Ahok dan Kerumitan Masalah Pelacuran

Debat antar calon Gubernur DKI memunculkan nama Alexis. Ini adalah tempat pelacuran kelas atas. Kenapa ini muncul dalam debat? Tentu saja dalam rangka menjatuhkan Ahok. Ahok pernah mengemukakan gagasan tentang legalisssi pelacuran. Ini sebenarnya gagasan biasa. Sebagaimana nanti akan kita bahas lebih detil, soal pelacursn adalah soal pilihan antara menyediakannya secara resmi dalam suatu ruang terbatas dengan harapan bisa dipantau dan dikontrol, atau menganggapnya tak ada. Ini sebenarnya gagasan biasa dalam penanganan masalah sosial. Cuma, bagi kalangan yang merasa paling bermoral, lebih tegasnya bagi umat Islam, gagasan ini dibuat personal. Seolah Ahok itu memang penggemar pelacuran, atau mau merusak moral bangsa dengan pelacuran.

Orang-orang sering berpikir dengan jalan pintas. Bagaimana menghilangkan pelacuran? Tutup rumah bordil atau lokalisasi. Bagi mereka, selama tidak ada tempat yang terang-terangan menyediakan pelacur, maka tidak ada pelacuran. Persis sama dengan orang yang menyembunyikan sampah di bawah karpet. Selama tak ada sampah terlihat, mereka boleh merasa tenang, menganggap sampah itu tak ada.

Belasan tahun yang lalu, lokalisasi Kramat Tunggak ditutup. Orang-orang senang. Terlebih di lahan itu dibangun Islamic Center. Ismail Yusanto, tokoh HTI itu, waktu itu berkomentar di depan saya,”Inilah bagusnya Sutiyoso.” Orang gampang terhibur, dan melupakan aspek lain kalau sudah begini. Artinya, kebijakan macam begini bisa jadi bedak tebal untuk menutupi borok yang lain.

Apakah dengan ditutupnya Kramat Tunggak lantas Jakarta jadi bebas pelacur? Tidak. Bahkan berkurang saja pun tidak. Menemukan tempat pelacuran di Jakarta itu lebih mudah dibanding menemukan penjual pisang goreng. Ada yang terang-terangan, pilih langsung pakai. Ada yang berkedok panti pijat atau salon.  Belum lagi penyediaan jasa pelacuran online, serta pelacuran yang sifatnya pribadi.

Kramat Tunggak ditutup, apakah pelacurnya lantas bertobat semua? Tidak. Mereka hanya berpindah warung, ke rumah-rumah di gang sempit, atau di pinggir rel kereta. Mereka beroperasi di kawasan pemukiman, disaksikan kehadirannya oleh anak-anak. Orang-orang bermoral tadi mengabaikan fakta ini. Bagi mereka yang penting tak ada lagi tempat pelacuran resmi.

inilah beda mereka dengan Ahok. Ahok adalah orang yang tak munafik. Ia mau mengakui fakta itu, mencoba mencari solusi terbaik. Salah satunya dengan melokalisir masalahnya, sehingga mudah dipantau dan dikontrol. Tapi itu tadi, kalangan moralis langsung menuduh dia macam-macam.

Mungkinkah pelacuran dihilangkan? “Nabi pun tak sanggup memberantasnya,” kata Ahok. Orang Islam marah lagi, menuduh Ahok melecehkan nabi. Padahal ia bicara tentang nabi dalam ajaran Kristen, yaitu Nabi Hosea. Tak ada sangkut pautnya dengan nabi Islam. Itu adalah ungkapan Ahok untuk menggambarkan rumitnya soal pelacuran. Senada dengan ungkapan bahwa pelacuran adalah profesi yang usianya sudah setua sejarah umat manusia. Artinya, di mana ada manusia, di situ ada pelacur.

Pelacuran adalah soal permintaan dan penawaran. Permintaan selalu ada. Selama masih ada laki-laki horny, pasti ada yang permintaan pelacur. Tidak ada satu agama pun, atau satu orang suci pun yang pernah hadir dan membuat pelacuran itu sirna di suatu wilayah.

