Jangan Ambil Hikmah, Ciptakan Hikmah

Seseorang mengalami hal buruk. Ia menerima nasihat,”Ambil saja hikmahnya. Tuhan pasti menyiapkan hikmah untuk kamu.” Tuhan digambarkan sebagai sosok yang “usil”. Ada orang yang sudah baik, diberi cobaan dengan hal-hal buruk. Kalau ia tetap beriman, maka Tuhan akan memberinya ganjaran berupa hal-hal baik. Kalau ia berbalik jadi ingkar, maka berarti selama ini imannya lemah. Maka ia akan disiksa.

Bukankah Tuhan itu Maha Tahu, sehingga Dia juga seharusnya tahu berapa kadar iman seseorang, sehingga Dia tidak perlu menguji orang untuk menelanjangi kadar imannya? Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih, sehingga Ia tidak perlu mendatangkan hal-hal buruk dulu untuk menghadiahi manusia dengan hal-hal baik? Jawaban klise yang sering kita dengar,”Kamu tidak paham tentang Tuhan. Ia adalah misteri, semua ini misteri Tuhan.”

Ya, saya tidak tahu soal kehendak Tuhan. Tapi tidak cuma saya, kamu juga. Kamu juga tidak tahu. Kamu tidak tahu soal kejadian buruk yang menimpa seseorang itu azab atau teguran. Kamu tidak tahu sama sekali apa maksud kejadian itu, apakah memang kehendak Tuhan atau akibat kesalahan seseorang. Kamu hanya merasa tahu. Sok tahu!

Jadi bagaimana? Karena wilayah kehendak Tuhan adalah wilayah yang tidak kita ketahui dengan pasti, maka jangan habiskan waktu dan tenaga untuk berkutat di wilayah itu. Lihat masalah dengan sudut pandang yang lebih baik. Prinsipnya: Jangan ambil hikmah, ciptakan hikmah!

Mari pikirkan contoh sedehana. Ada nyamuk, yang tidak sekadar menjengkelkan, tapi juga menyebarkan penyakit bebahaya. Mungkin ada yang bertanya, untuk apa Tuhan ciptakan nyamuk? Kalau tidak ada nyamuk, kita tidak akan sakit demam berdarah, bukan?

Tapi mari lihat dari sisi lain. Karena ada nyamuk yang menyebar penyakit, ada dokter yang mendapat pekerjaan mengobati. Ada pula pembuat obat yang sampai bisa membuat perusahaan, yang menggaji banyak orang. Lalu ada juga perusahaan pembuat racun serangga. Ada begitu banyak orang yang diuntungkan oleh adanya nyamuk. Itulah hikmah diciptakannya nyamuk oleh Tuhan.

Tapi apakah benar itu tujuan Tuhan menciptakan nyamuk? Kita tidak tahu. Penjelasan di atas adalah hasil pemikiran manusia, bukan penjelasan Tuhan. Jadi kebenarannya terbatas pada tingkat kebenaran pemikiran manusia, bukan kebenaran mutlak. Jadi, apa tujuan Tuhan menciptakan nyamuk? Kita tidak tahu, dan tidak perlu tahu. Tapi bagaimana dengan hikmah di atas?

Hikmah di atas adalah produk usaha manusia. Yang bisa menikmatinya adalah yang mengusahakannya. Nyamuk itu sudah ada sejak jutaan tahun yang lalu. Selama puluhan ribu tahun manusia hanya mendapat gangguannya. Manusia baru mendapatkan hikmahnya setelah ia berpikir dan bertindak. Itupun tak semua menikmatinya. Yang menikmatinya hanyalah yang berpikir dan bertindak. Jutaan manusia lain hanya bisa mengeluh dan menderita atas gangguan nyamuk.

Begitulah. Hikmah tidak datang begitu saja. Jadi jangan menunggu. Perintahnya memang ambil saja hikmahnya. Tapi pada prakteknya, hikmah itu tidak diambil, tapi ditunggu. Menunggu adanya hal baik yang dikirim Tuhan, setelah kejadian-kejadian buruk. Atau dicocok-cocokkan. Dicari-cari kecocokannya. Kalau tidak ada, mesti menunggu dan mencari lagi. Mungkin karena imanmu kurang. Begitu seterusnya.

