Jidoushi, Tadoushi, dan Tanggung Jawab

Dalam sebuah penerbangan yang terlambat dari jadwal, awak kabin menjelaskan,”Kami mohon maaf atas keterlambatan penerbangan ini, karena pesawat ini tadi terlambat tiba dari Jakarta.” Jadi, siapa yang menyebabkan keterlambatan penerbangan ini? Pesawat. Kita semua tahu bahwa keterkambatan terjadi akibat kesalahan manajemen perusahaan penerbangan. Tapi itu tidak diakui dalam penjelasan tadi.

Saat terjadi kecelakaan, orang biasa berkata,”Mobil saya bertabrakan.” Seakan mobil itu bisa berjalan sendiri lalu bertabrakan. Kejadian sebenarnya adalah, pemilik atau pengendara mobil menabrakkan mobilnya. Tapi hampir tidak pernah ada orang yang bilang,”Saya menabrakkan mobil saya.”

“Bertanrakan” adalah kata kerja intransitf. Dalam tata bahasa kita definisinya adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek. Pasangannya adalah kata kerja transitif, yang memerlukan objek. Dalam hal di atas “bertabrakan” adalah kata kerja intransitif, “menabrak” atau “menabrakkan” adalah kata kerja transitif.

Orang Jepang punya definisi yang berbeda soal kedua jenis kata kerja ini. Mereka menyebutnya jidoushi (intransitif) dan tadoushi (transitif). Cara orang Jepang mendefinisikan keduanya merefleksikan sikap bertanggung jawab.

Doushi berarti kata kerja. Ji artinya sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Dalam hal contoh di atas, “bertabrakan” adalah jidoushi (dalam bahasa Jepang “butsukaru”). Bentuk transitif atau tadoushi dari kata ini adalah “butsukeru”. Kalau mengalami kecelakaan, orang Jepang tidak memakai kata kerja intransitif, tapi memakai kata kerja transitif. Mereka akan bilang,”Kuruma wo butsuketa.” (Saya menabrakkan mobil saya.) Mereka tidak akan bilang,”Kuruma ga butsukatta.” (Mobil saya bertabrakan.) Kata kerja dengan akhiran “-ta” menunjukkan bentuk lampau.

Cara mengungkapkan kejadian itu menegaskan soal siapa yang bertanggung jawab. Memakai kata kerja intransitif cenderung membuat kita lupa soal siapa yang bertanggung jawab, karena peristiwa seakan terjadi dengan sendirinya. Orang Jepang secara tegas menggunakan kata kerja transitif, ungkapannya lebih bertanggung jawab.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi tekanan soal tanggung jawab ini, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita.

Saat melakukan eksperimen waktu kuliah dulu keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak. Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak”. Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat “Souchi (alat) ga kowareta“. Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab, “Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.” (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan).

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Dalam hal ini saya. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Perhatikan bahwa orang Jepang mendefinisikan kedua kata kerja tadi dengan cara yang secara tegas menyatakan pihak yang bertanggung jawab atas suatu peristiwa. Ini sangat mempengaruhi cara berpikir mereka. Cobalah kita perhatikan, mana yang lebih sering kita pakai untuk mengungkapkan peristiwa, transitif atau intransitif?

Tanggung jawab dalam hal ini tidak hanya untuk soal-soal yang negatif belaka. Ini berlaku juga untuk hal yang positif. Ada begitu banyak ungkapan yang menunjukkan bahwa tanpa sadar kita banyak berharap atau menganggap tejadinya sesuatu akibat hal-hal yang ada di luar diri kita. Pemilihan subjek atau kata kerja yang kita ambil mewakili pola pikir itu.

Misalnya, ungkapan ini. “Buku saya sudah jadi.” Bandingkan dengan,”Saya sudah selesai menulis buku saya.” Kedua kalimat membawa makna inti yang sama. Tapi kalimat kedua menegaskan usaha yang dilakukan oleh subjek.

Cara kita berbahasa menunjukkan pola pikir kita. Bahkan cara kita berbahasa memberi sugesti yang menggiring cara berpikir kita. Mari gunakan ungkapan-ungkapan yang memberi sugesti positif.

Memaknai Pidato Anies di Petamburan

Anies berkunjung ke Markas FPI di Petamburan. Ini terjadi saat elektabilitasnya sedang turun. Agus bertengger di urutan pertama, Ahok di urutan kedua. Pilkada diperkirakan akan berlangsung 2 putaran. Calon dengan suara terkecil, akan terlempar. Maka bisa dipahami arti penting kunjungan ini bagi Anies. Anies harus merebut suara pemilih muslim yang anti Ahok. Saat itu suara itu hendak dilimpahkan ke Agus. Maka Anies harus membuat sesuatu yang bisa membelokkan pandangan dari Agus ke dirinya.