Bagaimana dengan supply atau penawaran? Buatlah survey kecil, datangi rumah-rumah pijat, dan lakukan wawancara kepada para pemijat. Pofil umumnya adalah, usia antara 18-30, janda beranak atau tidak beranak. Menikah di usia muda, kemudian suaminya pergi entah ke mana. Cerita klise ini mungkin akan Anda dengar dari 40% responden. Lalu lakukan survey ke kampung-kampung di Pantura, atau ke Sukabumi. Dengan mudah kita akan temukan fakta pendukung soal kawin muda ini.

Belum lagi soal remaja di rumah tangga yang hancur, kemudian mencari tempat pelarian dengan melacur. Remaja yang terlibat narkoba, atau remaja hedonis yang menjual diri sekedar agar bisa selalu punya HP jenis paling mutakhir.

Semua itu adalah faktor supply bagi dunia pelacuran, yang tidak serta merta sirna dengan ditutupnya rumah bordil atau lokalisasi. Jadi, menutupnya sama sekali bukan solusi bagi masalah ini.

Masih ada sisi lain, yaitu korupsi. Mengapa Alxis tidak ditutup? Coba tanya balik kepada yang mengajukan pertanyaan itu, tahukah kamu ada berapa oknum berbintang yang jadi backing bisnis itu? Ada berapa petinggi imigrasi yang berperan mengamankan “izin kerja” bagi pelacur-pelacur asing yang bekerja di situ? Bahkan, mungkin, ada berapa petinggi organisasi agama yang harus dibungkam dengan uang supaya tidak rewel? Atau, lebih tegas lagi, kenapa sih sebelum ini, waktu Gubernur DKI muslim semua, tidak ada keributan publik menuntut penutupan Alexis? Ahok dicerca karena tidak menutup Alexis, padahal ia sudah menutup Kalijodo. Adalah yang bertanya, kenapa Foke dulu tidak menutup Kalijodo?

Jadi, berbagai keributan soal pelacuran ini jauh dari usaha mencari solusi. Ini hanya soal bagaimana menjatuhkan Ahok saja.

Bersyukur itu Menemukan Diri Sendiri

Ada teman saya yang dengan sinis mengatakan,”Bersyukur itu ndingkluk. Artinya merendahkan standar harapan kita. Dengan begitu, kita akan merasa bahwa kita sudah mendapat lebih. Lalu kita merasa senang.” Contohnya, kita lihat orang-orang miskin, atau orang-orang yang hidupnya menderita. Lalu kita lihat diri kita, ternyata kita lebih baik. Lalu kita merasa senang. Itulah bersyukur.

Pernah saya temukan meme yang menjengkelkan. Isinya tentang anak yang (terpaksa) berjualan, untuk menyambung hidupnya. Meme diakhiri dengan pertanyaan, masihkah kamu tidak bersyukur? Lha, apa hubungannya? Orang diajak bersyukur setelah melihat penderitaan orang lain. Bersyukur artinya merasa senang bahwa kita tidak menderita seperti dia. Syukur macam apa itu?

Suruhan untuk bersyukur juga sering datang ketika seseorang tidak puas dengan keadaannya. “Sudah, jangan banyak menuntut, syukuri yang sudah kau dapat!” Apakah bersyukur bermakna bahwa kita tidak boleh berharap mendapat yang lebih baik lagi? Apakah menginginkan yang lebih baik selalu bermakna bahwa kita tidak bersyukur atas apa yang kita dapat?

Bagi saya, bersyukur tidak begitu maknanya. Bersykur itu menyadari diri kita sendiri. Coba lihat diri kita. Kita punya tubuh, seadanya tubuh kita ini. Kita punya 2 tangan, 2 kaki, dan berbagai organ lain. Ada yang hanya punya 1 tangan, atau bahkan tidak punya tangan. Juga ada yang hanya punya 1 kaki, atau tidak punya kaki. Setiap orang mengenali dirinya, secara apa adanya. Inilah saya. Saya adalah saya, bukan orang lain.

Lalu, kita lihat diri kita lebih lanjut. Apa lagi yang kita miliki? Ada yang pandai matematika. Ada yang pandai main musik. Ada pula yang kuat badannya, mampu lari cepat, lari jauh, atau kuat mengangkat barang. Masing-masing orang punya kelebihan. Temukan kelebihan kita sendiri.