Jangan ambil hikmah pada kejadian buruk. Tidak ada hikmah pada kejadian buruk itu. Hikmah ada pada sikap kita terhadapnya. Dalam hal nyamuk tadi, hikmah dihasilkan oleh orang-orang yang berpikir dan bertindak. Bukan oleh nyamuk.

Saya jadi teringat pada cerita Muhamad Fadli, seorang pembalap paracycling. Ia tadinya seorang pembalap motor. Suatu hari kecelakaan di sirkuit membuat Fadli kehilangan kaki. Apa hikmah kecelakaan itu? Tidak ada. Risiko kecelakaan di sirkuit sudah ada sejak sebelum Fadli lahir. Ia mengambil risiko itu dengan memilih profesi pembalap motor.

Hikmahnya ada pada pilihan Fadli. Setelah kehilangan kaki, ia punya banyak pilihan. Ia bisa menyerah dan merintih, sambil berharap belas kasih orang. Ia bisa memulai “profesi” baru sebagai pengemis. Atau, ia bisa pula berhenti jadi pembalap, bekerja di perusahaan, kalau ada yang mau merekrutnya. Atau bunuh diri.

Pilihan yang diambil Fadli mencengangkan. Ia tidak merasa kehilangan kaki itu adalah penghalang untuk tetap jadi pembalap. Ia hanya perlu mengganti kendaraannya saja. Ia mulai berlatih jadi pembalap sepeda, dengan bantuan kaki palsu. Maka ia kini menjadi pembalap nasional.

Bukan kecelakaan yang membuat Fadli hebat. Ia sudah hebat sebelum kecelakaan itu terjadi. Ia tetap hebat setelah kecelakaan itu. Kecelakaan hanya mampu melukai kakinya, tidak pikirannya. Tidak pula keberaniannya. Pilihan yang ia buatlah yang menjaganya tetap menjadi seorang juara, tidak terjerumus menjadi pecundang.

Jadi, kalau ada hal buruk menimpa Anda, jangan mengeluh, jangan cari hikmahnya dalam belantara misteri. Bersikaplah. Bangkit, pikirkan apa yang bisa Anda perbuat untuk mengatasi akibatnya. Bertindaklah untuk mengatasinya. Ciptakan hikmah bagi diri Anda.

Pendidikan, Membangun Metode Berpikir

Anak saya yang baru masuk kelas 1 SMA mengeluh soal pelajaran dan guru di sekolahnya. “Guru tidak menjelaskan, cuma menyuruh kami belajar sendiri, lalu dia memberi kami soal-soal untuk diselesaikan,” keluhnya. Apa yang terjadi dengan sekolah? Konon, ini pola belajar berdasarkan kurikulum 2013.

Entahlah, apa benar demikian atau tidak. Saya tidak melakukan kajian sistematis soal kurikulum. Namun selama mendampingi anak-anak saya belajar, saya perhatikan ada beberapa masalah pada buku-buku pelajaran mereka. Masalahnya adalah, sering adanya lompatan dalam materi pelajaran.

Prinsip belajar adalah bertahap. Setelah paham sesuatu, pelajar dibawa ke tahap selanjutnya. Tanpa memahami sesuatu yang merupakan pendahuluan, sulit untuk memahami materi di tahap berikutnya. Untuk memahami perkalian, misalnya, pelajar harus paham dulu soal penjumlahan. Tanpa pemahaman itu, mustahil dia paham soal perkalian.

Keluhan anak saya, dia belajar soal vektor dalam pelajaran fisika. Tapi gurunya tidak memberi penjelasan soal definisi sinus dan cosinus yang dipakai untuk menjelaskan vektor. Kata gurunya, itu materi yang harus didapat dalam pelajaran matematika. Sementara pelajaran matematika belum sampai ke materi itu.