Anies membuka pidato dengan menyebut istilah “Universitas Terbuka Petamburan”. Rizieq dia sebut sebagai “guru kita semua”. Ini adalah sopan santun kepada tuan rumah. Tapi dalam konteks yang lebih luas, maknanya tidak hanya sebatas itu. Rizieq adalah orang yang biasa memaki. Anies pasti tahu itu. Gus Dur dia maki. Said Aqil dia maki juga. Wiranto dia sebut penjilat pantat Cina, dan namanya diganti Wiranti. Orang yang memilih pemimpin non-muslim dia sebut babi. Orang seperti ini dipanggil guru oleh mantan Menteri Pendidikan. Wonderful!

Anies kemudian memuji sebuah makalah yang tadinya dibahas di situ, entah apa isinya. Kata Anies, itu makalah yang hebat, karena catatan kakinya banyak. Kita yang biasa bergelut dengan dunia ilmiah tentu akan tersenyum mendengar ungkapan itu. Kekuatan sebuah makalah ada pada argumennya. Catatan kaki atau referensi, itu pendukung saja. Referensi itu untuk menunjukkan bahwa sudah ada yang mengungkapkan sesuatu, jadi tidak perlu diulang argumennya. Merujuk pada suatu referensi tidak memastikan kebenaran sebuah makalah.

Lalu Anies bercerita soal makalah yang membahas lobi Yahudi. Penulisnya, kata Anies, dipecat dari posisi dekan gara-gara tulisan itu. Validitas pernyataan itu pernah dibantah seorang penulis. Yang menulis paper tadi bukan dekan, dan tentu saja tidak pernah dipecat.

Apa relevansi paper ini dengan acara di Petamburan? Tidak ada. Ini adalah siasat komunikasi belaka. Ada kata kunci “Yahudi”, dan dibahas dalam citra jahat. Itu cara untuk mengkondisikan pikiran orang. Anies sedang membangun atmosfer, bahwa “kita punya musuh yang sama, yaitu Yahudi yang jahat”. Tapi apa hubungannya dengan Indonesia? Di situlah menariknya. Yahudi itu bisa dimusuhi oleh sebab apa saja. Memusuhi Yahudi selalu relevan bagi umat Islam. Jurus itu yang sedang dimainkan Anies.

Lalu Anies membahas aksi 411 dan 212. Ia memujinya. Tentu saja ia memuji dalam konteks bahwa acara ini berlangsung tertib. Tapi pada saat yang sama ia sedang mengirim pesan bahwa “aku ada di pihak kalian”. Apa acara 411 dan 212? Bagi saya itu acara untuk memaksakan kehendak di atas hukum. Tuntutanya adalah tangkap Ahok. Pokoknya Ahok harus dibui, terserah mau pakai mekanisme hukum atau tidak. Anies, meski tidak langsung, memuji kegiatan itu.

Kemudian Anies membahas soal peran orang Arab dalam kemerdekaan. Biarlah, karena saya tak hendak membahas itu. Itu soal yang dalam sejarah memang diakui adanya. Demikian pula klarifikasi Anies soal siapa dia, yang bukan liberalis, bukan Syiah, dan bukan pula Wahabi.

Di akhir pidato, Anies bicara soal kebijakan Ahok. Soal penggunaan lapangan Monas untuk pengajian. “Ini program, ya. Kalau menang nanti, kita tasyakuran di Monas.” Ahok dianggap memusuhi umat Islam, karena tidak lagi mengizinkan pengajian di Monas. Padahal itu berlaku untuk semua acara.

Lalu Anies juga mengritik larangan takbir keliling, sebuah larangan yang sebenarnya sudah diterbitkan sejak zaman Sutiyoso. Daerah lain seperti Jawa Barat dan Jawa Timur juga menerapkan larangan yang sama. Tapi Anies tahu betul bahwa ini adalah salah satu keluhan FPI terhadap Ahok. Maka Anies memainkan isunya. Demikian pula halnya dengan pengaturan penyembelihan kurban.

Inikah program Anies untuk membangun Jakarta? Dengan menjungkir balikkan kebijakan yang sudah ada, agar sesuai dengan selera Rizieq? Boleh jadi itu cuma strategi untuk mendapatkan simpati pemilih. Tapi bagi saya itu tetap tidak sehat dalam demokrasi. Sederhananya, Anies sedang melakukan provokasi.