Banyak orang yang tidak tahu apa kelebihannya. Ia menjadi orang yang biasa saja, atau bahkan menganggap dirinya terbelakang. Lalu ia menjadi rendah diri. Ia tak merasa layak berdiri bersama manusia lain. Ia mungkin protes pada Tuhan. “Kenapa Kauciptakan aku seperti itu?” Protes itu tak akan pernah mengubah keadaannya. Yang akan mengubah keadaan adalah cara dia memandang dirinya sendiri.

Pernah saya lihat acara di TV Jepang. Acara ini memberi kesempatan kepada orang-orang yang merasa ada bagian tubuhnya yang ingin ia ubah. Setelah diseleksi, yang disetujui akan dibiayai untuk melakukan operasi plastik. Dalam suatu episode, ada gadis remaja yang merasa mukanya jelak. Ia ingin operasi plastik. Para pengisi acara itu tidak serta merta meluluskan permintaannya. Yang “dioperasi” justru mental gadis itu. Dengan sedikit polesan kosmetik, mereka berhasil membuat gadis itu tampil cantik. Ia diyakinkan bahwa ia sama sekali tidak jelek. Kemudian ia menjadi percaya diri.

Begitulah. Kita lebih sering lebih sensitif menemukan kekurangan-kekurangan kita, ketimbang menemukan kelebihan kita. Kita lebih sering mencoba menyembunyikan kekurangan, ketimbang menunjukkan kelebihan. Saking sibuknya kita dengan kekurangan, kita merasa bahwa diri kita penuh dengan kekurangan. Kita gagal menemukan kelebihan kita. Lalu kita mengeluh, protes pada Tuhan.

Bahkan, ada orang yang merasa dirinya memiliki kekurangan. Padahal yang ia anggap kekurangan itu adalah kelebihan bagi orang lain. Misalnya, maaf, ada perempuan yang minder karena buah dadanya terlalu besar. Padahal, banyak perempuan lain yang ingin punya buah dada yang besar. Ada orang jangkung yang terus membungkuk, karena merasa jangkung itu jelek. Padahal ada begitu banyak orang yang ingin jangkung.

Jadi, bersyukur itu sekali lagi, adalah soal mengenali diri kita, menemukan keunggulan kita, menyadari bahwa itu keunggulan, bukan kekurangan. Bahkan orang yang tangannya hanya satu pun bisa menjadikan satu tangannya itu sebagai keunggulan. Mungkin ada Anda pernah menyaksikan anak Korea yang tangannya tak utuh, menjadi pemain piano yang hebat. Ia tentu lebih hebat dari kebanyakan kita yang punya tangan lengkap. Ia tidak saja berhasil mengalahkan “kekurangannya”, tapi justru menjadikan tangannya itu sebagai pusat keunggulannya.

Perhatikan juga orang-orang di sekitar kita. Orang tua, saudara, teman, guru, dan siapapun yang mencintai kita. Mereka semua tidak sempurna. Ada saja hal yang membuat kita tak puas kepada mereka. Tapi mereka semua memberi kita energi yang luar biasa, untuk menikmati hidup ini. Jangan berharap mereka akan sempurna, karena kita juga tidak sempurna.

Lalu, selanjutnya bagaimana? Asahlah terus keunggulan kita itu. Manfaatkan untuk menghasilkan hal-hal yang baik, bermanfaat bagi diri kita sendiri. Banyak-banyaklah berbuat baik, sampai perbuatan baik kita itu dinikmati oleh banyak orang. Perbuatan baik, menghasilkan hal baik, akan menambah keunggulan yang tadinya sudah kita punya. Ia juga akan menghasilkan energi yang lebih besar untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi.

Ingat, bersyukur itu bukan mencari kekurangan orang lain yang tak ada pada kita. Bersyukur itu adalah menemukan keunggulan pada diri kita, memanfaatkannya, menikmatinya, tanpa merendahkan orang lain.

 

Memegang Kendali Pendidikan Anak

Banyak orang yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan, tidak sedikit yang seolah telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan anaknya ke sekolah. Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu, ia cukup mebayar, lalu menerima hasilnya saja, berupa pakaian bersih.

Tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah, tapi tidak sanggup berbuat apa-apa. Seorang ibu mengadu pada saya, di sekolah anaknya diajarkan pandangan bahwa musik itu haram. Ia sendiri tidak menganggapnya begitu. Perbedaan pandangan itu bisa saja menjadi sumber konflik dengan anak. Bagaimana memberi tahu anak mengenai pandangan lain soal musik?