Akibatnya anak-anak bingung. Bukan hanya anak-anak saya. Teman-temannya bingung semua. Saya jelaskan materinya pada anak saya. Lalu teman-temannya tertarik untuk ikut belajar pada saya.

Keluhan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Saya sendiri pernah mengalami masalah serupa, yaitu tidak paham materi pelajaran karena penjelasan guru kurang memadai. Apakah ini masalah kurikulum? Tidak selalu. Bahkan sama sekali bukan.

Guru adalah raja di kelasnya. Ia bukan hamba kurikulum. Maka ia tak boleh gagal menjelaskan hanya karena dibatasi oleh kurikulum. Kurikulum itu bukan kitab suci yang harus diikuti kata per kata. Ia hanya panduan besar. Guru boleh keluar dari situ, untuk membangun pemahaman bagi pelajarnya.

Masalahnya, banyak guru yang tidak paham. Banyak yang tidak paham materi yang harus ia ajarkan. Atau, tak paham bagaimana menjelaskannya. Ada banyak guru yang bertahun-tahun bertahan dalam ketidakpahaman. Ia tak berusaha membangun pemahaman bagi dirinya sendiri. Itulah salah satu sebab gagalnya pendidikan kita.

Pendidikan pada dasarnya bukan sekadar soal mengajarkan pengetahuan. Dalam hal fisika, misalnya, bukan soal bagaimana agar para pelajar paham hukum-hukum fisika. Para pelaku pendidikan sering gagal memahami itu. Fokus mereka pada materi pelajaran. Bagaimana menyampaikan materi pelajaran. Bagaimana membuat anak-anak mampu menyelesaikan soal tes.

Jadi, kalau tidak paham, hafalkan saja. Termasuk hafalkan saja cara menyelesaikan soal. Kalau soalnya begini, cara menyelesaikannya begini. Ganti rumus ini dengan angka ini, nanti hasilnya ini.

Situasi itu jauh dari maksud pendidikan. Kita tak mengajari anak-anak kita tentang fisika dengan harapan agar mereka semua jadi ahli fisika. Demikian pula dengan matematika, dan pelajaran lain. Bagian terpenting dari semua pelajaran itu adalah membangun metode berpikir, dengan menjalani prosesnya.

Dalam setiap pelajaran ilmu alam sebenarnya diperkenalkan topik tentang metode ilmiah. Tentang bagaimana pengetahuan tentang sesuatu diperoleh, bagaimana sesuatu diselidiki lalu disimpulkan. Sayangnya, bagian ini pun sering kali hanya menjadi bagian hafalan dalam pelajaran. Ia tidak menjadi fondasi dalam proses belajar selanjutnya.

Tahapan dalam materi pelajaran pada dasarnya disusun untuk membangun metode berpikir. Sepanjang masa belajar para pelajar digembleng untuk menjalani proses berpikir, dilatih untuk berpikir, membangun metode berpikir. Karena itu materi pelajaran tidak sekadar soal isi teori, tapi juga membahas bagaimana teori itu dibangun. Pada teori atom, misalnya, tidak langsung meloncat pada isi teorinya, tapi juga membahas bagaimana sejarah perumusan teori itu.

Sebagian besar anak-anak kita kelak tidak akan bekerja dengan memakai teori atom atau Hukum Newton. Kalau materi pelajaran yang menjadi prioritas, yakinlah bahwa itu akan sia-sia, karena akhirnya tidak akan dipakai dalam hidup. Tapi kalau proses berpikir yang dilatihkan, maka proses itu akan menjadi pola yang melekat sampai kapan pun. Itu akan berguna dalam banyak kesempatan sepanjang hidup.

Para orang tua dan guru harus selalu menyegarkan kembali kesadaran mereka soal ini. Agar mereka tidak tenggelam dalam kesesatan, mengejar target materi, lupa membangun proses berpikir. Ketika harus menjelaskan sesuatu yang pendahuluannya belum dipahami anak-anak, mutlak bagi guru untuk membangun pemahaman soal pendahuluan itu. Kalau tidak, ia tidak sedang membangun metode berpikir.

 

Apakah Tuhan itu Ada?

Jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada apa yang kita maksud ada. Orang-orang beriman yakin Tuhan itu ada. Di mana? Dalam keyakinan mereka. Tuhan hadir dalam kesadaran, menjadi inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka Tuhan itu ada.

Sebaliknya, bagi yang tidak beriman, Tuhan itu tidak ada. Tuhan tidak hadir dalam kesadaran mereka. Tuhan juga tidak menjadi motif maupun inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka, Tuhan itu tiada.

Bisakah kita membuktikan keberadaan Tuhan secara objektif?

Tidak mungkin! Mau dibuktikan dengan apa? Dengan peralatan scientific? Tidak bisa. Kenapa tidak bisa? Apakah karena teknologi manusia belum cukup canggih untuk bisa mendeteksi keberadaan Tuhan? Bukan begitu. Sains tidak menjadikan Tuhan sebagai objek kajiannya. Maka sains tidak akan menghasilkan sesuatu yang akan menjawab pertanyaan soal eksistensi Tuhan. Jadi, teknologi manusia sebagai produk sains tidak akan pernah bisa mendeteksi atau membuktikan keberadaan Tuhan. Ibaratnya, vaksin kimiawi tidak akan pernah bisa membunuh virus komputer. Bukan karena vaksin itu kurang ampuh, tapi karena memang tidak dibuat untuk itu.

Prinsip itu berlaku sebaliknya; sains dan teknologi juga tidak bisa dipakai untuk membuktikan tiadanya Tuhan.

Jadi, Tuhan tidak bisa dibuktikan secara objektif. Lantas, adakah Tuhan? Jawabannya kembali ke paragraf pertama dan kedua di atas. Tuhan itu ada bagi yang mengimaninya, dan tiada bagi yang tidak mengimaninya.

Ada orang-orang yang mencoba menggunakan sains untuk menjelaskan keberadaan Tuhan. Kata mereka, alam ini sungguh teratur. Tidak mungkin keteraturan itu ada kalau tidak ada yang menciptakan dan mengaturnya.

Baiklah. Mari kita lihat keteraturan alam ini. Lihatlah misalnya soal awan dan hujan. Siapa yang mengaturnya? Apakah Tuhan? Mari kita cek. Air di muka bumi menguap, membumbung tinggi menjadi awan. Apa yang membuat air itu menguap? Utamanya adalah panas dari matahari. Awan kemudian mengalami berbagai kondisi termodinamik yang membuatnya mengembun menjadi air. Air yang berat ini kemudian menjadi lebih berat, kemudian turun menjadi hujan.

Kalau kita selidiki setiap penyebab sepanjang proses di atas maka kita akan temukan bahwa setiap keteraturan yang kita saksikan terjadi oleh suatu kondisi. Kalau ada kondisi A, akan terjadi B. Kalau ada konsidi C, maka akan terjadi D. Siapa yang menciptakan atau mengatur kondisi itu? Kondisi-kondisi lain. Begitu seterusnya. Keteraturan alam itu saling terkait satu sama lain, bahkan saling mempengaruhi.

Menariknya, manusia bisa ikut campur mengatur kondisinya. Manusia bisa membuat suatu kondisi, emngubah kondisi yang ada, sehingga tercapai kondisi yang diinginkan, lalu terjadilah yang diinginkan itu. Manusia misalnya bisa mengatur kondisi termodinamika di angkasa, sehingga bisa membuat hujan.

Manusia tahu bagaimana terjadinya pembuahan yang menghasilkan janin (pada hewan maupun manusia), dan bisa mengintervensi kondisi-kondisi sesuai keinginan, sehingga bisa mencegah atau membuat kehamilan. Dengan mengubah kondisi-konsidi, manusia bisa mengatur keturunan hewan-hewan, menciptakan jenis-jenis baru, yang sebelumnya tidak ada. Manusia juga bisa membuat bahan-bahan baru, dengan sifat sesuai yang mereka inginkan. Bahkan manusia menciptakan atom-atom baru, yang sebelumnya tidak wujud di alam ini.

