sering kita berpikir, kita butuh kerja. Alih-alih mencari pekerjaan yang cocok untuk diri kita, sering kali yang terjadi adalah kita mencocokkan diri dengan pekerjaan yang tersedia. Salahkah? Tidak. Dalam beberapa sisi hidup memang menuntut adaptasi. Tapi ingat, beradaptasi berbeda dengan menjadi orang lain. Lagipula, pewawancara biasanya bisa membedakan siapa yang sedang menjadi diri sendiri dan siapa yang sedang berpura-pura.

Saya lebih menganjurkan untuk menjadi diri sendiri dalam wawancara. Tujuan kita adalah menjelaskan siapa kita sebenarnya kepada pewawancara. Kita akan lulus bila menurut dia kita memang cocok untuk pekerjaan yang ditawarkan. Bila tidak lulus, artinya kita memang tidak cocok. Kita tidak perlu memaksakan diri menerima pekerjaan yang tidak cocok dengan kita.

Jadi, perlukah mempersiapkan diri untuk wawancara? Tidak, kalau kita sudah biasa menjadi diri kita sendiri dalam keseharian kita. Perlukah berlatih untuk wawancara? Tidak. Kita tidak perlu berlatih untuk jadi diri kita sendiri, bukan?

Masalahnya adalah, banyak orang yang gagal menjelaskan atau mencitrakan dirinya kepada orang lain. Yang fasih berbahasa Inggris jadi terlihat gagap. Yang pandai matematika jadi terlihat tolol. Kenapa? Mungkin karena memang tak pandai menjelaskan. Atau, sekedar gugup saja.

Jadi dalam hal ini setidaknya ada 2 hal yang harus dipersiapkan yaitu bagaimana cara menjelaskan sesuatu, dan bagaimana mengatasi gugup.

Kemampuan menjelaskan sesuatu adalah bagian dari kemampuan berkomunikasi. Saya selalu mengingatkan kepada para mahasiswa untuk membangun kemampuan berkomunikasi. Intinya adalah bagaimana membuat informasi yang kita miliki sampai ke pihak lain secara utuh. Metodenya bisa berbagai cara. Dalam hal wawancara, kita berkomunikasi, menyampaikan informasi secara lisan.

Jadi, mirip dengan urusan menjadi diri sendiri di atas, kemampuan berkomunikasi tidak dibangun secara instant melalui latihan singkat. Kebutuhan terhadap kemampuan berkomunikasi tidak hanya saat wawancara, tapi juga diperlukan sepanjang karir. Karena itu saya anjurkan untuk membangun kemampuan ini sejak kuliah.

Bagaimana mengatasi rasa gugup? Gugup adalah reaksi tubuh terhadap sesuatu yang tidak biasa kita hadapi. Atau reaksi terhadap suatu harapan besar. Gugup saat wawancara adalah kombinasi keduanya.

Bagaimana mengatasinya? Pertama, dengan membiasakan diri. Dalam hal ini latihan diperlukan. Ada beberapa pertanyaan standar dalam wawancara. Misalnya soal latar belakang pribadi atau kuliah kita. Setidaknya latihlah diri Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan standar ini. Bila bagian ini bisa dilewati tanpa gugup, itu akan membantu Anda melewati pertanyaan-pertanyaan lain.

Kedua, atur nafas. Gugup terkait dengan kerja jantung, dan kerja jantung terkait dengan pasokan oksigen ke tubuh. Aturlah nafas dengan baik, tarik nafas secara wajar, hembuskan dengan frekuensi wajar pula.

Ketiga, kendalikan konsentrasi dan pikiran. Fokuslah pada komunikasi dengan pewawancara. Alokasikan energi yang cukup untuk mendengar dan mencerna pertanyaan dengan baik. Banyak orang gagal menjawab pertanyaan karena gagal memahami pertanyaannya.

Keempat, jawab pertanyaan dengan jujur. Jujur artinya kita mengatakan apa adanya. Jujur tidak membuat kita perlu mengarang. Kalau kita mengarang, kita memerlukan energi tambahan untuk membuat karangan kita terlihat konsisten. Kesadaran bahwa kita sedang berbohong, ketakutan akan ketahuan akan membuat kita tambah gugup.