Bagaimana selanjutnya? Entahlah. Saya hanya merekamnya sebagai fakta bahwa Anies sudah berubah. Dulu ia pernah mengritik keras Prabowo, yang dekat dengan FPI. Bagi Anies, FPI itu ekstremis. Tapi kini, Anies berada di kubu Prabowo, dan mendekat kepada FPI.

Atau, saya yang salah. Bahwa Anies memang begitu sejak dulu. Anies yang rela berubah menjadi apa saja, untuk mencapai tujuannya.

 

Bisakah Saya Mengatur Waktu?

Saya sering mendengar pertanyaan ini. Bisakah saya mengatur waktu? Seorang mahasiswa becerita bahwa ia sedang berbisnis online, dan usahanya sedang tumbuh. Ia bertanya pada saya, apakah dia perlu menjnggalkan kuliah untuk mengurus bisnisnya. Ia khawatir tidak bisa mengatur waktu dengan baik, sehingga membuat salah satu urusannya terbengkalai.

Ada pula seorang manejer di dealer sepeda motor. Ia anak muda yang penuh semangat. Meski hanya lulusan SMA ia bisa meniti karir, dari petugas sales sampai jadi manejer. Ia ingin menambah ilmu, dengan masuk ke perguruan tinggi. Tentu saja ia harus kuliah sambil kerja. Ia punya kelhawatiran yang sama, bisakah saya mengatur waktu.

Mengatur waktu adalah soal mengelola alokasi waktu. Kita semua punya waktu yang sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jatah itu tak bisa kita tambah, juga tak bisa dikurangi. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengelola waktu itu, untuk apa ia kita gunakan.

Mengelola waktu itu sama seperti mengisi sebuah kotak. Setiap orang punya kotak dengan ukuran atau volume sama. Berapa banyak barang yang bisa kita masukkan dalam kotak itu, tergantung bagaimana kita menyusun barang tersebut di dalam kotak. Kalau kita masukkan barang secara serampangan, maka akan banyak celah di antara barang-barang itu, tidak terisi, dan menjadi mubazir. Kita hanya bisa memasukkan sedikit barang.

Celah tadi adalah waktu antara, waktu luang antara satu kegiatan dengan kegiatan lain. Banyak yang gagal mengelola atau mengisi waktu ini, sehingga waktunya terbuang percuma. Ia lalu merasa tidak punya cukup waktu. Padahal ia punya banyak waktu.

Bagaimana memanfaatkan waktu luang ini? Pertama, usahakan mengatur jadwal dengan rapi, sehingga tidak banyak celah atau waktu senggang antara satu kegiatan dengan kegiatan lain. Persis seperti kita menata rapi letal barang-barang dalam kotak, sehingga celah-celah kecil tadi bisa terakumulasi menjadi celah besar yang bisa diisi dengan barang lain. Praktisnya, segera lakukan hal lain, begitu Anda selesai mengerjakan suatu hal. Atur jadwal agar Anda bisa pindah dari satu agenda ke agenda lain dengan cepat.

Cara lain adalah dengan mengisi waktu luang tadi secara efektif. Ada kegiatan yang bisa dicicil, maka lakukan kegiatan itu di sela-sela kegiatan lain. Banyak orang yang gagal memanfaatkan waktu sela ini. Waktu dalam perjalanan, di bis atau kereta, misalnya, bisa diisi dengan membaca atau menulis. Bagaimana dengan yang menyetir sendiri? Saya dulu sering memanfaatkan waktu selama menyetir dengan berpikir. Banyak gagasan tulisan, atau solusi masalah yang terpikirkan selama menyetir.

Kita bisa pula mengelola kotak waktu kita dengan memperpendek waktu untuk setiap kegiatan. Ibarat memasukkan barang tadi, barangnya kita tekan agar volumnya me jadi lebih kecil. Kita latih diri kita untuk mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Sesuatu yang biasanya kita kerjakan dalam waktu 1 jam, kita kerjakan dalam waktu 45 menit. Maka kita punya waktu ekstra, 15 menit.

Apa pekerjaan yang bisa dipercepat? Salah satunya adalah rapat. Ada begitu banyak orang membuang waktu pecuma untuk rapat-rapat yang bertele-tele. Ada banyak rapat yang sebenarnya bahkan tidak perlu dilakukan. Kita bisa berunding lewat telepon atau email, tapi kita memilih untuk rapat. Ditambah lagi, kita rapat secara bertele-tele.

Bila tidak ada lagi celah, tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dimampatkan waktu pengerjaannya, maka pilihan terakhir adalah seleksi. Dari sejumlah agenda yang kita miliki, ada sejumlah agenda yang harus kita buang dari jadwal kita, untuk diganti dengan jadwal yang lebih penting. Ini adalah soal penetapan prioritas.