Adakah yang mengatur keteraturan itu? Selama basisnya sains, maka keteraturan alam adalah produk dari kondisi-kondisi yang diciptakan oleh alam itu sendiri. Bukan oleh sesuatu yang lain. Lalu, dari mana datangnya kesimpulan bahwa keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan? Iman. Bila dasarnya iman, maka penjelasan ilmiah tadi tidak diperlukan. Pokoknya keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan. Titik.

Jadi, apakah Tuhan itu ada? Sak karepmu.

 

Memperlakukan Anak dengan Adil

Para orang tua sering bertanya, apakah anak-anak harus kita perlakukan dengan sama? Kalau sama, apakah semua perlakuan akan cocok? Kalau tidak sama, apakah itu tidak melanggar prinsip keadilan? Adil memang konsep yang sering kali terlalu rumit untuk dipahami. Apakah sama itu adil? Atau justru sebaliknya, apakah adil itu harus sama?

Kita bisa menyederhanakan rumusannya. Anak harus diperlakukan sama, dalam arti semua mendapatkan kebutuhannya. Kita harus ingat, bahwa kebutuhan setiap anak berbeda-beda.

Perbedaan yang paling nyata pada anak kita adalah perbedaan usia. Anak dengan usia yang berbeda tentu berbeda pula kebutuhannya. Maka kita perlakukan mereka sesuai kebutuhan, tentu saja perlakuannya berbeda. Anak bayi masih perlu digendong, sedangkan yang sudah balita tidak perlu lagi.

Perbedaan yang lain adalah jenis kelamin. Anak lelaki berbeda kebutuhan dengan anak perempuan, maka perlakuan atas mereka akan berbeda. Tapi ingat, basisnya adalah kebutuhan, bukan hal lain. Ada orang tua yang membedakan perlakuan terhadap anak lelaki dan perempuan, tapi basisnya bukan kebutuhan anak-anak, melainkan perasaan atau kehendak mereka sendiri. Misalnya, anak perempuan tidak boleh pergi sekolah jauh dari orang tua. Apakah itu berbasis pada kebutuhan anak? Tidak. Itu basisnya adalah perasaan, atau nilai yang dianut oleh orang tua.

Lalu, apakah anak dengan usia yang sama harus diperlakukan sama? Misalnya, saat anak kita berusia 5 tahun, apakah perlakuan terhadapnya harus sama seperti saat kakak atau abangnya berusia 5 tahun? Lagi-lagi kita harus melihat kebutuhannya. Anak-anak dengan usia sama pun bisa berbeda kebutuhannya. Bahkan anak kembar sekalipun bisa berbeda kebutuhannya.

Anak pertama saya suka digendong waktu bayi. Menjelang tidur saya suka menggendong dia sampai dia tertidur. Ketika anak kedua saya lahir, saya perlakukan sama, saya gendong sebelum tidur. Di usia 5 bulan dia menunjukkan perbedaan. Tangannya mendorong badan saya, memberi isyarat untuk diletakkan saja di tempat tidur. Ia mau tidur sendiri, tanpa perlu digendong.

Jadi, sebagai orang tua kita perlu mengenali kebutuhan anak-anak kita, kemudian memperlakukannya sesuai kebutuhan itu. Banyak dari kita yang ingin memperlakukan secara sama. Pokoknya harus sama. Kakakmu begitu, maka kamu juga harus begitu. Maka anak yang kebutuhannya berbeda akan merasa diperlakukan tidak adil saat ia diperlakukan sama dengan anak lain.

Demikian pula sebaliknya, banyak orang tua yang bingung dalam menjelaskan kepada anak, kenapa ia diperlakukan berbeda dengan anak lain. Atau, saat anak menuntut perlakuan yang sama, padahal ia tidak atau belum membutuhkan perlakuan itu. Orang tua jadi merasa bersalah, karena telah membeda-bedakan perlakuan. Mereka bingung karena tidak menyadari bahwa perbedaan perlakuan itu terjadi karena adanya perbedaan kebutuhan.