Di situlah pentingnya peran kita sebagai pengendali pendidikan anak. Ingat, tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita, bukan pada sekolah. Bagaimana pun juga, sekolah hanya pembantu kita dalam pendidikan. Peran utama, kendali, harus ada pada kita. Kenapa? Karena ini anak kita. Sebagus apapun sekolah, yang berada di situ adalah orang lain.

Bagaimana bersikap terhadap sekolah? Sekolah adalah mitra kita dalam mendidik anak. Ketika hendak memasukkan anak ke sekolah, kita memilih sekolah yang cocok. Apa dasarnya? Dasarnya adalah prinsip kita tentang pendidikan anak. Kita punya prinsip dan konsep. Maka kita cari sekolah yang cocok dengan prinsip itu, atau setidaknya mendekati. Jangan sampai kita memasukkan anak ke sekolah yang tidak cocok dengan prinsip kita.

Sekali lagi, sekolah adalah mitra. Artinya, kita juga harus memberi masukan kepada sekolah soal muatan pendidikan yang mereka lakukan. Saya sering menyampaikan kritik kepada guru-guru di sekolah anak saya. Pernah saya tegur kepala sekolah soal kurangnya tempat sampah pada acara di sekolah, sehingga sampah bertebaran. Di lain waktu saya tegur soal AC yang menyala di ruangan kelas yang tidak sedang dipakai.

Minggu lalu saya hadir rapat di sekolah anak, untuk persiapan jambore pramuka yang akan diikuti anak saya. Salah satu hal yang dibahas adalah soal pintu gerbang tenda yang menurut saya berbiaya mahal. Gurunya dengan bangga bercerita bahwa gerbang ini nanti akan dikerjakan oleh tukang yang terampil (profesional, istilah dia), dan kemungkinan besar akan memenangkan kompetisi. Usai penjelasan, saya tanya,”Unsur pendidikan apa yang sedang kita lakukan melalui gerbang megah ini?”

Guru tadi gelagapan, memberi jawaban berputar-putar. Kepala sekolah ikut menjawab, tapi tetap tanpa substansi yang menjawab pertanyaan saya. Saya paham, karena mereka memang tidak punya jawaban. Mereka sedang khilaf, lupa soal apa itu substansi pendidikan. Akhirnya ada guru yang menjelaskan bahwa para siswa nantinya akan terlibat dalam pembangunan gerbang. Saya anggap jawaban itu sejenis jawaban emergency.

Poin saya adalah, teruslah mengingatkan guru-guru tentang hakikat pendidikan. Saya rewel kepada guru-guru anak saya, bukan karena tidak percaya kepada sekolah. Saya sedang menjalankan peran sebagai pengendali pendidikan anak saya. Sekolah adalah mitra saya.

Saya juga memantau, nilai-nilai apa yang diajarkan di sekolah anak saya. Dalam suasana Natal tertangkap dari pembicaraan bahwa anak-anak di sekolah diajarkan untuk tidak mengucapkan selamat Natal. Pelan-pelan pandangan itu saya koreksi di rumah.

Bagaimana caranya? Kembali ke prinsip tadi. Kita adalah pengendali muatan pendidikan anak-anak kita. Sekolah hanyalah pembantu. Dalam makna lain, sekolah adalah lingkungan yang memberi pengaruh pada anak-anak kita. Selain sekolah, teman-teman mereka, tetangga, media massa, media sosial, dan lain-lain. Semua memberikan pengaruh. Sebagai penanggung jawab pendidikan, kita mengendalikan pengaruh itu. Anak-anak kita tidak mungkin kita isolasi dari pengaruh. Tapi kita mengendalikan dampaknya. Itulah peran kita sebagai pengendali.

Praktisnya bagaimana? Terlibatlah, jangan lepas tangan seperti orang mengirim baju kotor ke binatu. Dampingi anak-anak belajar. Perbanyak waktu untuk berinteraksi dengan anak, sehingga kita tahu perkembangan pemahaman dan pikiran, serta tindak tanduk mereka. Jangan sampai terjadi, anak lepas dari pantauan kita. Kita baru sadar saat anak sudah jauh, dan kita tak sanggup lagi meraihnya.