Masih adakah cara lain? Ada. Pakai waktu orang lain. Ibarat kotak tadi, kita tempatkan isi kotak kita ke kotak orang lain. Bagaimana bisa? Itu namanya pendelegasian. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita serahkan kepada orang lain, tidak perlu kita kerjakan sendiri. Ini namanya pendelegasian. Banyak manejer atau pemimpin yang pontang panting kehabisan waktu, karena ia mengerjakan semuanya sendiri. Sementara bawahannya menganggur. Delegasikan pekerjaan kepada staf, bawahan, atau bahkan sejawat, maka Anda akan bisa menikmati tambahan waktu.

Ingatlah. Kita sebenarnya tak kekurangan waktu. Kita hanya sering membuangnya secara sia-sia.

 

Menjalankan Perintah Quran dan Berindonesia

Ini adalah ayat Quran yang sedang populer sekarang.
 
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,yaitu) Yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.” (QS. An-Nisa’ [4] : 138-139).
 
Anda bisa bayangkan betapa takutnya sebagian orang terhadap ancaman ayat ini. Memilih pemimpin non-muslim adalah sikap orang munafik, yang akibatnya akan membuat Anda masuk neraka. Makanya, banyak orang dengan gampang memberi cap munafik kepada orang-orang yang mendukung Ahok.
 
Coba kita renungkan. Kita berhadapan dengan ancaman siksa neraka. Apa yang akan kita lakukan? Tentulah kita akan memilih untuk mematuhi ayat itu, bukan? Lagipula ini cuma soal gubernur atau bupati. Terlalu kecil urusannya bila dibandingkan dengan urusan akhirat. Baiklah, patuhi ayat ini.
 
Tapi sebentar. Ini soal pemimpin, kan? Coba kita lihat dalam skala yang lebih luas lagi. Anda tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Artinya, mereka tidak boleh kita jadikan presiden, gubernur, bupati, camat, lurah. Iya kan? Lalu, mereka boleh jadi apa?
 
Mereka juga tentu tidak boleh jadi Panglima TNI dan Kapolri. Juga tidak boleh jadi Pangdam, Kapolda, Dandim, Kapolres, dan seterusnya. Juga kepala dinas, kepala cabang, kepala kantor.
 
Lantas, mereka bolehnya jadi apa?
 
Lalu ada yang berdalih,”Maksudnya bukan begitu. Ini hanya soal pemimpin yang dipilih. Yang tidak dipilih langsung oleh rakyat, boleh.” Sama saja. Menjadikan mereka pemimpin itu maknanya Anda memilih mereka, dan Anda juga mengakui kepemimpinan mereka.
 
Itu artinya, Anda juga tidak boleh punya bos dan atasan di kantor. Tidak boleh bekerja di perusahaan non-muslim. Lho, lho, lho, kok ngaco, kata mereka. Bekerja sama dengan orang kafir dalam hal muamalah boleh saja, kata mereka. Ngeri kali kalau tidak boleh bekerja bersama non muslim, kan?
 
Tapi coba kita ulangi lagi. Ini soal awliya. Apa arti kata ini? Pemimpin, pelindung, teman dekat, pengelola, pengatur, ketua, dan masih banyak lagi. Tahukah Anda bahwa kata wali kota, wali kelas, wali murid itu berasal dari kata ini, wali, jamaknya awliya? Itu artinya, muslim tidak boleh berteman dekat, bekerja sama, kongsi, beraliansi, dan sebagainya.
 
Lihatlah, betapa hidup ini jadi mustahil. Anda tidak boleh berteman dekat dengan non muslim. Ada banyak orang yang melakukan itu. Mereka pura-pura manis di depan non muslim, tapi kalau sudah berkumpul kembali dengan sesama muslim, mereka menunjukkan sikap aslinya.
 
Tapi bagi saya itu tidak mungkin saya lakukan. Maaf, justru itu adalah sikap munafik yang dicela oleh ayat di atas.
 
Jadi, bagaimana? Mungkinkah kita bisa mengamalkan Quran di Indonesia? Kalau dengan model penafsiran di atas, mustahil. Pilihannya adalah, keluar dari Indonesia, atau meninggalkan ayat di atas.
 
Adakah pilihan lain? Ada! Ubah definisi kafir dalam ayat itu. Maksudnya? Ada begitu banyak ayat yang menyebut kata kafir, dengan maksud menunjuk kepada kaum Quraisy Mekah yang waktu itu memang memerangi umat Islam. Hanya disebut kafir saja, tanpa embel-embel. Tapi yang membaca ayat itu, pada masa itu, sudah tahu siapa kafir yang dimaksud.
 