Sering kita terjebak untuk memperlakukan anak-anak secara sama, karena menganggap itulah yang adil dan terbaik. Atau, kita membedakan perlakuan berbasis hal-hal yang bukan kebutuhan anak, atau bahkan tanpa dasar sama sekali. Keduanya akan membuat anak merasa diperlakukan secara tidak adil.

Hal terpenting dalam hal ini adalah soal mengenali kebutuhan anak. Untuk bisa melakukan itu, kita perlu mengenali mereka dengan baik. Artinya, kita harus berkomunikasi dengan baik, akrab dengan anak-anak kita. Kita kenal karakter mereka, serta kebutuhan-kebutuhan mereka. Itu juga akan mempermudah kita dalam menjelaskan perlakuan yang kita terapkan pada anak. Anak percaya bahwa mereka diperlakukan berbasis kebutuhan, dan perlakuannya adil, meski berbeda.

Menyusun Rencana Kabur dari Kemiskinan

Bagi saya penyebab utama kemiskinan adalah pola pikir dan kemalasan. Artinya, kalau mau membebaskan diri dari kemiskinan, orang harus mengubah pola pikirnya, dan bekerja keras. Saya dikritik. Kata pengritik, seolah saya hendak mengatakan bahwa orang-orang miskin itu pemalas. Kemiskinan, kata mereka, bukan melulu soal kerja keras atau pemalas, tapi juga terkait dengan kebijakan pemerintah. Mereka menyebutnya kemiskinan struktural. “Kurang keras bagaimana lagi para buruh atau kuli itu bekerja, tetap saja mereka miskin,” kata mereka.

Ketika bicara soal kemiskinan dan orang miskin, saya lebih suka membicarakannya sebagai “kita”, bukan “mereka”. Maka, ketika saya bicara soal kemalasan, itu bukan untuk menuding atau merendahkan, tapi sebagai evaluasi untuk memperbaiki diri. Ini soal mencari apa yang salah, bukan menyalahkan.

Banyak orang bekerja keras, tapi tetap miskin. Apa yang kurang kalau begitu? Saya suka mengandaikan kemiskinan itu seperti gravitasi. Kita dan semua benda bermassa terikat oleh gaya gravitasi bumi. Kalau kita melompat ke atas, kita akan ditarik kembali ke muka bumi. Kalau kita terbang dengan pesawat, kita harus mendarat kembali.

Bisakah kita lepas dari ikatan gaya gravitasi itu? Bisa. Hanya saja, kita memerlukan energi besar. Energi itu setara dengan yang diperlukan untuk melempar benda dengan kecepatan 11,2 km/detik, atau 40.320 km/jam. Kecepatan ini disebut escape velocity atau kecepatan kabur. Seberapa cepat itu? Rekor kecepatan tertinggi sebuah pesawat terbang hingga saat ini adalah 3.530 km per jam, jauh di bawah kecepatan kabur tadi.

Para penjelajah ruang angkasa berhasil membebaskan diri mereka dari ikatan gravitasi bumi. Dengan roket yang membawa bahan bakar sumber energi dalam jumlah besar. Sejumlah energi digunakan dalam suatu rentang waktu yang lama. Artinya, diperlukan energi dalam jumlah besar, juga diperlukan waktu yang lama. Bila tidak cukup, apa boleh buat, kita akan kembali jatuh ke bumi.

Begitu pula dengan kerja untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Kerja keras saja tidak cukup. Kita perlu kerja keras dalam waktu yang lama, dan juga perlu strategi untuk memastikan bahwa kita tidak terjatuh kembali. Saya menyebutnya dengan rencana kabur, atau escape plan.

Berikut beberapa kunci dalam rencana kabur untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Pertama, pastikan kita bekerja dengan penghasilan memadai. Bekerja tanpa penghasilan memadai, seberapa keras pun, seberapa lama pun, tidak akan membebaskan kita dari kemiskinan. Intinya, harus ada sejumlah uang dari penghasilan kita yang kita sisihkan untuk memperbesar tenaga kita dalam rangka membebaskan diri tadi.