Saya sediakan waktu minimal 2 jam pada malam hari, untuk mendampingi anak-anak saya belajar, atau sekedar berbincang atau main bersama. Saya habiskan hampir seluruh waktu di akhir pekan untuk bersama mereka. Menurut saya, itu yang dibutuhkan untuk menjadi pengendali pendidikan anak.

 

Hakikat Keyakinan

Keyakinan bukanlah fakta objektif. Karenanya setiap keyakinan pasti menimbulkan ketidakyakinan di pihak lain. Air laut itu asin. Itu adalah fakta objektif, bukan keyakinan. Maka tidak ada seorang pun yang akan membantahnya. Sedangkan keyakinan, pasti akan punya pembantah.

Sule punya keyakinan bahwa dirinya tampan. Sejumlah orang mungkin akan setuju. Tapi pasti ada orang lain yang tidak setuju bahwa Sule itu tampan. Itu adalah sesuatu yang alami. Nah, kalau ada yang tidak setuju soal ketampanan Sule itu adalah sesuatu yang alami, perlukah Sule atau siapapun yang setuju dengannya marah ketika ada orang lain yang menganggap bahwa Sule itu tidak tampan? Tidak perlu sebenarnya.

Itu sebenarnya berlaku pula untuk soal keyakinan tentang Tuhan dan agama, yang biasa kita sebut iman. Ada orang beriman pada Allah. Ada pula orang yang tidak beriman pada Allah. Allah yang diimani itu sendiri mengatakan bahwa ada orang yang tidak beriman pada Allah. Allah menyebutnya kafir. Artinya, kewujudan atau eksistensi orang yang tidak beriman pada Allah itu seharusnya diakui secara alami.

Kunsekuensinya, kalau ada orang beriman pada Allah, dan ia yakin bahwa Allah itu ada, seharusnya ia tak perlu merasa keyakinannya diusik ketika ada orang yang yakin bahwa Allah itu tidak ada. Kalau keyakinan orang lain itu dia anggap usikan terhadap keyakinannya, ia sebenarnya sedang membantah keterangan dari Tuhannya sendiri, yang mengatakan bahwa orang yang tidak beriman itu ada.

Demikian pula halnya soal nabi dan kitab suci. Anda menganggap nabi Anda itu adalah orang suci. Bagi orang lain, ia bukan orang suci. Pada saat yang sama, orang lain menganggap Yesus itu Tuhan. Anda tidak menganggapnya Tuhan. Anda marah kalau nabi Anda tidak dianggap orang suci, tapi Anda terus menerus merapalkan keyakinan Anda bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Anda sehat?

Anda yakin bahwa kitab suci Anda benar. Orang lain bahkan tidak menganggapnya kitab suci. Anda tidak perlu marah, karena sekali lagi, itu soal yang alami saja. Kalau semua orang sama dengan Anda, menganggap bahwa kitab suci itu benar, maka itu bukan lagi keyakinan, tapi fakta. Ingatlah, bahwa pada saat yang sama Anda juga tidak menganggap kitab suci mereka sebagai kitab suci. Kalau Anda merasa berhak marah pada orang, maka orang pun sebenarnya berhak marah terhadap Anda.

Hak orang lain untuk menyatakan keyakinannya, sama kuatnya dengan hakmu untuk menyatakan keyakinanmu. Artinya, kalau ia punya keyakinan yang bertentangan dengan keyakinanmu, ia tidak sedang menista keyakinanmu. Ia cuma sedang menunaikan haknya, sama seperti engkau sedang menunaikan hakmu. Kau dan dia harus berbagi ruang.

Bagi saya, tidak ada penistaan keyakinan. Yang ada hanyalah perbedaan keyakinan. Berbeda itu bukan menista. Karena itu, mari sama-sama ingat, bahwa ketika kita menyatakan keyakinan, boleh jadi itu akan menyinggung keyakinan orang lain. Karena itulah, amankan keyakinan Anda itu di ruang-ruang pribadi.

Sekelumit Cerita tentang Hizbut Tahrir

Ini cerita lebih dari 20 tahun yang lalu. Ketika itu saya aktivis Jamaah Shalahuddin UGM. Ketika itu di UGM belum ada mesjid. Kami menyelenggarakan salat jumat di hall gelanggang mahasiswa. Juga salat tarawih selama bulan ramadan. Ketika itu tarawih di gelanggang sangat trendy, karenanya jamaah hadir berjubel, hingga melimpah ke boulevard di depan gelanggang. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) seperti Jamaah Shalahuddin ada hampir di setiap kampus. Untuk berkomunikasi diadakanlah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK).