Kelima, be nothing to lose. Seperti saya tulis di atas, kalau kita tidak  lulus berarti pekerjaan itu memang tidak cocok dengan kita. Yakinlah bahwa akan ada pekerjaan lain yang cocok.

Lalu, apa yang biasa ditanyakan oleh pewawancara? Untuk calon pekerja lulusan baru biasanya hanya ditanya soal latar belakang pribadi, latar belakang pendidikan untuk menggali informasi tentang skill, dan motivasi. Sekali lagi kalau seseorang punya skill dan motivasi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia cuma perlu menjelaskan dengan baik siapa dirinya.

Defensif

Waktu lebaran saya post sebuah foto tentang suasana saat mudik. Di tempat-tempat di mana terjadi kemacetan parah di sekitar Brebes, terdapat tumpukan sampah. Luar biasa joroknya. Dari sudut pandang ajaran Islam yang saya pahami, perilaku jorok, membuang sampah sembarangan itu melanggar prinsip Islam. Para pemudik itu, yang telah berpuasa hampir sebulan, masih gagal mengendalikan hawa nafsunya. Mereka gagal mengendalikan tangan dan perilaku, sehingga masih secara otomatis membuang sampah sembarangan. Maka, bagi saya, mereka gagal dalam berpuasa.
 
Kok sejauh itu? Ya, memang sejauh itu. Puasa itu bukan sekedar menahan lapar dan minum. Hakikatnya adalah mengendalikan diri dan perilaku. Tidak cuma makan minum, perkataan dan perbuatan dijaga. Maka bagi saya, kalau setelah puasa orang masih tidak tertib, jorok, tidak jujur, dan korup, maka mereka adalah orang yang gagal berpuasa.
 
Bagaimana respon orang-orang? Ada banyak orang yang marah. Ada yang bilang, kenapa hanya umat Islam saja yang dituding. Umat lain juga masih jorok, sama perilakunya dengan umat Islam. Jadi kalau menuding perilaku jorok itu seolah mengabaikan perilaku jorok umat lain. Itu sama saja dengan memojokkan dan menghina Islam.
 
Tidak tanggung-tanggung. Ada yang sampai mengunggah foto suasana jorok di Italia, untuk menunjukkan bahwa bahkan di negara non muslim yang sudah maju pun perilaku jorok masih sulit ditinggalkan.
 
Apa yang dilakukan orang-orang ini? Defensif. Untuk apa? Mempertahankan diri. Dari apa? Dari perubahan. Sudah pernah saya tulis bahwa perubahan itu menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan kepanikan. Kebiasaan buang sampah sembarangan itu sudah tertanam demikian dalam, sulit untuk mengubahnya. Ia bahkan sudah membangun mekanisme pertahanan diri terhadap perubahan. Mekanisme inilah yang mengeluarkan sikap defensif tadi.
 
Coba kita pikir dengan nalar. Menjaga kebersihan itu adalah perilaku menjalankan ajaran Islam. Perlukah itu tergantung pada perilaku umat lain? Tidak! Apakah kewajiban menjaga kebersihan itu menjadi gugur karena umat lain masih jorok juga? Tidak. Sebaliknya, umat Islam seharusnya jadi contoh dan pioneer, bukan? Kok malah menunggu umat lain?
 
Kita tahu bahwa argumen soal umat lain itu tidak ada isinya. Itu cuma cara untuk defensif, mengelak dari perubahan. Mengelak dari kebaikan. Ketahuilah bahwa sikap-sikap defensif inilah yang membuat banyak orang gagal berubah menjadi insan yang lebih baik lagi. Sikap defensif itu ibarat selimut hangat yang membuat kita tetap bermalas-malasan, enggan bangkit melakukan sesuatu yang lebih baik. Karena itu, ayat yang turun pada masa-masa awal dakwah nabi dulu berbunyi,”Ya ayyuhal mudatsir, qum fa anzir….” Hai orang yang berselimut, bangkitlah, dan berilah peringatan.
 
Perintah Quran, berhentilah bersikap defensif!