Bagaimana kalau yang kita terima saat ini ternyata kurang? Cari pekerjaan lain. Tapi bagaimana bila tidak ada pilihan lain? Ada! Yang mengatakan tidak ada itu adalah orang yang menderita penyakit miskin pikiran. Itu yang membuat dia tidak bisa keluar dari kemiskinan.

Maaf, saya harus mengatakan ini. Saya melihat begitu banyak orang yang melakukan pekerjaan tanpa masa depan. Mereka bekerja hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan kurang. Tapi mereka tidak mau berganti pekerjaan. Kebanyakan berkata, tidak ada pilihan lain. Pilihan ada banyak, dan diambil oleh orang lain. Orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Mau contoh nyata? Pekerjaan sebagai pak ogah, pedagang asongan, dan sejenisnya itu, bukan pekerjaan yang bisa membebaskan diri dari kemiskinan. Kalaupun bisa, diperlukan strategi yang sangat khusus, yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut.

Kedua, lakukan pekerjaan dengan peningkatan penghasilan. Tanpa peningkatan, kita akan terus bekerja dalam waktu yang lama, dan sulit untuk lepas dari kemiskinan. Tapi, bagaimana caranya? Kalau kita pedagang asongan, cobalah untuk menjual lebih banyak dari yang lain, dengan cerdik mencari tempat berjualan, atau barang yang dijual. Tabunglah sejumlah penghasilan untuk dijadikan modal, menambah barang dagangan. Atau, gunakan itu sebagai modal untuk mempekerjakan orang lain.

Seorang tukang harus meningkatkan keterampilannya agar upahnya bertambah. Perlahan ia harus meningkatkan posisi dari tukang biasa menjadi kepala tukang, atau mandor. Kelak ia bisa meningkat jadi pemborong kecil-kecilan.

Apakah semua ini nyata? Ya, ini semua nyata. Ada banyak orang yang berhasil dengan cara seperti itu. Sayangnya lebih banyak yang bertahan, terikat erat pada zona nyaman yang sebenarnya sangat tak nyaman, yaitu kemiskinan. Jadi, ini jawaban atas pertanyaan tadi. Kerja keras saja memang tidak cukup untuk bebas dari kemiskinan. Perlu kerja dengan peningkatan.

Itulah yang dulu dilakukan emak saya. Ayah dulu bekerja sebagai buruh tadi. Bagi Emak, itu bukan pekerjaan yang bisa membebaskan dia dari kemiskinan, karena hasilnya sedikit dan tidak ada peningkatan. Emak mengajak Ayah pindah ke kampung baru, membuka lahan, dan membangun kebun. Punya kebun sendiri adalah langkah awal untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Ketiga, prihatin. Artinya, menahan diri dari kemewahan dalam bentuk apapun. Ada banyak orang yang segera ingin menikmati kemewahan saat baru saja mendapat penghasilan lebih baik dari sebelumnya. Sebagian bahkan tidak sadar bahwa tambahan penghasilan itu sementara saja sifatnya. Mereka mengira itu kekal, lalu berfoya-foya. Saat sumbernya hilang, barulah mereka menyesal.

Sepanjang masa sekolah dulu saya nyaris tak punya baju selain seragam sekolah. Emak sengaja mengajari kami untuk menahan diri, meski sebenarnya sudah mampu membelinya. Emak memilih memakai uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna untuk masa depan. Demikian pula, Emak mengajari kami untuk tidak jajan dan makan di luar. Lebih baik masak sendiri kalau ingin makan enak.

Keempat, lakukan apa saja. Apa saja yang bisa menambah penghasilan, menjadikan hidup kita lebih baik. Kalau kita tidak bisa, belajar. Jangan pernah membatasi diri dengan kata tidak bisa. Banyak orang sukses dengan cara ini. Mencoba, belajar, coba lagi, sampai berhasil. Dengan cara yang sama ia terus membesar.

Empat poin di atas mungkin belum cukup untuk membuat kita bebas dari kemiskinan. Tapi empat poin itu fundamental. Tanpa itu, kita tidak akan bisa membebaskan diri.