Tahun 1989 FSLDK tingkat nasional dilaksanakan di IKIP Malang. Waktu itu saya ikut pertama kali. Di forum ini rupanya ada yang namanya Forum Mantan. Isinya adalah mantan aktivis yang sudah tidak lagi jadi pengurus. Semacam KAHMI kalau di HMI. Forum Mantan ini punya peran dan pengaruh lumayan besar ketika itu. Motornya adalah Ismail Yusanto, yang juga mantan aktivis Jamaah Shalahuddin. Ketika itu dia adalah dosen di sebuah universitas swasta di Bogor (kalau ndak salah Universitas Ibnu Khaldun). Waktu itu sebenarnya Ismail sudah jadi kader Hizbut Tahrir (HT). Hanya saja dia tidak terang-terangan mengaku. Pembinanya adalah Abdurrahman Al-Baghdadi.

Dengan privilege sebagai Mantan, dia berusaha memasukkan ideologi HT. Dia mengusulkan agar LDK se Indonesia punya pegangan dalam menetapkan arah dakwah mereka. Disusunlah apa yang dia sebut Khittah dan Mafahim Dakwah. Kedudukannya di Bogor membuat Ismail juga berperan dalam pembinaan di LDK IPB, yaitu di mesjid Al-Ghifari. Salah satu LDK penyokong kuat konsep yang disodorkan Ismail adalah dari IPB ini. Salah satu tokohnya waktu itu adalah Adian Husaini.

Ndilalahnya, isi kedua dokumen itu mak plek bleg, persis sama dengan doktrin-doktrin HT. Pihak-pihak yang mengerti langsung bereaksi. Di antaranya Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) yang waktu itu dikomandani secara operasional oleh Anwar Haryono. Tokoh lain yang berperan di situ adalah Husein Umar, dan MS Kaban. Mengapa DDII? Saya juga ndak tahu persis kenapa. Tapi saya punya feeling bahwa banyak tokoh yang membina LDK, termasuk Jamaah Shalahuddin menganut ideologi Ikhwanul Muslimin (IM), dan DDII adalah salah satu simpul IM di Indonesia. DDII sepertinya merasa bahwa Ismail adalah binaan mereka, yang kemudian “menyebrang” ke HT. Konon, Ismail dan Adian Husaini sempat disidang oleh orang-orang DDII karena masalah ini.

Sejak FSLDK di Malang, isi FSLDK selanjutnya adalah soal Khittah dan Mafahim ini. Peran Mantan makin lama makin kuat. Akhirnya naskah Khittah dan Mafahim itu gol juga untuk disosialisasikan. Saya waktu itu capek dengan perdebatan yang sebetulnya juga bukan kapasitas saya untuk mengikutinya. Akhirnya saya putuskan untuk menarik diri. Pada FSLDK di Makassar tahun 1991 Jamaah Shalahuddin mengundurkan diri dari posisi Koordinator Forum untuk wilayah Jateng, DIY, dan Kalimantan (Wilayah Tengah). Selanjutnya saya tidak lagi berinteraksi dengan forum ini.

Pelaksanaan forum ini tahun 1998 “ditunggangi” untuk mendeklarasikan lahirnya KAMMI. Menurut cerita yang saya dengar, waktu itu acara dilaksanakan di Malang. Peserta acara diajak ke tempat terpisah untuk mendeklarasikan bedirinya KAMMI. Ketuanya adalah Fachri Hamzah. Sejak itu, jaringan yang dibentuk oleh FSLDK diambil alih KAMMI.

Sekarang Ismail Yusanto terang-terangan jadi Juru Bicara HTI. MS Kaban jadi menteri. Lebih sering tampil sebagai aktivis politik ketimbang aktivis dakwah. Dia iduga terlibat dalam beberapa kasus korupsi termasuk aliran dana BI. Adian Husaini malah merapat ke DDII. Kalau nggak salah sempat jadi pengurus. Dia juga pernah aktif di MUI.

Ada satu lagi orang yang waktu itu aktif menyampaikan materi kajian. Namanya Gatot. Menurut cerita teman, dia kini aktif di MUI, namanya diganti menjadi Al-Khathat.
Saya? Nobody.