Masuk akal, bukan? Memang mustahil kita bisa berteman dekat dengan orang-orang yang memerangi kita. Tapi, sebaliknya mustahil kita hidup normal kalau kita mengharamkan pertemanan dekat dengan orang, hanya karena kita berbeda iman dengan mereka.
 
Bagi saya, sikap ini lebih masuk akal. Anda berbeda dengan saya? Tidak masalah.

Emak, Cina, dan Arab

Salah satu bagian dari buku baru saya “Emakku bukan Kartini” yang sebentar lagi terbit adalah verità tentang Emak bedagang. Ia membeli pakaian, obat, dan kosmetik, di kota, lalu menjualnya ke kampung, dengan menjajakannya keliling kampung. Waktu kecil saya sering ikut membantu Emak pergi berdagang. Hasil dari berdagang ini jauh lebih besar dari hasil kebun kelapa kami. Dari sinilah uang untuk biaya sekolah kami dihasilkan.

Mulanya ada orang berdagang, sesekali datang ke kampung kami. Ia menginap di rumah kami. Setelah berkali-kali orang itu datang, Emak memberanikan diri mengambil barang dagangannya, lalu menjajakannya. Waktu itu Emak masih mengasuh saya, sehingga tak terlalu serius dengan urusan dagang itu.

Ketika saya sudah agak besar, Emak memberanikan diri. Ia pergi ke kota, minta diperkenalkan kepada pedagang grosir di pasar. Emak membeli barang dagangan, tapi tidak kontan. Ia menitipkan gelang emas sebagai jaminan. Ia mendapat sejumlah barang, kemudian menjualnya ke kampung kami. Hasil penjualan itu disetorkan, lalu ia mendapat barang lagi. Begitu seterusnya.

Setelah berkali-kali, akhirnya jaminan tadi tak lagi diperlukan. Emak boleh mengambil barang dagangan, menjualnya, kemudian menyetor hasil penjualan, setela dipotong keuntungannya sendiri.

Salah satu toko tempat Emak belanja dulu pemiliknya orang Cina, namanya A Song. Saya sering ikut Emak belanja, dan mengenal A Song dengan cukup baik. Tokonya selalu ramai dikunjungi oleh ibu-ibu seperti Emak. Mereka juga berdagang, membeli barang dari A Song, tanpa pembayaran di muka.

A Song dan karyawannya selalu melayani dengan ramah. Setiap tamu yang datang ia sapa dan salami, dan disuguhi minuman. Kalau tiba waktu makan siang, A Song membelikan makanan. Emak biasanya belanja sangat lama, kadang sampai setengah hari.

Toko lain yang juga sering dikunjungi Emak milik orang Arab, namanya Husin. Sama seperti A Song, Ami Husin ini ramah. Ia selalu melayani Emak dengan senyum.

Ada lagi beberapa toko Cina yang dikunjungi Emak untuk membeli beberapa jenis barang lain. Semua sama, ramah, dan Emak tak perlu membeli kontan.

Apa yang mengikat orang-orang itu? Kepentingan dan keuntungan. Suku, agama, tak penting. Yang penting, sama-sama untung. Fondasinya adalah kepercayaan. Saling percaya dan menjaga kepercayaan itu, dan kita sama-sama untung.

Banyak orang membenci Cina. Ada juga yang benci Arab. Mereka memasang stigma bahwa Cina itu licik dan penipu. Tamak dan rakus, hanya mau untung sendiri. Pengalaman saya, tidak demikian. Ipar saya juga berdagang, punya toko. Ia punya begitu banyak kawan Cina, sampai dia fasih bahasa Teu Cew.

Bisnis itu soal uang. Kalau sama-sama menguntungkan, orang tak akan lihat dengan siapa dia berniaga. Tapi di atas soal itu, bisnis itu soal kepercayaan. Kalau orang sudah bisa dipercaya, apapun suku atau agamanya, tak penting lagi. Sebaliknya, kalau sudah culas dan menipu, jangankan saudara sesuku dan seagama, saudara kandung pun tak patut dijadikan mitra.

Saya menikmati keindahan hubungan yang dibangun atas dasar saling pecaya, saling menghormati, dan saling menguntungkan itu. Berkat itulah, kami bersaudara bisa sekolah, dan kemudian bekerja dengan layak. Hubungan itu membantu kami keluar dari kemiskinan.

Saya percaya hubungan seperti itu dapat dibangun di manapun, oleh siapapun.